Sri Sarining's posts with tag: adventure

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag adventure
Photo AlbumKarimun Jawa - Central Java (53 photos)May 22, '08 10:38 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
16-19 Mei 2008

my 6th trip to Karimun Jawa...
with different friends...
different characters...
different backgrounds...

at the same place...




Karimun Jawa, 16-19 Mei 2008

Photo AlbumSawarna, Bayah - Banten (70 photos)May 13, '08 2:20 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Lagi rajin nih...
biasanya 'gak pernah aplot foto jalan2 lagi hihihi...
tapi kali ini karena ada permintaan khusus, hayu wae atuh...

Sabtu, 10 Mei 2008
Perjalanan dadakan dengan cewek2 cantik, yang tadi-nya bersepakat 5 orang, tapi menyusut menjadi 3 orang saja, dikarenakan salah satu 'gak boleh pergi kemana2 karena mau menikah sebentar lagi, yang satu lagi 'gak jadi karena ada jadwal siaran hari Minggu siang-nya, yah apa boleh buat... hanya kami ber-3 yang available untuk mission almost impossible ke Bayah...

Kenapa gue sebut mission almost impossible, karena berbeda dengan perjalanan menuju Bayah sebelum2-nya, kali ini gue membawa salah satu dari wanita cantik yang gemar berdandan dan gue agak meragukan kemampuan dia beradaptasi dengan situasi2 di perjalanan nanti-nya. Seperti misalnya, 'gak tahan di perjalanan lalu mabuk, bakalan menginap di rumah penduduk lalu komplen... hahahahhaa... ternyata nanti dugaan gue salah besar...

Oya, sebelum berangkat ke Pelabuhan Ratu - Bayah ini, gue berangkat ke Ragunan dengan niat untuk menjalani proses memperpanjang SIM yang sebulan lagi akan habis masa berlaku-nya. Karena berniat di potret dengan rapi, akhirnya gue pakai-lah baju semi formal yang akhirnya menjadikan gue salah kostum nanti-nya di pantai Bayah... Ternyata sodara-sodara, sesampai di Ragunan jam 08.45, gue dibilangin sama petugas bahwa formulir isian perpanjang SIM sudah habis, padahal loket Samsat Keliling di buka jam 08.00. Jadilah gue lunglai meninggalkan Ragunan tanpa SIM baru... ehehehehe... sutralah, 'gak penting... yang penting fun fun fun fun!!!

16.00
Misi jemput-menjemput dilaksanakan. Gue berangkat menuju ke kantor untuk jemput Desiree yang habis siaran jam 3 sore, lalu menyusul jemput Puji di Rawamangun. Perjalanan dari Jakarta dimulai tepat jam 18.00 lewat pintu tol Rawamangun menuju arah Bogor - Ciawi. Kami sempat istirahat mengisi bensin full tank di Sentul, lalu melanjutkan perjalanan menuju arah Sukabumi.

Sepanjang perjalanan, kami membahas tentang akan menginap dimana nanti setiba di Pelabuhan Ratu? Di hotel atau rumah penduduk? Bayangan menginap di rumah penduduk rupanya lebih menggoda wanita2 cantik rekan seperjalanan gue ini, dimana akhirnya kami bersepakat untuk "oke, 'nginep di rumah penduduk"... Dan pertanyaan2 seperti: "ntar kita tidurnya dimana?" atau "makan bagaimana?" dengan enteng gue jawab: "'gak keberatan tidur di lantai kan?"... "masak sendiri dong, hehehe..."

Well,
singkat cerita setelah membeli cemilan gorengan untuk teman perjalanan, lalu jam 21.00 kami makan malam di sebuah rumah makan yang menyajikan sate kambing... akhirnya kami melewati pertigaan arah ke Pelabuhan Ratu, melewati Cikidang. Entah sudah berapa kali gue melewati daerah ini, sampai gue hapal kelokan2 tajam dan menanjak di sana. Gue sempat memperingatkan ke rekan2, bahwa kita akan melewati daerah berkelok selama lebih dari 20 km. Dan belum ada 10 km pertama, Puji 'udah menyerah dengan isi perut yang baru di-isi sate kambing keluar dengan sukses 2 kali. Waduh... padahal Desiree yang tadinya gue ragukan kemampuan-nya dalam beradaptasi di perjalanan, ternyata sukses berat tidur di samping gue, di-buai jalanan berkelok... hihihihihi... ternyata efek 'nyetir gue ke masing2 orang beda yah...

