Sri Sarining's posts with tag: bayah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bayah
Photo AlbumSawarna, Bayah - Banten (70 photos)May 13, '08 2:20 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Lagi rajin nih...
biasanya 'gak pernah aplot foto jalan2 lagi hihihi...
tapi kali ini karena ada permintaan khusus, hayu wae atuh...

Sabtu, 10 Mei 2008
Perjalanan dadakan dengan cewek2 cantik, yang tadi-nya bersepakat 5 orang, tapi menyusut menjadi 3 orang saja, dikarenakan salah satu 'gak boleh pergi kemana2 karena mau menikah sebentar lagi, yang satu lagi 'gak jadi karena ada jadwal siaran hari Minggu siang-nya, yah apa boleh buat... hanya kami ber-3 yang available untuk mission almost impossible ke Bayah...

Kenapa gue sebut mission almost impossible, karena berbeda dengan perjalanan menuju Bayah sebelum2-nya, kali ini gue membawa salah satu dari wanita cantik yang gemar berdandan dan gue agak meragukan kemampuan dia beradaptasi dengan situasi2 di perjalanan nanti-nya. Seperti misalnya, 'gak tahan di perjalanan lalu mabuk, bakalan menginap di rumah penduduk lalu komplen... hahahahhaa... ternyata nanti dugaan gue salah besar...

Oya, sebelum berangkat ke Pelabuhan Ratu - Bayah ini, gue berangkat ke Ragunan dengan niat untuk menjalani proses memperpanjang SIM yang sebulan lagi akan habis masa berlaku-nya. Karena berniat di potret dengan rapi, akhirnya gue pakai-lah baju semi formal yang akhirnya menjadikan gue salah kostum nanti-nya di pantai Bayah... Ternyata sodara-sodara, sesampai di Ragunan jam 08.45, gue dibilangin sama petugas bahwa formulir isian perpanjang SIM sudah habis, padahal loket Samsat Keliling di buka jam 08.00. Jadilah gue lunglai meninggalkan Ragunan tanpa SIM baru... ehehehehe... sutralah, 'gak penting... yang penting fun fun fun fun!!!

16.00
Misi jemput-menjemput dilaksanakan. Gue berangkat menuju ke kantor untuk jemput Desiree yang habis siaran jam 3 sore, lalu menyusul jemput Puji di Rawamangun. Perjalanan dari Jakarta dimulai tepat jam 18.00 lewat pintu tol Rawamangun menuju arah Bogor - Ciawi. Kami sempat istirahat mengisi bensin full tank di Sentul, lalu melanjutkan perjalanan menuju arah Sukabumi.

Sepanjang perjalanan, kami membahas tentang akan menginap dimana nanti setiba di Pelabuhan Ratu? Di hotel atau rumah penduduk? Bayangan menginap di rumah penduduk rupanya lebih menggoda wanita2 cantik rekan seperjalanan gue ini, dimana akhirnya kami bersepakat untuk "oke, 'nginep di rumah penduduk"... Dan pertanyaan2 seperti: "ntar kita tidurnya dimana?" atau "makan bagaimana?" dengan enteng gue jawab: "'gak keberatan tidur di lantai kan?"... "masak sendiri dong, hehehe..."

Well,
singkat cerita setelah membeli cemilan gorengan untuk teman perjalanan, lalu jam 21.00 kami makan malam di sebuah rumah makan yang menyajikan sate kambing... akhirnya kami melewati pertigaan arah ke Pelabuhan Ratu, melewati Cikidang. Entah sudah berapa kali gue melewati daerah ini, sampai gue hapal kelokan2 tajam dan menanjak di sana. Gue sempat memperingatkan ke rekan2, bahwa kita akan melewati daerah berkelok selama lebih dari 20 km. Dan belum ada 10 km pertama, Puji 'udah menyerah dengan isi perut yang baru di-isi sate kambing keluar dengan sukses 2 kali. Waduh... padahal Desiree yang tadinya gue ragukan kemampuan-nya dalam beradaptasi di perjalanan, ternyata sukses berat tidur di samping gue, di-buai jalanan berkelok... hihihihihi... ternyata efek 'nyetir gue ke masing2 orang beda yah...

22.00
Baiklah...
setelah kami melewati 40 km rintangan pertama, akhirnya sampai di kota Pelabuhan Ratu. Puji yang isi perutnya sempat teraduk2 di daerah Cikidang, gue tawarkan untuk menginap di hotel sekitar Pelabuhan Ratu aja, demi menjaga kondisi badan, kalau2 aja butuh perawatan extra toh? Tapi Puji menolak dengan tegas, katanya: "kita lanjut ke rumah penduduk ajah!" Okey... gue-pun melanjutkan mengemudi mobil menuju ke daerah Bayah, sekitar 70 km atau 1,5 jam dari kota Pelabuhan Ratu.

Untuk diketahui, perjalanan dari pusat kota Pelabuhan Ratu menuju Bayah, di 20 km pertama mungkin perjalanan biasa saja dengan kondisi jalan aspal biasa, yang terkadang ada lubang kecil dan ada sebagian erosi air laut yang merupakan dampak dari jalan raya di pinggir pantai. Apalagi kalau sedang tsunami seperti bulan Mei 2008 lalu, jalan raya juga dapat sampai tergenang cukup tinggi. Tetapi, 50 km sisanya adalah perjalanan menyenangkan untuk driver, karena jalanan mulus dengan kondisi aspal yang bagus sementara kelokan di pegunungan walaupun ada yang tajam dan sampai 45 derajat lebih, cukup lebar untuk ditanjaki dengan kondisi mesin stabil di gigi 2 kadang 3 kalau situasi benar2 lengang. Yah, namanya hutan belantara, tengah malam pula, bisa 'lah gigi 3 digeber dari sejak sebelum nanjak dan jalanan masih datar, ehehehehe... jadi 'gak capek pindah perseneling... tapi untuk persiapan kalau ada yang ingin melewati daerah ini, lebih baik cek kondisi kendaraan terlebih dahulu, kalau bisa jangan pakai sedan kalau hendak ke pantai Ciantir dan Tanjung Layar, karena tidak mungkin.... ehehehe... tanjakan di sana lebih dari 50 derajat men... dan jalanan 'kadang hanya bisa dilewati kendaraan berbodi tinggi...

23.30
Kami sampai di desa tempat pak Doi tinggal. Akhirnya...
Setelah parkir di tempat biasa, gue mengajak Desiree dan Puji untuk langsung ke rumah pak Doi. Desiree bilang: "'gak turun dulu ajah, trus kalo orang-nya ngasi tempat 'nginep baru ambil barang di mobil?"... gue bilang: "santai ajah, insya Allah boleh kog, langsung aja bawa barang yuk ke dalem..." ehehehe... gue pede ajah... habis... rumah pak Doi ini, ceritanya 'udah bertahun2 sejak kedatangan gue pertama kali di desa ini, adalah tempat menginap gue dan teman-teman. Entah sudah berapa puluh kali gue datang ke desa ini.

Ceritanya...
dulu waktu kuliah, gue dan teman2 KAPA FTUI dari divisi Caving sering menyusuri gua-gua yang ada di pelosok Bayah ini. Nah, namanya juga mahasiswa, mau tidur di mana aja, jadi 'lah... di terminal, di musholla, di stasiun bus, termasuk di rumah pak Doi ini. Makanya, gue cukup takjub juga 'nih, mengikuti perkembangan desa ini. Dari sejak 'gak ada BTS dari beberapa provider seluler, dan bikin gue selalu diomelin mom karena pas caving 'gak bisa ditelepon karena khawatir Jakarta banjir besar sementara gue asik2 caving di Bayah yang keirng kerontang, sampai sekarang bertebaran BTS-BTS di sana dan gue bebas 'ngempi juga di sana. Dari sejak rumah pak Doi berlantai tanah, gue dan teman2 bikin tenda di halaman pak Doi, atau tidur desak2an beralas sleeping bag di pojok ruangan berlantai tanah, juga susah mandi karena hanya ada pancuran umum yang buat cowok-cewek hanya dipisah dinding selebar 1 meter saja... Sampai rumah pak Doi di semen lantai-nya, lalu gue juga sempat pernah mandi tengah malam di sumur tengah sawah hanya karena supaya 'gak campur mandinya dengan rekan2 cowok di pemandian umum... Maklum, daerah pegunungan kapur sulit sekali menggali air tanah bersih kecuali mau menggali dalaaaaam sekali. Itu sebab-nya pemandian umum dengan pancuran dan jaraknya berpuluh meter dari rumah, sudah umum di sana. Dan sekarang, selain memasang keramik lantai rumah, pak Doi sudah punya kamar mandi dengan sumur galian sendiri, walaupun hanya berdinding gedek bambu... Yah, walaupun tetap aja, kalau mau buang hajat ke sawah, hahahahahahhh... Tapi berkat rejeki memang 'gak kemana, sekarang pak Doi sudah membeli sebuah rumah lagi, yang walaupun rumah tua, sudah ada kamar mandi berikut WC-nya yang tentu saja cukup tertutup. Syukur-lah...

