 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
gue nonton film ini sendirian... setelah mau nonton Narnia gak jadi gara-gara jadwalnya kemaleman...
Gue suka film ini, ringan dan lucu... ceritanya tentang cewek yang baru lulus kuliah, trus atas keinginan ibunya dia melamar kerja di bidang perbankan... tapi ternyata itu 'gak sesuai dengan keinginan-nya dan walhasil wawancara gagal total... dan ternyata nasib berkehendak lain, dia jadi NANNY di keluarga kaya raya...
Dan terpaksa dia bohong ke ibunya, bahwa dia musti sewa rumah di kota supaya efektif ke tempat kerjanya yang di bidang perbankan ituw...
Akhirnya melalui berbagai peristiwa yang makin mendewasakan dia... Cewek bernama Annie Braddock ini akhirnya harus memutuskan jalan hidupnya sendiri...
Agak2 suka mau 'netes nih... nonton beberapa adegan-nya hihihihihhhh...
Gue bilang film ini bagus, karena gue suka ceritanya dan akting2 bintang2-nya... Tapi gue kasih film ini bintang 3 saja, karna pada dasarnya gue kurang suka film drama huahuahuhuahuahuahhhh...
Sori... agak2 aneh penilaian-nya yah... yah namanya juga ripiuw buat gue pribadi... Tapi gue cukup puas dengan pelem drama yang satu ini, that's why gue sampe tulis di review karena gue jarang sekali mau 'nge-review pelem drama... i love action, mysteri, sci-fi & adventure film!!!! hahahahahahhhhhh... . . . .

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Nadhira Khalid |
Buku ini gue dapet waktu 'ngisi acara salah satu launching buku One Gigabyte of Love di Diknas, hari Sabtu kemarin.
Semalam, buku ini habis gue baca, dan menyisakan kekaguman pada pengarang-nya. Sebuah novel yang menurut gue, yang ketika jaman dulu gue mempunyai keinginan menulis novel, adalah jenis inilah yang akan gue tulis, dengan begitu banyak detail pada deskripsi seting lokasi cerita, yang bisa mengantarkan pembaca berfantasi dengan begitu indah, seburuk apapun sebenarnya. Karena detail cara menyampaikan cerita yang begitu indah, tentunya.
Seting cerita di Lombok dan Sumbawa membawa kita berfantasi tentang bagaimana keadaan alam di sana, masyarakatnya, juga tentang jalinan cinta antara Lalu Kertiaji (bangsawan yang mewarisi kemiskinan dalam keluarga-nya) dan Sahnim (anak orang kaya yang ayah-nya sangat membenci bangsawan karena tekanan masa lalu) yang begitu indah, walaupun harus tertunda untuk bertemu dalam cita-cita yang agung. Cerita cinta yang tidak klise tanpa membuat bosan pembaca, penuh adegan seru menegangkan dan tak terduga...
Oya, seingat gue penulis-nya juga adalah salah satu kontak gue di mp, dan ini membuat gue semakin bangga 'deh, punya teman yang jago menulis, hehe...
Bravo mbak Nadhira!!! Ditunggu buku berikutnya ya mbaaaaaa... emmmuuaaachhh!!!

 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Tanpa membahas mengenai SARA, rasa-nya 'nggak mungkin dalam mengupas isi dari film ini. Jadi? 'Gak perlu saya bahas di sini 'lah ya, isi film ini. Saya harap kalau-pun ada yang reply di sini juga 'gak perlu membahas bahkan sampai mendebatkan hal-hal yang SARA ya, atau saya delete nanti reply-an nya...
I have warned you... Mendingan baca aja resensi film ini di website lain 'lah, di sini saya cuma mau cerita kalau sepanjang menonton film ini satu-satu-nya saat dimana saya sampe 'nangis adalah, waktu salah satu 'pahlawan' akhirnya meninggal dan anak-nya dengan tabah menghadapi kenyataan kalo bapak-nya telah meninggal. Kenapa juga saya sampai 'narik tisu terang2an untuk 'ngelap airmata, adalah karena di samping saya 'gak ada orang (jadi 'gak perlu merasa malu untuk nangis, kalo ada 'mah maluuuu... hahahaa...), dan kenapa sampai 'gak ada orang di bangku samping, adalah karena saya telat masuk gedung bioskop, padahal 'udah janjian sama temen-temen untuk nonton film itu. Waktu saya masuk ruangan theater, saya bilang sama mbak penjaga kalau tiket di bawa sama teman yang 'udah duluan masuk. Setelah kesulitan beberapa lama membiasakan mata dalam kegelapan untuk 'nyari-nyari mereka, akhirnya saya disuruh duduk aja sama mbak penjaga (aduh makasih ya mbak hehe...) padahal ternyata jarak saya dan teman2 (dyah, icha, aryan) hanya 3 baris aja mereka ada di belakang saya... halahhhh...
Lho kog jadi 'ngebahas cerita di bioskop...
Pokoknya, di samping keganjilan yang menurut saya agak 'amerika sekali' dimana 4 orang jagoan lawan orang sekampung 'gak ada yang mati atau luka parah (padahal sebelum-nya 'udah sempet kecelakaan mobil kena bom, jungkir balik di tol blablabla... dihajar RPG yang terlontar jarak dekat, peluru2 senapan otomatis, dll)... inti dari film ini menurut saya adalah: kenyataan bahwa dendam tak berkesudahan tidak menyelesaikan masalah, yang ada cuma: perang & kematian konyol... again and again...