22.00
Baiklah...
setelah kami melewati 40 km rintangan pertama, akhirnya sampai di kota Pelabuhan Ratu. Puji yang isi perutnya sempat teraduk2 di daerah Cikidang, gue tawarkan untuk menginap di hotel sekitar Pelabuhan Ratu aja, demi menjaga kondisi badan, kalau2 aja butuh perawatan extra toh? Tapi Puji menolak dengan tegas, katanya: "kita lanjut ke rumah penduduk ajah!" Okey... gue-pun melanjutkan mengemudi mobil menuju ke daerah Bayah, sekitar 70 km atau 1,5 jam dari kota Pelabuhan Ratu.

Untuk diketahui, perjalanan dari pusat kota Pelabuhan Ratu menuju Bayah, di 20 km pertama mungkin perjalanan biasa saja dengan kondisi jalan aspal biasa, yang terkadang ada lubang kecil dan ada sebagian erosi air laut yang merupakan dampak dari jalan raya di pinggir pantai. Apalagi kalau sedang tsunami seperti bulan Mei 2008 lalu, jalan raya juga dapat sampai tergenang cukup tinggi. Tetapi, 50 km sisanya adalah perjalanan menyenangkan untuk driver, karena jalanan mulus dengan kondisi aspal yang bagus sementara kelokan di pegunungan walaupun ada yang tajam dan sampai 45 derajat lebih, cukup lebar untuk ditanjaki dengan kondisi mesin stabil di gigi 2 kadang 3 kalau situasi benar2 lengang. Yah, namanya hutan belantara, tengah malam pula, bisa 'lah gigi 3 digeber dari sejak sebelum nanjak dan jalanan masih datar, ehehehehe... jadi 'gak capek pindah perseneling... tapi untuk persiapan kalau ada yang ingin melewati daerah ini, lebih baik cek kondisi kendaraan terlebih dahulu, kalau bisa jangan pakai sedan kalau hendak ke pantai Ciantir dan Tanjung Layar, karena tidak mungkin.... ehehehe... tanjakan di sana lebih dari 50 derajat men... dan jalanan 'kadang hanya bisa dilewati kendaraan berbodi tinggi...

23.30
Kami sampai di desa tempat pak Doi tinggal. Akhirnya...
Setelah parkir di tempat biasa, gue mengajak Desiree dan Puji untuk langsung ke rumah pak Doi. Desiree bilang: "'gak turun dulu ajah, trus kalo orang-nya ngasi tempat 'nginep baru ambil barang di mobil?"... gue bilang: "santai ajah, insya Allah boleh kog, langsung aja bawa barang yuk ke dalem..." ehehehe... gue pede ajah... habis... rumah pak Doi ini, ceritanya 'udah bertahun2 sejak kedatangan gue pertama kali di desa ini, adalah tempat menginap gue dan teman-teman. Entah sudah berapa puluh kali gue datang ke desa ini.

