Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryDec 8, '07 1:50 PM
for everyone

22.28
Bulan sedang menuju tepat ke jantung malam...
sayup suara orang berbincang di jalan terdengar riang dalam gelut malam minggu
untuk beberapa puluh menit mata terfokus ke arah monitor setelah melirik jam
dan peluh mulai mengharuskan badan dibersihkan untuk memulai ritual istirahat
baru saja resluiting terperancah dan jaket di kebas untuk digantung
ketika diluar sana terdengar kegaduhan, sekitar 15 meter dari pusat syaraf
bunyi roda motor berdecit dengan rem, beradu dengan aspal...
seketika dalam sepersekian detik otak langsung mengirim sinyal ramalan
bahwa yang terjadi selanjutnya adalah seperti biasa, tumbukan besar...
entah antara motor dengan aspal, motor dengan tiang listrik, atau...
kemungkinan terburuk adalah daging dengan sesuatu...

dan ketika suara tumbukan terakhir dengan
efek suara dramatis,
berhasil menghentikan untuk sesaat seluruh jalan darah,
menyedot semua kesadaran reflek untuk bergerak,
akhirnya datang juga imajinasi itu...
gambaran terburuk di luar sana
...

Tolong jangan sampai sesuatu terburuk yang terjadi,
hanya itu pinta dalam batin, sambil bergegas kembali menyambar jaket,
dan kotak P3K.

=====================================

Tulisan ini ditulis sebelum tulisan ini, dan akhirnya gue posting untuk everyone, setelah menimbang-nimbang baik dan buruk resiko-nya. Mudah-mudahan resiko negatif lebih kecil daripada resiko positif-nya. Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan kita, terutama bagaimana menghadapi peristiwa serupa kelak.

Emang paling enak 'tuh 'numpahin uneg-uneg di blog, daripada media massa. Dan uneg-uneg ini 'udah terpendam ratusan tahun eh maksud gue... pokoknya 'udah terpendam sejak lama, jaman gue masih bocah cilik gitu 'lah. Yang gue maksud dengan uneg-uneg disini adalah kekesalan gue terhadap sikap dokter yang tindakan-nya tidak mencerminkan profesi yang dipilih mereka sendiri. Sorry... tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mendiskreditkan profesi tertentu, atau untuk tujuan mencemarkan nama baik, atau untuk tujuan cari popularitas *kalo dokter yang gue maksud baca blog gue ini yah*, atau untuk menebar kebencian terhadap profesi tertentu. Enggak.


Tulisan ini semata murni UNEG-UNEG.
Kalau ada yang sampai protes terhadap tulisan curhat gue ini, mohon disampaikan melalui jalur pribadi, dan mohon maaf juga nih, gue pasti baca tapi 'gak janji akan gue layani.

=====================================

Setelah dulu waktu kecil pernah mengalami tindakan dari dokter yang menyebabkan surutnya kepercayaan gue terhadap profesi satu ini, beberapa kali situasi yang sama terjadi dan terlewatkan begitu aja dalam hidup gue, termasuk kejadian yang menurut gue termasuk malpraktek yang dilakukan dokter RS ***tuuuttt**** terhadap rekan gue satu rumah yang mengalami luka bakar hebat sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi. Berhubung aja temen gue orang-nya pasrah-an dan mohon2 ke gue untuk 'gak cari gara-gara sama dokter-nya, maka gue 'gak tulis deh kisah-nya di sini.

Dan episode terakhir berhubungan dengan dokter yang bikin gue naik darah ini terjadi malam ini, Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan di depan rumah yang mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan sempat 'gak sadar beberapa saat setelah kejadian.

+/- 22.50
Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati pengendara-nya, atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat gue sedikit hapal dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara yang ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue 'gak yakin sendiri apakah kotak P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke jalanan depan rumah akan berguna.

Wulan masih tergeletak di tepi jalan ketika orang-orang mulai mengerumuni. Gue segera minta tolong ke orang-orang yang ada entah itu siapa, untuk segera 'mindahin Wulan ke dalam rumah, paling enggak membaringkan di sofa ruang tamu akan membuat dia sedikit lebih nyaman. Walaupun gue sendiri khawatir karena Wulan 'nggak merespon cubitan di tangan dan tepukan di pipi, akhirnya gue sedikit lega waktu akhirnya beberapa menit kemudian Wulan mulai membuka mata. Waktu ditanya bagaimana rasanya, Wulan diam aja 'gak ada reaksi, hanya bola mata yang berputar dan juga kepala terkulai.

Heran dengan cukup banyak noda darah di lengan baju, akhirnya gue dan rekan mulai memeriksa sekujur tubuh Wulan yang 'gak ada luka sama sekali kecuali lecet bekas kena aspal yang mengeluarkan darah di kaki. Segera gue semprot spray anti infeksi itu luka, dan cukup lega mendengar Wulan merintih "sakiiiiiittttt", waktu luka-nya disemprot. Tapi tetap aja kami heran dari mana noda-noda darah di lengan itu...

Setelah sibuk meneliti dan memastikan 'gak ada masalah dengan patah tulang, akhirnya kami memberanikan diri untuk membalikkan badan Wulan, dan dari situ baru kami menyadari... luka di kepala Wulan cukup besar. Dan genangan darah beku di rambut panjang-nya mendukung perkiraan kami. Gunting rambut dan handuk basah segera melakukan tugasnya, rambut panjang-nya sangat lebat. Namun kejadian selanjutnya sungguh membuat kami takut... Wulan mulai muntah-muntah dengan hebat-nya...

+/- 23.20
Berbekal seadanya tanpa persiapan memadai kami langsung menuju rumah sakit yang terletak sekitar 400 meter dari rumah. Dan Wulan masih muntah-muntah di dalam mobil. Sampai di UGD RS Graha Permata Ibu yang letaknya di perempatan jalan, perawat jaga yang ditemui menyatakan tidak sanggup menangani, membuat kami harus bergegas menuju RS berikutnya di daerah menuju Depok Timur. RS Hermina yang cukup besar sempat menerima Wulan di dalam UGD, dan dokter jaga di dalamnya menyarankan untuk segera dilakukan CT Scan, melihat luka yang besar di kepala dan tonjolan hitam di mata Wulan. Kami oke saja mengangguk menyetujui. Dan ternyata... di RS inipun alat CT Scan tidak ada... *sigh*... Terpaksa Wulan kami pindah lagi dari bed ke dalam mobil untuk mencari rumah sakit yang cukup besar dan mempunyai alat CT Scan.

+/- 00.00
RS Sentra Medika,Jl. Raya Bogor Km. 33, Cisalak, Depok.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Lho... menurut gue aneh pertanyaan-nya sih, tapi... ya sudahlah berhubung lagi panik dan khawatir keadaan Wulan, kami langsung menjawab ulang, "langsung CT Scan aja dok". Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... akhirnya menurut gue ya cukup wajar, ketika gue menyampaikan kehendak keluarga ke pihak rumah sakit. Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja.

Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD - Radiologi, mengisi formulir, dan 'agak mengganggu perawat di ruang Radiologi yang entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan biaya CT Scan... Rp. 600.000,-

Gue agak berperang dalam batin ketika menerima tagihan itu, antara menyesal 'nggak well prepared pergi ke rumah sakit *ya begimana lagi namanya juga buru-buru yah... masih bisa bawa mobil menuju rumah sakit dan sampai dengan selamat aja 'udah untung alhamdulillah*, dan membayangkan kalau 'nggak cepet dilakukan CT Scan 'emang seberapa parah sih, keadaan Wulan?

Akhirnya gue berinisiatip langsung tanya lagi ke dokter jaga di UGD:
"dokter, pasien apa harus segera di CT Scan sekarang atau 'nunggu keluarga dahulu?"
Dokter menjawab, "sebaik-nya segera" ...
Gue bilang lagi, "kalau gitu bisa 'ngga dokter, kalau pembayaran dilakukan sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, karena uang sedang dibawa keluarga dalam perjalanan?"...
"Wah itu terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya melaksanakan CT Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang menentukan ada di bagian radiologi langsung",
kata dokter itu lagi sambil 'nulis2 sesuatu di meja tanpa melihat ke gue.
"Oh, oke dokter, saya ke sana lagi", gue bilang sambil melirik ke Wulan yang 'teronggok' di bed dan agak bingung... *kog belum diapa-apain dokter yah*... sementara itu gue lihat ada beberapa dokter dan perawat yang sedang santai-santai sms dan 'ngobrol dalam ruang UGD ini, yang pasien-nya hanya Wulan seorang.

Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue 'nggak cepet ke bagian Radiologi lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah dan tanya suster di Radiologi:
"mbak, mmm... kalau pembayaran-nya nanti setelah keluarga dateng atau sebagian dulu bisa 'nggak? Jadi pasien di CT Scan dulu sekarang..."

"Wah kalau itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan aja disini...", kata suster bikin jantung gue mak nyossssss... dan langsung menyadari cepat... gila ada apa ini kog gue dilempar-lempar begini. Dengan wajah agak memelas dan mohon supaya suster mengerti akhirnya gue bilang:
"mbak, mmm tadi saya baru dari UGD dan dokter di sana minta supaya saya ke sini minta persetujuan mbak, apa mbak bisa konfirmasi telepon ke UGD aja daripada saya bolak-balik lagi?"
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon bagian UGD, dan kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang begitu, bahwa gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan.
"Walaupun saya bayar sebagian dahulu apa 'gak bisa juga mbak?"
, tanya gue lagi.
"Wah kalau itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir...", yang mana ketika gue ke sana juga dibilang gue harus minta persetujuan dokter jaga dahulu.

Weks...
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan... loh kog belum diapa-apain juga nih Wulan, masih teronggok aja di bed?*:
"Dokter, saya benar-benar bingung... sebaiknya Wulan harus cepat di CT Scan atau tidak, saya dan keluarga berharap cepat ada tindakan, tapi terus terang uang yang ada belum cukup. Saat ini keluarga sedang menuju kemari bawa uang. Bagaimana dokter?"
"Ya kami hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu...", kata dokter itu lagi.
"Saya mengerti dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak untuk Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau membayar sebagian dahulu, tapi tetap katanya harus persetujuan dokter. Saya sendiri khawatir tadi dia muntah-muntah begitu hebat", dengan nada agak mulai naik dikiiitttt... *gimana 'gak naik suara dikit, dilempar kesana kemari kayak pingpong gitu... tengah malem pulak*
Dan dokter itu mulai membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN SEJAWAT-nya:
"Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu mengerti !!!??!!!"


Kesadaran langsung terhempas.
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
"Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, tapi saya lihat terhadap pasien ini masih belum diambil tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?",
dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang hampir tumpah. Dan gue berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi:
"Maksud saya, apakah dokter tega, kalau misalnya
nanti pasien ini mati tanpa penanganan di sini?",
suara gue makin lirih...

"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"

Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas gue ke pojokan yang betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue sulit bernafas, mencoba mencerna dengan kerongkongan tercekat dan pandangan nanar ke arah dokter itu. Mencoba meraba untuk mengenali jenis spesies apa yang bersembunyi di balik jubah putih itu. Tumpahan emosi semua orang yang bercampur-aduk di ruangan itu sangat terasa aroma-nya dalam diam. Kenyataan memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu mencoba menerima kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun, untuk percaya bahwa profesi dokter, yang selama ini dipuja-puji, adalah penolong sesama MANUSIA, hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu masih ada kog, tapi lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk menghapus noda-noda yang melekat dalam kenangan itu.

+/- 00.40
Detik-detik selanjutnya adalah episode drama ketika:
"Bukan... urusan... dokter...", gue mengucap lirih terbata dalam perih yang tersendat pahit menguar, mengulang kata-kata dokter yang terdengar jumawa di telinga. Lalu, bagai tersengat lebah dokter-dokter lain dalam ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang teronggok bagai daging tanpa harga di bed UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai menyadari, ada sekuntum bunga elok di balik semak berduri, yang wajib dikerumuni. Bagai para penambang emas yang tiba-tiba menemukan sebongkah emas dalam tambang. Well, daging sapi yang masih berdarah-darah aja di supermarket masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA. Dan manusia bernama Wulan ini sama sekali tidak ada harga-nya di mata dokter yang 'udah membentak gue.


dr. Abraham, dr. Sanny, dr. Della & perawat Fauziah,
serta dokter yang membentak gue, membelakangi kamera.

Sementara gue masih tersendat di pojokan UGD, berusaha menghimpun kepercayaan yang terserak atas apa yang telah terjadi, mencoba mencari pondasi kekuatan lewat pandangan menghujam lantai. Entah... mungkin para dokter yang tadi asyik nongkrong tidak mempedulikan Wulan, mulai sadar bahwa mereka adalah dokter, yang harus menolong sesama, yang kesulitan dalam fisik yang terluka. Tapi gue 'udah 'nggak peduli kenyataan itu. Kenyataan-nya yang ada sekarang adalah... dokter jaga yang satu itu entah siapa namanya... yang seperti-nya berwenang disitu... dalam kata-kata yang diucapkan dengan jelas... 'nggak peduli sama nasib Wulan, sebagai sesama MANUSIA.

Dan episode selanjutnya, adalah ketika luka di kepala Wulan yang sudah mencapai tahap pembengkakan hampir sebesar bola tenis, akhirnya dijahit.


gambar ini gue ambil disela proses penjahitan yang belum selesai,
ketika ada dokter yang menyingkir sebentar dan akhirnya menyelesaikan jahitan.
Luka pertama ini cukup besar dibanding luka kedua di belakang telinga kanan.

Dan gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati... apakah harus melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD dilakukan? Apakah harus ada pembuktian jumawa seorang dokter di balik jubah putih-nya, dengan kata-kata yang dikeluarkan? Apa yang hendak dibuktikan dari semua ucapan dokter itu? Dan berapa banyak sudah pasien yang mungkin mati infeksi karena telat ditangani dokter yang belum mengumbar jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan kami?

Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi 'nggak perlu campur tangan kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan. Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.



Gue bukan hendak sok pahlawan atau sok tahu dengan semua teori kedokteran bahwa ini dan itu, yang jelas dalam pikiran gue sebagai MANUSIA, ketika ada seseorang terlihat terluka di depan elo, entah elo dokter atau bukan, entah manusia itu hampir mati atau hanya merintih, entah manusia itu musuh atau sahabat kita, harus segera diambil tindakan untuk mencegah supaya manusia itu tidak tambah menderita. Itu aja. Gak perlu teori harus CT Scan-lah, rontgen-lah, MRI-lah...

Sedangkan kucing aja disayang-sayang & ditangisi kalau luka dikit... manusia bernama Wulan ini, hanya teronggok di UGD sementara kepala bocor-nya mulai membengkak dan terus mengeluarkan darah dan cairan yang entah apa lagi...

Untuk sesaat memejam mata, gue berharap ini semua cuma mimpi. Perlahan gue keluar ruang UGD dan agak terduduk bersandar di pagar taman. Masih seperti mimpi, gue mulai tersadar ketika bed Wulan didorong
melewati gue, oleh suster dan satpam *mungkin untuk memastikan kita 'gak kabur kali... gapapa deh yang penting langsung ada tindakan*  dan menuju... Ruang Radiologi. Yes.... thanks God... batin gue sambil mengusap muka.




+/- 01.15
Begitu keluarga datang, gue langsung menuju tempat parkir dan segera pulang untuk melupakan episode mimpi ini. Menurut kerabat yang gue telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan sampai sekarang (02.00), kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik untuk Wulan...

==========






.... sekali lagi, tulisan ini murni curhat, uneg-uneg.
.... kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, namun demikian bila ada reply, mohon untuk tidak bernada membela dokter yang sudah membentak gue di depan Wulan. Karena itu sangat menyakitkan dan belum bisa gue lupakan, apapun alasan-nya,...
.... semata hanya agar tidak terulang kembali episode ini, maka gue tulis di sini.
.... semoga dari tulisan ini kita bisa memetik hikmah pentingnya kesehatan & keselamatan dalam perjalanan, dimanapun berada.
.... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi sebagai dokter dan membaca, tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
.... gue yakin, masih banyak rekan-rekan dokter di luar sana yang baik dan berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan. Paling tidak, untuk semua dokter dan tenaga paramedis lain yang telah gue sebut nama-nya dan gue pajang foto-nya di jurnal ini, gue mengucapkan terima kasih atas penanganan awal yang akhirnya diusahakan cepat kepada saudari Wulan, walaupun harus melalui episode yang kacau ini. Semoga amal ibadah anda semua dibalas berlipat ganda oleh Yang Maha Kuasa. Trims...

=======================
*Detil jam pada catatan ini disesuaikan dengan log pada hp ketika ada percakapan & pemotretan.
Berdasarkan catatan ini dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan medis setelah kira-kira 30 menit dibiarkan. Tidak lama memang, tapi siapa yang bisa memperkirakan dampak-nya?
Mohon maaf bila salah.

*Berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh banyak rekan, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau srisariningdiyah@yahoo.com, tanpa melibatkan pihak lain terutama pasien. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya ada pada gue pribadi.
Terima kasih.

*Lanjutan
kasus ini adalah undangan sidang dari IDI, 4 Januari 2008, yang hasil sidang-nya sama sekali tidak dapat ditepati oleh IDI sendiri, laporannya dapat dilihat disini:
http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/429

.
.
.

780 CommentsChronological   Reverse   Threaded
crazybeautifulmalang wrote on Dec 9, '07
Amien....sabar aja yaaa
lancangkuning wrote on Dec 9, '07
keduaaa :p
rinita wrote on Dec 9, '07
... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi dokter dan membaca, tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
semoga.............berharap banget!!!!!!!
lancangkuning wrote on Dec 9, '07
semoga wulannya cepat sembuh dan... barangkali tertular virus MP. amin..
cicakdidinding wrote on Dec 9, '07
semoga paramedis yang di rumkit itu baca postingan ini atau tau ttg postingan ini *sigh*
omhanif wrote on Dec 9, '07
yaah, gitulah, kalo pekerjaan cuma alat buat mencari nafkah.
barfangkali nyawa manusia tak beda dengan handphone atau sendal.

masih ada juga sih RS yg fokus utamanya menyelamatkan nyawa ,manusia
inget alm mertua, sejak datang langsung ditangani team dokter.
terus dirawat di ICU selama seminggu, tanpa menanyakan apakan udah bayar pa belon.
walau akhirnya tak tertolong juga.
meliat cara penanganan mereka cukup puas.
dan, sampai jenazah dibawa keluar kota, merkea percaya aja, aku ngutang dulu.

thx rajawali bdh

menhariq wrote on Dec 9, '07
ari.. sumpah... aku tau gimana rasanya jadi pasien kecelakaan.. been there too.. bedanya, aku sendiri yang meminta dokter melakukan penanganan segera.. jangan sampai karena soal biaya atau administrasi, lalu diriku dibiarkan tanpa perawatan.. untungnya perawat dan dokter jaga di RS Tebet waktu itu cukup kooperatif.. Cuma ya karena luka nya di bagian pipi dekat mata dan dokter jaga tidak berani mengoperasi, jadi aku terpaksa menunggu dokter bedah yang lebih ahli.. Sampai kalian datang waktu itu.. Asli aku terharu banget.. Malam itu UGD jadi ramai karena kalian..

Damn.. i've dropped my tears again...