Minggu, 11 Mei 2008
Nah,
setelah basa-basi sejenak dengan tuan rumah, jam 01.00 kami akhirnya mencoba tidur. Desiree sukses 'ngorok. Sementara gue sibuk mengeluh masuk angin (maklum, faktor U membuat gue sekarang kurang 'nyaman kalau jam 11 malam belum masuk tempat tidur, ditambah lagi 'nyetir berjam2 nonstop --> siapa suruh?)... sementara itu di pojokan dekat dinding... Puji sibuk 'ngempi lewat hp & chatting sama Ocon di Bandung sana... halah... Ocon sempet2nya salam buat pak Doi lagi hihihihi... Akhirnya jam 02.30 gue bisa tidur juga setelah berupaya keras untuk menutup mata dan melupakan suara dengkuran Desiree...

06.00
Waktu yang dijadwalkan untuk bangun, makan dan melanjutkan acara menyusuri pantai. Tapi gue memilih tidur lagi hahahaha... sampai akhirnya jam 07.00 Desiree 'ngoprak2 gue memaksa untuk bangun. "Haduhhhhh Dessss... plisss lagi enak2 bobo gitu loh... ini kan hari Mingguuuuuu kita 'gak harus siaran di tengah hutan kayak gini kaaannnn..."

Setelah sukses membuka mata, akhirnya kami melanjutkan aktivitas mandi. Puji memilih mandi di pancuran, sementara gue dan Desiree memilih mandi di kamar mandi gedek-nya pak Doi. Puji sempat gue tawarkan untuk mandi di sumur gedek, tapi Puji menolak dengan alasan: "ogah ah Riiii... ntar keliatan dari luar... kan gedek-nya jarang2 juga tuh yang sebelah situuuu..." dan gue jawab: "halah sapa juga yang mau liat elo, lagian ini kan udah terang, kalo malem lo di dalem pake lampu, iya lah kelihatan, lha kalo siang kan di dalem kamar mandi gelap, terang di luar, loe 'gak bakal keliatan 'lah..."... tapi ternyata Puji 'ngotot mandi di pancuran demi menyalurkan hasrat mencoba sensasi mandi di pancuran. Ini diakui-nya belakangan... wakwakwakwakkkkk...

09.30
Setelah sarapan mie goreng plus telur mata sapi, akhirnya gue, Desiree, Puji, pak Doi, bu Doi dan 2 anak mereka, kami ber-7 berkendara menuju ke pantai Ciantir dan Tanjung Layar, 15 km dari rumah pak Doi, atau sekitar 30 menit perjalanan yang menempuh jarak 9 km ke gerbang desa Sawarna. 6 km sisanya adalah jalanan dengan tanjakan heboh dan hanya dapat ditempuh dengan kendaraan bukan sedan dan dalam kondisi prima dengan mesin 1500 cc lebih. Okey, gue pernah menggunakan mobil 1100 cc, tapi itu dengan kondisi mobil gres dan penumpang-nya hanya 3 orang cewek2. Jadi jangan harap kalau berpenumpang banyak, bisa melewati tanjakan2 di sana dengan sukses kecuali dengan mobil bertenaga lebih besar.

Sampai di jembatan gantung, gue parkir dan menitipkan kendaraan kepada bapak penungu bengkel yang ada di samping jembatan. Kami-pun mulai berjalan kaki menyusuri jembatan gantung, rumah2 penduduk, sawah2 yang mulai dipanen, ladang2 kacang panjang milik penduduk, dan kebun kelapa. Akhirnya, setelah sekitar 20 menit berjalan kami sampai di pantai Ciantir. Wow... laut sedang pasang menggelora. Ratu Selatan sedang menari dengan indah lewat gelombang2 yang memukau. Biasanya, kalau di pantai Ciantir ini gue sering main di atas karang2 berlumut yang bermunculan. Tapi karena laut sedang pasang, kami cuma bisa bermain di pasir yang bersih dan penuh oleh kepiting2 muda yang bermunculan di lubang2 sepanjang pantai. Gue jadi ingat, waktu berkelana sendirian di pantai Tanjung Taipa Kendari... seperti inilah suasana-nya... sepi... hampir 'gak ada manusia yang mengotori pantai dengan sampah2 bungkus makanan mereka, dan hanya berteman kepiting yang bertebaran selama berjalan di sepanjang pantai. Ih... romantis banget yahhhh... wakwakwakwakkkkkk...

Akhirnya kami hanya bercengkerama dengan mentari dan pantai dengan ombak-nya yang bergelora, menyusuri sepanjang pantai Ciantir menuju Tanjung Layar... puas narsis, kami kembali berjalan pulang, menyempatkan minum es cendol buatan penduduk sekitar pantai yang berjualan di depan rumah mereka, dan akhirnya sampai di tempat parkir kendaraan. Setelah menambah angin untuk ban belakang, kami pulang meninggalkan kenangan tentang pantai Ciantir dan Tanjung Layar yang mempesona. Ini adalah memori gue ke-sekian tentang tempat ini. Setiap kali ada yang terlewat, gue selalu bilang dalam hati... "sudahlah... masih ada waktu lain kali untuk kembali ke sini..." dan itulah yang berulang kali terjadi... gue selalu kembali, dan selalu ada yang terlewat untuk diabadikan... seperti gue kali ini terlewat untuk mengabadikan air terjun yang berkilauan dari jauh terlihat di tebing2 pegunungan Bayah...

12.30
Setelah menurunkan pak Doi dan keluarga, berpamitan untuk berjanji lain kali akan mampir kembali, kami pulang dengan hati riang. Berjanji untuk makan sepuasnya sesampai di rumah makan, karena belum sempat makan nasi timbel yang di bawa bu Doi tadi di perjalanan... Gue peringatkan ke teman2, bahwa: kita baru akan sampai di Pelabuhan Ratu sekitar 1,5 jam lagi, mau makan dimana? Sementara itu 1 jam setelah Pelabuhan Ratu akan dihabiskan selama 40 km di daerah Cikidang yang kelokan-nya sempat bikin Puji jackpot di tengah jalan. Dare to having lunch before Cikidang?

Akhirnya disepakati-lah untuk makan sekalian di Depok aja dehhhhh....
Huahahahhaha... Depok masih kira2 5 jam perjalanan lagi... Gue 'gak begitu yakin dengan tekad ini, dan singkat cerita, setelah menyempatkan berhenti sejenak di Pantai Pelabuhan Ratu, melewati 40 km tanjakan dan kelokan Cikidang berikut pemandangan perkebunan yang spektakuler plus langit biru... akhirnya kami sampai di Cibadak, dan gue langsung memarkir kendaraan di depan sebuah rumah makan bergaya Sunda. Silahkan makan... Tidak ada yang menolak.... hahahahha... bener kan... siapa yang tahan sampai di Depok baru makan? huhuhuhu...

16.00
Akhirnya, setelah menghabiskan 1 jam di rumah makan untuk bersantap siang dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Depok - Jakarta, yang ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Setelah menyempatkan mencuci mobil, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Istirahat, dan mengumpulkan energi dan semangat baru untuk bekerja kembali keesokan hari.

See you next time, Bayah...
=======================

Catatan:
Jarak tempuh:
Pantai Ciantir - Pelabuhan Ratu = 70 km = 1,5 s/d 2 jam
Jalur Cikidang (Pelabuhan Ratu - p3an Cibadak) = 40 km = 1 jam
Cibadak - Jakarta (p3an Cibadak - pintu keluar Cibubur) = 90 km = 2,5 jam
Total jarak Jakarta - Bayah = 200 km dengan waktu tempuh 5 s/d 5,5 jam.

Hal ini kontras dengan waktu tempuh rata2 gue alami selama perjalanan Jakarta - Jogja nonstop:
8 s/d 9 jam dengan jarak tempuh 650 km melewati jalur Selatan dan tol Cipularang.

