Sri Sarining's posts with tag: caving
|  |
Kenangan waktu ke gua-gua Bayah, Pelabuhan Ratu - Februari 2002
"KAPA !!!...", begitu teriakan khas penjelajah KAPA FTUI, pada hari Jumat 1 Februari 2002 terdengar di kampus Teknik UI berkumandang. Kali ini pertanda keberangkatan lima orang tim caving KAPA FTUI menuju Bayah, Pelabuhan Ratu, bertujuan untuk mengeksplorasi kekayaan bawah tanah di Desa Cijengkol, Bayah. Daerah Bayah terletak di bagian selatan Banten yang secara administratif termasuk Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Daerah ini terkenal dengan berbagai kekayaan pariwisata laut, pertambangan kapur, dan gua-gua-nya yang indah. Perjalanan ini juga merupakan penarikan minat yang ditujukan untuk para anggota baru KAPA FTUI.
Awal rencana keberangkatan kami (Kamis 31 Januari 2002) ditandai dengan cuaca Jabotabek yang buruk, yaitu bencana banjir terutama di kota Jakarta setelah diguyur hujan terus-menerus sejak hari Senin. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan, untuk kegiatan yang akan kami lakukan di Bayah nanti. Setelah batal untuk berangkat pada hari Kamis 31 Januari 2002, akhirnya kami sepakat untuk berangkat esok harinya, tanggal 1 Februari 2002.
Jalur Alternatif Dengan satu tim beranggotakan 4 orang yaitu : Andreas (Ars), Basari (Metal), Emil (Metal), Ari (Elektro), dan ketua rombongan Ronald (Metal), kami segera memulai perjalanan. Untuk mencapai ke Bayah, kita dapat melalui dua jalur alternatif. Pertama, jalur barat, dari Jakarta menuju Rangkasbitung langsung menuju arah Malingping dan terus ke timur sampai ke desa Darmasari. Kedua adalah jalur yang kami tempuh, yaitu dari Bogor naik bus menuju ke Pelabuhan Ratu selama tiga jam perjalanan. Tiba di terminal Pelabuhan Ratu langsung naik bus tiga-perempat menuju desa Darmasari dengan masa perjalanan 2 jam. Dan, di terminal Pelabuhan Ratu inilah petualangan baru kami dimulai.
Mabuk Darat Sampai di Terminal Pelabuhan Ratu, kami beristirahat sebentar dan berbelanja telur & gula secukupnya. Disarankan untuk rekan-rekan yang akan memulai perjalanan caving di Sibayah, sesampainya di terminal Pelabuhan Ratu untuk berbelanja keperluan memasak terlebih dahulu terutama sayuran, karena semakin jauh ke pelosok akan semakin sulit untuk mendapatkan warung yang menjual keperluan tersebut. Tapi kalau mau makan indomie+ nasi setiap hari sih, ya tidak usah repot-repot belanja di terminal Pelabuhan Ratu, karena dekat rumah tempat kita menginap nanti juga ada warung yang menjual telur ayam. Dengan naik mobil angkutan ¾ ke arah Sibayah, kami melewati jalanan yang naik turun dan berkelok-kelok, dengan rute melewati Cisolok, Cibangban, Cibareno, Ciawi, Cijengkol, Cikeusi, Pamubulan, Darmasari.