Back to topic..
Gimana kabarnya wulan? update ceritanya ya...
suryatmaning wrote on Dec 9, '07
Serem banget sih, dek. Fiuh.
abusya wrote on Dec 9, '07, edited on Dec 9, '07
Wah profesi yang satu ini sekarang ini memang umumnya orang2 yang mata duitannnn.... bakal mo bertindak kalo uda ada uang... Pembentukan karakter dan sifat dokter matere yang demikian terbentuk sistematis karena didikan senior-senior mereka juga... Banyak kasus dan pengalaman seseorang yang sakit (bahkan dalam kondisi GD) akan menunggu saja di rumah sakit. Tindakan akan baru dilakukan kalau sudah ada cash, jadi kalo nggak ada cash siap-siap aja melihat kerabat/teman kita meregang nyawa dan penderitaan di ruang UGD...

Jaring kusut sifat korup dan tindakan tidak etis para pemain di bidang kesehatan emang uda parah kok... Jujur aku yakin dari 1000 dokter di Indonesia, cuma ada 1 saja yang nggak main mata dengan rumah sakit, dealer obat, pabrikan... Itu nyang buat biaya kesehatan terasa mahal banget di Indonesia...

Uda umum juga kalo di Pekanbaru dan Medan ... orang lebih mending ke dokter negeri seberang yang penangananya lebih baik dan profesional...
tessi wrote on Dec 9, '07
Astagfirullahaladziim..... segitunya banget sih pak dokter... ckckckckck...niat nolong gak sih ...*jadibete*
roelworks wrote on Dec 9, '07
Kalau begini selalu kebayang filmseri E.R. ...dokternya sigap, suster cekatan ...
nicelovelydentist wrote on Dec 9, '07, edited on Dec 9, '07
dari kemarin aku baca tulisan jeng Ari, ...
sedih .
sedih sama Wulan yang ketabrak.
sedih sama kinerja sejawat yang mencoreng nama pelayan medis.
sedih mikir masi ada 2 rumah sakit yang ga bisa CT Scan seblum jeng Ari bisa mencapai RS SM itu, artinya, waktu kebuang banyak karena fasilitas kesehatan kita masi ga gitu lengkap, kalopun lengkap, ...orangnya ngaco gitu.

sedih kalo si dokter &#@)(@&# itu ga pernah punya kesempatan baca ini , dan akhirnya sadar bahwa dia mendingan berubah profesi petugas loket bioskop aja deh, ketimbang berani beranian nyebut dirinya dokter kalo pola pikirnya ada uang ada barang begitu. (gemes banget pingin nampol ...)

tapi sebenernya dibalik sedih sedihku ini,aku doain Wulan keadaannya membaik hari ini .
roelworks wrote on Dec 9, '07
Setiap hari melihat orang mati, sekarat, berdarah, tersengal-sengal, sakratul maut ...bisa membuat hati jadi batu..mati rasa..terutama karena dia ngebiarin dan karena bisnis juga main, dokter kena batunya kalo administrasi gak beres. dan dokter biasanya raja di ruang UGD...
thetrueideas wrote on Dec 9, '07
hmmm, asli prihatin nih..kadang nyawa manusia jadi 'murah' dikalahkan prosedur administrasi :(
roelworks wrote on Dec 9, '07
Jadi yang jahat orang administrasinya? :D kalo dia masuk UGD sama aja nasibnya
walah wrote on Dec 9, '07
*ga bisa komentar apa2... cuman bisa prihatin aja*
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
Gimana kabarnya wulan? update ceritanya ya...
still stay in bed, belum bisa bergerak, masih harus terus diawasi keadaannya...
gue gatau hasil CT Scan kaya apa, begitu masuk ruang CT Scan langsung gue tinggal ketika keluarga dateng, dan gue cuma berani nanya gimana kabar Wulan lewat telepon, ga berani nanya hasil CT Scan-nya gimana...
menhariq wrote on Dec 9, '07
still stay in bed, belum bisa bergerak, masih harus terus diawasi keadaannya...
gue gatau hasil CT Scan kaya apa, begitu masuk ruang CT Scan langsung gue tinggal ketika keluarga dateng, dan gue cuma berani nanya gimana kabar Wulan lewat telepon, ga berani nanya hasil CT Scan-nya gimana...
Hopefully she'll be fine... aku ikut mendoakan..
nietroozz wrote on Dec 9, '07
dduuuhh... ngeri banget liat luka yg baru dijahit itu....
semoga wulan cepet sembuh ya Ri....

Aku jg sempet ngalamin hal ini waktu mau ngelahirin yg ke-2..
Waktu itu air ketubanku udah pecah dan aku cuma suruh berdiri di pojokan UGD .... hiks...
Sementara suamiku hrs harus ngurus administrasi dulu.
Duuhh.... sebel banget gak ada dr or perawat yg peduli waktu itu...
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
Waktu itu air ketubanku udah pecah dan aku cuma suruh berdiri di pojokan UGD .... hiks...
Sementara suamiku hrs harus ngurus administrasi dulu.
ya ampun mba nieeeeeeee
'ngeri bangettttttttttt!!!!
ghaya wrote on Dec 9, '07
semoga wulan cepet sembuh dan baik2 ajah yah..
hiks hiks..
kemaren si yayank juga habis jatoh dari motor..
untung ngga terjadi apa2.. walaupun bonyok dimana2 :(
brecs wrote on Dec 9, '07
coba cari sumpah dokter Ri, trus kirimkan ke rumah dokter kampret itu, dengan lampiran sebutir granat!
pujay wrote on Dec 9, '07
mana ri mana .. yg lu ceritain semalem?
hayat wrote on Dec 9, '07
heroik banget perjuanganmu Ri...saluut...
dan memang begitulah kalo profesi/kerjaan hanya diniati untuk cari duit dan duit bukan untuk ibadah...
semoga perjuanganmu dibalas Allah Subhanahu Wata'ala...amiin.
dan semoga dengan kejadian ini si dokter atau dokter-dokter yang lain bisa mengambil hikmah... sehingga mereka ingat akan "sumpah janji" yang diucapkan saat dinobatkan sebagai orang yg berprofesi dokter.
btw: kenapa ga kirim ke media massa aja Ri... biar sekalian tuh dokter ama rumah sakitnya klimpungan...
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
pujay said
mana ri mana .. yg lu ceritain semalem?
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
ghaya said
si yayank juga habis jatoh dari motor..
untung ngga terjadi apa2.. walaupun bonyok dimana2 :(
ruuuuuu semoga benk2 gapapa yaaaaaaaaaaaaaaaaaa
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
hayat said
btw: kenapa ga kirim ke media massa aja Ri... biar sekalian tuh dokter ama rumah sakitnya klimpungan...
gue masih rancu sama:
nulis di blog untuk sharing sebagai pengalaman & masukan buat orang lain
atau
nulis di media massa yang maksudnya mungkin baik, tapi ntar kesannya gue pengen bener ngejatuhin nama baik tu dokter & rumah sakit. Dan itu memang bukan tujuan gue.
cukuplah di blog ini gue cuap2 menyuarakan batin gue...
kali aja tu dokter ntar juga baca...
nulis di blog aja masih banyak kog yang berpikiran negatip ke gue, contohnya ada di reply-an disini nih:
http://multiply.com/mail/message/srisariningdiyah:notes:301
dan itu yang melakukan juga orang yang berprofesi sebagai DOKTER.

cukup terima kasih-lah...
di blog ajah...
oetjipop wrote on Dec 9, '07
duhhhhh prihatin bgt nih....

smoga perlahan sang korban membaik yaaa
surya23 wrote on Dec 9, '07
prihatin
tianarief wrote on Dec 9, '07
prihatin sekali dengan penanganan thd wulan dan sikap mental dokter yang --aku yakin-- melanggar sumpah jabatannya (menolong jiwa manusia, dari mulai janin sampai dewasa).

ri, ada yang bisa saya bantu? misalnya, membuatkan konsep untuk ditulis di surat pembaca di berbagai media massa? (saya pikir, dokter dan juga manajemen RS seperti itu, harus ditegur).
tianarief wrote on Dec 9, '07
ngejatuhin nama baik tu dokter & rumah sakit.
lha, emang mereka masih punya nama baik, gitu?
windageulis wrote on Dec 9, '07
mmm...gue ada pengalaman dengan ct scan.
adik gue yang dulu jatoh dari motor, pingsan.
gue ngga ada episode adu mulut.
cuma kesimpulan gue, duit adalah nomor satu untuk urusan rumah sakit.
adik gue datang duluan ke rs kayaknya belum diapa2in juga sebelum gue datang.
alhamdulillahnya gue dah siap jadi tinggal bayarrrrrrrrrrrrrrrrr huhuhuhu
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
ri, ada yang bisa saya bantu? misalnya, membuatkan konsep untuk ditulis di surat pembaca di berbagai media massa? (saya pikir, dokter dan juga manajemen RS seperti itu, harus ditegur).
aduh mas tian makasih banget kalo bisaaaaaaa...
terserah deh mas tian mau nulis apa, bagaimana konsepnya, yang jelas semua curahan hatiku udah tertuang di jurnal ini sejak pulang dari rumah sakit, langsung ndeprok depan kompi, jadi semua kalimat jelas terekam segar dalam kepala nihhhhhh.... aduhhh mudah2an ni kepala gue baik2 aja dan gak lupa untuk selalu pake helm kalau bonceng motor.... huhuhu
kangbayu wrote on Dec 9, '07

ri, ada yang bisa saya bantu? misalnya, membuatkan konsep untuk ditulis di surat pembaca di berbagai media massa? (saya pikir, dokter dan juga manajemen RS seperti itu, harus ditegur).
dukung!
dedysubandi wrote on Dec 9, '07
sedih....kenyataan sekarang memang berbeda mbak.....saya juga menyadari bawha realita kedokteran sekarang lebih menekankan ke unsur materialis bukan kemanusiaan, bahkan hal ini sudah ada sejak pertama kali jadi mahasiswa. Keinginan jadi dokter bukan lagi untuk menolong tetapi melaikan mencari pekerjaan/penghasilan yang "menyenangkan". Meski tidak semua seperti ini. Hal ini sangat terasa di kota2 kecil seperti saya...dokter yang kualitas bagus sangat sulit untuk didatangkan kecuali ada nilai kompensasi yang besar.....

anyway..semoga urusan wulan lancar dan tidak terjadi kenapa-kenapa sehingga bisa segera sehat seperti sediakala. amin
ariefanwar wrote on Dec 9, '07
hmm dokter.. profesi kunyuk yang mencoba bermain jadi Tuhan? (dokter yg kunyuk aje ye, yg ga merasa kunyuk jgn tersinggung)
andreaz888 wrote on Dec 9, '07
Ri yang sabar ya
cenitcenit wrote on Dec 9, '07
profesi dokter ttp selalu dibenturkan alasan adminstrasi berujung pd kata2 'kami telah melakukan yang terbaik"....halah, menyebalkan!
daku termasuk 'korban' itu...pas dibetot di kelas VIP baru deh....sejuta senyum pelembut raga...tp tidak rasa kami!
anteeqa wrote on Dec 9, '07
*ikutan emosi* pas baca postingan ini ;(
krn inget nasib yg mirip2 yg nimpa bokap gwe
hanya krn dokter yg ahli lagi ga tugas, bokap gwe "dionggokin" gitu aja, dipasangi alat2 yg ga jelas, tanpa tindakan medis yg berarti
mungkin emang sebenernya utk jadi dokter itu orang perlu waktu puluhan tahun spt dokter2 jaman dulu...
mungkin dg proses puluhan tahun sblum bisa jadi dokter itu, hati nurani para dokter ikutan dibentuk... bukan sekedar jadi dokter karbitan minus hati nurani... yg cuma jadi mesin uang instan
aiiihhhh..
beha38b wrote on Dec 9, '07
Rie, simpati dengan pengalaman mulia elo. gue terharu. Tapi dokter juga manusia Rie,.....dan dokter yang mbentak elo itu pantas masuk kategori manusia bangsat! *tangan gue gemeter nih, nahan emosi...*

Gue dukung untuk melempar masalah ini ke media massa. Saran gue, sebutin saja dengan jelas nama si dokter itu.

Langkah tercepat gue, gue link ya...
Rie, tenangin diri dulu. Sabar tetap yang utama.
kangbayu wrote on Dec 9, '07
beha38b said
Rie, tenangin diri dulu. Sabar tetap yang utama.
aih... betul sekali... kepala harus dingin kalau mau nyusun strategi kan?

*dah gw link juga rie
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
tengkyu ombeha & kangbay...
kalo gue gak sabar, mungkin sejak selesai ditulis jurnal ini langsung gue pablis kali yah...
tapi seharian penuh gue timbang2 untuk mengungkap masalah ini, gimana baiknya, pablis apa engga... semua kemungkinan terburuk tetap gue pikirkan, tapi rupanya gue memilih pablis aja jurnal ini...
oleh sebab itu, dengan memohon maaf kalau ada yang tersinggung, gue juga minta apapun reply yang menjurus pembelaan terhadap itu dokter, tolong jangan sampe tertulis disini, karena cuma membangkitkan rasa sakit hati aja gitu... tapi kalo di media massa mah, terserah deh... :)
tengks bgt semuanyah....
dyru wrote on Dec 9, '07
aku juga pernah ngotot2an ama pihak administrasi RS waktu suami kena DB, karena harus bayar jaminan dulu, baru bisa rawat inap. tapi alhamdulillah waktu di UGDnya ada pertolongan pertama.

semoga tulisan jeng ari ini sampai ke pihak yang terkait.
shofadarda wrote on Dec 9, '07
"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"
astaghfirullah hal adzim...
smoga para dokter dibukakan mata hatinya ya mba...amien
menhariq wrote on Dec 9, '07
kepala harus dingin kalau mau nyusun strategi kan?
mari kita susun strategi... count me in ya....

*dah ikutan ngelink..
natali25 wrote on Dec 9, '07
mbak, kan ada IDI
mungkin bisa dicoba menumpahkan keluh kesahnya disana.....

heran sm dokter yang spt itu.....
apa objective dia menjadi seorang dokter, apakah untuk meraih gengsi semata dan juga kekayaan semata atau memang lahir dari lubuk hatinya yg paling dalam kalau dia ingin berprofesi sbg dokter untuk melayani dalam masyarakat dengan setulus hatinya.....
bagaimana kalau dia ditempatkan dinas di daerah terpencil ya seperti yang saudara aku pernah rasain di maumere dan ende....
ckckckck.... prihatin.... prihatin......
abusya wrote on Dec 9, '07
Untuk kebaikan bersama dan share lebih luas ke masyarakat, mending di post ke media koran aja... Nih dunia kesehatan di negara kita emang hampir suluruh personelnya korup berjamaah. Dari birokrat, RS, pabrikan obat, dokter, perawat, administrasinya... Coba ke RSCM deh... Kalo nggak bayar tip ke orang dalam... bakal lama en susaaaaaaaah banget dapat kamar kelas 2 atau 3...
wieldan wrote on Dec 9, '07
pernah ngalamin juga waktu mama masuk RS di Cempaka Putih dr UGD ampe kamar perawatan ampe hari berikutnya selalu bersitegang sama suster, dokter jaga n bag. admin *sigh.
waktu masuk ke2 kalinya minggu lalu kita masukin di RSPP. Alhamdulilah lgsg ditangani di UGD pas mau masuk kamar br di urus administrasinya.
kalau diliyat lebih jauh, permasalahan utama ada di manajemen RS, yg selalu meminta pihak pasien untuk bayar deposit terlebih dahulu, bertentangan dengan kode etik kedokteran ynag mengharuskan penanganan terlebih dahulu. Namun (tidak bermaksud membela) kode etik kedokteran selalu kalah oleh kebijakan manajemen RS tempat dokter tersebut bekerja.
Mudah2an wulan cepet sembuh
diIndonesia orang miskin GAK BOLEH SAKIT !!!
larassejati wrote on Dec 9, '07
emang kita harus lihay dan dalam berurusan dgn administrasi rumah sakit biar si pasien nggak terlantar. tentu aja ini harus pake duit juga. Di sini kita perlu asuransi atau setidaknya kartu kredit biar ada jaminan ke administrasi rumah sakit.

Ada temen yang bokapnya meninggal. Trus selagi administrasinya diselesaikan, jenazahnya diletakkan di lantai emperan rumah sakit tempat orang lalu lalang.

Aku sendiri sering banget urusan sama rumah sakit, karena keluarga pada sakit. Jadi tau banget betapa perlunya kesigapan kita. Misalnya untuk nyari obat2 mahal yg harus ditebus di apotik atau toko obat tertentu. Atau juga gimana caranya supaya pasien gawat darurat nggak ditolak melulu masuk ke rumah sakit..

Gitu juga waktu kakakku sakit, dokternya nggak ngasih informasi yg memadai. Kalo ditanya nggak mau njelasin. Seakan2 kita dianggap orang bodoh yg kalo dijelasin juga nggak ngerti. Akibatnya, kita sekeluarga menderita hampir sepuluh tahun menghadapi skizofrenia. Cuma karena keajaiban aja kita sekeluarga bisa selamat sampe sekarang.
prajuritkecil wrote on Dec 9, '07
teh... ayo kirim ke media massa...
giling ya...? kirain cuma RS** aja yang kejam sama pasien dan keluarganya... sampe-sampe seorang dokter senior pun berdoa jangan sampeeeeeeeeeee dia dan keluarganya sakit dan masuk RS itu....
primaz wrote on Dec 9, '07
Ikut prihatin dan semoga wulannya cepat sembuh...
Aku kira memang kasus ini perlu di publish sebagai sebuah proses pembelajaran dan kontrol agar kita bisa lebih baik. Pembelajaran untuk terus melakukan instropeksi dan kontrol terhadap proses proses yg berhubungan dengan layanan publik. Untuk kesehatan, program asuransi ( pemerintah atau individual ) mungkin bisa mengurangi kejadian spt ini. Begitu ada yg masuk rs, di check datanya. jika ada insurance lgs jalan. jika ada keluarga, komitmen pembayaran. jika tdk langsung masuk kandidat insuransi umum kesehatan, namun treatment pengobatan tetap jalan. Salut Ri, tetap semangat ya....
menhariq wrote on Dec 9, '07
wieldan said
yg selalu meminta pihak pasien untuk bayar deposit terlebih dahulu, bertentangan dengan kode etik kedokteran ynag mengharuskan penanganan terlebih dahulu. Namun (tidak bermaksud membela) kode etik kedokteran selalu kalah oleh kebijakan manajemen RS tempat dokter tersebut bekerja.
ini bener banget.. aku dulu waktu kecelakaan aja sempet menanyakan hal ini..
"Dok.. kok saya ga diapa-apain.. Bukan karena administrasi kan? Tolong saya dokter"

untungnya bukan.. melainkan karena menunggu dokter bedah yang lebih ahli untuk menjahit bagian muka aku yang sobek 10cm hingga 20 jahitan...

