| |
Sri Sarining's posts with tag: cerita
Nah, berhubung barusan ceting sama jeng Alya,
tentang masa muda kita dahulu *halah*, juga 'ngomongin tentang
pengalaman-ku dengan petugas-petugas stasiun Gondangdia yang kurang
asem, akhirnya kita jadi sharing tentang pengalaman menghajar orang. Hahahaha... terutama *maaf* cowok, yang tentu aja kurang ajar dan memang perlu dihajar karena melakukan pelecehan... Jeng Alya
cerita tentang misi penggertakan-nya kepada supir metromini yang bikin
baret mobilnya, trus menghajar cowok kurang ajar yang berani
towal-towel. Sedangkan akyu?
Well...
pengalaman pertama dalam dunia kekerasan yang sesungguhnya *hihihihi...
kalo kekerasan dalam rumah tangga berantem sesama saudara kandung dari kecil gak
diitung yaaa*, saya pernah menghajar seorang teman SMP yang berani colek
pipi, saya tonjok dada-nya sampai tersungkur, lalu saya tantang untuk duel. Wehhh...
padahal badan saya dulu kecil hihihih... *jangan liat yang sekarang yak*
Pengalaman kedua, masa SMA ketika menghajar pipi cowok yang dengan tidak jentel menyebut nama bapak untuk bahan hinaan. Hasilnya, saya balas dihajar olehnya, saya balas lagi dong, tonjok hidung sampai dia jatuh tersungkur berdarah. Dia cepat-cepat berdiri dan hendak balas lagi, horeee... dengan semangat 45 saya songsong dia, seperti banteng hendak beradu, sampai akhirnya kami dilerai beberapa teman, masing-masing dipegangi oleh beberapa orang.
Masih ada beberapa pengalaman lain, yang tentu bukan sesuatu yang patut dibanggakan, namun hanya sebagai pengingat dalam memori pribadi, bahwa dimanapun kita sebagai perempuan harus selalu waspada, bahwa tidak semua laki-laki dapat bersifat mengayomi, melindungi dan menghargai perempuan. Bukan kita sebagai perempuan mengemis minta dihargai, tidak. Namun hendaknya seiring dalam kehidupan sebagai sesama manusia, alangkah bagus bila saling menghargai tidak peduli laki-laki atau perempuan.
Sebenarnya kalau dianalisa, rata-rata laki-laki yang layak dikerasi seperti itu adalah looser, entah bagaimana pendapat yang lain namun menurut saya, begitu adanya. Mereka hanya berani kepada perempuan yang menurut mereka mahluk lemah, pasti tidak berani membalas perlakuan mereka, dan masih banyak ketidaktahuan mereka tentang perempuan dikarenakan sempit-nya wawasan.
So, bagaimana pengalaman anda, perempuan MPers?
| | |
|
|