Ceritanya...
dulu waktu kuliah, gue dan teman2 KAPA FTUI dari divisi Caving sering menyusuri gua-gua yang ada di pelosok Bayah ini. Nah, namanya juga mahasiswa, mau tidur di mana aja, jadi 'lah... di terminal, di musholla, di stasiun bus, termasuk di rumah pak Doi ini. Makanya, gue cukup takjub juga 'nih, mengikuti perkembangan desa ini. Dari sejak 'gak ada BTS dari beberapa provider seluler, dan bikin gue selalu diomelin mom karena pas caving 'gak bisa ditelepon karena khawatir Jakarta banjir besar sementara gue asik2 caving di Bayah yang keirng kerontang, sampai sekarang bertebaran BTS-BTS di sana dan gue bebas 'ngempi juga di sana. Dari sejak rumah pak Doi berlantai tanah, gue dan teman2 bikin tenda di halaman pak Doi, atau tidur desak2an beralas sleeping bag di pojok ruangan berlantai tanah, juga susah mandi karena hanya ada pancuran umum yang buat cowok-cewek hanya dipisah dinding selebar 1 meter saja... Sampai rumah pak Doi di semen lantai-nya, lalu gue juga sempat pernah mandi tengah malam di sumur tengah sawah hanya karena supaya 'gak campur mandinya dengan rekan2 cowok di pemandian umum... Maklum, daerah pegunungan kapur sulit sekali menggali air tanah bersih kecuali mau menggali dalaaaaam sekali. Itu sebab-nya pemandian umum dengan pancuran dan jaraknya berpuluh meter dari rumah, sudah umum di sana. Dan sekarang, selain memasang keramik lantai rumah, pak Doi sudah punya kamar mandi dengan sumur galian sendiri, walaupun hanya berdinding gedek bambu... Yah, walaupun tetap aja, kalau mau buang hajat ke sawah, hahahahahahhh... Tapi berkat rejeki memang 'gak kemana, sekarang pak Doi sudah membeli sebuah rumah lagi, yang walaupun rumah tua, sudah ada kamar mandi berikut WC-nya yang tentu saja cukup tertutup. Syukur-lah...

Minggu, 11 Mei 2008
Nah,
setelah basa-basi sejenak dengan tuan rumah, jam 01.00 kami akhirnya mencoba tidur. Desiree sukses 'ngorok. Sementara gue sibuk mengeluh masuk angin (maklum, faktor U membuat gue sekarang kurang 'nyaman kalau jam 11 malam belum masuk tempat tidur, ditambah lagi 'nyetir berjam2 nonstop --> siapa suruh?)... sementara itu di pojokan dekat dinding... Puji sibuk 'ngempi lewat hp & chatting sama Ocon di Bandung sana... halah... Ocon sempet2nya salam buat pak Doi lagi hihihihi... Akhirnya jam 02.30 gue bisa tidur juga setelah berupaya keras untuk menutup mata dan melupakan suara dengkuran Desiree...

06.00
Waktu yang dijadwalkan untuk bangun, makan dan melanjutkan acara menyusuri pantai. Tapi gue memilih tidur lagi hahahaha... sampai akhirnya jam 07.00 Desiree 'ngoprak2 gue memaksa untuk bangun. "Haduhhhhh Dessss... plisss lagi enak2 bobo gitu loh... ini kan hari Mingguuuuuu kita 'gak harus siaran di tengah hutan kayak gini kaaannnn..."

Setelah sukses membuka mata, akhirnya kami melanjutkan aktivitas mandi. Puji memilih mandi di pancuran, sementara gue dan Desiree memilih mandi di kamar mandi gedek-nya pak Doi. Puji sempat gue tawarkan untuk mandi di sumur gedek, tapi Puji menolak dengan alasan: "ogah ah Riiii... ntar keliatan dari luar... kan gedek-nya jarang2 juga tuh yang sebelah situuuu..." dan gue jawab: "halah sapa juga yang mau liat elo, lagian ini kan udah terang, kalo malem lo di dalem pake lampu, iya lah kelihatan, lha kalo siang kan di dalem kamar mandi gelap, terang di luar, loe 'gak bakal keliatan 'lah..."... tapi ternyata Puji 'ngotot mandi di pancuran demi menyalurkan hasrat mencoba sensasi mandi di pancuran. Ini diakui-nya belakangan... wakwakwakwakkkkk...