Kesimpulan:
ya iyalah... rute Jakarta - Jogja mulussssss... apalagi ada tol Cipularang...
sementara rute Jakarta - Bayah berkelok, nanjak dan harus rajin oper gigi...
=======================

Budget ke Bayah ber-3:
1. Bensin = Rp. 300.000,-
2. Makan bareng 2 kali = Rp. 160.000,-
3. Tol pp = Rp. 30.000,-
4. Belanja cemilan, mie instant, air mineral, dll = Rp. 110.000,-
5. Uang sukarela untuk menginap semalam = Rp. 100.000,-
=======================
TOTAL = Rp. 700.000,-
dibagi 3 orang = Rp. 234.000,-
Ini biaya paling minimal, kalau bawa mobil sendiri dan menginap di rumah penduduk.

Alternatif lain dengan angkutan umum untuk menuju daerah Bayah - Sawarna:
1. Naik bus umum MGI AC Depok - Pelabuhan Ratu (lewat kota Sukabumi)
2. Naik elf jurusan Pelabuhan Ratu - Cisolok (tapi terbatas waktunya, kalau lewat jam 5 sore ya 'ndak bisa, terpaksa menginap semalam di terminal hehehe...)
3. Dengan angkutan umum mungkin memangkas biaya perjalanan, namun waktu tempuh menjadi lebih panjang sekali, dan ini berakibat juga pada biaya penginapan yang dikeluarkan.
4. Penginapan di Bayah - Sawarna belum ada, jadi memang standar penginapan di sana adalah di rumah2 penduduk, kecuali kalau berniat menginap di hotel2 sekitar Pelabuhan Ratu, yang jaraknya sekitar 70 km / 1,5 jam dari Bayah.
5. Rata-rata harga penginapan di rumah penduduk sekitar Bayah - Sawarna sekitar Rp. 50.000,- / orang / hari.
6. Pantai Ciantir terkenal di kalangan wisatawan asing untuk tempat berselancar yang aman, dan kadang mereka bisa berada di Sawarna yang terpencil itu berminggu-minggu, tanpa diganggu oleh wisatawan lain dan bebas menguasai pemandangan pantai layaknya pantai pribadi... bener2 sepi bow...



.
.
.


EventTrip Bayah - SawarnaAug 8, '07 9:53 AM
for everyone
Start:     Aug 27, '07 10:00a
End:     Aug 31, '07 10:00a
Location:     Bayah, Sawarna
Trip Bayah - Sawarna: 31 Agust - 2 Sept 2007



asiiikkkk bakal menyusuri gua-gua cantik & pantai-pantai menggemaskan lagi...
Ada yang mau ikut???

============
Bayah, terkenal dengan sebutan daerah seribu gua.

Sangat cocok bagi petualang yang ingin menikmati explorasi cantiknya perut bumi daerah Jawa Barat. Banyak terselip gua-gua yang patut untuk dikunjungi, untuk melihat dari dekat keajaiban alam yang selama ratusan tahun membentuk stalagtit dan stalagmit menjadi maha karya agung Sang Pencipta.

Sawarna, ± 230 km dari Ibukota Jakarta menuju arah Banten Selatan, desa yang rimbun dipinggiran hutan Perhutani dan dipagari oleh lautan Samudera Hindia seakan tertutup oleh pandangan masyarakat luas akan keberadaan desa tersebut. Akses utama menuju lokasi tersebut dapat di tempuh dengan mudah oleh kendaran roda empat melalui jalur Pandeglang–Malimping–Bayah atau dapat juga melalui jalur Pelabuan Ratu–Cisolok.

Kebanyakan orang tidak akan tahu dimana tepatnya keberadaan desa Sawarna ini, akses jalan yang minim petunjuk sampai dengan letak jantung desa tersebut dari jalan utama masih berjarak 6 km lagi. Tepat di pintu masuk menuju desa tersebut terpampang tulisan "Selamat Datang di Desa Wisata Sawarna", namun semakin dalam menuju arah yang dituju tidak ditemukan dimana desa tersebut, dimana obyek wisata yang ditawarkan tersebut, akan membuat penasaran. Jembatan besi merupakan awal perjalanan menuju Desa Sawarna, lebih jauh memasuki jalan tersebut akan disuguhi oleh pemandangan hutan Perhutani yang lebat, pohon–pohon besar berdiri dengan angkuh.
============

Peserta: minimal 15 orang
Biaya: Rp. 365.000,-
Include : tranportasi bus, makan, local guide, sewa helm untuk susur gua
Itinerary lengkap berupa jadwal, transportasi dan akomodasi akan diberikan menyusul.

Daftar peserta sementara:

1. givangkara (mas Givang),
2. katumbiri (Jia),
3. Novi (Bromo),
4. Swan (temen Novi),
5. Tony,
6. Fika,
7. Meiti,
8. Yoyok,
9. anak Yoyok,
10. Dina dumbo,
11. Alip,
12. Denny dotten,
13. Diana,
14. Firmansyah,
15. ...









Link info lain:
Trip Bayah - Sawarna: 31 - 2 Sept 2007

Blog EntryTrip Bayah - Sawarna: 31 - 2 Sept 2007Aug 8, '07 9:31 AM
for everyone


Bayah, terkenal dengan sebutan daerah seribu gua.
Sangat cocok bagi petualang yang ingin menikmati explorasi cantiknya perut bumi daerah Banten & Jawa Barat. Banyak terselip gua-gua yang patut untuk dikunjungi, untuk melihat dari dekat keajaiban alam yang selama ratusan tahun membentuk stalagtit dan stalagmit menjadi maha karya agung Sang Pencipta.

Sawarna, ± 230 km dari Ibukota Jakarta menuju arah Banten Selatan, desa yang rimbun di pinggiran hutan Perhutani dan dipagari oleh lautan Samudera Hindia seakan tertutup oleh pandangan masyarakat luas akan keberadaan desa tersebut. Akses utama menuju lokasi tersebut dapat di tempuh dengan mudah oleh kendaran roda empat melalui jalur Pandeglang–Malingping–Bayah atau dapat juga melalui jalur Pelabuhan Ratu–Cisolok.

Kebanyakan orang tidak akan tahu dimana tepatnya keberadaan desa Sawarna ini, akses jalan yang minim petunjuk sampai dengan letak jantung desa tersebut dari jalan utama masih berjarak 6 km lagi. Tepat di pintu masuk menuju desa tersebut terpampang tulisan "Selamat Datang di Desa Wisata Sawarna", namun semakin dalam menuju arah yang dituju tidak ditemukan dimana desa tersebut, dimana obyek wisata yang ditawarkan tersebut, akan membuat penasaran.

Jembatan besi merupakan awal perjalanan menuju Desa Sawarna, lebih jauh memasuki jalan tersebut akan disuguhi oleh pemandangan hutan Perhutani yang lebat, pohon–pohon besar berdiri dengan angkuh.

Kebanyakan gua yang juga ada di Sawarna merupakan gua karst (batu gamping) dari zaman Miosen awal. Terjadinya salah satu gua, yaitu Gua Lalay bermula dari adanya retakan pada batu gamping akibat pengaruh tektonik. Retakan tersebut selanjutnya berfungsi sebagai jalan air yang melarutkan batu gamping tersebut sesuai dengan sifat fisiknya yang mudah larut dalam air. Air yang melarutkan batu gamping tersebut selanjutnya mengendap dan menghasilkan berbagai ornamen gua. Bagian dasar gua ini merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan 10 sampai 15 cm. Panjang gua diperkirakan sampai 1000 meter. Sedangkan Gua Kadir berada di sebelah barat Gua Lalay, dengan mulut gua sempit menghadap ke arah barat.

Untuk bisa masuk ke dalam gua, orang harus merangkak sejauh kurang lebih 2 meter. Berbeda dengan Gua Lalay, Gua Kadir posisinya relatif lebih tinggi sehingga bagian dasar gua relatif lebih kering.


Kesana yukkkk!!!

Peserta: minimal 12 orang.