Tapi entah di lokasi lain.. Ah.. semoga pelayanan kesehatan kita menjadi lebih baik.. semoga...
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
gue jadi inget buku DEMIGOD,
karya Bahar Azwar yang isinya tentang perjuangan hati seorang dokter senior yang pernah jadi spesialis bedah di RSCM dan tugas di Papua, yang melihat kenyataan di sekitarnya adalah:
- mayoritas tindakan malprakter dokter ditutupi oleh rekan sejawat di IDI,
- tindakan dokter diluar batas kemanusiaan terhadap pasien juga ditutupi oleh rekan sejawat,
- lembaga hukum pembela kepentingan pasien tidak bertahan lama umurnya...
well... ya begitulah...
ianpokian wrote on Dec 9, '07
aku dokter lho... hmmmm nggak ngebelain.... cuma... mau bilang... harusnya sistem kesehatan itu dibenahi.... jadi tenaga kesehatan (gak cuma dokter lho) tidak melakukan hal seperti itu....

btw back to management RS... dan back to pengamalan etika kedokteran... mbak... kalau usul... boleh kok ini diadukan ke MKEK... supaya ini jadi koreksi buat kita kita....
wib711 wrote on Dec 9, '07
semoga Dokternya diberi banyak rezeki, dalam perlindungan Allah, dan dilancarkan segala urusanya didunia dan akherat.

sabar Rie... semoga wulan cepat sembuh..
natali25 wrote on Dec 9, '07
- mayoritas tindakan malprakter dokter ditutupi oleh rekan sejawat di IDI,
- tindakan dokter diluar batas kemanusiaan terhadap pasien juga ditutupi oleh rekan sejawat,
- lembaga hukum pembela kepentingan pasien tidak bertahan lama umurnya...
ini... namanya..... dokter2 di indonesia benar2 sudah ngebisnisin profesi yg disandangnya.....
dan... sudah... gak punya... integritas lagiiiiiii..............................
prajuritkecil wrote on Dec 9, '07
Dokter ian... prosedur lapor ke MKEK gimana cara..??
bearahmat wrote on Dec 9, '07
wah ternyata ngeri denger ceritanya,... semoga Wulan segera membaik

Mba Ari, kenapa dekat rumahnya bisa rawan sekali ? sampe hafal
ianpokian wrote on Dec 9, '07
@mbak ira....

bikin surat ke MKEK alamatnya ntar dulu ya.... dulu sih di bagian forensik FKUI...
sek to aku tanya junior dulu ya...
c4rlo wrote on Dec 9, '07
bedeh...kalo gue sih bisa langsung gue TONJOK kali tu dokter...
ti2n wrote on Dec 9, '07
masyaAllah....
betapa tidak manusiawi sekali pak dokter itu..

ikut dukung usul Mas Tian..!
borok-borok dalam praktik kedokteran spt ini harus diberantas habis.

natali25 wrote on Dec 9, '07
aku mau cerita soal dokter2 deh, mbak.....
honestly... di keluarga aku banyak yang dengan "gaya"-nya begitu lulus sma daftar ke Fakultas Kedokteran, padahal aku tau banget kemampuan otak mereka masing2... ada yang memang pintar dan layak masuk FK (diterima di FK negeri) ada juga yg gengsi orang tuanya bisa nyekolahin anaknya ke FK...
dan dari mereka itu hanya beberapa yang memang tulus dan lulus menjadi dokter, bahkan ada yg sampai melayani dipuskesmas daerah ende dan juga maumere....
yang lainnya (baca: yg ngotot masuk FK karena ortunya tajir... blee....) 8 tahun sekolah, ada yg ujian anatomi saja atau apalah itu namanya gak lulus2 juga....
Sarjana Kedokterannya aja gak bs dia selesaikan, apalagi ambil sumpah....
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
Mba Ari, kenapa dekat rumahnya bisa rawan sekali ? sampe hafal
itu rada tikungan mat, pertigaan dan badan jalan membesar...
jadi orang merasa aman & sekena-nya aja menjalankan kendaraan kurang hati2...
ditambah lagi ini musim hujan, jalan jadi licin... kalo motor ban alus bisa gawat...

and u know what... tadi subuh udah terjadi lagi kecelakaan di tempat yang sama.
kali ini antara motor dan bus kopaja yang pool-nya ada di deket situ...
kesalahan menurut gue jelas ada di ke-2-nya.
Bus tanpa lampu jalan di kegelapan...
Motor tanpa menurunkan kecepatan membelok menghajar bus tanpa lampu...
untung busnya cepet ngerem, dan hajaran motor di badan bus gak terlalu fatal buat pengendaranya...
langsung bangkit dan menghilang ke arah UI...
dan gue cuma bisa menatap dari jendela...
tianarief wrote on Dec 9, '07
Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati pengendara-nya
duh, aku mengendarai motor sering sekali lewat sana. memang, motor-motor di sana seolah pada mau balapan. harus lebih berhati-hati...
reipras94 wrote on Dec 9, '07
semua akan berbalik.......suatu saat pasti si dokter itu yg akan ngalamin nasib seperti wulan....
negeri ini emang makin carut marut....apalgia di dunia kesehatannya....
sampai2 ada ungkapan " orang miskin jangan sampai sakit" karena nggak ada dokter/RS yg mau nerima dan ngobatin mereka.......

Semoga Wulan semakin membaik......
menhariq wrote on Dec 9, '07
rada tikungan mat, pertigaan dan badan jalan membesar...
itu maksudnya pertigaan yang biasa aku pakai kalau muter ri? atau di tempat lain?

emang disana ga ada cermin jalan ya? kayaknya kalau sering terjadi kecelakaan harus ada cermin jalan atau rambu peringatan...
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
Gitu juga waktu kakakku sakit, dokternya nggak ngasih informasi yg memadai. Kalo ditanya nggak mau njelasin. Seakan2 kita dianggap orang bodoh yg kalo dijelasin juga nggak ngerti. Akibatnya, kita sekeluarga menderita hampir sepuluh tahun menghadapi skizofrenia. Cuma karena keajaiban aja kita sekeluarga bisa selamat sampe sekarang.
my God...
begitu besar penderitaan keluarga...
i'm sorry to hear that...

semoga semua sehat sekarang?
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
wieldan said
diIndonesia orang miskin GAK BOLEH SAKIT !!!
betul mba wi....
:( ini salah satu kesadaran gue juga yang udah timbul dari dulu sih, tapi ternyata selalu diingetin terus dengan adanya beberapa kasus seperti ini...
mprasodjo wrote on Dec 9, '07
you not the only one....
udah banyak orang yg mengalami di berbagai rumah sakit.

gua sendiri pernah bawa orang sekarat ke sebuah RS yang cukup ternama di bandung dan dicegat dengan kalimat, "disini biayanya mahal, sanggup bayar ngak".

kali karena yang dateng berpakaian semerawut
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
maksudnya pertigaan yang biasa aku pakai kalau muter ri?
yupppp...
kalaupun ada cermin kayaknya kurang bisa kepake deh, saking luasnya itu p3an...
karena pandangan orang akan fokus ke jalanan, bukan pinggir jalan tempat cermin (lain sama per3an di arah srengseng menuju kukusan, deket ujung setu babakan, yang sempit dan ada cermin itu)... dan karena terlena dengan keadaan jalan yg dirasa lebar, luas... jadilah gak hati2...

fenomena ini kayak... kita jalan di tol, bebas hambatan dan jadi ngantuk karena monoton, terlena...
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
yg ngotot masuk FK karena ortunya tajir... blee....)
semoga jangan karena alasan gengsi ini, adik2 yang kuliah di FK sekarang ini...
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
"disini biayanya mahal, sanggup bayar ngak".

kali karena yang dateng berpakaian semerawut
dan gue juga merasa disepelekan juga, karena emang saat itu tampang gue bener2 minim...
dimana... mana ada yah orang kecelakaan siap cantik? dan mana pula yang nganter siap dandan sebelum pergi ke rs?
kucingkembar wrote on Dec 9, '07
numpang koemntar ya mbak ari: kalau kayak gitu, kalau pulang kampung gue mungkin bakal pake dogtag atau gelang tangan yang dengan jelas mencantumkan perusahaan asuransi dan nomor telpon daruratnya. jadi, kalau ada apa-apa, para dokter yang terhormat tidak perlu nunggu kepastian pelunasan biaya....
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '07
makasi jeng alya... *peluk-peluk*

kucingkembar: kenyataan-nya memang begitu mbak, disini... saya cuma sharing real fact aja, mudah2an rekan2 yang membaca bisa ambil hikmah & persiapan sebelum menghadapi kejadian serupa... dan mudah2an aja mulai ada perbaikan sikap dari dokter jaga yang semalam terhadap keluarga pasien lain... aku doain sih dia yang terbaik... walaupun masih sakit atiiiii banget :D
ydiani wrote on Dec 9, '07
astagfirullah..moga ga terulang lagi kejadian itu

*meski pesimis, komersil masih nomer satu
cekar wrote on Dec 9, '07
KAMPRET BGT TUH DOKTER

*sory emosi*.............LO PIKIR ELO SAPA.....JGN TAKABUR DONK.......

PLAKKKKKK....................bolak balik buat seh "ITU BUKAN URUSAN SAYA"..........
........gmn ntar kalo dia yg butuh *apapun bentuknya* dan di gitu in ma orang lain.........
telen dech tuh........RASAKNO
dotten wrote on Dec 9, '07
bikin geregetan bacanya ... dokter kampret !
aryan wrote on Dec 9, '07
orang kena musibah udah didalam rumah sakit masih repot
nadrahshahab wrote on Dec 10, '07
mbak nyebut nama pun ngga papa. saya punya pengalaman yang serupa tapi tak sama. emang dokter Indonesia kurang kemanusiaan. udah ngeluarin duit banyak sih buat seklah, apalagi dokter swasta, yang negeri aja sma gilanya kok.
ini uneg-uneg saya dulu, buat sharing aja.

http://peaceandcat.blogsome.com/2006/10/10/cerita-i-orang-miskin-dilarang-sakit/
http://peaceandcat.blogsome.com/2006/10/12/cerita-ii-orang-miskin-masuk-rs-dokter-kemanakah-hatimu/
http://peaceandcat.blogsome.com/2007/08/14/lagi-lagi-orang-miskin-dilarang-sakit/
tehtina wrote on Dec 10, '07
Syafakallah...
semoga Wulan segera dipulihkan...
meng-Aamiin-kan do'a temans buat Wulan...
semoga Allah SWT membalas semua kebaikan m'Ari..
Aamiin Allahumma Aamiin...

Prihatin dengan kejadian diruang UGD itu...
semoga tulisan ini bisa menggugah semua orang yg terkait
bisa diambil hikmahnya...
untuk merubah n berbuat yg lebih baik...
*peluk erat m'Ari**
menhariq wrote on Dec 10, '07
jurnal of the week nih ri...

moyas wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
bisa ngga uneg-uneg dituangkan melalui sebuat komplain formal ke pihak RS? pahit memang episode yang Ari lalui, tapi kalau nanti sudah feeling a bit better. kejadian ini mungkin bisa dijadikan contoh argumen bahwa utk penanganan kasus gawat darurat, seharusnya yg diutamakan adalah keselamatan si pasien tanpa memandang bulu umur, kelamin, asal-usul, dsb. di negara bagian new york ada yg namanya patient's bill or rights sbg contoh.
upik2806 wrote on Dec 10, '07
semoga wulan cepat sembuh dan mudah2an tdk ada yg berakibat fatal utk jangka panjangnya

beruntung sekali wulan ketemunya mba yaa.. yang mau membantu seperti keluarga nya sendiri.
nadnuts wrote on Dec 10, '07
teh, gak ada tampak depan tuh dokter biar sekalian dilaporin aja ke IDI!

*makin emosi!*
ceuceu wrote on Dec 10, '07
Astagfirullah..

:(
ringasta wrote on Dec 10, '07
buat surat aja ke IDI
atau
buat surat di surat pembaca KOMPAS ceritakan mengenai nama RS dan nama dokter itu
anomk wrote on Dec 10, '07
hmm.. pasti dokter residen.. blagu.. boleh ikut belek dokter gak? Gue bawa istri gue deh.. butuh scalpelnya..
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
yelli: aku juga pesimis, tapi yah... mungkin emang ga ada salahnya nulis dikit begini buat pelipur lara :)

ceka: hhhh....

dotten: gue waktu di depan dia udah gatahan pengen ngomong gitu juga, hehehe.. tapi ternyata gue lebih mewek dari yang gue perkirakan, sampe ga sanggup ngomong :D

aryan: yup, betul... udah jatuh ketimpe tangga istilahnye...

mbak nad: i've read ur story... gimana keadaan Ria dan Ismail sekarang mbak? semoga udah sehat :)

tehtina: *bales pelukkkk*

eriggggggggg: makasih ya *peluks*

mas anto: saat ini mas tian sedang bantu saya menulis konsep kejadian ini untuk dilampirkan ke surat pembaca, mas anto... mudah2an bisa dikirim secepatnya , trims ya mas anto...

upik: makasih ya, i doubt it about wulan, tadi saya telpon keluarganya mereka bilang belum beranjak dari kondisi semula, dan belum melewati masa mengkhawatirkan...

jeng nad: ga ada tampak depan nih, motret aja dalam keadaan kalut, manalagi sempet panik nyari2 hp buat motret, kirain ketinggalan dalem mobil, nyampe mobil dikunci, berasa sinting sendiri teriak2 di lapangan parkir, gataunya itu hp ada di saku dada jaket...

ceuceu: moga ga ada keluarga kita yg ngalamin ya ceu...

ringasta: sedang diusahakan mas tian, jeng...

anom: ehehehe...
dhunkdhe wrote on Dec 10, '07
wahhh..turut prihatin banget baca tulisan ini.
Sayang nya masih banyak dokter yg model begitu di sini..:((
smoga Mbak Wulan cepet sembuh...aminn...
untuk yang naik motor please hati2.Lagi musim hujan jalanan licin , pakai helm yg benar & berkwalitas baguss.Sudah beberapa hari ini gw liat kecelakan motor.. :((

maddypunyacerita wrote on Dec 10, '07
Aku punya Yang Kakung seorang dokter,,, Beliau sangat berdedikasi... Bikin malu korps dokter aja deh...
elbintang wrote on Dec 10, '07
Aku salut sama jeng Ari yang nggak lupa langsung kontak ortu Wulan.

Dukung untuk kirim surat pembaca, jeng ! Nelongso banget mbaca kejadiannya....
--------------------------------
hugs
nukyhappy wrote on Dec 10, '07
mbaaa....gw jadi berkaca2 baca blog ini...huhuhuhu semoga jadi pelajaran buat para dokter untuk tidak
semena2 ...mengatakan itu bukan urusan dia ya...
semoga wulan jg cepet sembuh T_T
cambai wrote on Dec 10, '07
ya..kasih tau aja ke IDI or YLKI... tuh dokter perlu di jahit mulutnya !!!!
jekimonyet wrote on Dec 10, '07
yah mau gimana lagi yang namanya profesi jadi dokter di semua negara sama aje sih gue bilang. kalau kagak ada duit yah elo kagak bakalan ditangani dengan sigap. Di negeri maju sekalipun lebih parah kalau mengenai biaya kesehatan. Tapi semenjak hukum dan undang2nya lebih kuat, keadaan dimana seseorang ditelantarkan begitu saja jarang terjadi. yah semoga di indonesia bakalan ada hukum yang lebih tegas dalam urusan kesehatan.
emmaku wrote on Dec 10, '07
itu dokter perlu psikotes....mungkin jiwanya terganggu..
kuntarini wrote on Dec 10, '07
Di bentak balik aja dokter kayak gitu......"DOKTER SOMBONG SEKALI! ANDA PUNYA PERIKEMANUSIAAN BUKAN? SAYA RASA ANDA GAK LAYAK MENYANDANG GELAR DOKTER!! DARI SUDUT ETIKA, ANDA GAK BERMUTU SAMA SEKALI!!!!" terus liat ID nya.....ancam lagi : "Baik, saya sudah tau nama Anda, mungkin sebentar lagi Anda dapat peringatan dari atasan anda, atau IDI......"

gak punya perikemanusiaan dan jumawa pula, bentak2 orang yg udah berbuat bener!!
sikrit wrote on Dec 10, '07
Aku doakan semga apa yang dilakukan Ari dibalas oleh Allah SWT dan Wulan segera pulih.

Ari begitulah fenomenanya situasi rumah sakit kita, sodaraku aja yg udah jatuh stroke sampai membiru, dihambat karena masalah biaya awal. Maaf saja, di UGD yang saya tahu masih ada yg seperti yg ARi ceritakan itu, ada uang, pasien digerakkan, nggak ada uang, maaf saja..

Aku bukannya mau membandingkan negaraku dan negara tempat aku tinggal skrg (dari dulu suka malas membandingkan) tapi di tempatku tinggal ini memiliki peraturan yang ketat thdp rmh sakit. Rumah Sakit/UGD HARUS menangani pasien 'darurat' apapun alasannya. Tidak peduli warga gelap atau tidak, pasien yg terkena sakitdarurat/kecelakaan HARUS diterima di rmh sakit. Tidak ada syarat tanya uang muka atau surat surat!!!! Jika ditolak di UGD, hukum yang akan BERTINDAK

ps: Ari coba link jurnal ini dan dikirimkan ke alamat email rmh sakit bersangkutan, setidaknya, diharapkan mereka merubah sikap.