Oke 'lah... bintang 3 aja untuk keberanian mengangkat tema film yang kental dengan SARA ini. 'Gak papa juga seh, biar orang terbiasa dengan tema ini tanpa harus bertikai dalam membahas dan mendebatkan.

 | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Waktu pertama lihat film ini di awal cerita, bagus sih... menegangkan! Terlihat seorang gadis remaja dikejar-kejar "sesuatu" tidak tampak sampai akhirnya masuk ke dalam rumah-pun masih di kejar. Lalu ibu gadis remaja itu mulai membuka arsip cerita masa lalu keluarga-nya.
Ceritanya nih... antara tahun 1818 dan 1820, keluarga Bell dari Red River, Tennessee dihantui oleh sosok yang selalu mengikuti putri mereka, Betsy (Rachel Hurd-Wood). Orang tua Betsy (Sissy Spacek, Donald Sutherland) selalu mencoba menemukan cara untuk mengusir hantu dari rumah mereka. Mereka (terutama ayah Betsy) curiga hantu ini kiriman dari tetangga mereka (diduga penyihir) yang pernah bermasalah dalam hal perebutan tanah dengan keluarga Bell. Oleh sebab itu, sampai si ayah menderita fisik-nya karena teror hantu itu, akhirnya dia ke rumah tetangga yang bermasalah tersebut untuk minta maaf dan mohon untuk menghentikan perbuatan-nya mengirim hantu sebagai penyihir.
Menurut saya, adegan-adegan dalam film ini banyak yang disensor, tidak tahu juga apa maksudnya apakah terlalu kejam atau bagaimana, toh film ini cukup sopan kalau mau dibilang standar-nya xxx, baju yang dikenakan artis-artisnya pun tahu sendiri, baju-baju jadul yang berlapis-lapis gitu. Untuk akting, saya rasa semua cukup bagus dan maksimal, apalagi Rachel Hurd-Wood sebagai Betsy yang putus asa dan selalu ingin tahu tentang apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri. Tapi untuk sinematografi, KURANG BANGET. Contoh, adegan waktu Betsy main air dengan hantu, aduh basi banget deh... lalu adegan waktu Betsy ditampar-tampar sama hantu, sampai tergantung-gantung di udara. Ide-nya menurut saya cukup keren, tapi mestinya adegan itu bisa dibuat lebih mendebarkan lagi dan tidak hanya mengandalkan shoot ke kaki yang tergantung-gantung seperti di film-film horor biasa lain-nya.
Meski demikian, diakui ada beberapa bagian cukup bagus dan mengejutkan. Seperti adegan hantu yang marah karena 'nggak menemukan Betsy dalam rumah, karena sedang dilarikan keluar dengan tujuan menjauhkan Betsy dari hantu di rumah. Hantu itu terlihat mengejar sampai melintasi pegunungan, hutan, lembah hingga akhirnya menemukan kereta kuda Betsy. Wah, buat saya itu adegan terkeren, hihihi... seakan saya terhanyut memerankan sebagai hantu yang melayang-layang tinggi terbang melintasi apa aja. Wuiiihhh...
Tapi mayoritas kenyataan-nya selama menonton film ini adalah, saya sibuk menghitung *kebiasaan banget, kayak waktu nonton Nagabonar Jadi 2* umur Betsy dan hubungan-nya dengan ibu gadis yang ada di awal cerita. Bener-bener 'nggak jelas! Alur cerita-nya sumpah jelek banget.
Tapi saya tetep berusaha positiP thinking aja deh, jadi kesimpulan pada film ini, cerita yang sebenarnya adalah: ternyata ayah Betsy melakukan perbuatan tidak wajar terhadap Betsy, dan hal ini menyebabkan ada sesuatu dalam diri Betsy yang timbul dalam usaha mempertahankan diri dari kekejaman ayahnya sendiri. Jadi hantu yang berseliweran adalah dari Betsy sendiri, bukan kiriman dari tetangga tanah sebelah.
Yah, itu kesimpulan saya aja sih, melihat dari alur cerita yang bener-bener jelek. Ah, kecewa juga nonton film ini...

 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Semua jenis film petualangan alam, akan selalu menarik hati saya.
Film ini jalan ceritanya tidak berbeda jauh dengan The Descent yang pernah juga saya review tahun lalu. Tentang penelusuran gua & mahluk-mahluk buas hasil mutasi akibat penyesuaian dengan lingkungan.
Dimulai dengan cerita beberapa orang di tahun silam berusaha mencari keberadaan gua yang terdapat di bawah biara, dengan cara meledakkan pintu masuk gua. Akibat fatal-nya adalah mereka terkubur selama-nya di dalam gua tersebut. Well, cukup bodoh menggunakan bahan peledak di lereng gunung...