Oya, ada 1 orang rekan kami yang sempet mabuk, gara-gara naik angkutan ini, hehehe … mungkin karena keadaan jalan yang lumayan membuat perut bergoncang, kasiannnn dehhh ….. Akhir perjalanan memabukkan kami adalah di desa Darmasari. Di desa inilah kami menginap di rumah seorang penunjuk jalan yang sudah terkenal di kalangan para cavers, yaitu pak Doi Munajat. Kekhawatiran kami akan cuaca yang buruk hilang sudah, melihat cerahnya langit di kawasan Pelabuhan Ratu ini, apalagi ditambah keterangan penduduk sekitar yang menyatakan bahwa sudah seminggu lebih tidak ada hujan. Hmm … di Jakarta sedih karena kelebihan hujan, di Bayah sedih karena kurang hujan …
Susah Mandi Setelah beramahtamah dengan pak Doi dan keluarga, akhirnya tiba saat mandi. Disini kami mandi di pemandian umum, dan… karena saya cewek, waduh … nggak bisa mandi euy … ada dinding pemisah antara tempat mandi cowok & cewek juga nggak ngaruh … akhirnya sayapun mandi bebek aja asal cibang-cibung dengan pakaian lengkap … hehe... Oya, tempat pemandian umum ini letaknya kira-kira 150 meter dari rumah pak Doi, dan disana juga merupakan sumber air yang digunakan untuk memasak oleh penduduk sekitar. Setelah mandi, mulailah acara masak-memasak yang giliran pertama jatuh pada saya dan Emil. Sementara Emil memasak nasi, saya menggoreng telur dan memanaskan kornet. Itulah menu kami malam pertama di rumah pak Doi. Setelah acara makan malam bareng pak Doi & keluarga, kamipun evaluasi kegiatan sebentar sebelum akhirnya istirahat untuk segera memulai petualangan *taelah…*.
Awal Perjalanan Menuju Gua Setelah berdoa terlebih dahulu, kami berangkat dari rumah pak Doi menuju gua, disertai oleh putra pak Doi sebagai penunjuk jalan, yaitu Kang Ade. Setelah menunggu selama ½ jam akhirnya kami dapat mobil angkutan menuju jembatan Cijengkol, tempat kami turun ke area gua yang akan dimasuki. Untung mobil angkutannya masih agak kosong, jadi kami tidak perlu sampai naik ke atap mobil deh … Sampai di jembatan Cijengkol, kami turun dan mulai perjalanan menuju gua dengan jalan kaki, melewati pematang sawah di sisi sebelah kanan sungai, mendaki bukit sebentar, lalu melewati pematang sawah lagi, kemudian kami masih harus menyeberangi sungai Cisawarna, sampai akhirnya kami tiba di mulut gua.
Mulai memasuki Gua Surupan Cilubang Entrance gua Surupan Cilubang ini di tandai dengan sebongkah batu besar yang terlihat jelas dari kejauhan jika kita sedang melewati pematang sawah di sekitarnya *lihat foto*. Setelah mempersiapkan diri masing-masing untuk masuk gua, antara lain dengan memakai wearpack atau raincoat, mempersiapkan senter beserta baterai cadangannya, serta meninggalkan kompor dan baju-baju kering di semak depan gua, kami mulai menuruni batu besar dan ‘nyemplung. Oya, sebelum masuk gua, sebaiknya jangan lupa juga untuk membawa snack, permen, coklat atau makanan kecil lainnya untuk dimakan sewaktu istirahat di dalam gua, lumayan untuk menambah tenaga badan, yang kedinginan karena kaki terendam air terus-menerus. Gua Surupan Cilubang ini merupakan gua dengan tipe horizontal dengan aliran sungai kecil yang membelah lorong jalan menyusuri dalamnya gua.
Setelah ‘nyemplung di air dengan ketinggian kira-kira se-pinggang, kami mulai merangkak *ducking* dalam air untuk masuk celah batu sepanjang kira-kira 8-10 langkah dengan celah batu yang tidak terjangkau air selebar cukup untuk muka. Sampai di dalam, masih harus kita lewati tumpukan batu terjal untuk masuk ke chamber atau ruang gua yang lebih luas serta cukup buat lari-lari deh. Kami juga sempat menemukan batang-batang kayu dan bambu yang diduga terbawa arus sewaktu banjir di dalam gua. Jadi terbayang … serem juga kalau tiba-tiba datang banjir, hiy … Setelah menyusuri lorong gua yang dialiri sungai kecil kira-kira 10 menit, mulai ditemui ornamen-ornamen gua yang unik seperti stalagtit berbentuk kuncup bunga terbalik, bentuk belimbing, ada juga bentuk kerang, yang tergantung di atas gua, atau ada air terjun kecil di sisi sebelah kanan gua. Kesempatan pertama melihat keindahan alam itu kami gunakan untuk ‘taking picture’ sebisa kami, soalnya peralatan memotretnya minim banget sih, apalagi cahayanya *di dalam perut bumi bo’*. Kira-kira setengah perjalanan, kami ketemu tebing kapur terjal yang diduga adalah jalan menuju ke lantai 2 gua Surupan Cilubang, di sisi sebelah kanan. Kami semua sih tertarik untuk naik ke lantai 2, tapi akhirnya diputuskan untuk tetap menyusuri jalur dasar gua.