Biaya: Rp. 365.000,-

Include: tranportasi bus, akomodasi, makan, local guide

Itenerary

Hari-0: Jumat, 31 Agustus 2007
19.00 Kumpul di meeting point, di Pasar Festival
20.00 Berangkat menuju Pelabuhan Ratu, Bayah

Hari-1: Sabtu, 1 September 2007
01.00 Sampai di penginapan, rumah penduduk sekaligus guide kita
01.30 istirahat
06.00 Siap berangkat menuju goa
06.30 Berangkat ke goa-goa Cijengkol, menyusuri salah satu goa yaitu Surupan Cilubang. Dan mengunjungi goa lain dari mulut / chamber depan: Goa Wayang, dll
14.00 Mandi di sungai membersihkan badan
15.00 siap-siap perjalanan pulang
16.00 langsung menuju ke homestay di Sawarna
18.00 istirahat

Hari-2: Minggu, 2 September 2007
04.30 Bangun, sholat dll.
05.00 Menuju ke pantai Ciantir, lihat buaya berjemur di muara sungai, lanjut ke Tanjung Layar, pulang-nya mampir ke Goa Lalay sebentar...
17.00 kembali ke Jakarta
22.00 sampai di Jakarta

=======================

Peralatan Yang Dibawa
1. Tas (daypack/backpack dll),
2. Senter genggam yang kuat cahaya, jangan terlalu besar ukuran-nya
3. Headlamp, optional saja bila dibawa beserta lampu senter lebih bagus,
4. Wearpack & baju ganti untuk masuk goa (kalau 'ndak punya wearpack, bisa juga pakai jas hujan tipis yang 1 stel dengan celana)
5. Obat-obatan pribadi (panitia akan menyediakan obat-obatan umum spt. P3K, obat sakit kepala,obat anti diare, obat anti nyamuk),
6. Peralatan memotret (kamera, handycam, charger dll...) --> kalau di dalam goa dibutuhkan peralatan anti air untuk kamera-nya, atau ditinggal saja selama di goa Surupan Cilubang, penjagaan dijamin aman. Di goa Lalay tidak perlu peralatan wearpack & anti air.
7. Makanan kecil, snack, dll...

=======================


Pembayaran
50% harus ditransfer sebelum tanggal 20 Agustus 2007,

dan sisanya sebelum tanggal 27 Agustus 2007.
Mohon transfer dilakukan ke rekening atas nama: Sri Sarining Diyah
BCA cabang Bungur 003-004-2221 atau
Mandiri cab. Depok 129-000-4964-058 atau
Lippobank cab. UI 305-100-59229 atau
BII cabang Depok 110-2244-920
Jika sudah transfer, mohon sms ke no 0818-848499 atau kirim email pemberitahuan ke mataindonesia@yahoo.co.id

Form Pendaftaran:
=======================
Saya mendaftar untuk mengikuti Trip Jelajah Bayah-Sawarna,
berikut ini adalah data pribadi saya :
Nama lengkap:
Status dengan peserta lain: *
Nama panggilan:
Alamat rumah:
No. Telp/Hp:
Email:
Nama & alamat kantor: :
Keterangan lainnya:
Dalam keadaan darurat, nomor telepon yg bisa di hubungi (nama/no): *

*(dicantumkan jika ada pasangan suami/istri/anak dalam satu trip ini)
**(untuk suami/istri/anak cukup 1 alamat/no telp)
***(misal vegetarian/alergi/kelainan (jantung/paru2 dll)
=======================
kopi dan kirim ke: mataindonesia@yahoo.co.id

Hal-hal lainnya :

  • Pendaftaran dan pembayaran DP 50% dilakukan sebelum tanggal 20 Agustus 2007,
  • Pembatalan sebelum tanggal 20 Agustus 2007 akan dikembalikan utuh,
  • Ada diskon khusus untuk peserta yang pernah mengikuti trip-trip mataindonesia,
  • Lewat tanggal diatas uang tidak bisa dikembalikan (karena uang digunakan untuk pelunasan transportasi),
  • Keikutan peserta bisa dialihkan,
  • Untuk pembatalan jika tidak ada penggantian peserta, uang yang sudah dibayarkan hangus,
  • Jika jumlah peserta tidak mencapai target kuota atau alasan yang sifatnya teknis, pembayaran pertama maupun pelunasan dikembalikan 100 %,
  • Jika pembatalan karena Force Majore, pembayaran pertama maupun pelunasan tidak dapat dikembalikan, tetapi panitia akan sebisa mungkin membantu untuk memecahkan masalah,
  • Dengan mendaftar dan membayar biaya trip, berarti anda telah menyetujui aturan trip perjalanan kami.






For more information please contact:
mataindonesia@yahoo.co.id ,
0818-848499 (Ari),

0813-86542524 (Ocon)


salam,
::mataindonesia::


=============

Daftar peserta sementara:


  1. givangkara (mas Givang),
  2. katumbiri (Jia),
  3. Novi (Bromo),
  4. Swan (temen Novi),
  5. Tony,
  6. Fika,
  7. Meiti,
  8. Yoyok,
  9. anak Yoyok,
  10. Hanani,
  11. Alip,
  12. Denny dotten,
  13. Diana,
  14. Firmansyah,
  15. ...



ddd
dThumbnaild
ddd

Minggu, 20 Mei 2007
Setelah jadwal kedua kunjungan di Bayah terlaksana, yaitu mengeksplorasi daerah Pantai Pulo Manuk, Sawarna - Bayah... maka kami bersiap kembali ke Depok melewati Pelabuhan Ratu lagi.

Rencana awal kami adalah pulang melalui Rangkasbitung lalu Serang menuju Jakarta sebelum akhirnya ke Depok. Namun berdasarkan sms-an dengan Hendry yang meng-informasikan bahwa jalur tersebut rusak cukup parah untuk mobil sedan, maka kami memutuskan kembali menyusuri pantai Pelabuhan Ratu, dan janjian ketemu Hendry, Tyty & Erwin, di Villa Karang Aji, Pelabuhan Ratu, untuk kemudian konvoi menuju Depok. Perjalanan menuju villa dihiasi dengan foto-fiti narsis di bibir jurang berlatar-belakang pantai Pelabuhan Ratu di bawah sana. Biar puanas-nya sangat menyengat, yang penting hasrat narsis tersalurkan... hehehe...

Sampai di villa, kami semua berleha-leha sebentar sebelum benar-benar meninggalkan villa yang jalan masuk-nya tanjakan sangat curam! Weleh... kembali semua penumpang terpaksa diusir keluar... hehehehe... Tapi pemandangan yang cantik banget di atas villa ini sepertinya lunas membayar kelelahan rekan-rekan yang terpaksa berjalan kaki naik ke atas menuju villa...

12.00
Kami meninggalkan villa menyusuri pantai Pelabuhan Ratu dan makan siang sejenak di rumah makan Baraya di jantung kota Pelabuhan Ratu. Rupanya kami baru mengetahui bahwa AC mobil Hendry mati, pantas saja waktu mereka mendahului kami, jendela terbuka lebar, hehe... dan baju mereka-pun basah bermandi keringat...huhu kaciaaaannnnn :D

Setengah jam lebih kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke arah Bogor, dengan melewati jalur-jalur Cikidang-Cibadak yang tanjakan-nya wowww... Sempat karena sebuah mobil Stream di depan kami berjalan amat pelan, mobil yang saya kendarai akhirnya mogok deh ditanjakan curam. Lagi-lagi semua penumpang saya usir keluar, hahahahaha... Test drive kali ini sukses meng-analisa semua kelemahan mobil ini. Selamat ya 'Ndrooooo...

Setelah sempat ikut menunggui di bengkel, me-reparasi AC mobil Hendry di daerah Parung Kuda, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, dan sekitar hampir magrib kami sampai dengan selamat di Depok. Alhamdulillah....

Trims buat rekan-rekan yang sudah bersama melalui perjalanan indah kali ini... semoga ada perjalanan indah kali berikutnya... :)



==================
Credit photos:
ari, tia, tri, indra


Other photos:
1. PIKNIK - by Tia,
2. CONTINUOUS SHOOTING - by Tia,
3. Cijengkol, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
4. Darmasari, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
5. Pantai Pulo Manuk, Sawarna, Bayah - Banten - by Ari,
6. Karang Aji Villa, Pelabuhan Ratu - West Java - by Ari.


Photo AlbumPantai Pulo Manuk, Sawarna - Bayah (14 photos)May 21, '07 7:11 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Minggu, 20 Mei 2007
Sebelum pulang kembali ke rumah masing-masing di Depok, kami menyempatkan melengkapi eksplorasi daerah Bayah dengan menuju Desa Sawarna, yang jaraknya sekitar 15 km dari tempat kami menginap.

Perjalanan menuju ke sana diwarnai dengan kekhawatiran medan yang diragukan dapat dilalui oleh mobil sedan yang saya kendarai. Benar saja, hampir sampai di jembatan, kami di tegur oleh penduduk sekitar untuk tidak melewati jembatan karena sedang diperbaiki. Ohhhhh ya ya ya... sempat terbersit kekecewaan...