*Sikrit yg bertahun tahun pernah diopname di rumah sakit*
cheanjas wrote on Dec 10, '07
kadang dalih keprofesionalan dan teknis kerja memang membutakan sisi kemanusiaan kita..
anyway 2 thumbs up or you.. buat semua usaha yang dilakukan, dan termasuk bikin journal ini.
bigayah wrote on Dec 10, '07
Gila!! Ini sebuah jawaban berkesinambungan atas NURANI yang sudah mati dan hancur berantakan. Semoga calon istri saya yang sebentar lagi co-ass tidak seperti itu nantinya. Saya mau copy-paste dan link jurnal ini ke milist AMSA INA ya, Mbak... Biar tuh bocah-bocah yang masih sekolah melek matanya, bukan petantang-petenteng sok gagah dengan label mereka sebagai mahasiswa kedokteran. Gila! Gila! Gila! Gila! Dokter baru jadi sepertinya. Entah jadi ato enggak, tak tahulah... Yang pasti gak ada harganya sama sekali manusia macam dia di hadapan siapun, jangankan di hadapan Tuhan. Kata Tuhan (mungkin) saat dia mati, "siapa sih dirimu, kok gak jelas statusnya?? Setan iya, iblis iya, binatang iya, manusia juga iya... Nih kunci Neraka Jahanam. Nginep noh abadi di sana *sambil nendang*", hwehehe!
Semoga Wulan cepat siuman. InsyaAllah luka dan sakitnya adalah media ampunan untuk dirinya dan keluarga. Amin Ya Rabbal Alamin...
ronny2yola wrote on Dec 10, '07
*sigh* gila yah.... ngerinding gue bacanya jugaa.. duh jadi serba salaha... mendingan udah jgn tinggal di Indoensia kalo soal kesehatan... sabar and cepet sembuh ya... buat Wulan...
chietut wrote on Dec 10, '07
ya alloh....
iya, jadi ikutan jengkel, waktu (alm) bapakku kepalanya udah berdarah-darah kena pojokan meja (jatuh pas keadaan habis kena stroke), masak di UGD dokter dan perawatnya pada tidur, sampai2 kami harus ngetuk-ngetuk pintu UGD lama dan keras2, udah gitu pas mereka keluar, bukannya cepat bertindak, malah LEMOT dot kom...semetnara darah bapakku udah sebantal penuh.....hiks....
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
dhunkdhe: makasih doanya, insya Allah disampaikan ke wulan nanti aku sms, yup rekan2 bikers ati2 di jalan yah...

maddy: sorry, aku percaya eyang kakung maddy sungguh berdedikasi sbg dokter

nuky: makasih ya jeng :)

cambai: uni... masak mulut yang dijahit, kesian juga hehe...

jeki: yupi ^_^ semoga

kuntarini: aku begitu spekles saat itu jeng, asli ga bisa ngomong walau ingin sekali memaki sumpah serapah...tapi ya... emang sih kalo gue maki2 dokter itu saat itu juga kayaknya gue sama aja deh ama itu orang, kesian wulan nantinyah...

emma: hehehehe...

sikrit: aguh mba...masa ampe lama opname? mengenai sura ke RS, sedang diusahakan dibantu sama mas tian mba, untuk ke surat pembaca... kita liat aja nanti gimana apa ada respon dari pihak RS apa engga...

bigayah: gue turut berdoa, semoga calon istri lo menjadi dokter yang OK bangets!!! silahkan aja kalau mau link yah trims :)

ronny2yola: trims ya, nanti aku sampein lewat sms ke wulan...semoga dia udah bisa buka mata untuk baca :)

chietut: i'm soooo sorry to hear that... kita rupanya senasib ya jeng... :(
lenakei wrote on Dec 10, '07
mengerikan banget ri. birokrasi rumah sakit di (negara) kita memang gitu, duit dulu nyawa orang belakangan. enggak salah, kalo ada dokter-dokter model "bukan urusan saya" itu. kirim surat resmi aja ke IDI, pengen tahu tuh sikap IDI gimana, bersuara atau juga bakal bilang "bukan urusan saya." aduh plis deh ah
riefa wrote on Dec 10, '07
"Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, tapi saya lihat Wulan masih belum diambil tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?", dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang hampir tumpah.
"Maksud ibu apa???"
"Maksud saya, apakah pak dokter terhormat tega, kalau nanti melihat Wulan mati tanpa penanganan di sini?", suara gue makin lirih...
"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"
orang berjas putih ini sangat tidak layak menjadi dokter!! dia tidak punya hati nurani sama sekali...
bila dia terlalu takut mengambil keputusan yang bisa menentukan kelanjutan hidup seseorang karena terlalu takut dengan prosedur....mendingan copot jas putih-nya dan cari pekerjaan lain....

mba Sri, salut sama effortnya....:) tidak semua orang bisa dan berani bertindak seperti mba....
mudah2an Wulan berangsur membaik...:)
maddypunyacerita wrote on Dec 10, '07
Apa surat pembacanya udah jadi Mbak??? Bener2 harus dikasih pelajaran biar malu... Kata Eyang Kakungku juga mendingan dilaporin langsung ke IDI en juga kirim surat pembaca. Kayaknya juga gara2 stereotype yang muncul di masyarakat bahwa dokter itu pekerjaan yang cepet dapet duit. Sehingga mereka yang menjadi dokter jadi orientasi ke materi,, bukan lagi pengabdian...
larashi wrote on Dec 10, '07
ahh..ngerrii,.,...
moga2 gak ketemu dokter kayak gituuuu.
ampun deh..
ladydhy wrote on Dec 10, '07
hmmm...
sepenggal kalimat perdebatan antara pacarku dengan seorang dokter minggu lalu:
pacar: TRUS KALO ORANG MISKIN YANG GA PUNYA DUIT GIMANA???
dokter: ya biasanya sih mereka pasrah *dengan nada santai*

busyeeeeeeeeettttttttt........
my father is a doctor, mudah2an beliau tidak seperti itu, amiiiiiiiinnnnnnnn
xoclate wrote on Dec 10, '07
masukin koran! masukin koran!
semoga Wulan cepet sembuh..
ella282 wrote on Dec 10, '07
ngomongnya kok gitu sih ?!!!!! bener ri, masukin koran aja !!!!!
juliaophelia wrote on Dec 10, '07
duh jitak aja nih dokter...
kalo gue ada disana udah gue sentil idungnya....

aneh banget jadi dokter...
gried wrote on Dec 10, '07
Masya Allah.. turut prihatin atas kejadian ini.
Selain ke Media & MKEK mgkn bisa kirim surat complaint resmi yang ditujukan tuk pimpinan RS. Biar direksinya tau klo staffnya punya etika yg gak bener!
Daann.. fwd ke milist2 juga Rie..
allaboutmarley wrote on Dec 10, '07
Salut buat Ari yg udah bertindak sebagai perpanjangan "Tangan Tuhan" atas jiwa dan raganya Wulan..
Gue cukup terharu atas cerita nyata dari mimpi yang elo lalui... :) Let's just be a channel of God's blessing.. Salut buat Ari. Yakin! Tuhan akan membalaskan berlipat kali ganda kepada Ari dan Tuhan telah memperhitungkan pelayanan Ari ini..Amiinn..
fehuang wrote on Dec 10, '07
Nyebelin banget yah tuh dokter... Ngomong koq ga pake dipikir dulu. kalo ttg administrasi. jadi inget dulu ada keluarga yang jatuh di kamar mandi, trus waktu masukin ke UGD mereka minta deposit 40jt! Kalo ga, ga boleh masuk. Padahal itu jam 3 subuh. Dan orang buru2 ke rumah sakit karena pengen cepet ditangani. Jadinya malah telp sana-sini minta bantuan. Karena lelet penanganannya, hasilnya orangnya lumpuh setengah badan. >.<
alyahzie wrote on Dec 10, '07
masya Allah.. semoga dokter tsb terbuka mata hatinya atas perbuatannya thd wulan dan ari dan dampaknya... mudah2an wulan diberi kesembuhan dan keluarganya, ari dan kerabatnya diberi kekuatan dlm menghadapi cobaan ini... dan smg tidak ada lagi kejadian spt itu (sy yakin di dunia ini masih lebih banyak dokter yg berhati mulia drpd oknum dokter seperti itu)
ardanti wrote on Dec 10, '07
kasus begini nampaknya perlu di follow-up ke media massa jeng .. supaya ga terjadi lagi yang kayak begini ini !
Dianggap mendeskreditkan profesi? Logh kan gak semua dokter toh ?

Tapi khusus kejadian yang satu ini perlu diketahui oleh khalayak ramai dan bagi yang berprofesi dokter and terkait ... siapa tahu bisa saling mengingatkan lebih utama nyawa dibanding HARGA !!! Aduh maap jadi esmosi juga nih.
allaboutmarley wrote on Dec 10, '07
Itu dokter yg ngebentak Ari itu, mesti ikutan training Spiritual Leadership or Kubik Leadership deh..
Kayak anak kecil ajah cara ngejawabnya..Or emang bermasalah secara emosi..Sabar ya Arii..
dinar02liebe wrote on Dec 10, '07
salam kenal mbak,
saya punya pengalaman sama, suami divonis harus masuk kamar operasi,
dibius, eh.. ternyata nggak jadi operasi..
wah.. bikin hati mau marah..
nggak enak, disepelekan soal nyawa..
oleh dokter yang nggak punya dedikasi tinggi sama profesinya..
leonie wrote on Dec 10, '07
bego...
juzzddey wrote on Dec 10, '07
De doain wulan cepet sembuh...
Aminn...
prahitaningtyas wrote on Dec 10, '07
sumpah profesi dokter ternyata cuma sekedar di mulut... atau jangan-jangan dokter itu sama sekali belum pernah disumpah profesi?
kondombocor wrote on Dec 10, '07
:(
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
riefa: trims ya mas :)
maddy: surat pembaca masih dalam proses tuh di mas tian :) mudah2an cepet selesai kog...
larashi: aminnnnn jangan deh, mending ke dokter Hida aja yahhh :D
ladydhy: aminnn mudah2an papap ga seperti itu ya jeng :)
xoclate: insya Allah dalam waktu dekat mba... :) makasih ya
ella: bener mba, beliau berbicara seperti itu, sepertinya mungkin harga dirinya terluka karena gengsi, sudah diperingati oleh cewek, yang mungkin dia mengira kalau gue lebih muda dari dia hehe...
juliaophelia: hehe pengennya sih gitu mba, tapi pelanggaran hukum ntar yang terjadi ;p
gried: weks gue ga mampu mikir MKEK itu apah hihihi...
allaboutmarley: jangan ikutan emosi, hehe... ntar malah kayak dia deh :p
fehuang: sorry to hear one of your family *hugs*
alyahzie: aminnnn amin mbaaaaa :)
ardanti: tentu kekuatiran gue nanti dianggap mendiskreditkan profesi dokter beralasan jeng, dulu nulis soal permintaan maaf aja malah sampe wartawan2 berbagai stasiun tv marah sama gue... lha apalagi kayak gini yang nancep langsung?
dinar02liebe: semoga suami sekarang dah sehat ya mba :)
leonie: sapa?
juzzddey: amin dek, thanks ya :)
prahitaningtyas: waduh itu berat juga pertanyaannya hehe...
kondombocor: thank ya udah meluangkan waktu untuk baca curhatan

gue ini :)
ceuceu wrote on Dec 10, '07
dilink ya bu.. :)
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
ups... makasi ceu...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
rekans, semua yang baca postingan ini, gue rasa jangan pula jadi marah dan mengutuk dokter X ini, mohon maaf kalau gue menyebabkan rekan2 semua marah ke dokter X ini. Setelah gue pikir2... ada kemungkinan juga... beliau merasa harga dirinya tercoreng di depan para rekan sejawat yang notabene menunggu perintah beliau dalam penanganan pasien tersebut. Jadi ketika gue, cewek yang secara kurang ajar telah menyinggung harga dirinya di depan anak buahnya, walau 'gue sendiri 'gak merasa... ada emosi yang terlepas waktu itu. Jelas karena gengsi, itu pasti.

Setidaknya, gue cuma mencoba mengerti, kenapa dia membentak gue saat itu.
Diluar ketidakpeduliannya terhadap pasien...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
entahlah...
pokoknya menurut gue... saat ini gue belum bisa menerima kalau ada yang melakukan pembelaan terhadap dokter X itu... tapi disisi lain gue juga mikirin, kenapa dia membentak gue???

sutralah... whatever...
brotherihda wrote on Dec 10, '07
ya..namanya juga manusia..tempat saah n lupa kan???
kita sebagai penonton orangain harusnya lebih sabar n hati2 mikirin mereka..g boleh pikiran negatif kan???
ceuceu wrote on Dec 10, '07
Setidaknya, gue cuma mencoba mengerti
ckckckckck... sungguh baik hati sekali pada dokter KAMPRET itu..

*tetep*

:p
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
yupi...
mungkin ini timingnya adalah saat dimana gue mencoba berdamai...
why he did that...
tapi ya tentu aja masih terasa luka-luka itu hehe...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
ealah ceuceu... :))
brotherihda wrote on Dec 10, '07
cuma relax n coba jalani ja..inilah hidup..kita g bisa ngrubah atau gmn, kita tinggal menjalaninya..suka atau g suka(q dapet nasihat ni dalam film realita cinta rock n roll, bukan ikan lho...)hehe...
aerotribal wrote on Dec 10, '07
wew.... that's stupid doctor.
yaaaah....kali2 aja pak dokternya lagi ada masalah di rumah.


aaaaanyway, jelas-jelas itu bukan sebuah sikap dan omongan yang pantas dikeluarkan oleh seorang dokter. bahkan tidak oleh siapapun. apalagi dalam keadaan menyangkut perkara keselamatan seseorang.

ps. itu, dokter jaga biasanya cuman satu, yang laen adalah residen (dokter muda) dibantu beberapa perawat. cmiiw.
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
sutralah... whatever... fokus masalah ini adalah kenapa pasien diterlantarin begitu aja...
bukan mengenai perasaan2 melo gue terhadap perlakuan dokter, titik.
brotherihda wrote on Dec 10, '07
yah intinya dokter itu belom profesional!!ya kan??mb laporin aja ke rumahsakitnya biar dinasehati..setau q ada kode etik dokter kan???harusnya ada soal pasien kayak gitu...koq dy g patuh ya???aneh..
iniaku wrote on Dec 10, '07
astagfirullah.... baiknya itu dokter bukan ngadepin gue ya Ri, kalo gue mah udah gue BENTAK-BENTAK

*gue juga pernah punya mengalaman tidak mengenakkan dg UGD, sahabat gue yg kecelakaan akhirnya harus diamputasi karena kelalaian dokter*
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
inilah hidup..kita g bisa ngrubah atau gmn, kita tinggal menjalaninya..suka atau g suka
ini sih udah pasti...
yang belum pasti adalah: apakah sikap dokter itu akan sama dengan pasien lain?
dan kalau itu yang menjadi kebiasaan dokter tsb memperlakukan pasien, apakah sikap kita akan pasrah sama dengan pasien lain?

gue rasa itu yang membedakan kita dengan orang lain.
sampai dimana kita memperjuangkan hak setelah memenuhi kewajiban...
kalaupun kewajiban belum (akan) dipenuhi (dalam hal ini membayar), karena buat gue masih bisa dinegosiasikan, tentu menjadi wajar buat gue saat gue nyatakan pendapat ini ke dokter tsb.

itu aja sih... hanya berusaha untuk membela hak hidup wulan aja...
she's so young, she deserved to get the best...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
ps. itu, dokter jaga biasanya cuman satu, yang laen adalah residen (dokter muda) dibantu beberapa perawat. cmiiw.
i think so...
tapi sepatutnya mereka juga sebagai dokter muda harus care sama pasien dong...
gue rasa banyak terjadi konflik bathin di dalam ruangan itu pada malam itu, ketika kejadian...
ketika dokter jaga membentak gue,
ketika para residen menyadari bahwa mereka memang belum melakukan apa2,
well...
let's say ini merupakan pembelajaran buat kita semua akan arti penting kesehatan, juga keselamatan dalam perjalanan.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
iniaku said
sahabat gue yg kecelakaan akhirnya harus diamputasi karena kelalaian dokter*
s**t
ekakurnia wrote on Dec 10, '07
hebat...benar2 berhati malaikat yang menolong wulan
iniaku wrote on Dec 10, '07
ihiks... gue dan sahabat-sahabat gue yg lain langsung nangis gitu Ri pas dikasih tau kalo saraf kaki temen gue udah gak berfungsi shg harus diamputasi :((

anjrit emang itu dokter, temen gue dianggurin di UGD Cipto karena waktu itu ada keluarga Cendana yg dirawat, jadi gak ada kamar... secara habis OP harus dirawat

3 bulan gue bolak-balik RS Cipto jengukin sahabat gue itu, alhamdulillah sahabat gue kuat banget dan skg dia udah bahagia dengan istri dan anaknya
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
iniaku said
dikasih tau kalo saraf kaki temen gue udah gak berfungsi shg harus diamputasi :((

anjrit emang itu dokter, temen gue dianggurin di UGD Cipto karena waktu itu ada keluarga Cendana yg dirawat, jadi gak ada kamar... secara habis OP harus dirawat
really s**t...
it happened to me also...
lo tau kan jempol tangan kiri gue yang hampir putus gara2 di dapur... itu juga telat penanganan sama dokter karna dicuekin di UGD dengan darah muncrat2 di dinding... en akibatnya sekarang ga bisa dibengkokin, hehehe... lurus aja terus tuh jempol :))
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
yang menolong wulan
halo mas eka, senang sekali mas eka berkunjung baca curhatan aku ini...
mohon jangan berlebihan dalam memuji ya mas...
bisa terbang ke awan lapis teratas nanti saya... susah baliknya... :))
niwei trims ya mas eka... ;)
didinana wrote on Dec 10, '07
wah mba ari kuat banget siih,, salut
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
gak lah, mbak didinana...
kalo kuat aku ga bakal mewek di UGD tuuuuu...
xixixxixxx...
kayaknya perasaankyu udah lumayan ringan nih, hihi
trims berat ya teman2...
menhariq wrote on Dec 10, '07
ri... aku udah posting juga di beberapa forum.. :)
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
busyet
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
pantesan aja tuh statcounter cepet bener jalannyah... gara2 si eiggggg
menhariq wrote on Dec 10, '07
wakakakaka... naik 10 point di kampungblog.. dari 28 ke 18.. dalam waktu sehari.. canggih...


*nyebar pamflet ke seluruh dunia ah...*
laxita wrote on Dec 10, '07
Semoga wulan cepat sembuh ya...

salut Mbk Ari masih bisa mengontrol diri
kalau aku yang di sana mungkin udah mbentak treak kali
benar benar tidak berperikemanusiaan
gak pantas banget
setuju mbk, tulis di surat pembaca, tulis jelas nama dokter gak tau diri itu, waktu kejadian,
hal hal kayak gini gak bisa didiemin aja
kalau tidak, ketidak adilan terus yang bakal diterima masyarakat.
aku ikut nyebarin pamflet ahh

rielakelinci wrote on Dec 10, '07
Sebaiknya dikirim ke surat pembaca aja, biar jadi koreksi bersama...
Saya jg dulu pernah punya pengalaman buruk dng UGD..
kalo ga ada temen2 saya yg co-ass di situ, ga ada kakaknya temen saya yg baru diangkat jd dokter di situ pastinya deh... qta kudu nunggu lebih lama lagi spy papa saya dicek pendarahannya berbahaya atau ga!!!
nyebelin....
udah kebal kali ya liat darah???
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
surat pembaca sedang disiapkan jeng sita...
tapi sayang aku sama sekali gatau nama dokter X itu, karena setelah kejadian berlalu di menit berikutnya, aku cari nametagnya ga keliatan atau sengaja disembunyikan, entah juga... :(

mba riela: sorry to hear that ya... kayaknya emang perlu KKN di UGD untuk mendapat layanan berperikemanusiaan ya... :)
udintpi wrote on Dec 10, '07
kabarnya wulan gimana jeng Ari?
semoga lekas sembuh.
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
masi terkapar mas udin... belom bisa bangun dan melek...
rojer...
larassejati wrote on Dec 10, '07
semoga semua sehat sekarang?
udah membaik. meski penuh perjuangan. tapi kita ketolong sama dokter yang lain, yg lebih simpatik dari FKUI. malah beliau yg nelpon duluan menawarkan bantuan.

ya mudah2an masih lebih banyak dokter yg baik daripada yg cuma businessman.
myybaby wrote on Dec 10, '07
Tuh dokter kemakan sumpah dokter nya ntar loh... huh.. *ikutan jengkel*
siskaris wrote on Dec 10, '07
ya tuhan.... *speechless*

mudah2an Wulan segera pulih dalam kondisi yg baik.
andreibung wrote on Dec 10, '07
Mudah2an cepat sembuh si Wulan... Buat mbak penulis salut deh... jarang banget ketemu orang kayak Mbak... mudah2an diberi lebih banyak berkat... Mudah2an yang punya rumah sakit baca ini yah... biar mereka tau betapa careless nya dokter2 yang notabene cari duit disana... (masih cari duit aja sombong)
delkery wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
miris banget yaa akhir2 ini lihat kondisi rumah sakit dan dokter2 yg di Indonesia sperti itu keadaannya.. pantes aja kalo yg beduit minimal larinya ke singapore.. So, di indonesia dilarang sakit deh tuh buat yg gak mampu... *semoga masih ada dokter yg berbudi baek dan masih berhati manusia.. bukan hanya mikir duit dan duit lagi*
agungks wrote on Dec 10, '07
nama rumah sakitnya apa? SENTRA MEDIKA CIMANGGIS?!....ora sudi berobat ke sana huehehehehe
menhariq wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
ri.. ada rekan di HDDStudio.net sudah memforward