Setelah melewati beberapa belokan dan tikungan *kayak balap mobil aja*, akhirnya kami ketemu sebuah keindahan lain dalam gua di sisi sebelah kiri, yaitu rimstonepool *formasi kalsit berbentuk kolam bertangga* berupa serambi bulat seperti gentong-gentong air yang disusun berjajar dan terbalik, tingginya kira-kira 1,5 meter untuk tingkat pertamanya. Setelah mencoba naik keatas serambi itu untuk foto-foto bareng, baru terlihat bagian pantat gentong-gentong tersebut ternyata membentuk cekungan yang menampung air kapur. Jadi kami bergaya di serambi itu untuk foto-foto sambil duduk diatas mangkuk air, hehe …
Lanjut …….. lama-lama lemes juga nih kaki karena kedinginan kecelup di air terus, kepala juga udah mulai kebanyakan terantuk atap gua yang runcing-runcing *untung …. ada helm ….*, wah… ini sih ketahuan tanda-tanda kelaparan…. Nggak berapa lama kemudian kami harus jalan jongkok *ducking* lagi karena ketinggian langit gua cukup rendah sekitar 0,75 meter, dan cukup lama pula, sampai akhirnya kami tiba di ujung penelusuran *bukan ujung gua lho*, karena pertimbangan waktu dan medan gua yang berupa chiffon dan tidak diketahui kedalamannya. Setelah itu kami istirahat dulu sebentar, makan permen, coklat, biskuit, dll. sebelum meneruskan perjalanan keluar gua.
Kamera Kejebur Perjalanan kembali ke luar gua diwarnai kejadian-kejadian dari yang ‘nyebelin *ada yang tergelincir masuk air berikut kamera-nya …xixixixixi sambil nunjuk diri sendiri... *, sampai kejadian yang agak mengerikan, gara-gara waktu menuruni tebing terjal mendadak sebuah batu segede menhir runtuh diinjak Ronald, langsung menghujam air. Untung Ronald cepet lompat ke depan, langsung terjun ke air. Bayangin aja deh, kalau di bawahnya ‘nggak ada air… aduh… saya sempat ‘ngeri aja deh ‘ngeliatnya, saya jalan pas di belakang dia!!!
Singkat kata, kami akhirnya sampai di luar gua dengan rute yang sama, dengan janji akan kembali lagi *kalau bisa, hehehe…*, soalnya pingin ke lantai 2 sih.
Keluar dari kegelapan gua, langsung Emil & Ari mulai masak nasi & telur, sedangkan yang lain mandi di sungai bergantian, lalu makan siang sambil jemur kamera dan baterai. Acara makan terasa sedap sekali, walaupun piringnya pakai daun pisang, tapi sekotel telur buatan Emil nikmat sekali dimakan di pinggir sawah, apalagi ditambah abon sapi. Wuih …. pokoknya sedap deh … sayang nasinya cuma sedikit … ¾ misting dibagi 6 orang… hiks…
Menuju Gua-gua Wayang Gua-gua Wayang yang akan kami tuju merupakan kompleks gua yang terdapat di kedua tebing sungai, saling berhadapan. Sebelum sampai di kompleks gua tersebut kami bertemu seorang bapak tua yang sedang mencari kerbaunya, dan akhirnya kamipun diantar bapak itu menuju gua Wayang. Melewati pematang sawah, mengarungi sungai, sampai salah jalur *kayaknya sih bukannya salah jalur, cuma kelupaan aja!*, akhirnya kami nggak menemukan gua yang dituju, tapi menemukan gua baru disekitar daerah gua yang dimaksud. Ceritanya begini, rombongan terbagi 2, yaitu : rombongan-1 terdiri dari: Kang Ade, Ronald, Andreas, Emil + bapak tua. Rombongan-2 terdiri dari: Ari dan Basari. Rombongan-1 masuk ke mulut gua di tebing sebelah kanan *gua Wayang-1*, sementara rombongan-2 lebih tertarik untuk masuk ke sebuah gua di tebing sungai sebelah kiri *entah kenapa ya …hehe...*. Rombongan-2 diawali oleh Emil dan bapak tua memasuki gua Wayang-1, disusul oleh Andreas, Ronald, dan Kang Ade. Gua tersebut mempunyai 4 jalur, dengan 3 jalur pendek menuju kearah atas dan 1 jalur bawah berupa aliran sungai kecil, yaitu jalur terpanjang yang konon bisa tembus sampai ke daerah Cikeusi. Di jalur ini pula menurut cerita terdapat danau luas yang lebarnya lebih dari sepelemparan batu.