Namun karena kami membawa guide yang juga kenal sekali dengan daerah setempat, maka kami memutar menuju jalan alternatip. Horeeeee... Walaupun saya akhirnya harus mengusir keluar semua penumpang karena jalan berbatu dan tanjakan seru yang harus kami lewati, alhamdulillah kami dapat melalui dengan selamat, dan sampai pantai Pulo Manuk di Desa Sawarna ini.


==================
Credit photos:
ari, tia, tri, indra


Other photos:
1. PIKNIK - by Tia,
2. CONTINUOUS SHOOTING - by Tia,
3. Cijengkol, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
4. Darmasari, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
5. Pantai Pulo Manuk, Sawarna, Bayah - Banten - by Ari,
6. Karang Aji Villa, Pelabuhan Ratu - West Java - by Ari.



Photo AlbumDarmasari, Bayah, Lebak - Banten (12 photos)May 21, '07 6:36 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Sesuai cerita sebelumnya, karena sampai di rumah pak Doi tengah malam dan sungkan membangunkan tuan rumah, maka kami memutuskan untuk tidur di mobil, sementara saya sendiri tidur di serambi warung di samping tempat kami memarkir mobil sambil memandang bintang-gemintang dan kabut nebula di langit Bayah yang cerah...

Lokasi eksplorasi kami di goa-goa Bayah, merupakan daerah bernama Cijengkol, yang masuk kabupaten Lebak, propinsi Banten. Sementara daerah rumah keluarga pak Doi Munajat yang menjadi tempat kami menginap selama disana, masuk daerah bernama Darmasari, dan masuk kebupaten yang sama dengan Cijengkol.

Jarak-nya yang cukup jauh membuat kami harus berkendara dengan mobil atau menumpang angkot antara kedua-nya. Tapi hal tersebut tidak mengurangi keasyikan kami meng-eksplorasi daerah Bayah yang cantik.

Ini-lah kediaman tuan rumah kami, pak Doi Munajat dan keluarga, dapur-nya, sumur-nya dan halaman depan rumah-nya yang sebagian besar adalah kebun singkong... :)



==================
Credit photos:
ari, tia, tri, indra

Other photos:
1. PIKNIK - by Tia,
2. CONTINUOUS SHOOTING - by Tia,
3. Cijengkol, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
4. Darmasari, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
5. Pantai Pulo Manuk, Sawarna, Bayah - Banten - by Ari,
6. Karang Aji Villa, Pelabuhan Ratu - West Java - by Ari.


Photo AlbumCijengkol, Bayah, Lebak - Banten (72 photos)May 21, '07 4:18 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Setelah batal karena pengunduran waktu ke Bandaneira-Maluku, akhirnya diputuskan untuk ke Bayah sebagai pengganti trip minggu ini. Kebetulan ada seorang investor saham ganteng yang mempercayakan mobil Corolla All New-nya kepada supir angkot Depok, untuk di-test drive sebelum uji coba dibawa keperluan Lintas Sumatera. Deg-deg-an juga sih, secara... walaupun 'udah mengenal baik jalanan yang akan dilalui, baru kali ini bawa sedan di medan yang cukup berat... Sutralah, berdoa saja, hehe... Lumayan juga, kita tinggal patungan bensin aja untuk trip kali ini. Teman-teman lain yang bersedia diculik adalah Tia & Tri, 2 orang gadis manis nan centil yang akhirnya mewarnai perjalanan kali ini.

Jumat, 18 Mei 2007
15.00

Bangun tidur, setelah istirahat untuk mempersiapkan fisik dalam perjalanan nan panjang... beres-beres, mempersiapkan panci & penggorengan teflon yang akan dibawa, bumbu-bumbu masakan, sayuran, dll. Lalu packing barang-barang pribadi, trus mandi deh...

18.30
Setelah koordinasi sana-sini dengan rekan-rekan yang mau di jemput di ITC Depok & jalan baru, akhirnya saya & si ganteng Indroooo berangkat bareng dari Kukusan. Makan malam dulu di foodcourt ITC Depok, sambil menunggu Tri yang pulang kantor naik kereta express & sholat Magrib dulu... Setelah itu kami jemput Tia yang menunggu di pertigaan jalan baru, ke arah Cimangis.

19.30
Dan perjalanan-pun dimulai...
Sebelumnya, saya mematikan handphone dengan nomor official dan mengganti dengan nomor yang jarang diketahui rekan-rekan. Apa daya, tetap aja ada yang nelpon karena mengkhawatirkan saya & rekan-rekan yang sedang dalam perjalanan menuju Bayah melalui Pelabuhan Ratu. Rupanya karena tidur sebelum perjalanan, saya tidak melihat berita di tipi yang mengabarkan adanya gelombang pasang setinggi 7 meter lebih di pantai Pelabuhan Ratu. Akhirnya dengan insting bahwa insya Allah perjalanan akan berjalan lancar, disertai doa -doa, kami meneruskan perjalanan malam itu, dengan disertai hujan deras di Depok.

21.00
Setelah keluar tol menuju Sukabumi, kami berbelanja dahulu kebutuhan makanan di sana, karena berdasarkan pengalaman, di daerah tujuan jarang ada orang menjual bahan pangan yang memadai. Sebelum melewati pertigaan Parung Kuda, kami berbelanja telur, minyak goreng, rokok untuk guide, satu tandan pisang uli untuk dibakar dan digoreng, dan lain-lain.

Melewati ruas jalan menuju Cikidang, jalan mulai berkelok-kelok naik - turun dengan tajam, diselimuti angin malam di kegelapan yang pekat. Kaca jendela mulai kami turunkan, AC dimatikan, demi menikmati udara segar pegunungan. Wow... it's always amazing to see clear sky at night... Subhanallah, kami masih bisa mendapatkan pengalaman seperti ini, thanks God...

23.00
Setelah beberapa jam kami melewati jalur yang gelap gulita, akhirnya kami memasuki pusat kota Pelabuhan Ratu. Seperti biasa bila saya melewati kota ini, kami beristirahat di masjid besar yang ada di dekat alun-alun kota Pelabuhan Ratu. Membersihkan wajah, sekedar menikmati cemilan sandwich isi coklat keju, minum, dan mengobrol dengan para petugas yang sedang menunggui tenda pleton di tengah alun-alun. Rupanya karena ada musibah gelombang pasang di pantai Pelabuhan Ratu, mengakibatkan beberapa korban penduduk desa yang rumahnya hancur di terjang ombak. Dan para petugas itu sudah bersiap mendirikan tenda darurat untuk para pengungsi.

15 menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Bayah.
Puluhan kilometer dari kota Pelabuhan Ratu kami lalui diawal dengan menyaksikan pantai di sisi jalan yang sebagian rusak, dan beberapa kedai di pinggir jalan habis diterjang ombak. Innalillahi... semoga tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Yang mengagumkan dari kejadian ini, walaupun pantai Pelabuhan Ratu ini belum genap sehari diterjang ombak dan kerusakan jelas-jelas berarti, namun ternyata semangat mereka untuk tetap terlihat tegar jelas terlihat. Walaupun sekitarnya porak-poranda, kami menyaksikan hampir semua kios yang selamat tetap buka menjual cinderamata dan lain-lain, walaupun di tengah malam seperti ini. Salut...

Sabtu, 19 Mei 2007
00.30

Tepat setelah midnight, kami sampai di desa Darmasari, Bayah, yang sudah masuk kabupaten Lebak, Banten. Kami langsung menuju rumah pak Doi Munajat, tuan rumah yang sudah biasa menemani saya dalam mengeksplorasi goa-goa di Bayah bersama rekan-rekan KAPA FTUI. Rupanya karena kami kurang enak membangunkan tuan rumah tengah malam seperti itu, akhirnya kami memutuskan untuk tidur di mobil. Diiringi salakan anjing-anjing kampung yang menemani, kami-pun tertidur bersiap untuk petualangan esok pagi. Saya memilih tidur di serambi sebuah warung, berkelumun dalam sleeping bag.

05.30
Kami terbangun, dan menumpang sholat di sebuah rumah dekat kami memarkir mobil. Setelah itu kami menuju rumah pak Doi lagi untuk mengabarkan kedatangan kami, sekaligus minta tolong untuk diantarkan menuju goa-goa yang biasa saya kunjungi. Alhamdulillah, pak Doi tidak keberatan hari ini bisa mengantar kami. Malah istri beliau juga turut serta. Horeeeeeeee...