09.30
Setelah sarapan mie goreng plus telur mata sapi, akhirnya gue, Desiree, Puji, pak Doi, bu Doi dan 2 anak mereka, kami ber-7 berkendara menuju ke pantai Ciantir dan Tanjung Layar, 15 km dari rumah pak Doi, atau sekitar 30 menit perjalanan yang menempuh jarak 9 km ke gerbang desa Sawarna. 6 km sisanya adalah jalanan dengan tanjakan heboh dan hanya dapat ditempuh dengan kendaraan bukan sedan dan dalam kondisi prima dengan mesin 1500 cc lebih. Okey, gue pernah menggunakan mobil 1100 cc, tapi itu dengan kondisi mobil gres dan penumpang-nya hanya 3 orang cewek2. Jadi jangan harap kalau berpenumpang banyak, bisa melewati tanjakan2 di sana dengan sukses kecuali dengan mobil bertenaga lebih besar.

Sampai di jembatan gantung, gue parkir dan menitipkan kendaraan kepada bapak penungu bengkel yang ada di samping jembatan. Kami-pun mulai berjalan kaki menyusuri jembatan gantung, rumah2 penduduk, sawah2 yang mulai dipanen, ladang2 kacang panjang milik penduduk, dan kebun kelapa. Akhirnya, setelah sekitar 20 menit berjalan kami sampai di pantai Ciantir. Wow... laut sedang pasang menggelora. Ratu Selatan sedang menari dengan indah lewat gelombang2 yang memukau. Biasanya, kalau di pantai Ciantir ini gue sering main di atas karang2 berlumut yang bermunculan. Tapi karena laut sedang pasang, kami cuma bisa bermain di pasir yang bersih dan penuh oleh kepiting2 muda yang bermunculan di lubang2 sepanjang pantai. Gue jadi ingat, waktu berkelana sendirian di pantai Tanjung Taipa Kendari... seperti inilah suasana-nya... sepi... hampir 'gak ada manusia yang mengotori pantai dengan sampah2 bungkus makanan mereka, dan hanya berteman kepiting yang bertebaran selama berjalan di sepanjang pantai. Ih... romantis banget yahhhh... wakwakwakwakkkkkk...

Akhirnya kami hanya bercengkerama dengan mentari dan pantai dengan ombak-nya yang bergelora, menyusuri sepanjang pantai Ciantir menuju Tanjung Layar... puas narsis, kami kembali berjalan pulang, menyempatkan minum es cendol buatan penduduk sekitar pantai yang berjualan di depan rumah mereka, dan akhirnya sampai di tempat parkir kendaraan. Setelah menambah angin untuk ban belakang, kami pulang meninggalkan kenangan tentang pantai Ciantir dan Tanjung Layar yang mempesona. Ini adalah memori gue ke-sekian tentang tempat ini. Setiap kali ada yang terlewat, gue selalu bilang dalam hati... "sudahlah... masih ada waktu lain kali untuk kembali ke sini..." dan itulah yang berulang kali terjadi... gue selalu kembali, dan selalu ada yang terlewat untuk diabadikan... seperti gue kali ini terlewat untuk mengabadikan air terjun yang berkilauan dari jauh terlihat di tebing2 pegunungan Bayah...

12.30
Setelah menurunkan pak Doi dan keluarga, berpamitan untuk berjanji lain kali akan mampir kembali, kami pulang dengan hati riang. Berjanji untuk makan sepuasnya sesampai di rumah makan, karena belum sempat makan nasi timbel yang di bawa bu Doi tadi di perjalanan... Gue peringatkan ke teman2, bahwa: kita baru akan sampai di Pelabuhan Ratu sekitar 1,5 jam lagi, mau makan dimana? Sementara itu 1 jam setelah Pelabuhan Ratu akan dihabiskan selama 40 km di daerah Cikidang yang kelokan-nya sempat bikin Puji jackpot di tengah jalan. Dare to having lunch before Cikidang?

Akhirnya disepakati-lah untuk makan sekalian di Depok aja dehhhhh....
Huahahahhaha... Depok masih kira2 5 jam perjalanan lagi... Gue 'gak begitu yakin dengan tekad ini, dan singkat cerita, setelah menyempatkan berhenti sejenak di Pantai Pelabuhan Ratu, melewati 40 km tanjakan dan kelokan Cikidang berikut pemandangan perkebunan yang spektakuler plus langit biru... akhirnya kami sampai di Cibadak, dan gue langsung memarkir kendaraan di depan sebuah rumah makan bergaya Sunda. Silahkan makan... Tidak ada yang menolak.... hahahahha... bener kan... siapa yang tahan sampai di Depok baru makan? huhuhuhu...