Years later... dimana jaman semakin canggih dan didukung oleh alat-alat mutakhir. Sekelompok ilmuwan yang yakin gua tersebut dapat dibangun menjadi rumah bagi ekosistem biologi proyek penelitian mereka, berusaha melakukan survei kedalaman dengan menyewa ahli telusur gua, Jack (Cole Hauser) & Tyler (Eddie Cibrian). Mereka ahli gua yang memimpin tim penyelam terbaik di dunia dan menemukan tabung selam yang mampu tahan selama 24 jam di bawah air.
Jack & Tyler serta tim, akhirnya dapat menelusuri gua sampai ber-mil-mil jauhnya, namun mereka tidak hanya menemukan ekosistem yang sangat cocok bagi penelitian, tetapi juga spesies mahluk sangat buas yang akhirnya memangsa mereka satu-persatu.
Mahluk ini diidentifikasi sebagai amphibi, yang dapat hidup di dua dunia darat & air, dapat terbang serta pandai melompat. Gabungan yang sangat mengerikan, mengingat seluruh tim tidak mempunyai pilihan lain dalam menghindari mahluk-mahluk tersebut... menyelam dalam air atau memanjat dinding gua. Kesemuanya beresiko tinggi di mangsa!
Di balut cerita sedikit romantis *sedikit banget hampir gak ada!* antara Tyler dengan salah satu ilmuwan cantik, film ini cukup menegangkan yang sempat mempermainkan tebakan penonton, akan-kah Jack yang sempat terluka ketika bertarung dengan salah satu mahluk ganas itu, akan berubah wujud menjadi salah satu mahluk ganas. Mengkhawatirkan, mengingat Jack adalah ketua tim penelusuran gua tersebut.
Hanya, ada beberapa perbedaan yang sempat saya catat, dibandingkan dengan The Descent, antara lain: 1. Kecanggihan alat-alat yang dibawa juga didukung oleh sikap profesional sebagai petualang, dengan memperhatikan detil barang bawaan mereka, 2. The Cave lebih lengkap menampilkan aksi petualangan outdoor di dalam gua, seperti panjat tebing, selam, dll, 3. Sidikit sekali kejanggalan dalam film ini dibanding The Descent, tetapi tetap ada. Yaitu: adanya obor-obor dalam chamber sarang para mahluk ganas tersebut. Siapa yang bisa menyalakan? Terkait dengan kepintaran mahluk-mahluk ganas tersebut yang berusaha bermain strategi dengan tim ilmuwan tersebut, dengan cara menyabot tabung-tabung udara mereka... rasanya tetap tidak mungkin ada mahluk yang begitu pintar menyalakan obor dalam chamber, 4. Kemajuan penggambaran mahluk ganas dalam film ini, dibanding dalam The Descent yang hanya meniru mahluk-mahluk subhuman cannibals yang mirip dengan Smeagol di film Lord of The Ring atau Gollum yang sejenis dengan Smeagol. Dalam film ini sudah lebih kreatif kelihatan-nya, terbukti dengan penggambaran amphibi yang dapat terbang & melompat.
Sama dengan The Descent, film ini melibatkan unsur entrail chewing dan genangan darah walau tak sebanyak genangan di The Descent karena kamera tidak terlalu menyorot adegan yang memilukan. Dan pikiran saya tetap mengembara me-reka, apakah mahluk-mahluk seperti ini bila benar-benar ada di kehidupan nyata, adalah hasil mutasi genetik?
Hanya 3 orang yang selamat dalam ekspedisi ini... dengan akhir menggantung dari perkataan sang ilmuwan cantik... bahwa mahluk-mahluk tersebut juga ingin mencoba keluar dari sarang mereka, untuk melihat dunia luar... menyisakan pertanyaan dalam benak saya... apakah dia sang ilmuwan cantik, sempat mengambil sampel parasit dari tubuh mahluk-mahluk ganas tersebut...
Keren... selamat menonton... :)

   | 9 Naga | Jan 17, '06 7:25 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Pemain: Lukman Sardi (Marwan), Ajeng Sardi (istri Marwan) dan Fauzi Baadila (Lenny)
============= Nonton Hemat alias nomat hari Senin kemarin, diisi dengan kegilaan2 kecil seperti biasa kalau kita bertemu Brilli alias miss B, mahluk cantik mungil yang imut tapi amit ini. Dari sejak awal sampai di bioskop, sebenarnya dengan manis miss B ini berniat baik menawarkan minuman air mineral kepada saya yang memang haus setelah menempuh perjalanan jauh dari Depok *deuhhh segitu aja jauhhh* dengan berjejalan di dalam kereta *deuhhh bandingin ama jam pagi kalo ke Jakarta, hayooo* -->ini kapan review pelem-nyahhhh???<-- sebentar sebentar... ini lagi seru.... Nah, waktu saya sedang asyik minum dari botol air mineral itulah, secara tak diduga terjadi hal-hal yang menyebabkan saya tersedak juga baju bagian depan tertumpahi air minum itu ... yah, itu dia kejahilan awal miss B... bisa ditebak menit2 selanjutnya akan penuh dengan kejahilan yang lebih parrrahhhh... Oya, satu lagi teman nonton saya kali ini adalah Nefran, yang tidak menjahili tapi saya jahili, hihihihi....