Akhirnya rombongan-1 tidak melanjutkan perjalanan menyusuri gua Wayang-1, tapi langsung menyusul rombongan-2 masuk gua baru. Jalan masuk gua yang baru ditemukan itu lumayan licin dan terjal dengan kondisi batu-batu runcing untuk pijakan kaki sementara di bawahnya menganga lubang dalam. Setelah memasuki mulut gua beberapa puluh meter, akhirnya kami memutuskan untuk kembali keluar dengan mempertimbangkan waktu yang sudah menjelang pukul 16.00 *Lewat pukul 18.00 angkutan umum menuju rumah pak Doi sudah tidak ada*. Begitu keluar, kami mengambil jalan melipir tebing *tidak menuruni jalan semula* untuk memasuki gua Wayang-2, kemudian sampai di pertigaan dalam gua, kami belok kanan untuk keluar dari gua Wayang-3, dan turun melalui tangga bambu yang tersandar di tebing. Jadi dapat dideskripsikan, bahwa di tebing sungai sebelah kiri itu terdapat 3 buah gua yang letaknya sejajar, ditambah 2 buah gua sejajar yang letaknya lebih tinggi dari ketiga gua yang lain. Menurut penduduk sekitar, gua-gua tersebut diberi nama gua Wayang, karena sering terdengan alunan gamelan pengiring Wayang dari dalam gua-gua itu. Waduh, serem juga yak… ?!? Mungkin itu cuma suara angin yang masuk ke rongga-rongga gua ya…
Setelah capek, akhirnya kami semua mandi di sungai depan gua Wayang sambil main, ngobrol-ngobrol dan istirahat. Tiba saatnya pulang, kami ambil jalan lewat tebing, nggak lewat sungai lagi, naik keatas dan sempat melewati kebun penduduk, sampai tiba di pematang sawah lagi. Akhirnya sampai di jembatan dan istirahat dulu, minum-minum di warung sambil nunggu angkutan menuju desa Darmasari tempat kami menginap di rumah pak Doi. Setelah lama nunggu, akhirnya kami dapat angkutan buat pulang ke rumah pak Doi. Sampai di rumah pak Doi, langsung pada mandi, dan akhirnya saya menemukan tempat mandi yang lumayan tertutup!!!! Horeee.. hehehe … letaknya ada di seberang jalan raya kira-kira 25 meter dari jalan raya itu. Cuma harus mau mandi setelah bersusah payah menimba di sumur yang dalamnya kira-kira 3 meter. Setelah acara mandi selesai, *akhirnya mandi juga…. hehe..* dilanjutkan acara masak untuk makan malam. Malam ini menu kami nasi, sayur sop, telur rebus dan sarden… nyam nyam ….
Nah, buat cewek-cewek yang nanti mau caving di Bayah, mungkin saya bisa sarankan, kalau mau mandi nyaman dan ‘nggak dilihatin sama cowok-cowok yang pada lewat di pemandian umum itu… supaya ambil air sebanyak-banyaknya dulu di sumber air, lalu mandinya di kamar mandi belakang rumah pak Doi. Setelah makan malam, kami mengadakan evaluasi kegiatan sebelum akhirnya tidur untuk bersiap kembali ke Depok keesokan harinya.
ZzzZZzzzz ….. kamipun bermimpi melanjutkan perjalanan menyusuri perut bumi, merambah kegelapan dengan harapan sinar lampu senter kami dapat menerangi suatu keajaiban yang indah di dalam sana…
|
| |