16.00
Akhirnya, setelah menghabiskan 1 jam di rumah makan untuk bersantap siang dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Depok - Jakarta, yang ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Setelah menyempatkan mencuci mobil, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Istirahat, dan mengumpulkan energi dan semangat baru untuk bekerja kembali keesokan hari.

See you next time, Bayah...
=======================

Catatan:
Jarak tempuh:
Pantai Ciantir - Pelabuhan Ratu = 70 km = 1,5 s/d 2 jam
Jalur Cikidang (Pelabuhan Ratu - p3an Cibadak) = 40 km = 1 jam
Cibadak - Jakarta (p3an Cibadak - pintu keluar Cibubur) = 90 km = 2,5 jam
Total jarak Jakarta - Bayah = 200 km dengan waktu tempuh 5 s/d 5,5 jam.

Hal ini kontras dengan waktu tempuh rata2 gue alami selama perjalanan Jakarta - Jogja nonstop:
8 s/d 9 jam dengan jarak tempuh 650 km melewati jalur Selatan dan tol Cipularang.

Kesimpulan:
ya iyalah... rute Jakarta - Jogja mulussssss... apalagi ada tol Cipularang...
sementara rute Jakarta - Bayah berkelok, nanjak dan harus rajin oper gigi...
=======================

Budget ke Bayah ber-3:
1. Bensin = Rp. 300.000,-
2. Makan bareng 2 kali = Rp. 160.000,-
3. Tol pp = Rp. 30.000,-
4. Belanja cemilan, mie instant, air mineral, dll = Rp. 110.000,-
5. Uang sukarela untuk menginap semalam = Rp. 100.000,-
=======================
TOTAL = Rp. 700.000,-
dibagi 3 orang = Rp. 234.000,-
Ini biaya paling minimal, kalau bawa mobil sendiri dan menginap di rumah penduduk.

Alternatif lain dengan angkutan umum untuk menuju daerah Bayah - Sawarna:
1. Naik bus umum MGI AC Depok - Pelabuhan Ratu (lewat kota Sukabumi)
2. Naik elf jurusan Pelabuhan Ratu - Cisolok (tapi terbatas waktunya, kalau lewat jam 5 sore ya 'ndak bisa, terpaksa menginap semalam di terminal hehehe...)
3. Dengan angkutan umum mungkin memangkas biaya perjalanan, namun waktu tempuh menjadi lebih panjang sekali, dan ini berakibat juga pada biaya penginapan yang dikeluarkan.
4. Penginapan di Bayah - Sawarna belum ada, jadi memang standar penginapan di sana adalah di rumah2 penduduk, kecuali kalau berniat menginap di hotel2 sekitar Pelabuhan Ratu, yang jaraknya sekitar 70 km / 1,5 jam dari Bayah.
5. Rata-rata harga penginapan di rumah penduduk sekitar Bayah - Sawarna sekitar Rp. 50.000,- / orang / hari.
6. Pantai Ciantir terkenal di kalangan wisatawan asing untuk tempat berselancar yang aman, dan kadang mereka bisa berada di Sawarna yang terpencil itu berminggu-minggu, tanpa diganggu oleh wisatawan lain dan bebas menguasai pemandangan pantai layaknya pantai pribadi... bener2 sepi bow...



.
.
.


ReviewReviewReviewReviewThe CaveSep 6, '06 5:23 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Semua jenis film petualangan alam, akan selalu menarik hati saya.

Film ini jalan ceritanya tidak berbeda jauh dengan The Descent yang pernah juga saya review tahun lalu. Tentang penelusuran gua & mahluk-mahluk buas hasil mutasi akibat penyesuaian dengan lingkungan.

Dimulai dengan cerita beberapa orang di tahun silam berusaha mencari keberadaan gua yang terdapat di bawah biara, dengan cara meledakkan pintu masuk gua. Akibat fatal-nya adalah mereka terkubur selama-nya di dalam gua tersebut. Well, cukup bodoh menggunakan bahan peledak di lereng gunung...