Oke sekarang tentang film-nya... hmmm... bagus... walau gak bagus-bagus amat, hehehhe... standar-lah, layak tonton seperti film Indonesia yang bagus lainnya... Bukannya menomorduakan atau 'ndak menghargai karya anak bangsa --> eh, buktinya kita cape2 dari Depok ke bioskop itu demi menghargai karya anak bangsa loh, dengan 'ndak beli DVD bajakan, hihihi... tapi ya itu tadi, penilaian saya terhadap film ini ya demikianlah...
Pesan yang ingin ditangkap dari film ini mungkin seperti yang dituturkan sang sutradara: "Film 9 NAGA ini punya filosofi yang sangat dalam. Selain action, juga menceritakan sosok pria yang mencari arti kehidupan," ujarnya .... Namun demikian saya kog setuju dengan pendapat Nefran dalam review film ini oleh miss B *hei B, ternyata film ini sama2 review ke-5 kita lho hihihi* bahwa tagline film ini yaitu "Manusia terbaik di Indonesia adalah Seorang Penjahat" ternyata amat berlebihan, dan judul "9 Naga" & posternya pun ternyata terasa misleading setelah menonton filmnya. Gak percaya? Baca aja komik Naga yang juga terpampang dalam film ini. Lho? hehehe...
Ada pernyataan sang sutradara yang juga saya ragukan*maaf lho mas Rudi, kalo saya salah*: “Tidak ada guntingan satu millimeter-pun!,” Ujar Rudi sumringah saat konpres 9 Naga di Time Break, Semanggi. Malahan, film ini dipuji oleh LSF. “Gila ni film bagus banget, calon peraih citra 2006, kata dia gitu,” imbuhnya. --> Kalau soal calon peraih Citra, oke-lah, tapi kalo sensor? hummmm...
Oya, dalam perjalanan pulang nonton film ini, saya sempatkan mampir ke resto yang cukup murah tapi oke di daerah Kemang *review menyusul* untuk berkumpul dengan rekan2 MPers lain yang masing2 nonton film2 berbeda atau sama di bioskop2 berbeda. Kami juga me-review bersama film yang sama atau membicarakan film yang lain. Ada satu hal yang saya pertanyakan terhadap film Indonesia, "Kenapa mutu gambar film Indonesia selalu buram atau tidak smooth, sehalus mutu gambar film luar negeri? Apakah format kameranya yang berbeda, atau bagaimana?" Pertanyaan ini sebenarnya sudah dijawab oleh salah satu rekan yang cukup berkompeten di bidang broadcasting. Namun demikian hal ini tidak menjadikan puas diri saya untuk mencari jawabnya dari rekan-rekan sekalian yang tentu lebih tahu dari saya, yang sangat awan di dunia per-film-an ini.
Semoga per-film-an Indonesia semakin oke!!!
*Review lain: 9 NAGA (Indonesia-Malaysia)

 | Category: | Books | | Genre: | Romance | | Author: | Biru Laut - Asma Nadia |
Kunjungan singkat silaturahmi ke RCP (Rumah Cahaya Penjaringan) saat Idul Adha yang lalu rupanya menjadi berkah tak disangka, selain bisa berfoto bersama para kambing kurban, saya, Ari-Harigini & Wiku mendapat secara cuma-cuma buku berikut tandatangan langsung dari pengarangnya masing-masing 1 buku. Horeeeeeeeee... masing-masing judulnya beda lagi...
Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh bang Andi dengan nama beken-nya Biru Laut, berkolaborasi dengan mba Asma Nadia. Cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis dengan gaya bahasa ringan tanpa menghilangkan makna yang dalam bagi pembaca. Berisi cerita tentang persoalan cinta dan kehidupan rumah tangga sehari-hari, yang dapat terjadi pada siapapun. Banyak masalah besar dalam rumah tangga dipaparkan dalam buku ini, tanpa harus berpikir berat pembaca akhirnya dapat mengerti esensi dari masalah dan solusinya, walaupun tentu saja setiap orang pasti akan berbeda dalam mencari solusi permasalahan yang mirip di buku ini. Setidaknya bagi orang yang awam dalam dunia rumah tangga pasangan suami isteri, saya bisa belajar bagaimana bila suatu saat bertemu situasi yang mirip dengan cerita di buku ini. Penyajiannya yang riil, tidak membuat cerpen-cerpen di buku ini menjadi terasa "klise" dengan environment yang berlebihan.
Terkadang ending cerita yang bagus membuat pembaca puas, namun tidak berlaku dalam buku ini dimana ada beberapa cerpen dengan ending yang tak disangka, salah satu favorit saya adalah cerita "Cinta Begitu Senja" oleh Asma Nadia. Dalam cerpen ini dikisahkan Fajar dan Senja saling mencintai sejak mereka remaja, namun tidak saling berterusterang, sampai akhirnya Senja menikah dengan pria lain, mempunyai anak, tinggal di luar negeri. Ketika saat Senja kembali ke Indonesia karena suaminya meninggal, dan bertemu kembali dengan Fajar yang setia menunggu-nya dengan tidak menikah karena Senja-lah satu-satunya cinta bagi dirinya, tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling Fajar mengajak Senja menikah pada saat usia mereka sudah jauh dari muda ini. Kemudian karena pertengkaran-pertengkaran antar ego mereka-lah yang akhirnya meng-ending-kan cerpen ini dengan tak terduga tapi manis: Mereka saling tatap. Saling melihat cinta begitu besar yang membayang di mata keduanya. "Senja jawablah." Suara itu tulus, penuh permohonan. Padahal dua orang yang saling mencintai tak sepatutnya memohon. Seharusnya mereka sudah saling mengerti hanya dengan melempar tatap. Senja memejamkan matanya. Membiarkan sunyi membiaskan tahun-tahunnya yang pucat tanpa warna. Harinya yang tanpa rasa. Cinta teramat besar. Pelan perempuan itu mengangkat dagunya. Tersentak oleh keasingan yang diucapkannya sendiri, "Sesuatu yang terlambat, mungkin memang tidak perlu dimulai, Jar!" Maka sunyi membungkus langkah-langkah Senja, dalam bayang yang kian mengabur di mata Fajar.