10.00
Setelah Si ganteng Indroooo tidur sementara kami cewek-cewek masak *huh* untuk sarapan & bekal di jalan nanti, akhirnya kami berangkat. Wuihhh... perbekalan kami cukup mengagumkan lho... ada pisang, puding agar-agar, susu, biskuit, dan sebelumnya kami juga sempat sarapan mie goreng dengan telur dan tumis sayuran. Alhamdulillah, kenyang dan ber-energi untuk perjalanan kali ini... :)

Kami berkendara sekitar 7km dari rumah pak Doi, untuk menuju desa Cijengkol. Setelah sampai di jembatan, kami memarkir mobil dan mulai turun ke bawah jembatan, dan mulai berjalan kaki menyusuri pematang-pematang sawah serta menyeberangi sungai. Beberapa saat kemudian, kami sampai di entrance goa Surupan Cilubang. Sebenarnya dalam hati saya pingin banget masuk ke dalam seperti dulu, namun karena sebelum berangkat kami sepakat untuk trekking menjelajah mulut-mulut goa saja, akhirnya saya nurut aja deh... Senter dan perlengkapan masuk goa ditinggal. Tapi apa coba yang terjadi??? Si ganteng Indroooo *plak plak plakkkk* ternyata bernapsu juga pingin masuk ke dalam goa Surupan Cilubang, yang entrance-nya harus masuk air, menyelam sebentar dan masuk ke dalam chamber goa. Arrrrghhhhhh... 'nyebelin!!!

Ya sudah, karena kami juga tidak membawa peralatan yang berarti, kami lanjutkan perjalanan piknik dan waktu sampai di tebing yang agak curam, kami mulai membuka perbekalan untuk makan siang. Wuichhhhh... keringat rasanya mengucur deras, hahahaha... lumayan... Ketika melanjutkan perjalanan melipir tebing sisi sungai, kami juga menemukan buah jambu di hutan, yang akhirnya kami petik untuk bekal di jalan juga, hehe... Beberapa jam kemudian kami sampai di sisi tebing sungai dekat entrance goa-goa Wayang. Adapun cerita mengenai kemistisan goa-goa Wayang ini, saya sudah pernah menulisnya sedikit dalam catatan perjalanan di sini: Bayah Adventure - Februari 2002

Tebing ini curamnya 90 derajat dengan batu-batu cadas yang harus kami turuni untuk dapat sampai di bibir sungai. Wow, tanpa peralatan yang memadai, ternyata rekan-rekan saya yang hebat ini dapat melalui jalanan yang cukup mendebarkan ini. Betapa tidak, salah sedikit melangkah besar sekali resiko yang harus ditanggung. Namun berkat kerjasama dan bantuan pak Doi yang sudah sangat terbiasa melalui jalan ini, alhamdulillah kami selamat sampai di tepi sungai, menyusuri kedalaman-nya, dan menuju tebing tempat entrance goa Wayang-1. Di muka goa, kami kembali beristirahat, foto-fiti, dan makan cemilan. Karena goa Wayang yang satu ini bisa kami lalui tanpa peralatan, akhir-nya dengan penerangan cahaya dari handphone, kami mencoba menyusuri-nya untuk kemudian keluar di mulur goa yang lain. Tentu saja pengalaman ini cukup menakjubkan bagi rekan-rekan yang jarang melewati-nya. Senang rasanya dapat berbagi pengalaman seperti ini dengan rekan-rekan tersebut.

Setelah keluar dari goa Wayang di entrance yang berbeda, kami kembali menyusuri sungai yang ternyata memang sedang pasang. Kedalaman sungai cukup membuat ciut nyali, namun dengan pengalaman guide kami pak Doi, alhamdulillah kami dapat selamat melalui-nya. Di pemberhentian berikutnya, kami sempatkan selama satu jam berendam, mandi di sungai, merasakan kederasan arus-nya, dan bermain-main layaknya tarzan dengan bergelantungan di akar pohon yang bergayut di tengah sungai. Wowwwww.... it's amazing!!!! Hahahaha...

15.30
Puas mandi di sungai, akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Fiuuuuhhh... kembali menyusuri sungai, pematang sawah, terpelanting kepleset di selokan tepi sawah, terjebak lumpur, foto-fiti di gubuk tengah sawah... awwww... senangnya...

Sebelum masuk mobil, semua tempat duduk kami alasi dengan koran berlapis-lapis, berhubung baju-baju kami yang kotor dan basah, hahaha... Thanks God untuk perjalanan yang menyenangkan hari ini, dan makanan yang nikmat sekali.

Esok hari kami berencana pergi ke Pantai Pulo Manuk, Sawarna - Bayah, sebelum pulang kembali ke Depok.


==================
Credit photos:
ari, tia, tri, indra


Other photos:
1. PIKNIK - by Tia,
2. CONTINUOUS SHOOTING - by Tia,
3. Cijengkol, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
4. Darmasari, Bayah, Lebak - Banten - by Ari,
5. Pantai Pulo Manuk, Sawarna, Bayah - Banten - by Ari,
6. Karang Aji Villa, Pelabuhan Ratu - West Java - by Ari.


Photo AlbumPelabuhan Ratu - Bayah, West Java (19 photos)Jul 15, '06 3:07 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Sabtu, 24 Juni 2006
Tadinya rencana kesini mau sendirian aja, mau explore pantai-pantai sepanjang Pelabuhan Ratu sampai ke ujung Bayah, sekaligus mau cari tahu tentang pak Doi, yang suka jadi guide kami dulu di KAPA kalau lagi caving... karena kabarnya dia udah meninggal, tapi ternyata cuma isu... huh...

Lho... ternyata aku tak sendiri... ternyata ada yang bisa diculik... hehehehe... dia-lah mak muda Hanum.... yah lumayan kan jadi bisa narsis di pantai... secara ada yang motretin gituh... :p
Lagian emang gue juga niat banget sampe bawa peralatan narsis lengkap gitu, hahahahaha...

Oya, baru kali ini gue melakukan perjalanan ke Bayah menggunakan mobil, 'nyetir sendiri karena biasanya gue kesana mengunakan kereta dari Jakarta sampe stasiun Bogor, trus naik angkot ke terminal Bogor, lanjut naik bus ke terminal Pelabuhan Ratu, blablablabla...

Kali ini gue pingin cobain jalur terbang gue waktu mau rafting di Cicatih River with MPers-2 dulu, setelah sempat kesasar ke Citarik, hahahahaha... nah, jalur jalan inilah yang gue lewati waktu 'nyasar... dan gue lewati lagi, tapi kali ini menuju Pelabuhan Ratu & Bayah...

10.00
Kami berangkat dari Depok, menuju ke arah Sawangan dan lanjut terus ke Bogor dan masuk tol. Keluar tol di Gadog, gue ber-2 Hanum melaju menuju arah Sukabumi, tapi sesampai di Cibadak kami belok kanan menuju arah Cikidang, untuk kemudian merasakan jalur2 dahsyat yang membuat kami terbang, hehehehe...

Dari Cikidang, kami terus melaju ke arah Pelabuhan Ratu dan sempetin di jalan narsis sekejap, keluar dari mobil lalu berfoto-fiti di tengah jalan.. mumpung jalanan sepiiiiiii... xixixixixxi...

14.00
Setelah 4 jam melakukan perjalanan nonstop di atas jok mobil, akhirnya kami sampai di kota Pelabuhan Ratu. Setelah makan siang di warung pinggir jalan, belanja sedikit untuk buah tangan buat keluarga pak Doi yang akan kami kunjungi, langsung kami lanjut perjalanan memulai explorasi pantai-pantai di sepanjang kawasan Pelabuhan Ratu.

Cantikkkkk... dan akhirnya kami menemukan tempat yang agak sepi dari pengunjung, mulai-lah kami keluarkan perangkat narsis, dan berfoto-fiti kembali... biasa dehhhhh... mohon maklum...

Setelah 1 jam lebih lumayan puas narsis, kami lembali melanjutkan perjalanan menuju Bayah, lewat Cisolok... Sumpah, perjalanan ini merupakan perjalanan tercantik yang gue alami tahun ini *soalnya belom keliling Jatim neh...*, dengan pemandangan sebelah kiri adalah lautan lepas, sementara jalanan menggoda gue sebagai supir angkot untuk mencumbui kelokan-nya, huhuhu...