Zeux@HSN: sudah saya FWD
Quote:
Direktur RS Sentra Medika (RS SM) Nurhayati Hadi

Rumah Sakit Sentra Medika
Jl. Raya Bogor KM. 33, Cisalak - Depok
Telp. (021) 8743790 (Hunting) Fax. (021) 8743230
Email : sentramedika@pdpersi.co.id
Jika ingin menyampaikan ke organisasi yang menaungi rumah sakit
Quote:
PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304 Fax. 021-45845291
Ikatan Dokter Indonesia
Quote:
IDI Online
Sekretariat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
Jl. Dr. G.S.S.Y. Ratulangi No. 29, Menteng, Jakarta Pusat 10350
Phone : (021) 3150679, 3900277 Fax : (021) 3900473
Email : pbidi@idola.net.id
myybaby wrote on Dec 10, '07
deshh... beneran bisa jd FBI
verans wrote on Dec 10, '07
apa yang kurang yah dari deretan mata kuliah di kedokteran?

hati nurani?

tiaaja wrote on Dec 10, '07
tuh kan emang, dokter itu emang nggak belajar ilmu gimana menolong tanpa pamrih.
tetep aja mikir untung rugi, biasa kerja sama robot kali.
fithab wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
*miris, marah, dll:(* Kenapa ya yang kayak gini masih ada aja? Jadi inget kejadian beberapa bulan lalu, waktu ada satu pasien di Jepang yang ditelantarkan di RS selama sejam, gak diapa2in, padahal sudah dalam kondisi parah. Bedanya dengan negeri kita? Hal ini langsung masuk headline news dan jadi pembahasan di seluruh saluran TV selama seminggu lebih, karena tidak pernah terjadi sebelumnya! Kapan ya, tim kesehatan kita bisa lebih memaknai arti jiwa seseorang, dan tidak hanya terpaku dengan "administrasi" buat nyelametin seseorang? *sigh...* Semoga Wulan cepet sembuh ya, Mbak...
difla wrote on Dec 10, '07
masya Allah..
apa dokter itu gak pernah ngerti karma ya?
gak pernah kah dia mikir, gimana kalo dia yang digituin? gimana rasanya kalo nyawanya gak dipedulikan sama orang yang seharusnya bisa nolong dia?
aku dukung dirimu dan mas Tian untuk mempublish tulisan ini di media massa, biar kapok tuh orang-orang tak berperasaan itu!

semoga Wulan cepet pulih..
sakti81 wrote on Dec 10, '07
yah gitu lah pelayanan RS di indo ( walopun gk semuanya ), administrasi duluan baru diberikan pelayanan...semoga pelayanan RS kita menjadi lebih baik ke depan....
etika wrote on Dec 10, '07
bener tuh, masukin koran aja !
semoga wulan cepet sembuh...
aggiechan wrote on Dec 10, '07
Waduuh Panas juga nih,...

mm opini dari saya yg juga seorang dokter jaga UGD yah...( walau cuma rumah sakit kecil)..
Memang banyak dokter indonesia yg begitu,...saya dan keluarga jug pernah tersakiti seperti mbak , bahkan sang dokter saya bentak2 walaupun saya masih mahasiswa...makanya saya gak mau menjadi dokter gila seperti itu...

satu hal yang pasti,...profesi dokter sama seperti profesi yg lain,...banyak yg brengsek tapi banyak yg baik, Namun karena pekerjaannya berurusan dengan nyawa manusia lah yg makin membuat para dokter atau paramedis tah berhati nurani ini lebih tersorot di bandingkan yang baik baik....( yg baik masih banyak kok hehehe ,..cuma gak pernah di ekspos aja)

Yang menjadi masalah pada kasus di atas bisa di ajukan ke IDI, namun hanya pada beberapa poin saja. Yg menjadi pertanyaan saya adalah
- kasus tersebut termasuk CKS- CKB ( cedera kepala sedang in progress ke berat) biasanya dalam prosedur kami di UGD memang harus menanyakan kesiapan/persetujuan tindakan, ada poin yang hilang disini,...bila saya mendapat kasus tersebut, denga kondisi luka di kepala dan muntah2 , saya akan menyarankan pasien harus dirawat dan konsul Bedah syaraf saat itu juga..ini tidak ada dalam artikel,..entah disarankan atau tidak...setelah acc semua tindakan lanjutan akan di kerjakan,..bila penanggung tidak bersedia, pihak rs ( biasanya swasta) akan mereffral pasien menuju rs pemerintah seperti cipto, karena di sana ada jatah JPS , sehingga bisa di kerjakan tanpa menunggu kesiapan biaya,
tentunya setelah pasien stabil baru di kirim

- maaf seribu maaf, namun kondisi" harus bertanya sebelum melakukan tindakan" memang harus dilakukan,..karena hanya beberapa rumah sakit swasta dan pemerintah yang mendapatkan jatah JPS (dalam artian kami menerima Mr./Mrs X) sehingga dapat melakukan ct scan/ trepanasi ( open head ) tanpa menuggu keluarga
Rumah sakit lain di Indonesia sebagian besar berdiri dengan keropos karena di penuhi manajemen yg penuh korupsi, ( seperti yg sedang saya alami sekarang) sehingga pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakanseperti Rontgen , CT Scan, dan tindakan life saving yg melebihi kemampuan dokter UGD tanpa ada persetujuan finansial

Seandainya Jatah kas negara 30% saja di berikan untuk kesejahteraan kesehatan masyarakat,...saya rasa rumah sakit kita bisa memberikan pelayanan gratis tanpa biaya untuk pasien kecelakaan seperti kasus mbak Wulan

Jangan menstereotipkan profesi ini sebagai bajingan brengsek yg tidak berkeprimanusiaan,..karena banyak yg tidak terekspos
Diantaranya adalah beberapa Dokter teman saya yg spesialis bedah plastik, sampai sekarang sering memberikan bedah sumbing dan repair penis pd anak tidak mampu secara GRATIS,..setiap bulan ia selalu membawa 5 pasien,..

Teman seorang bedah Ortopedi / tulang,...memberikan operasi penyambungan tangan yg hampir putus karena di tebas parang senilai 100jt GRATIS
Dan sebagia dari kami sebagai dr UGD tidak pernah mau menarik jasa medis bagi mereka yg tidak mampu,..mungkin kami masih idealis tapi paling tidak itu sebagian kecil yg bisa kami berikan untuk masyarakat.

seperti saya bilang di atas,..FINANSIAL sangat berperan dalam rs di indo terutama rs swasta...saya pun sangat menentang namun apa daya...itu prosedur yg dibuat karena terlalu sering ada pasien yg mengatakan lakukan saja tindakannya dokter!! in the end pasien kabur...tanpa membayar sepeserpun,...saya sendiri sudah sering mengalami hal ini...dari pihak dokter hal ini bukan masalah ( pasien kabur) namun dari pihak rs adalah satu kerugian besar..apa lagi yg memerlukan perawatan intensif....

Kelakuan dan sikap Dokter UGD di atas memang sudah keterlaluan,..walaupun memang benar tidak bosa di lakukan CT Scan saat kepala masih bleeding...namun menghardik penunggu pasien sudah melanggar etika kedokteran

Saya menulis ini bukan membela para dokter atau paramedis yang bersikap seperti di atas,...karena saya sangat membenci mereka, mereka sudah mencoreng profesi yang saya ambil dengan penuh pengorbagan danpenderitaan lahir , batin, finansial, dan sebagian para dokter seperti diatas ada pada para pendidik calon dokter...sama seperti IPDN/STPDN ,..ada oknum yg kelakuannya sangat tidak pantas, yg tidak mungkin saya bahas di publik...

itulah yg ada di indonesia


loopeen wrote on Dec 10, '07
Mestinya Sri bentak balik : "LU DOKTER ATO BUKAN SIH???"

Setahuku, Dokter2 yang baru lulus memang ditempatkan di UGD.

I had a brother that lived only 7 days because of those unprofessional treatments.
I dont remember for I was three years old that moment, but my dad traumatized by the occasion. He doesnt want to come to that hospital again, even for his friends...
aggiechan wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
gak juga mbak,..dokter yg ada di UGD terutama jakarta biasanya sudah mengikuti persaratan ATLS . yg harus diikuti semua dokterumum dan spesialis yg lulusnya susah banget,...kalo dokter muda?? mungkin dia masih KOASS atau junior yg masih belajar,..belum lulus namun di taruh disana sebagai praktek, seperti yg ada di RS Cipto , atau RS UKI atau RS pemerintah lain yg memang ada kerjasama..namun mereka tidak memiliki tanggung jawab untuk berinteraksi dgn keluarga pasien,..tanggung jawab penuh di berikan pada dokter yg memang adalah dokter UGD


tapi balik lagi sih,..yg namanya mereka juga manusia,..pasti banyak yg BRENGSEK juga,...
dan sebagian yg BRENGSEK itu gak hanya ada di UGD saja tapi juga mereka yg sudah menjadi spesialis.....( saya pun pernah jadi korban) .. itulah kenyataan yang ada saat ini....

ibu saya pun pernah menjadi korban dokter seperti itu di UGD salah satu rs swasta besar di jkt,...saat itu ibu saya juga mengalami cedera kepala dgn benjol yg cukup besar disertai tidak sadar dan kejang ,sang dokter UGD dengan arogan menyaran kan CT scan dgn nada menghardik,..dan mempertanyakan, apa kami punya cukup uang untuk membayar biaya tindakan tersebut.. sampai sekarang saya masih ingat nama dr. tersebut.
dan untungnya saya puas karena sempat membentak balik dan mempertanyakan sikap dia yg un-professional...

sedikit gambaran bahwa dokter/paramedis seperti ini memang ada!,...namun bukan berarti ALL of INDONESIAN Doctors ARE fucking shit dan lain lain kan?
sebagian memang,..sebagian lagi masih memegang teguh idealisme

Dan bila anda bertemu dengan mereka,..tak ada salahnya bertanya,..apa alasannya , kenapa tidak bisa di lakukan pemeriksaan ini, de el el...

or,..di ajukan komplain ke IDI ( kan dah ada alamatnya diatas)...nanti akan diteruskan ke konsil kedokteran,..konsil ini yang berhak mencabut atau memending SIP dokter indonesia
muhammadanshory wrote on Dec 10, '07
hhmmm,,,
speechless baca bginian,,,
miris banget,,,
kadang2 serasa g mau jadi dokter,,,
konsekwensinya begitu berat,,,


tu dokter KURANG AJAR!!
Emang di kedokteran g bikin orang jadi baik,,,
ya orang baik jadi dokter yang baik,,,
yang bobrok tetep aja bobrok,,,
smoga gw g jadi dokter yang "BEGITU",,,


oia,,,
FYI...
MKEK = Majelis Kode Etik Kedokteran
aggiechan wrote on Dec 10, '07
mm ct scan harus bayar dulu?...mmm prosedur yg aneh tapi diterapkan juga pd beberapa rs swasta....kemarin keluarga jauh saya mengalami kecelakaan sepeda motor,..kepalanya terbentur,..dia di bawa ke RSUP Sanglah,..dan tanpa ada keluarga maupun saya karena yg membawa adalah orang lewat dia di lakukan ct scan tanpa membayar dulu tuh,..karena saya yg datang beberapa saat kemudian pun membayar setelah semua pemeriksaan selesai...

itu lah bedanya,..tiap rs punya prosedur yg berbeda.....hehe salahin rs nya juga dunks :)
sonofamaria wrote on Dec 10, '07
semoga rasa sakit hati mbak sari dan sakit 'fisik' wulan cepat sembuh,dan sakit 'mental' dokter itu juga

manusia oh manusia...
menhariq wrote on Dec 10, '07
wah kalo dokternya kayak dr. aggie sih.. mau deh sakit... *ups.. kidding* :D
youspy2000 wrote on Dec 10, '07
http://wieldan.multiply.com/journal/item/88/di_INDONESIA_org_miskinmenengah_DILARANG_SAKIT

mungkin ini sama kali ya... sama kejadian temen gue itu,.....,.,,.,.,.
variel wrote on Dec 10, '07
ehm .. gini nih kalau urusan pribadi di kaitkan ama kerjaan...
akhirnya cara kerja ga profesional
emosional dan bingung dan problem pribadi di campur aduk
andreibung wrote on Dec 10, '07
satu hal yang pasti,...profesi dokter sama seperti profesi yg lain,...banyak yg brengsek tapi banyak yg baik, Namun karena pekerjaannya berurusan dengan nyawa manusia lah yg makin membuat para dokter atau paramedis tah berhati nurani ini lebih tersorot di bandingkan yang baik baik....( yg baik masih banyak kok hehehe ,..cuma gak pernah di ekspos aja)
Wah bener juga tuh... kadang dokter yang baik juga ga pernah kita ekspos... selain dokter brengsek kayak kejadian diatas... ada baiknya kalo kita nulis yang baik juga... sedikitnya nunjukin rasa terimakasih... *sekalian lewat... trims buat semua perawat dan dokter yang udah buat gue sembuh kembali setelah Typus dan DBD tahun kemarin*
dawiecool wrote on Dec 10, '07
mungkin :
1. karna dokternya dulu waktu milih profesi bukan karna ingin menolong sesama, cuman pingin nyari duit (biaya dokter kan mahal)
2. karna terlalu sering lihat orang sekarat dan meninggal, membuat dia jadi terbiasa dan cuek akan perasaan orang2 yang akan atau sudah ditinggalkan
3. hanya dia dan tuhan yang tau kenapa dia "bisa" bersikap seperti itu
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
Yg menjadi pertanyaan saya adalah
- kasus tersebut termasuk CKS- CKB ( cedera kepala sedang in progress ke berat) biasanya dalam prosedur kami di UGD memang harus menanyakan kesiapan/persetujuan tindakan, ada poin yang hilang disini,...bila saya mendapat kasus tersebut, denga kondisi luka di kepala dan muntah2 , saya akan menyarankan pasien harus dirawat dan konsul Bedah syaraf saat itu juga..ini tidak ada dalam artikel,..entah disarankan atau tidak...setelah acc semua tindakan lanjutan akan di kerjakan,..
halo jeng, trims atas respon terhadap kasus ini.
senang sekali dikunjungi jeng pribadi di sini... :)

dalam peristiwa ini, dokter jaga yang menangani pasien hanya menyarankan pasien dirawat saja, tidak menanyakan atau menyarankan tentang konsultasi kepada bedah syaraf. Sebenarnya saya sendiri mau nanya tentang apa ada kemungkinan dipanggilkan dokter bedah syaraf dengan kondisi luka seperti itu, tapi ya lagi2 semua berkembang begitu cepat berkelebat, yang bekerja hanya otak saya tapi mulut saya juga susah merespon untuk dengan tanggap bertanya seperti itu. Mungkin juga dikarenakan harus cepet2 ini dan itu dalam waktu singkat...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
Rumah sakit lain di Indonesia sebagian besar berdiri dengan keropos karena di penuhi manajemen yg penuh korupsi, ( seperti yg sedang saya alami sekarang) sehingga pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakanseperti Rontgen , CT Scan, dan tindakan life saving yg melebihi kemampuan dokter UGD tanpa ada persetujuan finansial
sebenarnya untuk masalah finansial dari awal saya sudah jelaskan bahwa saya bisa menjadi penjamin, kalau diperlukan, dan sudah saya tawarkan untuk membayar sebagian dahulu sebelum keluarga datang, agar semua bisa dikerjakan segera, tapi ya... situasi tidak terkontrol lagi ketika dokter tersebut terpancing emosi dan membentak-bentak saya, jadi ya apa boleh buat :)
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
Jangan menstereotipkan profesi ini sebagai bajingan brengsek yg tidak berkeprimanusiaan,..karena banyak yg tidak terekspos
tentu tidak jeng...
sebagaimana saya tulis juga diatas, bahwa diluar semua perlakuan minus dari dokter tersebut, saya juga berterimakasih, bahwa pada akhirnya dilakukan tindakan cepat terhadap wulan, walaupun harus melalui episode ancur2an begitu... :)

dan saya juga banyak kog melihat rekan2 dokter yang masih berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan, seperti rekan berprofesi dokter yang tidak mau dibayar oleh yang tidak mampu, mau memberikan konsultasi gratis kepada pasien di luar jam kerja, dll... termasuk seperti jeng ini :)
mudah2n memang masih ada lebih banyak lagi yang seperti itu...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
ri.. ada rekan di HDDStudio.net sudah memforward
waduh... tengkyu ya riq... bilangin thx juga ya buat temen dikau itu...
gue sih antara yakin engga dengan kasus ini, antara optimis sudah berusaha melakukan yang terbaik walaupun kacaw, dan pesimis aja dengan respon yang berwenang terkait, makanya cukup puas aja dengan nulis di blog pribadi... tapi kalau rekan2 yang lain memang sudah mem-forward ke yang berwenang, itu sangat gue hargai... :)

*peluk erig*
ivanlesmana wrote on Dec 10, '07
duh, ikut prihatin :'(

profesi dokter mnrt saya memang harus ada 'panggilan jiwa' yg kuat ya, jadi siap mengabdi begitu. mungkin sama spt menjadi guru, jaksa/pengacara, rohaniawan, petugas sosial, dll. kalo orientasinya ekonomi bakal repot urusannya...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
fithab said
beberapa bulan lalu, waktu ada satu pasien di Jepang yang ditelantarkan di RS selama sejam, gak diapa2in, padahal sudah dalam kondisi parah. Bedanya dengan negeri kita? Hal ini langsung masuk headline news dan jadi pembahasan di seluruh saluran TV selama seminggu lebih, karena tidak pernah terjadi sebelumnya!
mudah2an Indonesia menuju ke arah itu :)
harus optimis nih ya
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
loopeen said
I had a brother that lived only 7 days because of those unprofessional treatments.
I dont remember for I was three years old that moment, but my dad traumatized by the occasion. He doesnt want to come to that hospital again, even for his friends...
i'm sorry to hear this ya...
semoga pelayanan RS tsb makin baik, walaupun sempat meninggalkan trauma besar...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
FYI...
MKEK = Majelis Kode Etik Kedokteran
oya, makasih infonya ya mas :)
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
duh, ikut prihatin :'(

profesi dokter mnrt saya memang harus ada 'panggilan jiwa' yg kuat ya, jadi siap mengabdi begitu. mungkin sama spt menjadi guru, jaksa/pengacara, rohaniawan, petugas sosial, dll. kalo orientasinya ekonomi bakal repot urusannya...
mudah2an kita semua sedang menuju ke arah itu :)
amin
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
itu lah bedanya,..tiap rs punya prosedur yg berbeda.....hehe salahin rs nya juga dunks :)
iya, tentu saya juga mempertimbangkan pemikiran dokter tsb yang harus patuh dengan manajemen RS jeng... hal tsb bisa terlihat dari dialog2 saya dengan dokter & paramedis terkait...
tapi dalam hal ini yang dipersoalkan adalah sikap dokter tsb dalam berkomunikasi dengan "keluarga pasien" dan respon-nya terhadap pasien yang sama sekali tidak ada tindakan sejak pasien 'teronggok' di bed UGD (pegang-pegang, ngasi formulir, nyuruh saya ke radiologi, nyuruh saya mondar-mandir, bentak-bentak) tapi pasien sama sekali tidak dibersihkan, dicukur rambut, luka di jahit, dll... sedangkan saya dan rekan2 waktu di rumah aja udah kuatirnya setengah mati ini wulan bakal mati apa engga, sejak diketahui ternyata lukanya ada di kepala, ditambahlagi dengan muntah2 hebat.