*To Ari-Harigini & Wiku: Kapan nih kita tukeran baca buku-nya??? --> ga modal pisan ahahahahhahaha... Oya, Kalo Ari Harigini dapet Aku Begitu Mencintaimu, kalo Wiku dapet ..... : Jadilah Istriku

 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Written and Directed by: Neil Marshall. Starring: Shauna MacDonald, Natalie Mendoza, Alex Reid, Saskia Mulder, Nora-Jane Noone, MyAnna Buring.
Film horor ini dibintangi oleh 6 cewek se-geng yang satu hobi dalam berpetualang, yaitu Juno, Beth, Sarah dan 3 orang lain yang saya lupa namanya.
Film ini adalah film pertama yang saya tonton, setelah sekitar 3 tahunan absen nonton di bioskop dan nunggu setengah jam-an jeng Nozqa yang masih di jalan menuju TIM Cikini. Bener-bener niat pengen nomat kita, hehehehe... Oya untuk diketahui, mungkin tulisan saya kali ini bukan sekedar review tapi cerita hampir keseluruhan film, jadi yang niat pengin nonton ini film jangan diterusin deh baca review model ini daripada nanti 'nyesel udah tahu jalan ceritanya duluan, hahahaha... lagi semangat pengen cerita niy... soriii...
Berhubung cukup lama menunggu jeng Nozqa sebelum masuk Theater 1 TIM Cikini, maka telat-lah kita nonton prolog film ini. Gak papa... dibuka dengan cerita mereka sedang berpetualang di dalam gua yang tiba-tiba runtuh di tengah jalan masuk, dan mereka ber-6 trapped in the chamber, with no guaranteed exit & no hope of rescue... Yah, bayangin aja masa mereka sampe hampir kejatuhan runtuhan dinding gua tapi gak satupun yang terluka aneh juga kan??? Gak papa... ini baru awal keanehan dalam film yang saya catat.
Saat mereka terperangkap ini-lah Sarah melihat kehadiran kelebatan bayangan dan sosok penghuni asli gua, yang diyakini rekan-rekan seperjalanan-nya hanya ilusi dan rekaan Sarah yang memang sering mengalami hal tersebut, dipicu oleh kehilangan suami (Paul) dan anaknya dalam kecelakaan tragis. Perjalanan menemukan jalan keluar menggiring mereka ke jalan melintasi jurang yang harus bergelantungan di atap gua, dan menyebabkan penonton deg-degaaaaaannn pisan, takutnya jatuh gitu ke jurang di bawah yang menunggu... hiyyy... pake acara tali dan peralatan lain yang dibawa Sarah hilang lagi... huhhh bener-bener bikin gemes... Pada akhirnya mereka memang bertemu para mahluk penghuni gua yang sempat terlihat oleh Sarah, dan bertempur melawan mahluk-mahluk yang sangat gesit dan dapat merayap di dinding gua. Kita sebut saja gollum, karena sosoknya yang mirip smeagol dalam film Lord Of The Ring.
Film ini juga menampilkan sisi tragis ketika Juno yang sedang semangat membunuh 2 gollum yang mengeroyok, tiba-tiba, dengan tak sengaja, meng-kampak leher Beth hingga sekarat. Ms. X *sori lupa namanya* yang sudah lebih dahulu meninggal dilahap gollum dan Beth akhirnya dilempar ke sumur timbunan makanan cadangan gollum. Sarah yang tidak sengaja tercebur kesitu juga akhirnya melihat melalui jendela infra red kamera-nya, ketika para gollum melahap rekan-nya, Ms. X, dengan hati tercabik-cabik. Saat itulah Sarah juga menemukan fakta bahwa mahluk-mahluk gollum tersebut ternyata buta.
Ketika akhirnya Sarah mencari jalan keluar liang tersebut, dia menemukan Beth yang masih sekarat, mengaku bahwa dia dibunuh Juno dan menyarankan Sarah untuk tidak mempercayai Juno. Beth juga memperlihatkan kalung milik Juno yang sempat dia raih ketika Juno *tak sengaja* meng-kampak lehernya. Kalung itu bertuliskan "Love Each Day", dan Beth mengatakan kepada Sarah bahwa itu kalung pemberian Paul (suami Sarah). eng eing eeeeeeennngggg jrrrreeeengggg... cemburu-pun dimulai... sementara jumlah korban meninggal dari ke-6 rekan tersebut sudah 2.