Di Bayah juga sebelum akhirnya ketemu sama keluarga pak Doi di rumah-nya, kami sempetin taking pictures sebanyak-banyaknya sampe eneg sendiri, hihihihi... Akhirnya, sepulang dari rumah pak Doi, kami lanjutkan perjalanan menuju Bandung, untuk mengadakan kopdar dadakan tengah malam berhubung ada salah satu seleb MP yang lagi ultah tanggal 25 Juni, jadi yah... rencananya sih bikin kejutan midnight gituuuuu tapi apa daya gagal jugak, hahahahhaa...

Oke, foto-fiti di Bandung lanjut di album berikutnya aja yah... :)




Photo AlbumBayah Adventure - Februari 2002 (23 photos)Aug 16, '04 12:05 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Kenangan waktu ke gua-gua Bayah, Pelabuhan Ratu - Februari 2002



"KAPA !!!...", begitu teriakan khas penjelajah KAPA FTUI, pada hari Jumat 1 Februari 2002 terdengar di kampus Teknik UI berkumandang. Kali ini pertanda keberangkatan lima orang tim caving KAPA FTUI menuju Bayah, Pelabuhan Ratu, bertujuan untuk mengeksplorasi kekayaan bawah tanah di Desa Cijengkol, Bayah. Daerah Bayah terletak di bagian selatan Banten yang secara administratif termasuk Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Daerah ini terkenal dengan berbagai kekayaan pariwisata laut, pertambangan kapur, dan gua-gua-nya yang indah. Perjalanan ini juga merupakan penarikan minat yang ditujukan untuk para anggota baru KAPA FTUI.

Awal rencana keberangkatan kami (Kamis 31 Januari 2002) ditandai dengan cuaca Jabotabek yang buruk, yaitu bencana banjir terutama di kota Jakarta setelah diguyur hujan terus-menerus sejak hari Senin. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan, untuk kegiatan yang akan kami lakukan di Bayah nanti. Setelah batal untuk berangkat pada hari Kamis 31 Januari 2002, akhirnya kami sepakat untuk berangkat esok harinya, tanggal 1 Februari 2002.

Jalur Alternatif
Dengan satu tim beranggotakan 4 orang yaitu : Andreas (Ars), Basari (Metal), Emil (Metal), Ari (Elektro), dan ketua rombongan Ronald (Metal), kami segera memulai perjalanan. Untuk mencapai ke Bayah, kita dapat melalui dua jalur alternatif. Pertama, jalur barat, dari Jakarta menuju Rangkasbitung langsung menuju arah Malingping dan terus ke timur sampai ke desa Darmasari. Kedua adalah jalur yang kami tempuh, yaitu dari Bogor naik bus menuju ke Pelabuhan Ratu selama tiga jam perjalanan. Tiba di terminal Pelabuhan Ratu langsung naik bus tiga-perempat menuju desa Darmasari dengan masa perjalanan 2 jam. Dan, di terminal Pelabuhan Ratu inilah petualangan baru kami dimulai.

Mabuk Darat
Sampai di Terminal Pelabuhan Ratu, kami beristirahat sebentar dan berbelanja telur & gula secukupnya. Disarankan untuk rekan-rekan yang akan memulai perjalanan caving di Sibayah, sesampainya di terminal Pelabuhan Ratu untuk berbelanja keperluan memasak terlebih dahulu terutama sayuran, karena semakin jauh ke pelosok akan semakin sulit untuk mendapatkan warung yang menjual keperluan tersebut. Tapi kalau mau makan indomie+ nasi setiap hari sih, ya tidak usah repot-repot belanja di terminal Pelabuhan Ratu, karena dekat rumah tempat kita menginap nanti juga ada warung yang menjual telur ayam.

Dengan naik mobil angkutan ¾ ke arah Sibayah, kami melewati jalanan yang naik turun dan berkelok-kelok, dengan rute melewati Cisolok, Cibangban, Cibareno, Ciawi, Cijengkol, Cikeusi, Pamubulan, Darmasari.

Oya, ada 1 orang rekan kami yang sempet mabuk, gara-gara naik angkutan ini, hehehe … mungkin karena keadaan jalan yang lumayan membuat perut bergoncang, kasiannnn dehhh ….. Akhir perjalanan memabukkan kami adalah di desa Darmasari. Di desa inilah kami menginap di rumah seorang penunjuk jalan yang sudah terkenal di kalangan para cavers, yaitu pak Doi Munajat. Kekhawatiran kami akan cuaca yang buruk hilang sudah, melihat cerahnya langit di kawasan Pelabuhan Ratu ini, apalagi ditambah keterangan penduduk sekitar yang menyatakan bahwa sudah seminggu lebih tidak ada hujan. Hmm … di Jakarta sedih karena kelebihan hujan, di Bayah sedih karena kurang hujan …

Susah Mandi
Setelah beramahtamah dengan pak Doi dan keluarga, akhirnya tiba saat mandi. Disini kami mandi di pemandian umum, dan… karena saya cewek, waduh … nggak bisa mandi euy … ada dinding pemisah antara tempat mandi cowok & cewek juga nggak ngaruh … akhirnya sayapun mandi bebek aja asal cibang-cibung dengan pakaian lengkap … hehe... Oya, tempat pemandian umum ini letaknya kira-kira 150 meter dari rumah pak Doi, dan disana juga merupakan sumber air yang digunakan untuk memasak oleh penduduk sekitar. Setelah mandi, mulailah acara masak-memasak yang giliran pertama jatuh pada saya dan Emil. Sementara Emil memasak nasi, saya menggoreng telur dan memanaskan kornet. Itulah menu kami malam pertama di rumah pak Doi. Setelah acara makan malam bareng pak Doi & keluarga, kamipun evaluasi kegiatan sebentar sebelum akhirnya istirahat untuk segera memulai petualangan *taelah…*.

Awal Perjalanan Menuju Gua
Setelah berdoa terlebih dahulu, kami berangkat dari rumah pak Doi menuju gua, disertai oleh putra pak Doi sebagai penunjuk jalan, yaitu Kang Ade. Setelah menunggu selama ½ jam akhirnya kami dapat mobil angkutan menuju jembatan Cijengkol, tempat kami turun ke area gua yang akan dimasuki. Untung mobil angkutannya masih agak kosong, jadi kami tidak perlu sampai naik ke atap mobil deh … Sampai di jembatan Cijengkol, kami turun dan mulai perjalanan menuju gua dengan jalan kaki, melewati pematang sawah di sisi sebelah kanan sungai, mendaki bukit sebentar, lalu melewati pematang sawah lagi, kemudian kami masih harus menyeberangi sungai Cisawarna, sampai akhirnya kami tiba di mulut gua.

Mulai memasuki Gua Surupan Cilubang
Entrance gua Surupan Cilubang ini di tandai dengan sebongkah batu besar yang terlihat jelas dari kejauhan jika kita sedang melewati pematang sawah di sekitarnya *lihat foto*. Setelah mempersiapkan diri masing-masing untuk masuk gua, antara lain dengan memakai wearpack atau raincoat, mempersiapkan senter beserta baterai cadangannya, serta meninggalkan kompor dan baju-baju kering di semak depan gua, kami mulai menuruni batu besar dan ‘nyemplung. Oya, sebelum masuk gua, sebaiknya jangan lupa juga untuk membawa snack, permen, coklat atau makanan kecil lainnya untuk dimakan sewaktu istirahat di dalam gua, lumayan untuk menambah tenaga badan, yang kedinginan karena kaki terendam air terus-menerus. Gua Surupan Cilubang ini merupakan gua dengan tipe horizontal dengan aliran sungai kecil yang membelah lorong jalan menyusuri dalamnya gua.

Setelah ‘nyemplung di air dengan ketinggian kira-kira se-pinggang, kami mulai merangkak *ducking* dalam air untuk masuk celah batu sepanjang kira-kira 8-10 langkah dengan celah batu yang tidak terjangkau air selebar cukup untuk muka. Sampai di dalam, masih harus kita lewati tumpukan batu terjal untuk masuk ke chamber atau ruang gua yang lebih luas serta cukup buat lari-lari deh. Kami juga sempat menemukan batang-batang kayu dan bambu yang diduga terbawa arus sewaktu banjir di dalam gua. Jadi terbayang … serem juga kalau tiba-tiba datang banjir, hiy … Setelah menyusuri lorong gua yang dialiri sungai kecil kira-kira 10 menit, mulai ditemui ornamen-ornamen gua yang unik seperti stalagtit berbentuk kuncup bunga terbalik, bentuk belimbing, ada juga bentuk kerang, yang tergantung di atas gua, atau ada air terjun kecil di sisi sebelah kanan gua.