sebagai orang awam, tentu kekwahatiran semacam ini wajar, dan ketika berusaha mencoba sabar melihat pasien tidak ditindak walaupun keluarga sudah berusaha mondar-mandir ngurus, tentu ini menjadi semacam tragedi yang miris di mata kami... apalagi kami sudah berusaha meyakinkan menjadi penjamin, bahkan bersedia membayar sebagian... namun respon yang ada? apakah layak sebagai seorang pribadi dokter?

begitu kiranya...
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
Wah bener juga tuh... kadang dokter yang baik juga ga pernah kita ekspos... selain dokter brengsek kayak kejadian diatas...
tentu saya juga berusaha tidak lupa untuk berterimakasih kepada dokter2 diatas, sesuai pernyataan yang sudah saya tulis di jurnal ini juga...
trims sudah diingatkan :)
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
semoga rasa sakit hati mbak sari dan sakit 'fisik' wulan cepat sembuh,dan sakit 'mental' dokter itu juga
amiinnnn thankx banget ya dek :)
muaaaahhhhh *hugs*
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
udah membaik. meski penuh perjuangan. tapi kita ketolong sama dokter yang lain, yg lebih simpatik dari FKUI. malah beliau yg nelpon duluan menawarkan bantuan.
that's great...
alhamdulillah... :) senang sekali mendengarnya...

saya juga punya pengalaman unik & great dengan salah satu dokter di RSCM kog, beliau udah tua, spesialis, dan setelah 6 bulan lebih saya pindah2 rumah sakit, begitu di rawat dan konsultasi sama dia, gak lama sembuh dengan biaya minim, hehehe... memang gak semua dokter seperti yang saya ceritakan diatas kog... masih ada lebih banyak lagi yang GREAT... :)
n4il4 wrote on Dec 10, '07
Ya Allah, semoga Wulan cepet sembuh dan dokter-2 semacam ini diberi hidayah agar cepet tobat dan memperbaiki diri.
rancamanyar wrote on Dec 10, '07
semoga wulannya cepat sembuh ya..
bigayah wrote on Dec 10, '07
hhmmm,,,
speechless baca bginian,,,
miris banget,,,
kadang2 serasa g mau jadi dokter,,,
konsekwensinya begitu berat,,,


tu dokter KURANG AJAR!!
Emang di kedokteran g bikin orang jadi baik,,,
ya orang baik jadi dokter yang baik,,,
yang bobrok tetep aja bobrok,,,
smoga gw g jadi dokter yang "BEGITU",,,


oia,,,
FYI...
MKEK = Majelis Kode Etik Kedokteran
Hmmm... I know this man...
He's "the boss" of Asian Medical Student Association (AMSA) - Indonesia. He still studies in Medical Faculty of UnBraw. Jadi link yang saya sebarkan sudah mulai ditanggapi cukup baik oleh Gen.Sec AMSA. Hehehe! Semakin banyak yang menghujat dokter luar biasa keji itu. Asik, makin ramai saja. Duh, apa kabarnya ade' Wulan kita ya... Semoga bisa segera tersenyum kembali dan hidup dengan keceriaannya kembali. Amin Ya Rabbal Alamin.
theresajackson wrote on Dec 10, '07
Aduh ikut prihatin dng keadaan ini, semoga Wulan cepat pulih kembali. Anda berhati mulia, Tuhan sendiri yg membalasnya, Amien.
ibujempol wrote on Dec 10, '07
Memprihatinkan sekali ya.
Sedih banget mbaca kondisi kesehatan di tanah air.
*Hugs dik Ari + doakan smoga Wulan cepet sembuh*
mercuryfalling wrote on Dec 10, '07
ampun deh tuh dokter...kalo tau darahnya belom berenti,ngapain tadi dia malah nanyak :jadi mau di ct scan dulu? uuuuh pasti karena komisi deh.

semoga wulan lekas sembuh dan hasil ct scannya baek2 saja

merlyna wrote on Dec 10, '07
aku turut prihatin, sedih, dan marah membaca jurnal ini. seseorang yang memilih profesi sebagai dokter seharusnya sudah menyadari bahwa dia harus bersifat humanitas, setiap keputusan dan tindakan yang diambilnya berhubungan dengan keadaan bahkan nyawa seorang manusia. ugh...

anyway.... semoga wulan cepat pulih.....
srisariningdiyah wrote on Dec 10, '07
Trims untuk semua rekan yang bersimpati pada wulan, salam anda semua akan disampaikan segera.

=============
Berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh banyak rekan, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau srisariningdiyah@yahoo.com, tanpa melibatkan pihak lain. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya ada pada gue pribadi.
Terima kasih.
chaerani wrote on Dec 10, '07
mudah2an nama dokter tolol itu dicatat dan dikirimkan keluhannya ke RS yg bersangkutan
sarifendy wrote on Dec 10, '07
Mbak, dulu suamiku juga dirawat disitu aku juga dibuat gemas banget dan dokter itu tetep pada pendiriannya untuk membereskan adm padahal suamiku sudah lemas banget dan butuh tindakan segera....ugh..s.ebel tuh sama rs dan aku gak mau bermimpi lagi untuk sakit dan jangan sampai dirawat di rs itu.
ibukomandan wrote on Dec 10, '07
ya ampunnn... dokter keparat... masih jadi dokter jaga aja songongnnya udah kayak gitu, gimana kalo udah jadi dokter ahli? kalo orang sakit bukan urusan dokter, lantas ngapain dia jadi dokter?

tapi ya rie.. emang sih ga semua dokter kayak gitu... tp banyak jg dokter yang kurang ajar.. duh, bokapnya temen gue tuh dokter, anastesi or something. itu kurang ajarnya parah bgt.. ga layak buat gue ceritain disini... rekan2 sejawatnya jg udah tau gimana kelakuan dia.. huhuhuhuhuh...
moorcyhans wrote on Dec 10, '07
Apakah di sekolah kedokteran tidak diajarkan tentang kemanusiaan sekarang ini? Saya ikut link, mbak. Supaya bisa jadi pengetuk hati bagi dokter-dokter gila di luar sana.
dinidee wrote on Dec 10, '07
despite dari apa yang dilakukan dokter keparat itu [ ups maap pemilihan bahasa nya! ]... moga2 wulan cepet sembuh ya...
wirdayanti wrote on Dec 10, '07
Speechless bacanya Ri.. *prihatin banget*
Semoga keadaan Wulan semakin membaik..
fitriok wrote on Dec 10, '07
sabar ya mbak... semoga mbak wulan diberi kesehatan. diangkat segala penyakitnya.. para dokter "mulia" itu diberi kebijaksanaan lebih.. meluruskan niatnya jadi seorang penolong manusia.. dan bukan membayar ganti modal bersekolah dulunya.. rumah sakit yang beroperasi lebih mementingkan kebutuhan pasien dan bukan kebutuhan pribadi... amin..
aaewing wrote on Dec 10, '07
gw turut kesal sama itu dokter, kalo gw di depan dia ga tau dech!!! gw doain moga Wulan cepat sembuh...
sabar ya Ri...
juwitapalgunadi wrote on Dec 10, '07
Kemana hati nuraninya si dokter itu ya ???
ademarlin wrote on Dec 10, '07
mudah2an orang2 tsb diberi petunjuk oleh Tuhan YME ya mbak, sehingga dia menyadari kesalahan yg telah dilakukannya kemarin. Mudah2an Wulan juga diberikan kekuatan dan kesembuhan, amin.
handriyandi wrote on Dec 10, '07, edited on Dec 10, '07
DOKTER GILA
di link y mbak..
ardhanamesvari wrote on Dec 10, '07
Kasian sekali wulan, semoga kondisinya semakin membaik.

Alhamdulillah waktu suamiku kecelakaan kemarin, baik pertolongan di RS PKU Muhammadiyah maupun di RS Sardjito ga pakai lama2, bahkan sebelum keluarga datang suamiku sdh ditangani. CT scan juga bisa dilakukan tanpa pembayaran dulu.
retrojunkies wrote on Dec 10, '07
baru baca nih ri.... mo marah. speechless deh!!
goenzarch wrote on Dec 10, '07
kejamnya dunia semua harus uang dulu, rasa kemanusiaan memang sudah terukur dengan uang
ambarbriastuti wrote on Dec 10, '07
untung ngga jadi dokter...bisa2 diamuk ari
hannyks wrote on Dec 10, '07
duhhh,...prihatin banget bacanya. Nyawa manusia segitu ga berharganya.Padahal mereka para dokter yg punya tugas menolong. Itulah bedanya dokter di Indonesia dengan dokter di Luar negri. Kalo liat di film2 luar. Setiap pasien pasti ditangani segera dan dgn serius. Begitupun para dokternya benar2 memberikan pelayanan maksimal. Cthnya kalo kita berobat jalan dokter diluar pasti mau diajak ngobrol, curhat dan menjawab pertanyaan kita dgn detail, Kalo di Indo kan dokternya kaya kejar setoran. KIta bayar 60rb cuma buat diperiksa ga smp 5menit. Mo tanya2 pun ga sempat apalagi mereka sgt jarang memebrikan jwbn memuaskan dan enggan mencerdaskan pasiennya. Mereka hanya tau ngasih obat, dibayar.Selesai. Sungguh sy pun masih belum 100% percaya dgn dokter.
Saran aku, tlg isi blog diatas di forward aja ke Persatuan Dokter Indonesia supaya mereka mau introspeksi diri. Jgn menjadikan dokter sebagai pekerjaan mencari uang semata tp berikan pelayanan tanpa pandang bulu kpd masyarakat. Tugas dokter kan mulia knp dokter2 sekarang jadi spt ini ya?
Buat para calon dokter, tolong gunakan ilmu anda untuk menolong sesama yg utama, cari duit nomor 2 lah!
sansanku wrote on Dec 10, '07
semoga si dokter x, mendapat peringatan dari sang pemberi hidup
soliloquium wrote on Dec 10, '07
sedih bacanya... udah sering denger/baca cerita kek gini, dari dulu sampe skrg ada ajah RS & dokter yg matre, mau nolong orang kalo udah dibayar. huhu...

herannya, udah banyak cerita semacam ini masuk media massa, tapi kok tetep masih ada aja ya kejadian kek begini... apa ga ada tindakan? apa ga ada sanksi? apa memang skrg sumpah dokter itu udah berubah jadi: "menolong sesama kalau ada duitnya." ????
dhanidong wrote on Dec 10, '07
turut bersimpati..
klw aja ada polisi khusus pelayanan rumah sakit
mungkin dokter2 dan suster2 itu akan terjerat masalah hukum krn melalaikan pasien..
dan kena sangsi moral krn berkelakuan kampungan
hasiltulisanku wrote on Dec 10, '07
Semoga si dokter segera sadar..bahwa profesi bukan hanya sekedar pangkat/label yang melekat di dirinya.Sepertinya mata kuliah di universitas-universitas juga perlu ditambah dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab....Cepet sembuh buat Wulan.
sya2 wrote on Dec 10, '07
turut prihatin untuk Wulan mbak Ari, semoga lekas sembuh..
Jadi inget dulu Pak Dhe juga pernah dicuekin ,bahkan dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai di RS Cikini, padahal Pak Dhe ku itu seorang dokter bahkan kepala rumah sakit daerah (RSU) Magelang sana. Beliau jatuh dari Kereta jurusan yogya-jakarta karena di rampok, tapi sesampai di Cikini beliau malah dicueki digeletakin di lantai begitu saja .. hiks..
kemana ya hati nurani para dokter itu ??
p3n1 wrote on Dec 11, '07
pengen nempeleng dokter goblok itu, deh! dasar dokter kampret!!! ga ber perikemanusiaan!!!!!

*ngacungin kampak buat dokter itu*
greyskymorning wrote on Dec 11, '07
so much for sumpah dokter or kode etik kedokteran or whatsoever... when it comes to money, even the doctor could turns to be a white-robed-heartless-demon and say "bayar dulu, baru elu gue obatin..."

aduhhh prihatin banget deh ngeliat bangsa ini kalo begini cara kerjanya dokter/rs nanganin orang sakit...

gue link ya, ri...
roelworks wrote on Dec 11, '07
Keseringan playing god ..jadi lupa diri kali, tuh dokter...

Belum pernah di sniper kali, itu dokter...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
Jadi inget isi buku Bahar Azwar yang DEMIGOD itu, tentang dokter bedah...
kutipannya:
Ahli bedah adalah Demigod. Titisan dewata ini diutus Penguasa Semesta Alam turun ke dunia sebagai penyebab kesembuhan. Bersenjatakan sebilah pisau penyembuh, Ropanasuri, ia malang melintang di arena berdarah melawan penyakit, dalam drama yang sudah dimainkan sejak dunia terkembang. Tragedi kadang tak dapat terhindarkan tatkala kuasa serasa mutlak, tawaduk menjadi ria, rasio tercemar dengan rasa serta iringan nyanyian syaitan menyerukan "Engkaulah Tuhan". Disaat itu pula ksatria tergelincir menjadi paria.

...
bgoeritno wrote on Dec 11, '07
Weks!!! Dokter tuh? kayaknya dy blm layak disebut sebagi dokter deh, ga punya rasa kemanusiaan dan pastinya sudah MELANGGAR SUMPAH DOKTER!!! Karena semua dokter di seluruh belahan dunia pasti di sumpah untuk memberikan pelayanan kepada semua lapisan masyarakat baik itu yang kaya maupun yang miskin... Sebaiknya dokter itu dijui kelayakannya sebagai dokter baru diperbolehkan praktek... Tuk Wulan, cepet sembuh.. Gob Bless U Sis...Chayoo!!!
caramelfreeze wrote on Dec 11, '07
boleh gw link ngga neng ?
lovelyina wrote on Dec 11, '07
Mba mending di masukin ke Media aja.. Gak bisa didiemin yang kayak gitu.... Jangan sampe semakin banyak masyarakat yang kehilangan kepercayaan sama profesi dokter.... Plizzz... deh pak dokter... insyaf2....
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
monggo aja di link mba... :)
mudah2an menjadi masukan yang positip buat yang baca, andai ada salah dalam catatan ini, semua tanggungjawab ada pada saya pribadi. Silahkan mba...

untuk tulisan ke media massa, insya Allah hari ini akan dikirim, mba lovelyina...
sedang dimatangkan draft-nya oleh rekan saya mas Tian Arief :)
trims rekans...
pangerans wrote on Dec 11, '07
ungkapan:
Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi 'nggak perlu campur tangan kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan. Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.

itulah yang mungkin menjadi renungan..kita sebagai manusia yang membutuhkan orang lain.....Innallaha Ma'ashobirin....
ajoqu wrote on Dec 11, '07
mb..
tulisannya harusnya dapat menggugah dokter2 yg g berkeprimanusiaan tuh...

*good article...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
hannyks said
bayar 60rb cuma buat diperiksa ga smp 5menit. Mo tanya2 pun ga sempat apalagi mereka sgt jarang memebrikan jwbn memuaskan dan enggan mencerdaskan pasiennya. Mereka hanya tau ngasih obat, dibayar.Selesai.
ya, saya lihat dari dulu memang mayoritas dokter begini mba.. :)
tapi saya juga pernah kog menemukan doker spesialis yang seharusnya saya bayar Rp. 75ribu untuk sesi konsultasi dengan beliau, tapi beliau malah bilang "bayar resep-nya aja di apotik"... mungkin beliau melihat status 'mahasiswa' saya waktu itu, jadi kesian, heheehe... salut untuk dokter yg bersikap demikian :)
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
sya2 said
Jadi inget dulu Pak Dhe juga pernah dicuekin ,bahkan dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai di RS Cikini, padahal Pak Dhe ku itu seorang dokter bahkan kepala rumah sakit daerah (RSU) Magelang sana. Beliau jatuh dari Kereta jurusan yogya-jakarta karena di rampok, tapi sesampai di Cikini beliau malah dicueki digeletakin di lantai begitu saja .. hiks..
kemana ya hati nurani para dokter itu ??
i'm so sorry to hear this mbaaaaaaa...
aku bisa nangis kalo liat orang sakit dianggurin begini apalagi digeletakin aja di lantai...
sekarang gimana keadaan beliau mba?
radenmasrafael wrote on Dec 11, '07
aku ikut berdoa untuk teman mu Wulan, semoga cepat diberi kesembuhan dan kesehatan
>>> "Wulan, cepet sembuh yah...... biar bisa maen bareng lagi ma temen2 mu"
Mb.... yg sabar ya, kita ambil yg positif nya aja. Mengenai sikap dokter yg gak pada tempatnya itu, mending kita lupakan. Mungkin mereka masih punya urusan pribadi, atau memang mereka kurang profesional. usaha mu patut dapet acungan jempol
kamu sahabat yg baik, kita berdoa aja, semoga mereka bisa segera sadar dg sikap nya t\yg kurang profesional, kita memang gak ngerti prosedur nya, tapi kita harus berusaha, hasil kita serahkan pada Allah
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
Alhamdulillah waktu suamiku kecelakaan kemarin, baik pertolongan di RS PKU Muhammadiyah maupun di RS Sardjito ga pakai lama2, bahkan sebelum keluarga datang suamiku sdh ditangani. CT scan juga bisa dilakukan tanpa pembayaran dulu.
iya alhamdulillah ya jeng...
aku prihatin bgt dulu pas jenguk papanya vari, trus sekarang gimana keadaannya, apa operasi plastik masih diperlukan jeng?
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
itulah yang mungkin menjadi renungan..
amin, mas Cepy...
makasih sms-nya baru aja saya terima.
Mudah2an mas Cepy juga selalu dalam lindungan Allah SWT dan mendapat berkah dalam menjalankan tugas di Aceh sana. Tetap semangat mas Cepy!!!
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
ajoqu said
mb..
tulisannya harusnya dapat menggugah dokter2 yg g berkeprimanusiaan tuh...
semoga aja jeng, kita semua menuju ke arah lebih baik
trims ya udah berkunjung ke sini & baca curhatanku ... :)
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
kita ambil yg positif nya aja. Mengenai sikap dokter yg gak pada tempatnya itu, mending kita lupakan. Mungkin mereka masih punya urusan pribadi, atau memang mereka kurang profesional.
sip.
aku juga sedang dalam tahap mencoba mengerti 'why he did that' kog ...
mudah2an juga aku gak tenggelam dalam rasa sakit hati ini aja, hehehe...
masih banyak yang harus dikerjakan selain 'ngurusin hal2 melo terhadap dokter itu :)

btw, sebenarnya saya sama sekali 'nggak kenal Wulan dalam peristiwa ini, hanya mudah2an mulai sekarang kami menjadi saudara, begitu pula dengan rekan2 semua yang mendoakan Wulan di sini... trims banget yah :)
prajuritkecil wrote on Dec 11, '07
teh... postingannya udah sampe di milis sehat tuh...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
weks...
ya gak papa deh, mudah2an aja dampaknya positip...
tapi ya terus terang agak ketar-ketir aja gitu terhadap dampak negatip, hehehe
*trauma trans7*
:p
diniauliya wrote on Dec 11, '07
wah mudah2n dr.wati di milis sehat bs menindaklanjuti...bliau salah satu dokter yg concern dgn pasien2nya...gak seperti kebanyakan dokter
carolinesupit wrote on Dec 11, '07
wah nyesek banget diteriakin dokter kyk gitu, kebanyakan jaga malem apa ya, sampe lupa tugas sebenernya dia jaga malem tu ngapain kalei huhuu
ajaelani wrote on Dec 11, '07
Dulu dan mungkin sampai hari ini masih banyak anak - anak kecil bercita - cita jadi Dokte. Alasannya untuk menolong orang sakit. saya yakin si dokter itupun dulu berkata seperti itu. INGIN MENOLONG YANG ORANG SAKIT.....