Adegan berpindah saat Juno & 2 rekan lain *Ms. A & Ms. B* lari menyusuri liang gua dan akhirnya menemukan *lagi* jurang yang harus diseberangi seperti semula: mengaitkan carabiner di atap gua dan hupplaaa... Ms. A yang gegabah-pun akhirnya menjadi santapan gollum sementara dia tergantung2 di tali atap gua. Namun sebelum meninggal sempat terjadi perlawanan, dan Ms. A berhasil membunuh 1 gollum yang akhirnya tercebur ke sungai. Sementara Ms. B juga arghhhh... akhirnya... terseret gollum sebelum diterkam... wahhh 2 lagi deh jadi korban... Jadi tinggal... yup... Juno dan Sarah.
Banyak detil keanehan lain *yang kalau dalam kehidupan nyata gak mungkin kali...* yang tercatat dalam film ini antara lain: 1. Kenapa mereka ber-6 sama sekali tidak bersikap se-profesional yang terlihat dari kecanggihan alat-alat mereka, untuk membawa makanan sekedarnya, padahal jelas-jelas dimana-mana suhu gua bakal menyebabkan suhu badan cepat drop & lapar. Atau semua caver bule memang begitu kebiasaannya, mengabaikan hal yang sepele menurut mereka? 2. Flare stick yang dibawa Juno seperti 'ndak habis-habis, padahal flare stick itu cukup gede ukurannya untuk dibawa kemana-mana, 3. Senjata untuk menusuk mahluk-mahluk gollum berupa tulang hewan yang 'ndak sengaja ditemukan, kadang bikin gemes karena dibuang-buang, huh... padahal kan bisa dipakai lagi. Siapa tahu mereka ketemu gollum lain di jalan gimana? 4. Juno 'nggak berterusterang kepada 2 rekan lain, bahwa dia tidak sengaja membunuh Beth. Kenapa coba? Apakah Juno hendak menyembunyikan fakta tersebut dalam rangka memompa semangat rekan yang lain untuk lebih struggle dalam melepaskan diri dari cengkeraman mahluk-mahluk tersebut? Atau memang dia sengaja supaya tidak dipersalahkan atas kematian sahabat mereka? Kalau melihat dari sikap Juno dalam film ini yang berperan besar sebagai pemimpin, rasanya alasan pertama-lah yang cocok. Tapi jika benar-pun sayang sekali karena Sarah yang cemburu pastilah tidak peduli, karena begitu dia akhirnya bertemu Juno, setelah mengalami pertempuran kecil dengan 3 gollum bersama-sama, Sarah tidak ragu untuk meng-kampak lutut Juno. Arrrrrrghhhhh !!!!! Tidakkkkk... she's my hero!!!!! *wakakakakaka... jeritan penonton yang kecewa*
Film ini benar-benar bermain dalam primal fears: kegelapan, klaustropobia, deformiti anatomi, drowning,... namun yang paling mengherankan saya pribadi secara umum, mungkin adalah... sering muncul-nya mahluk-mahluk subhuman cannibals yang mirip dengan smeagol di film Lord of The Ring atau gollum yang sejenis dengan smeagol... dalam film-film horor masa ini. Dalam pencarian di wikipedia, mahluk gollum ini disebut ber-ras hobbit, hidup dalam lingkungan misty mountain dan hanya ber-gender male, jelas karena memang smeagol dalam film LOTR adalah mutasi. Oleh sebab itu saya heran dengan munculnya gollum dalam film The Descent ini dengan sosok female yang sempat bentrok dengan Sarah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi sih, memang aneh kalau dalam satu kelompok Gollum yang hidup bersama, tidak ada satu-pun yang Female... hihihihi... 'emang mereka keluar-nya di-lepeh???
Pikiran saya mengembara me-reka apakah mahluk-mahluk seperti ini bila benar-benar ada di kehidupan nyata, adalah hasil mutasi genetik, penyesuaian manusia yang asli lengkap fitur standar-nya, dengan lingkungan gelap-nya dan mencari mangsa berdarah panas untuk memenuhi kebutuhan hangat dalam dingin-nya gua.
In closing, you should see this movie… kecuali buat yang jantungan yaaa... tidak disarankan... Karena tanpa melibatkan unsur entrail chewing dan genangan darah, film ini cukup kejam dengan sound effect-nya. This is a very scary movie...
Gambar dari: sini...
Fakta lain dibalik nomat kali ini: Ada 1 lampu jalan sepanjang parkiran TIM Cikini yang sudah 3 tahun terakhir ini belum di pasang dengan lampu baru, dan saya tahu persis kenapa lampu tersebut hilang, yaitu karena pecah ditabrak seorang mbak yang baru belajar mengendarai motor, yang melintas di depan saya kurang dari 1 meter jaraknya, 3 tahun lalu, dengan kecepatan sangat tinggi. Tragis akhirnya. Seperti film yang saya tonton kali ini.
Another review: The Descent

 | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Aribowo |
Pertama kali lihat buku ini, langsung saya berkomentar "ya ampun cetakannya minimalis banget coy..." hahahhaha... sori... itu yang terpikir saat itu... tapi memang kenyataan sih, hahaha... maaf rekan, sesuai janji saya atas permintaan review darimu, bahwa saya akan tulis apa adanya termasuk pelecehan yang secara lisan sudah saya lontarkan malam itu di Kenduri Cinta, TIM, 9 Desember 2005, saat pertama kali memegang buku hasil karyamu.