Years later... dimana jaman semakin canggih dan didukung oleh alat-alat mutakhir. Sekelompok ilmuwan yang yakin gua tersebut dapat dibangun menjadi rumah bagi ekosistem biologi proyek penelitian mereka, berusaha melakukan survei kedalaman dengan menyewa ahli telusur gua, Jack (Cole Hauser) & Tyler (Eddie Cibrian). Mereka ahli gua yang memimpin tim penyelam terbaik di dunia dan menemukan tabung selam yang mampu tahan selama 24 jam di bawah air.

Jack & Tyler serta tim, akhirnya dapat menelusuri gua sampai ber-mil-mil jauhnya, namun mereka tidak hanya menemukan ekosistem yang sangat cocok bagi penelitian, tetapi juga spesies mahluk sangat buas yang akhirnya memangsa mereka satu-persatu.

Mahluk ini diidentifikasi sebagai amphibi, yang dapat hidup di dua dunia darat & air, dapat terbang serta pandai melompat. Gabungan yang sangat mengerikan, mengingat seluruh tim tidak mempunyai pilihan lain dalam menghindari mahluk-mahluk tersebut... menyelam dalam air atau memanjat dinding gua. Kesemuanya beresiko tinggi di mangsa!

Di balut cerita sedikit romantis *sedikit banget hampir gak ada!* antara Tyler dengan salah satu ilmuwan cantik, film ini cukup menegangkan yang sempat mempermainkan tebakan penonton, akan-kah Jack yang sempat terluka ketika bertarung dengan salah satu mahluk ganas itu, akan berubah wujud menjadi salah satu mahluk ganas. Mengkhawatirkan, mengingat Jack adalah ketua tim penelusuran gua tersebut.

Hanya, ada beberapa perbedaan yang sempat saya catat, dibandingkan dengan The Descent, antara lain:
1. Kecanggihan alat-alat yang dibawa juga didukung oleh sikap profesional sebagai petualang, dengan memperhatikan detil barang bawaan mereka,
2. The Cave lebih lengkap menampilkan aksi petualangan outdoor di dalam gua, seperti panjat tebing, selam, dll,
3. Sidikit sekali kejanggalan dalam film ini dibanding The Descent, tetapi tetap ada. Yaitu: adanya obor-obor dalam chamber sarang para mahluk ganas tersebut. Siapa yang bisa menyalakan? Terkait dengan kepintaran mahluk-mahluk ganas tersebut yang berusaha bermain strategi dengan tim ilmuwan tersebut, dengan cara menyabot tabung-tabung udara mereka... rasanya tetap tidak mungkin ada mahluk yang begitu pintar menyalakan obor dalam chamber,
4. Kemajuan penggambaran mahluk ganas dalam film ini, dibanding dalam The Descent yang hanya meniru mahluk-mahluk subhuman cannibals yang mirip dengan Smeagol di film Lord of The Ring atau Gollum yang sejenis dengan Smeagol. Dalam film ini sudah lebih kreatif kelihatan-nya, terbukti dengan penggambaran amphibi yang dapat terbang & melompat.

Sama dengan The Descent, film ini melibatkan unsur entrail chewing dan genangan darah walau tak sebanyak genangan di The Descent karena kamera tidak terlalu menyorot adegan yang memilukan. Dan pikiran saya tetap mengembara me-reka, apakah mahluk-mahluk seperti ini bila benar-benar ada di kehidupan nyata, adalah hasil mutasi genetik?

Hanya 3 orang yang selamat dalam ekspedisi ini... dengan akhir menggantung dari perkataan sang ilmuwan cantik... bahwa mahluk-mahluk tersebut juga ingin mencoba keluar dari sarang mereka, untuk melihat dunia luar... menyisakan pertanyaan dalam benak saya... apakah dia sang ilmuwan cantik, sempat mengambil sampel parasit dari tubuh mahluk-mahluk ganas tersebut...



Keren... selamat menonton... :)




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help