Kesempatan pertama melihat keindahan alam itu kami gunakan untuk ‘taking picture’ sebisa kami, soalnya peralatan memotretnya minim banget sih, apalagi cahayanya *di dalam perut bumi bo’*. Kira-kira setengah perjalanan, kami ketemu tebing kapur terjal yang diduga adalah jalan menuju ke lantai 2 gua Surupan Cilubang, di sisi sebelah kanan. Kami semua sih tertarik untuk naik ke lantai 2, tapi akhirnya diputuskan untuk tetap menyusuri jalur dasar gua.

Setelah melewati beberapa belokan dan tikungan *kayak balap mobil aja*, akhirnya kami ketemu sebuah keindahan lain dalam gua di sisi sebelah kiri, yaitu rimstonepool *formasi kalsit berbentuk kolam bertangga* berupa serambi bulat seperti gentong-gentong air yang disusun berjajar dan terbalik, tingginya kira-kira 1,5 meter untuk tingkat pertamanya. Setelah mencoba naik keatas serambi itu untuk foto-foto bareng, baru terlihat bagian pantat gentong-gentong tersebut ternyata membentuk cekungan yang menampung air kapur. Jadi kami bergaya di serambi itu untuk foto-foto sambil duduk diatas mangkuk air, hehe …

Lanjut …….. lama-lama lemes juga nih kaki karena kedinginan kecelup di air terus, kepala juga udah mulai kebanyakan terantuk atap gua yang runcing-runcing *untung …. ada helm ….*, wah… ini sih ketahuan tanda-tanda kelaparan…. Nggak berapa lama kemudian kami harus jalan jongkok *ducking* lagi karena ketinggian langit gua cukup rendah sekitar 0,75 meter, dan cukup lama pula, sampai akhirnya kami tiba di ujung penelusuran *bukan ujung gua lho*, karena pertimbangan waktu dan medan gua yang berupa chiffon dan tidak diketahui kedalamannya. Setelah itu kami istirahat dulu sebentar, makan permen, coklat, biskuit, dll. sebelum meneruskan perjalanan keluar gua.

Kamera Kejebur
Perjalanan kembali ke luar gua diwarnai kejadian-kejadian dari yang ‘nyebelin *ada yang tergelincir masuk air berikut kamera-nya …xixixixixi sambil nunjuk diri sendiri... *, sampai kejadian yang agak mengerikan, gara-gara waktu menuruni tebing terjal mendadak sebuah batu segede menhir runtuh diinjak Ronald, langsung menghujam air. Untung Ronald cepet lompat ke depan, langsung terjun ke air. Bayangin aja deh, kalau di bawahnya ‘nggak ada air… aduh… saya sempat ‘ngeri aja deh ‘ngeliatnya, saya jalan pas di belakang dia!!!

Singkat kata, kami akhirnya sampai di luar gua dengan rute yang sama, dengan janji akan kembali lagi *kalau bisa, hehehe…*, soalnya pingin ke lantai 2 sih.

Keluar dari kegelapan gua, langsung Emil & Ari mulai masak nasi & telur, sedangkan yang lain mandi di sungai bergantian, lalu makan siang sambil jemur kamera dan baterai. Acara makan terasa sedap sekali, walaupun piringnya pakai daun pisang, tapi sekotel telur buatan Emil nikmat sekali dimakan di pinggir sawah, apalagi ditambah abon sapi. Wuih …. pokoknya sedap deh … sayang nasinya cuma sedikit … ¾ misting dibagi 6 orang… hiks…

Menuju Gua-gua Wayang
Gua-gua Wayang yang akan kami tuju merupakan kompleks gua yang terdapat di kedua tebing sungai, saling berhadapan. Sebelum sampai di kompleks gua tersebut kami bertemu seorang bapak tua yang sedang mencari kerbaunya, dan akhirnya kamipun diantar bapak itu menuju gua Wayang. Melewati pematang sawah, mengarungi sungai, sampai salah jalur *kayaknya sih bukannya salah jalur, cuma kelupaan aja!*, akhirnya kami nggak menemukan gua yang dituju, tapi menemukan gua baru disekitar daerah gua yang dimaksud. Ceritanya begini, rombongan terbagi 2, yaitu : rombongan-1 terdiri dari: Kang Ade, Ronald, Andreas, Emil + bapak tua. Rombongan-2 terdiri dari: Ari dan Basari. Rombongan-1 masuk ke mulut gua di tebing sebelah kanan *gua Wayang-1*, sementara rombongan-2 lebih tertarik untuk masuk ke sebuah gua di tebing sungai sebelah kiri *entah kenapa ya …hehe...*.
Rombongan-2 diawali oleh Emil dan bapak tua memasuki gua Wayang-1, disusul oleh Andreas, Ronald, dan Kang Ade. Gua tersebut mempunyai 4 jalur, dengan 3 jalur pendek menuju kearah atas dan 1 jalur bawah berupa aliran sungai kecil, yaitu jalur terpanjang yang konon bisa tembus sampai ke daerah Cikeusi. Di jalur ini pula menurut cerita terdapat danau luas yang lebarnya lebih dari sepelemparan batu.

Akhirnya rombongan-1 tidak melanjutkan perjalanan menyusuri gua Wayang-1, tapi langsung menyusul rombongan-2 masuk gua baru. Jalan masuk gua yang baru ditemukan itu lumayan licin dan terjal dengan kondisi batu-batu runcing untuk pijakan kaki sementara di bawahnya menganga lubang dalam. Setelah memasuki mulut gua beberapa puluh meter, akhirnya kami memutuskan untuk kembali keluar dengan mempertimbangkan waktu yang sudah menjelang pukul 16.00 *Lewat pukul 18.00 angkutan umum menuju rumah pak Doi sudah tidak ada*. Begitu keluar, kami mengambil jalan melipir tebing *tidak menuruni jalan semula* untuk memasuki gua Wayang-2, kemudian sampai di pertigaan dalam gua, kami belok kanan untuk keluar dari gua Wayang-3, dan turun melalui tangga bambu yang tersandar di tebing. Jadi dapat dideskripsikan, bahwa di tebing sungai sebelah kiri itu terdapat 3 buah gua yang letaknya sejajar, ditambah 2 buah gua sejajar yang letaknya lebih tinggi dari ketiga gua yang lain. Menurut penduduk sekitar, gua-gua tersebut diberi nama gua Wayang, karena sering terdengan alunan gamelan pengiring Wayang dari dalam gua-gua itu. Waduh, serem juga yak… ?!? Mungkin itu cuma suara angin yang masuk ke rongga-rongga gua ya…

Setelah capek, akhirnya kami semua mandi di sungai depan gua Wayang sambil main, ngobrol-ngobrol dan istirahat. Tiba saatnya pulang, kami ambil jalan lewat tebing, nggak lewat sungai lagi, naik keatas dan sempat melewati kebun penduduk, sampai tiba di pematang sawah lagi. Akhirnya sampai di jembatan dan istirahat dulu, minum-minum di warung sambil nunggu angkutan menuju desa Darmasari tempat kami menginap di rumah pak Doi. Setelah lama nunggu, akhirnya kami dapat angkutan buat pulang ke rumah pak Doi. Sampai di rumah pak Doi, langsung pada mandi, dan akhirnya saya menemukan tempat mandi yang lumayan tertutup!!!! Horeee.. hehehe … letaknya ada di seberang jalan raya kira-kira 25 meter dari jalan raya itu. Cuma harus mau mandi setelah bersusah payah menimba di sumur yang dalamnya kira-kira 3 meter. Setelah acara mandi selesai, *akhirnya mandi juga…. hehe..* dilanjutkan acara masak untuk makan malam. Malam ini menu kami nasi, sayur sop, telur rebus dan sarden… nyam nyam ….

Nah, buat cewek-cewek yang nanti mau caving di Bayah, mungkin saya bisa sarankan, kalau mau mandi nyaman dan ‘nggak dilihatin sama cowok-cowok yang pada lewat di pemandian umum itu… supaya ambil air sebanyak-banyaknya dulu di sumber air, lalu mandinya di kamar mandi belakang rumah pak Doi. Setelah makan malam, kami mengadakan evaluasi kegiatan sebelum akhirnya tidur untuk bersiap kembali ke Depok keesokan harinya.

ZzzZZzzzz ….. kamipun bermimpi melanjutkan perjalanan menyusuri perut bumi, merambah kegelapan dengan harapan sinar lampu senter kami dapat menerangi suatu keajaiban yang indah di dalam sana…


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help