Bayangkan sodara-sodara... begitu saya buka... hualahhhh... huruf-nya Trebuchet MS, yang nota bene dulu waktu saya kerja di gedung Lembaga Penelitian UI, selalu saya jadikan huruf favorit untuk menulis proposal dan laporan proyek-proyek, hihihihihi... Sebenarnya saya 'ndak punya referensi huruf apa yang bagus dan cocok untuk menjadi standar huruf tulisan berbentuk puisi, yang sudah pasti kata-katanya sangat indah atau sangatlah buruk, yang pasti bagi saya... untuk penulisan puisi yang dibukukan, kog jenis huruf Trebuchet MS sepertinya benar-benar tidak cocok, semoga rekan saya penulis buku ini bisa memperbaikinya dalam edisi berikutnya... hehehehe...
Berikutnya mengenai isi buku. Hmmm.... perlu sedikit waktu lebih untuk memahami isi keseluruhan dari buku kumpulan puisi ini, untuk mengerti pada akhirnya penulis kebanyakan dalam perenungan yang dilimpahkan berbentuk puisi ini melakukan kegiatan tersebut di kampung halaman-nya, Purworejo. Setidaknya itu yang tertulis di akhir tiap puisinya, walaupun masih banyak puisi yang dia sebutkan terbikin di tempat lain seperti Cipanas, Cirebon, Karangsari, Jakarta, Anyer, Bandung, Ciawi, bahkan di Depan Tong Sampah TIM.
Ada 2 bagian buku ini yang berisi puisi-puisi mengambil tema Semesta Birahi dan Ritus Kerinduan. Saya sebenarnya kurang paham apakah judul tiap bagian kumpulan puisi tersebut merupakan tema tiap kumpulan atau bukan, yang jelas memang terlihat pada bagian Semesta Birahi, disana penulis banyak mengumpulkan puisi tentang gelitik kecintaan-nya, baik cinta kepada Tuhan, maupun cinta kepada sesama. Bahkan ada puisi unik menggelitik di bagian ini yang menggambarkan persetubuhan tanpa menjadikan pembaca merasa jijik, walaupun diberi judul oleh penulis Senggama Setan. Bagian Ritus Kerinduan juga tak kalah seru dengan puisi-puisi bertema kerinduan penulis akan Rasul-nya, kerinduan akan negeri yang damai, kerinduan akan keadilan akan kemanusiaan, maupun kerinduan penulis dalam mengerti makna-makna kehidupan yang dia temui baik di jalanan maupun sudut koran yang mungkin dia baca saat itu.
Saya juga mengherankan akan seringnya kemunculan kata "semesta" dan "birahi" *mungkin juga karena itulah penulis memberi judul bukunya: Semesta Birahi* dalam puisi-puisi yang ditulis oleh rekan saya ini, seperti dalam puisi Namamu Grogondoli, pada akhir puisi terpancang satu kalimat disana "kamu yang punya semesta birahi". Atau dalam puisi Moses : "perempuan yang mendesau di birahimu", atau dalam puisi ... arghhhhhh... saya yakin kalau membaca dalam bentuk file dijital buku ini, akan lebih banyak lagi kata-kata tersebut saya temukan dengan bantuan fitur "Find", hehehhehe.... sudahlah, yang pasti buku ini agak mencengangkan saya sedikit, ketika membaca kata-kata penulis yang bertujuan menyampaikan terima kasih, karena salah satu dari daftar tertulis: The MPers.....
Betapa terharu saya menyadari bahwa pertemanan di multiply telah membawa penulis atau bahkan mungkin saya sendiri, dalam keakraban yang entah mungkin bagi beberapa orang akan terdengar ****s*it, tapi bagi saya merupakan suatu anugerah & kebahagiaan tersendiri. Yah... mudah-mudahan, siapa tahu aja kan, suatu hari kita bisa buat satu buku kumpulan puisi dari semua The MPers disini... bukan suatu hal yang impossible tentunya... yo'i gak rekans?????? *yah... gue kan lagi 'ngomongin puisi disini, kalo lagi 'ngomongin kopdar ya lain lagi, mungkin ide gue adalah kopdar di pinggir danau ui sembari pembacaan puisi hasil karya The MPers gituuuuu...* --> lho kog puisi lagih????? wakakkaka... *ya udahlah... gue juga pan pecinta puisi... hihihihi...*
Rekan-rekan... dengan penuh cinta, Aribowo mempersembahkan buku hasil karyanya yang perdana... Semesta Birahi
*ps: stttt... saya 'udah dapat buku plus tandatangan langsung dari penulisnya lho... hihihihi... ayo ayo yang mau beli, hubungi marketing beliau: Ms. Nozqa.... huehuieahoieaheoiaheiauheie.... *Noz awas lu jangan dicatut yah, wakakakkaka* Buat Ari MS: "gue kasi 4 bintang aja gak marah kan loe??? hehehehe.... gue masih bete liat hurup-nya Ri....huehuehuehueheue..."