Coba liat betapa banyak orang miskin yang sakit terlantar di RS**, Rumas sakit terbesar di Indonesia dan menjadi rujukan rumah sakit lainnya.

Saya ingat waktu emak saya masuk ruang UGD dari jam 09.00 s/d 11.00 dibiarkan tergolek tanpa penanganan yang berarti. bahkan ada seorang pasien yang tidak ada keluarganya dan perlu pemeriksaan darah. sampel darahnya dibiarkan tergeletak di meja reseptionis oleh perawat setelah perawat tersebut memanggil keluarga pasien tersebut tidak ada yang datang.

fmpx wrote on Dec 11, '07
Yang menjadi kesulitan adalah kasus begini kalau mau dituntut ke pengadilan HARUS ada rekomendasi dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan biasanya selalu berakhir dengan "pembelaan" dari IDI atas alasan "kehormatan" profesi kedokteran.
fitriayu wrote on Dec 11, '07
nulis di blog untuk sharing sebagai pengalaman & masukan buat orang lain
atau
nulis di media massa yang maksudnya mungkin baik, tapi ntar kesannya gue pengen bener ngejatuhin nama baik tu dokter & rumah sakit. Dan itu memang bukan tujuan gue.
Masukin aja mba, tujuannya buat pembelajaran dan mengingatkan para dokter dan petugas medis lainnya terhadap tanggungjawab yang diemban. Susah sih kalo motivasi jadi dokter karena pengen pendapatan besar, bukan karena naluri hati nurani.
Di update lagi ya mba perkembangan Wulannya. Pengen nyamperin dokternya deh, RSnya deket nih.. pengen mendaratkan bogem mentah rasanya..
brotherihda wrote on Dec 11, '07
maaf nih..bukannya memprovokasi,,menurutku lebiiih baik mbuat artikel ini di media.dengan semua sisi yg terselubung,biar g langsung mengarah.jadi tujuannya biar masyarakat luas tahu sisi dunia kesehatan kita...
yah kayak di surat pembaca aatau rubrik opini gitu...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
iya iya... sabar ya...
ini sedang dalam proses...
fitriayu wrote on Dec 11, '07
langsung bangkit dan menghilang ke arah UI...
Mba rumahnya di depok tho? Salam kenal ya.. Tetangga kita..
fetryz wrote on Dec 11, '07
*speecless
kikisrirezeki wrote on Dec 11, '07
Mbak, apa saya boleh meneruskan tulisan ini buat sahabat saya yg hampir jadi dokter?
Sekadar mengingatkan..
Minta izinnya..
brotherihda wrote on Dec 11, '07
sabar.......sabar.....hadapi....perbaiki....
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
Mba rumahnya di depok tho? Salam kenal ya.. Tetangga kita..
halo jeng salam kenal juga :)
iya nih depokers kita hehe...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
Mbak, apa saya boleh meneruskan tulisan ini buat sahabat saya yg hampir jadi dokter?
Sekadar mengingatkan..
Minta izinnya..
monggo aja jeng :)
pudz426 wrote on Dec 11, '07
ini bener bener serius, gw turut prihatin
fitriayu wrote on Dec 11, '07
mba ada titipan pertanyaan (maklum si mas ini males bikin multiply):
"mbak maaf, mau tanya lebih detail, ingat gak nama dokternya ? atau tampangnya deh , atau ciri2 khususnya, saya greget, saya tau RS itu, kayaknya saya perlu datangin segera d, dia kan sudah memperlakukan manusia bukan seperti manusia, apalg yg sedang kesusahan, saya mau *********** sama dokter itu biar dia ngerasa gmana rasanya dipandang bukan sebagai manusia, mbak tinggal tunggu aja beritanya, deket kok dari rmh saya, tolong yah mbak segera kasih tau ciri2nya, tks, saya tunggu segera"
aranolein wrote on Dec 11, '07
ikut sedih, mudah-mudahan si dokter insyaf ya, dia udah salah besar bentak2 seperti itu..
uychan wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
agamanya apa ya?
ah rasa kemanusiaan kayaknya diajarkan oleh semua agama deh

ko jadi membandingkan dengan dokterjepang ya
yang sama sekali gak mengenal tuhan

ada kejadian, seorang TKW di jepang, lagi kerja dan mengalami kecelakaan kerja
saat itu dia gak masuk asuransi karena memang sebentar lagi mau pulang ke indonesia
tapi sayang dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kepalanya tertembus paku atau apa lupa
yang nolong hanya mahasiwa2 ina di sini
tapi kebayang kan mahasiswa dapet duit dari mana
akhirnya kita nego dengan dokter yang nanganin gadis itu, bilang semua kondisi ekonomi si gadis
dan tau gak si dokter jepang ini bilang apa?
'SAYA YANG TANGGUNG SEMUA BIAYA, YANG TERPENTING KITA HARUS MENYELAMATKAN GADIS INI'
kalo bisa tolong forward cerita ini ke dokter sialan yang menelantarkan wulan
biar dia mikir, tuk nyopot tuh jabatan dokternya
* gila, panas gue boo.... pengen nempeleng *

walopun mungkin si dokter lagi capek karena jaga malem, tapi seharusnya dia punya cara untuk menenangkan pasien atau keluarga pasien
kayaknya perlu sekolah lagi tuh dokter
^^

dia gak ngerti konsep sedekah apa ya...
dengan menolong orang yang kesusahan kan dia bisa dapet balasan baik di dunia yang pasti di akhirat kalo dia ikhlas

padahal dokter itu adalah lahanyang paling pas buat banyak2 sedekah
walopun memang jadi bingung saat dia butuh uang buat dirinya atau keluarganya ya
hehehe...
pinkq wrote on Dec 11, '07
Samperin lagi deh tuh dokter rame2... datengin kepala rumah sakitnya....kasih deh ni cerita..mereka pasti gak bisa berkutik kalo kita dateng2 rame2, mulai dari profesi dokter, wartawan, dll... BIAR KAPOK sekalian...

kalo gak mempan juga, sekalian aja bawa Orang Media yang investigasi... GILA BANGET SIH DOKTER ITU !!!!!.....

POKOKNYA TU DOKTER HARUS TERIMA AKIBATNYA DENGAN BERKATA " BUKAN URUSAN SAYA!!!!" ...

pada setuju gakkk ???? ini kan juga demi nama baik dokter2 yang lain yang baik2,....

***Sigh...pala gw ampe sakit baca ini***

semoga Wulan bisa sembuh seperti sediakala
blogari wrote on Dec 11, '07
nuwun sewu, mbak sri
di link ya?
meeaoktav wrote on Dec 11, '07
yang sabar yach mba ... sedih and murka bacanya mba :(
kobebintang wrote on Dec 11, '07
dokter weduzzzz,,kaya ginilah klo dokter kuliahnya nyogok trus udah keluar dari kampus busuk jadinya dokter yg busuk dan ga punya perasaan, punyanya otak udang *eh salah, otak uang...!!!!!
ceritaacha wrote on Dec 11, '07
njit. gila tuh rumah sakit. cepat atau lambat balasannya akan sampai pada orang-orang yang bertindak nista seperti itu

*sorry tiba-tiba komen kasar*

salam kenal mba :D
angelamicin wrote on Dec 11, '07
gue bisa mengerti prasaan mbak, karena gw juga pernah dibuang kesana-kemari untuk ct-scan...kayaknya mayoritas di indo, dana musti diduluin walupun pasien dah sekarat....mudah-mudahan masih banyak dokter-dokter dan rumah sakit yang berperikemanusiaan....

salam kenal mbak Sri...
suwargana wrote on Dec 11, '07
emang dokter itu bisa ngobatin dirinya sendiri apa?/?/??/???/
coba deh kalo dianya yang bonyok emang dia bisa ngejait kepalanya sendiri...................
mungkin dia bukan manusia
tapi setan yang ngejelma manusia
nawhi wrote on Dec 11, '07
semoga Wulan lekas sembuh, Amin.
dan si dokter bisa lebih berempati pada pasien2nya.
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
mba ada titipan pertanyaan (maklum si mas ini males bikin multiply):
"mbak maaf, mau tanya lebih detail, ingat gak nama dokternya ? atau tampangnya deh , atau ciri2 khususnya, saya greget, saya tau RS itu, kayaknya saya perlu datangin segera d, dia kan sudah memperlakukan manusia bukan seperti manusia, apalg yg sedang kesusahan, saya mau *********** sama dokter itu biar dia ngerasa gmana rasanya dipandang bukan sebagai manusia, mbak tinggal tunggu aja beritanya, deket kok dari rmh saya, tolong yah mbak segera kasih tau ciri2nya, tks, saya tunggu segera"
weleh...
jangan emosi mba...
saya sendiri terus terang menyesal ga bisa mengetahui nama dokter tsb,
waktu setelah kejadian saya cari nametag-nya ga keliatan, entah dicopot atau memang tida terpasang sebelumnya... jujur ingin sekali saat itu memotret tampak depan wajah beliau saat berada dekat pasien, bahkan pingin saya cari dan obrak-obrik mejanya untuk cari nama beliau, tapi ternyata naluri saya lebih memilih untuk tidak cari gara-gara demi wulan, kesian juga dia kalo saya sampe cari gara-gara disitu hehe...

tapi sepertinya kalau saya dihadapkan lagi dengan beliau, insya Allah mengenali. Sperti terlihat dari tampak belakang dalam foto pertama, beliau terlihat agak tinggi, seingat saya berkacamata, wajah menarik (ehm), logat sepertinya tida mudah dilupakan, dan... yang pasti laki2 hehe...

hmmm... ga usa didatengin mba, nanti kita bisa berurusan dengan hukum, berabe hehe...
pudz426 wrote on Dec 11, '07
wajah menarik (ehm), logat sepertinya tida mudah dilupakan, dan... yang pasti laki2 hehe...
ganteng? hihihihi...

jangan jangan logat jawa medok dia..
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
tentunya kurang etis membicarakan masalah SARA disini hehehe...
lancangkuning wrote on Dec 11, '07
sepintas mirip Aa Gym lho...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
gue bisa mengerti prasaan mbak, karena gw juga pernah dibuang kesana-kemari untuk ct-scan...kayaknya mayoritas di indo, dana musti diduluin walupun pasien dah sekarat....mudah-mudahan masih banyak dokter-dokter dan rumah sakit yang berperikemanusiaan....

salam kenal mbak Sri...
halo, salam kenal juga :)
im so sorry to hear that, ttg pengalaman di rs juga...
semoga rs di indonesia bertambah baik pelayanan-nya ya...
terutama dokter spt diatas berkurang jumlahnya :)
lancangkuning wrote on Dec 11, '07
dan... yang pasti laki2 hehe...
ah, nggak mungkin dia laki-laki. laki-laki itu biasanya lembut terhadap wanita. ini malah membentak wanita, yang kesusahan pula. huh!
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
nggak mungkin dia laki-laki.
wah nda tau juga hehe.. penampakan nya seh begitu...
lancangkuning wrote on Dec 11, '07
Episode UGD: Bukan Urusan Saya...
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mudah-mudahan selanjutnya "Episode Pengadilan" tuh dokter...
roelworks wrote on Dec 11, '07
gak bakal... biar Tuhan yang balas...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
hus
karpetbiru wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
Kata Mario Teguh, doa orang teraniaya didengar Tuhan, daripada kita sibug cari cara..toh si dokter untouchable...jadi sampai ketemu di Pengadilan Akhirat!
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
dani neh... betul tuh apa kata roelworks...
biar aja yah...
hasriw wrote on Dec 11, '07
Sumpah kedokterannya cuman dimulut doank yach...edan tenan dokter-e
30 menit bukan waktu yang sebentar...
Apa mungkin keadaan Wulan sekarang dikarenakan telat penanganannya....?????????
Benar-benar ikut prihatin!!!!!!!!!!!!!!! Insyaallah Wulan segera sembuh.
Salam Kenal...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
halo, salam kenal juga mas,
sabar... bila nanti ada waktu saya juga ingin jenguk wulan untuk melihat sendiri bagaimana keadaannya, dan akan saya share dengan rekan2 disini semua... saat ini saya belum dapat jenguk dan melalui telepon pun belum bisa mewakili visual terpercaya. Sabar yah...
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
pinkq said
Samperin lagi deh tuh dokter rame2... datengin kepala rumah sakitnya....kasih deh ni cerita..mereka pasti gak bisa berkutik kalo kita dateng2 rame2, mulai dari profesi dokter, wartawan, dll... BIAR KAPOK sekalian...

kalo gak mempan juga, sekalian aja bawa Orang Media yang investigasi... GILA BANGET SIH DOKTER ITU !!!!!.....
sabar...
kalo kita kesana yang ada kita yang ditangkep hehehehe...
dianggep trespassing daerah orang, bikin onar pulak...
kita serahin Yang Di Atas aja gimane mpok?
dhikacats wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
Jadi inget lagi iwan fals yang ambulan zig-zag! salam kenal ya...minta izin aku link ya...
gidigidi wrote on Dec 11, '07
sabar, sabar semuanya...dokter juga MANUSIA....dia bisa salah, khilaf, lupa atau sedang terhimpit masalah yang lebih besar...sekali lagi, ia juga manusia....kesalahannya, biarlah Yang Maha Adil yang menghakiminya.....
ariamangunkusumo wrote on Dec 11, '07
pantesnya itu dokter dibinasakan..
onit wrote on Dec 11, '07
nimbrung komentar ya mbak..

setelah baca cerita ttg dokter jepang dari uychan di atas,
dan juga cerita ttg manajemen rumah sakit yg buruk oleh dokter aggiechan di atas..

kapan yah ugd di indo bisa seperti di pilem ER? hmm..
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
dokter juga MANUSIA....dia bisa salah, khilaf, lupa atau sedang terhimpit masalah yang lebih besar...
untuk perlakuan beliau yang sudah membentak2 saya,
saya rasa sudah dimaafkan dan mulai berusaha saya pahami "why he did that"...
walau (tidak) mungkin sepenuhnya dilupakan, u know lah, saya hanya manusia biasa... :)

namun perlakuan terhadap pasien dengan tidak langsung mengambil tindakan medis melainkan menunggu saya membayar penuh terlebih dahulu, walau sudah saya tawarkan membayar sebagian namun ditolak, itu yang saya pertanyakan disini, dan mudah2an ada respon dari yang berwenang.

sudah semestinya setiap manusia mempunyai hak hidup sama, entah itu gelandangan atau presiden, bahkan dokter, 30 menit keterlambatan penanganan bukan berarti tidak berpengaruh pada hidup anak itu.

salam,
piscesar wrote on Dec 11, '07
aku yakin ini adalah sekelumit kejadian yang mampu terurai...
aku yakin masih banyak lagi kejadian2 yg lebih parah dari kasus wulan ini.
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
absolutely yes there were many... many...
dan kebetulan saja para pasien yang diperlakukan lebih buruk itu berada pada posisi lemah bersuara dengan berbagai faktor...
aggiechan wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
mmm inilah yang saya takutkan,...karna nila setitik rusak susu sebelanga...
karena kelakuan dokter rs tersebut seperti ini,..kami para dokter yg lain pun merasakan akibatnya juga mbak...

ada baiknya bila hal ini di angkat ke media,..karena lewat media akan lebih cepat masuk ke IDI dan konsil kedokteran..

sekali lagi saya tidak bermaksud membela dokter gila tersebut...namun saya hanya menjaga, dan ingan meluruskan bahwa tidak semua dokter seperti itu

bila anda bertanya sedemikian parah dan bobrokkah institusi dan pendidikan dokter indonesia? saya hanya bisa menjawab ya dan tidak....karena memang bobrok,..namun tidak di semua sisi

kelakuan dia membentak anda itu meang sudah di luar jalur mbak,...seharusnya ia bisa menerangkan baik baik, apa alasannya,..seandainya saja ia menerangkan alasan kenapa tindakan selanjutnya bisa di tunda, dalam artian kondisi
pasien sudah stabil baik dai keadaan umum , tekanan darah dan klinis lain, sehingga tindakan pemeriksaaan lain bisa di tunda menunggu keluarga pasien misalnya...pasti tidak akan terjadi hal seperti ini....

sepengetahuan saya,..para dokter di didik untuk selalu bicara sopan dan halus penyampaiannya, walaupun si penunggu pasien bersikap sangat tidak sabar, mungkin karena panik, atau sok tahu, merasa lebih tahu tentang proses life saving atau hal yg wajar di lakukan oleh penunggu yg sudah kalap karena musibah...

namun benar kata teman teman,...mungkin si dokter lagi ada masalah,..dan tidak bisa mengontrol emosi nya saat berhadapan dengan penunggu pasien, atau memang itu sudah sifat dasarnya,..i don't know


srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
sebagaimana beberapa kali saya jelaskan,
sebenarnya satu2nya yang menjadi keberatan saya adalah...
perlakuan terhadap pasien dengan tidak langsung mengambil tindakan medis melainkan menunggu saya membayar penuh terlebih dahulu, walau sudah saya tawarkan membayar sebagian namun ditolak, itu yang saya pertanyakan disini, dan mudah2an ada respon dari yang berwenang...

mengenai masalah membentak2 saya, insya Allah saya sudah maafkan, berusaha mengerti, tapi tidak melupakan...