*gambar: thanks to Nozqa

| Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Fatima Mernissi - 1994 |
Apa yang muncul dibenak kita saat membaca kata 'harem'? Rumah eksotik populer gaya Timur berisi wanita-wanita cantik pemuas hasrat kesenangan lelaki belaka? 'Ndak terlalu salah sih... rumah yang menarik perhatian orang-orang Barat, bahkan membuat mereka terobsesi, hingga mengilhami ratusan lukisan dan tulisan orientalis abad ke-18 hingga abad ke-20...
Tapi harem keluarga Mernissi (yang tinggal di kota Fez, kota abad ke-9 di Maroko, 5 km sebelah barat Makkah, 1.000 km sebelah timur Madrid) dalam cerita di buku ini jauh sekali dari gambaran macam itu, bahkan rumah yang ditempati Fatima dan keluarga besarnya inilah yang menjadi tempat belajar seorang calon feminis populer, ditengah-tengah perempuan-perempuan luar biasa, mengenai kehidupan, cinta dan pemahatan pribadi, dibalik tembok tinggi kukuh dan dibalik hijab, haik (jubah wanita tradisional Mesir - berupa kain katun putih 7 meter yang dikenakan untuk menutupi sekujur tubuh, ujung2 harus saling bertautan, diikat dibawah dagu, ditahan dengan tangan supaya tidak jatuh), hingga jellaba (jubah laki-laki) yang akhirnya mereka pakai.
Fatima kecil hidup bersama Shamir (sepupu laki-laki) yang beda lahir satu jam, dan ketika mereka lahir, tetangga2 sampai mengira di rumah besar itu telah lahir 2 orang bayi laki-laki, karena disana tidak ada tradisi mengelu-elukan bayi perempuan yang lahir. Ibunda Fatima sangat menentang keras pembedaan ini, juga bibi-nya Habiba, yang disepelekan suami, dicerai, dan akhirnya bergabung hidup bersama keluarga besarnya ini. Ibunda Fatima sangat sedih karena suaminya bersikukuh tinggal bersama sesuai tradisi, dalam rumah besar bersama 1 keluarga adik suaminya (paman Fatima), juga Lalla Mani (nenek Fatima), sementara paman-paman Fatima yang lain pergi mengikuti kata hati demi membahagiakan istri-istri tercinta mereka. Ibunda Fatima tidak tahan dengan kebiasaan makan 3 kali sehari yang mengikat sehingga orang dipaksa makan sesuai aturan dan jenis makanan yang ditentukan sesuai rapat besar keluarga setiap hari. "Buang-buang waktu saja, diskusi bertele-tele soal makanan! Orang-orang Arab jauh lebih baik diam saja dan membiarkan setiap orang memutuskan apa yang ingin mereka makan. Memaksa setiap orang untuk makan 3 kali sehari hanya memperumit masalah. Lagipula demi tujuan suci apa? Tentu saja tidak ada!" kata Ibunda Fatima, yang merasa kehidupannya absurd, tidak masuk akal. Ayahanda Fatima yang tadinya mengajukan alasan tidak bisa melanggar tradisi, akhirnya mengalah dengan menawarkan kompensasi membuatkan lemari makan khusus untuk istri tercintanya, juga jamuan makan khusus tete-e-tete (berdua) di teras saat bulan purnama, yang merupakan saat-saat terindah dan kebahagiaan 100% untuk ibunda Fatima.
"Aku ingin anak perempuanku menjalani hidup ceria, sangat menyenangkan dan seratus persen bahagia, tidak lebih, tidak kurang", harap ibunda Fatima. Kebahagiaan perempuan, jelasnya, adalah ketika perempuan merasa baik, bebas, cerah, kreatif, puas, mencintai, dicintai seorang laki-laki yang menghargai kekuatanmu, dan bangga akan bakat-bakatmu. Kebahagiaan juga termasuk hak privasi, hak untuk menarik diri dari keramaian dan melakukan perenungan diri, serta hidup bersama dengan orang-orang tercinta sekaligus merasa bahwa engkau adalah pribadi yang unik sehingga kehadiranmu bukan sekedar untuk menyenangkan mereka. Adalah kebahagiaan, ketika ada keseimbangan antara apa yang kamu berikan dan apa yang kamu peroleh.
Fatima kecil terombang-ambing ketika mencari arti kata "dewasa" dalam benaknya, dengan begitu banyak pelajaran hidup yang dia dapat. Simak pendapatnya berikut, "Apapun alasannya, aku bertekad bahwa jika aku berjuang untuk kebebasan perempuan, aku tidak akan melupakan sensualitas. Sebagaimana dikatakan bibi Habiba, "Mengapa memberontak dan menantang dunia jika kamu tidak mampu mendapatkan apa yang telah hilang dalam hidupmu? Dan, hal terpenting yang hilang dalam hidup kita adalah cinta dan seks. Buat apa menggerakkan revolusi jika dunia baru itu hanya akan menjadi kegersangan emosional?".... "
Well..well.. guys.. better you read it yourself... bagus banget ceritanya... bikin gue kadang ketawa sendiri, kadang terharu juga... Disini harap penyimakan tidak secara harfiah karena banyak konotasi tersembunyi dalam penyampaian kalimat. Justru buat saya, disitulah letak kekuatan novel ini...
Selamat baca....
-ari-
| |