30 minutes before first medical treatment...
bukan tanpa arti untuk pengaruh hidup gadis itu...
demikian kiranya jeng aggie... :)
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
masih jelas terekam dalam ingatan...
bagaimana ketika akhirnya para dokter (kecuali dokter X) kalang kabut bersama perawat mengerumuni Wulan, dan akhirnya melakukan pembersihan luka, pencukuran rambut (inipun masih tanya ke saya apakah punya alat cukur rambut? whatttt??? do i use it and bring it daily to everywhere???) dan AKHIRNYA penjahitan luka...

itu semua dilakukan setelah melewati episode kacau tersebut...

bukan saat korban tiba di ruang UGD...
aggiechan wrote on Dec 11, '07
mungkin :
1. karna dokternya dulu waktu milih profesi bukan karna ingin menolong sesama, cuman pingin nyari duit (biaya dokter kan mahal)
2. karna terlalu sering lihat orang sekarat dan meninggal, membuat dia jadi terbiasa dan cuek akan perasaan orang2 yang akan atau sudah ditinggalkan
3. hanya dia dan tuhan yang tau kenapa dia "bisa" bersikap seperti itu
2. karna terlalu sering lihat orang sekarat dan meninggal, membuat dia jadi terbiasa dan cuek akan perasaan orang2 yang akan atau sudah ditinggalkan

waah serem dansadis nih pak,...karena sampai saat ini saya tidak bisa tidur kalau ada pasien yg meninggal,..dan tidak akan pernah terbiasa...walau saya menyembunyikan air mata namun kami juga punya hati lo pak :)
aggiechan wrote on Dec 11, '07
halo jeng, trims atas respon terhadap kasus ini.
senang sekali dikunjungi jeng pribadi di sini... :)

dalam peristiwa ini, dokter jaga yang menangani pasien hanya menyarankan pasien dirawat saja, tidak menanyakan atau menyarankan tentang konsultasi kepada bedah syaraf. Sebenarnya saya sendiri mau nanya tentang apa ada kemungkinan dipanggilkan dokter bedah syaraf dengan kondisi luka seperti itu, tapi ya lagi2 semua berkembang begitu cepat berkelebat, yang bekerja hanya otak saya tapi mulut saya juga susah merespon untuk dengan tanggap bertanya seperti itu. Mungkin juga dikarenakan harus cepet2 ini dan itu dalam waktu singkat...
hmm ini kasus yg aneh,...biasanya CKR (cedera kepala ringan) saja bila disertai mual , muntah dan bengkak hematom > 5 cm pasti saya saran rawat dan konsul bedah syaraf karena ini sudah diluar kemampuan dokter ugd....

apa lagi sudah ada pernyataan penanggung finansial...ini parah....
karena bila sudah ada penganggung yg bertandatangan , harus segera di lakukan tindakan lanjutan

memang susah bila terjebak dalam situasi seperti itu mbak...kadang kita pun sulit untuk berpikir jernih.
aggiechan wrote on Dec 11, '07
tentu tidak jeng...
sebagaimana saya tulis juga diatas, bahwa diluar semua perlakuan minus dari dokter tersebut, saya juga berterimakasih, bahwa pada akhirnya dilakukan tindakan cepat terhadap wulan, walaupun harus melalui episode ancur2an begitu... :)

dan saya juga banyak kog melihat rekan2 dokter yang masih berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan, seperti rekan berprofesi dokter yang tidak mau dibayar oleh yang tidak mampu, mau memberikan konsultasi gratis kepada pasien di luar jam kerja, dll... termasuk seperti jeng ini :)
mudah2n memang masih ada lebih banyak lagi yang seperti itu...
:)
aggiechan wrote on Dec 11, '07
sebagaimana beberapa kali saya jelaskan,
sebenarnya satu2nya yang menjadi keberatan saya adalah...
perlakuan terhadap pasien dengan tidak langsung mengambil tindakan medis melainkan menunggu saya membayar penuh terlebih dahulu, walau sudah saya tawarkan membayar sebagian namun ditolak, itu yang saya pertanyakan disini, dan mudah2an ada respon dari yang berwenang...

mengenai masalah membentak2 saya, insya Allah saya sudah maafkan, berusaha mengerti, tapi tidak melupakan...

30 minutes before first medical treatment...
bukan tanpa arti untuk pengaruh hidup gadis itu...
demikian kiranya jeng aggie... :)
:) maaf tadi saya tidak begitu menyimak ceritanya :)

ya hal ini pun membuat saya bertanya tanya mbak...karena seharusnya begitu ada kesanggupan dari pihak pembawa pasien,..biasanya langsung di siapkan infus serta pembersihan luka serta konsul bedah syaraf...

dokter yang aneh....
aggiechan wrote on Dec 11, '07
iya, tentu saya juga mempertimbangkan pemikiran dokter tsb yang harus patuh dengan manajemen RS jeng... hal tsb bisa terlihat dari dialog2 saya dengan dokter & paramedis terkait...
tapi dalam hal ini yang dipersoalkan adalah sikap dokter tsb dalam berkomunikasi dengan "keluarga pasien" dan respon-nya terhadap pasien yang sama sekali tidak ada tindakan sejak pasien 'teronggok' di bed UGD (pegang-pegang, ngasi formulir, nyuruh saya ke radiologi, nyuruh saya mondar-mandir, bentak-bentak) tapi pasien sama sekali tidak dibersihkan, dicukur rambut, luka di jahit, dll... sedangkan saya dan rekan2 waktu di rumah aja udah kuatirnya setengah mati ini wulan bakal mati apa engga, sejak diketahui ternyata lukanya ada di kepala, ditambahlagi dengan muntah2 hebat.

sebagai orang awam, tentu kekwahatiran semacam ini wajar, dan ketika berusaha mencoba sabar melihat pasien tidak ditindak walaupun keluarga sudah berusaha mondar-mandir ngurus, tentu ini menjadi semacam tragedi yang miris di mata kami... apalagi kami sudah berusaha meyakinkan menjadi penjamin, bahkan bersedia membayar sebagian... namun respon yang ada? apakah layak sebagai seorang pribadi dokter?

begitu kiranya...
setelah saya baca kembali...memang ada yg aneh mbak,..jadi setelah ada keterangan pernyataan dari mbak, tetap tidak di ambil tindakan?

sedari tadi saya memang belum menyinggung masalah belum di berikan tindakan..karena,
setahu saya bila keadaan pasien stabil, tindakan yg bisa di lakukan adalah pembersihan luka, itu yg pertama
dan saya tidak tahu apa yg membuat si dokter bisa menunda...apa karena pasien stabil, atau ada sebab lain

saya pun tidak bisa memvonis karena tidak berada disana,..namun yang aneh adalah bila sudah ada kesanggupan biaya, mengapa tidak di tangani?...kayaknya hanya si dokter yang tau deh....
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
paling tidak,...
saya sudah meminta maaf kepada para rekan berprofesi dokter dan berulang kali memikirkan sebelum mempablis jurnal ini untuk everyone, segala efek negatif & positif yang mudah2an bisa menjadi masukan pengalaman & persiapan rekan2 bila menghadapi situasi serupa, daripada menjadi ladang kecaman terhadap profesi dokter ini...

Sekali lagi, saya tegaskan...
penulisan pengalaman dalam blog ini bukan bertujuan untuk menjadi ladang cacimaki terhadap profesi dokter, namun saya tidak dapat membatasi pemikiran apapun dari pembaca akibat membaca tulisan ini. Hanya bila ada yang mulai dengan reply di luar batas, yang mampu saya batasi keberadaannya dalam blog ini...

Semoga dimaklumi :)
aggiechan wrote on Dec 11, '07
masih jelas terekam dalam ingatan...
bagaimana ketika akhirnya para dokter (kecuali dokter X) kalang kabut bersama perawat mengerumuni Wulan, dan akhirnya melakukan pembersihan luka, pencukuran rambut (inipun masih tanya ke saya apakah punya alat cukur rambut? whatttt??? do i use it and bring it daily to everywhere???) dan AKHIRNYA penjahitan luka...

itu semua dilakukan setelah melewati episode kacau tersebut...

bukan saat korban tiba di ruang UGD...
aneh,..sangat aneh....karena sepengetahuan saya alat pencukur bulu selalu tersedia di UGD dalam keadaan baru, dan selama saya bekerja di UGD tidak pernah sekalipun saya minta penunggu membelikan alat pencukur atau alat lainnya selain mungkin teh manis hangat dan air mineral ( untuk pasien tertentu)

semua alat untuk membersihkan luka dari yang tidak steril sampai yg steril harus ada di UGD....saya bingung sendiri kalo ada rs yg begitu...
rainychan wrote on Dec 11, '07
Gitu juga waktu kakakku sakit, dokternya nggak ngasih informasi yg memadai. Kalo ditanya nggak mau njelasin. Seakan2 kita dianggap orang bodoh yg kalo dijelasin juga nggak ngerti
padahal GAK boleh gitu lo mbak,
salah satu TUGAS dokter itu
mengEDUKASI pasien dan keluarganya

paling tidak itu sih yg Ren tau (dari adikku >.<)
aggiechan wrote on Dec 11, '07
paling tidak,...
saya sudah meminta maaf kepada para rekan berprofesi dokter dan berulang kali memikirkan sebelum mempablis jurnal ini untuk everyone, segala efek negatif & positif yang mudah2an bisa menjadi masukan pengalaman & persiapan rekan2 bila menghadapi situasi serupa, daripada menjadi ladang kecaman terhadap profesi dokter ini...

Sekali lagi, saya tegaskan...
penulisan pengalaman dalam blog ini bukan bertujuan untuk menjadi ladang cacimaki terhadap profesi dokter, namun saya tidak dapat membatasi pemikiran apapun dari pembaca akibat membaca tulisan ini. Hanya bila ada yang mulai dengan reply di luar batas, yang mampu saya batasi keberadaannya dalam blog ini...

Semoga dimaklumi :)
:)

saya hanya gerah,.... membaca artikel ini dan opini dari teman teman yg lain yg begitu panas nya seperti hubungan malaysai-indonesia
memang anda menulis dengan fair..:) saya menghargainya kok ( maaf baru sempet bilang :))


Sekali lagi, saya tegaskan...
penulisan pengalaman dalam blog ini bukan bertujuan untuk menjadi ladang cacimaki terhadap profesi dokter, namun saya tidak dapat membatasi pemikiran apapun dari pembaca akibat membaca tulisan ini. Hanya bila ada yang mulai dengan reply di luar batas, yang mampu saya batasi keberadaannya dalam blog ini...

Semoga dimaklumi :)


yah,..saya mereply tulisan ini juga karena saya merasa bekerja sebagai dokter UGD, dan sebagian dari kami masih melakukan pekerjaan ini dengan dedikasi.
saya sendiri berusaha melakukan sesuai prosedur karena saya pun tidak mau di tuduh malpraktek, atau tidak berprikemanusiaan.
so saya pun berusaha agar teman teman yg lain selain anda yang mungkin emosinya sangat tinggi agar tidak merespon dgn memvonis semua dokter indo sama kelakuannya seperti dokter "sinting" anda mbak...

harap di mengerti

aggiechan wrote on Dec 11, '07
padahal GAK boleh gitu lo mbak,
salah satu TUGAS dokter itu
mengEDUKASI pasien dan keluarganya

paling tidak itu sih yg Ren tau (dari adikku >.<)
sampai sekarang ,..jujur saja masih banyak dokter yg seperti ini,..namun, Mengetahui diagnosis adalah HAK pasien dan KEWAJIBAN dokter untuk menjelaskan...yah sekarang butuh dua pihak ,..si dokter lebih terbuka dan menjelaskan rinci,..dan si pasien yg jeli, bertanya tentang penyakitnya
withri wrote on Dec 11, '07
Bisa jd bahan pembelajaran bwt semua pihak nih..
Dan Wulan jg semoga cepat sembuh ya....

(bwt mbak sri,salam kenal...thanx for sharing...)

rainychan wrote on Dec 11, '07
mbak anggie, Ren tidak bilang sekarang ini dokter TIDAK melakukan itu!
Ren bilang "dalam kasusnya Mbak larassejati" harusnya gak boleh gitu....
ya gak?
hampir sepuluh tahun lo....

sepuluh tahun bukan waktu yg sebentar bukan?(bisa di liat langsung di reply-nya)

Ren juga merasa "perlu" kok kita memanusiawikan Dokter
yg bisa salah, bisa khilaf,yg juga punya semua hal terbaik dan terburuk yg ada pada diri manusia
:)

makanya kalo "hanya" tidak bisa mengedukasi dan memberi informasi, dalam jangka waktu "proses" penyembuhan yg "relatif" sebentar. Ren yakin, sangat bisa di tolerir.Sama2 ngerti, dan sama2 bisa bertenggang rasa kok antara dokter dan pasien
Ren yakin, MASIH banyak kok orang2 yg mempunyai KEBESARAN HATI seperti itu ;)

Tapi kalau dalam jangka waktu segitu lama?
mbak sendiri pasti "merasa" ada yg salahkan?

if there is a missing link,
bukannya dah tugas kita untuk sama2 mencari tau dan memperbaikinya?
Bukankah, Prestise dan kebanggaan seorang dokter sudah saatnya dibalikkan lagi ke tempatnya?
Kalau bukan untuk menolong, membantu manusia lainnya...apalagi kebanggaan seorang dokter?
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
saya hanya gerah,.... membaca artikel ini dan opini dari teman teman yg lain yg begitu panas nya seperti hubungan malaysai-indonesia
memang anda menulis dengan fair..:) saya menghargainya kok ( maaf baru sempet bilang :))
terima kasih sekali jeng aggiechan,
atas pengertian anda atas keseluruhan isi tulisan saya...
sebenarnya saya sangat berharap ada lebih banyak lagi pandangan dari rekan-rekan sesama dokter seperti jeng aggie, atas kasus ini... agar saya sendiri juga mempunyai masukan, serta pengetahuan mengenai kasus ini. Ini juga demi menghindari kesalahpahaman (bila ada) saya atas tindakan yang mungkin terjadi di ruang UGD tersebut...

dan sebenarnya yang paling saya mimpikan dalam kasus ini adalah,
i wish there was a recorder in that room...
hehehee...

paling tidak, kalau ada kemungkinan terburuk akibat penulisan kasus ini dalam blog saya (seperti tuntutan pencemaran nama baik rs / dokter) dan tiba2 saya nanti diseret ke pengadilan (weleh) saya bisa membela diri dengan rekaman tsb, hahahaha...

yah... memperhitungkan kemungkinan terburuk...
*fiuh*
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
saya sendiri berusaha melakukan sesuai prosedur karena saya pun tidak mau di tuduh malpraktek, atau tidak berprikemanusiaan.
saya sangat menghargai ini...
dan berharap semua dokter di Indonesia, tanah air tercinta saya ini, juga melakukan hal yang sama dengan jeng aggie... amiiiinnnn :)
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
withri said
(bwt mbak sri,salam kenal...thanx for sharing...)
halo jeng withri,
salam kenal juga, dan trims berat udah mampir baca curhatanku :)
enkoos wrote on Dec 11, '07
Masya Allah. Semoga dokter tak bernurani tsb diberi cahaya dan dibukakan pintu hatinya.
Mbak Ari, salam kenal ya. Postingannya aku link ya, biar makin banyak yg tersentuh.
Dokter geblek tsb perlu diberi pelajaran.
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
Kalau bukan untuk menolong, membantu manusia lainnya...apalagi kebanggaan seorang dokter?
sepertinya akyu sepakat dengan ini...
tidak hanya dokter aja, tapi khususnya dalam kaitan profesi, tentu saja semestinya demikian... :)
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
halo enkoos,
salam kenal juga ya...
trims bgt udah mampir baca2 curhatanku :)
rainychan wrote on Dec 11, '07
paling tidak, kalau ada kemungkinan terburuk akibat penulisan kasus ini dalam blog saya (seperti tuntutan pencemaran nama baik rs / dokter) dan tiba2 saya nanti diseret ke pengadilan (weleh) saya bisa membela diri dengan rekaman tsb, hahahaha...

yah... memperhitungkan kemungkinan terburuk...
*fiuh*
huuuueeeeee.......!!!!!
kemungkinan yg terburuk banget tuh teh

hopefully, dokternya sadar aja
kemarin melakukan kesalahan
dan kedepannya bisa lebih baik lagi memperlakukan
pasien, keluarga pasien, ato orang2 yg "membawa" pasien!
Amin......

dan dokter2 lain yg ngebaca tulisan teh Ari, paling gak "merasa"
AKU gak boleh jadi dokter yg kayak gitu...
:))
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
hopefully, dokternya sadar aja
kemarin melakukan kesalahan
dan kedepannya bisa lebih baik lagi memperlakukan
pasien, keluarga pasien, ato orang2 yg "membawa" pasien!
Amin......
amiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnn
jrdd wrote on Dec 11, '07
MasyaAllah.. Bude meninggal dulu juga krn "duit yg belum dateng", aku ga bisa apa2 krn jauuhh.. tp yg disana juga ga bisa apa2 krn dokter2nya hrs ngeliat duit dulu.. hhh.. kalo akunya dulu disana.. *angan2 aja* udah lewat deh.. smoga ga terjadi lagi.. msh tetap2 deg2an kalo ada yg sakit/celaka di Jakarta.. Allah yg nentuin deh.. pasrah.. apalagi??
srisariningdiyah wrote on Dec 11, '07
jrdd said
Bude meninggal dulu juga krn "duit yg belum dateng",
innalillahi...
mudah2an ga ada lagi yg kaya gini... :(
dayoeng wrote on Dec 11, '07
gilaaa...tuh dokter stress apa??
rasanya di fakultas kedokteran harus ditambahkan mata kuliah kemanusiaan dan sosial deh...
biar tahu..jadi dokter itu gak asal meriksa orang terus dapet duit..
sumpe gila tuh dokter...hehe..
rosmaida wrote on Dec 11, '07
semoga wulan cepat sembuh , tuh dokter dah gile kali yaaaaaaa
abusyamil wrote on Dec 11, '07
kok tega yah dokter yang terhormat bilang seperti itu.
RS seakrang sudah menjadi lembaga profit
Semoga wulan cepat sembuh
roelworks wrote on Dec 11, '07
Mari kita menyanyikan lagu Andra and the back bones :"Lagi ...dan Lagi ..."

"akuuu memang salaaah, aku memaaaang hinaa....maafkan,lah untuk semuaaaa"
passwordnyauddin wrote on Dec 11, '07
ya Allah.. jahat banget sih tu dokter..
nyokap gue jg dokter, tapi seumru hidupnya gak pernah dia gituin orang!
ih! itu melanggar salah satu sumpah hipokrates kaaaaannnnnn?????
bego bego bego!
dasar dokter gila!
riava87 wrote on Dec 11, '07
bukan cuma di RS tersebut di atas dokter berbuat demikian,, temen gw yang sakit parah karena kelainan darah ga dapat penanganan apa-apa di salah satu RS besar di Jkt. akhirnya temen gw berobat ke luar negeri dan menghindar berobat di negara sendiri... ckckckck,,, kenapa dokter bisa berbuat sekejam itu ya???


sabar ya wulan semoga wulan cepat sembuh....
andidelarocha wrote on Dec 11, '07
waah
ardhanamesvari wrote on Dec 11, '07
apa operasi plastik masih diperlukan jeng?
kayaknya enggak deh mbak, memang bekasnya kliatan bgt sih yg di pipi, tp kata orang malah tambah macho, ya sudah, ga usah operasi :)
ma kasih utk perhatiannya yaa...
piscesar wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
instansi kedokteran merupakan instansi pelayanan publik...
kita sebagai pasien (kebetulan saya bukan dokter), berhak tau apa yg terjadi pada diri pasien
dan dokter...ahlinya untuk menguraikan apa yg terjadi...

pasien tidak perlu tahu apa yg terjadi pada dokter dan ngga perlu tau apa yg dokter sedang alami....
kami hanya tau...dokter yg akan menyembuhkan kami...

secara sadar atau tidak, dokter dituntut untuk menolong sesama...
tidak terbatas ruang dan waktu...siang, malam, pagi dll. itulah yg kita fahami ttg dokter.

jadi...jangan ada kata2
- MUNGKIN DOKTERNYA SEDANG ADA MASALAH
- MUNGKIN DOKTERNYA BARU AJA CERAI DENGAN ISTERINYA
- DOKTER JUGA MANUSIA
- DLL

kami sebagai pasien pun berhak berkata ITU BUKAN URUSAN SAYA
kami datang...dan tolong kami...karena anda dokter....itu pekerjaan anda...itu resiko anda
itulah yang kami fahami

dalam dunia manajemen, ada yang disebut Risk Management atau manajemen resiko
untuk pekerjaan sebagai dokter, probabilitas kesalahan adalah 0% karena menyangkut nyawa manusia

pesan:
jadilah dokter yang manusia
rinilagosse wrote on Dec 11, '07
Hopefully she'll be fine... aku ikut mendoakan..

turut mendoakan, semoga gakpapa bisa sembuh seperti sedia kala bisa beraktifitas kembali normal dan bisa segera berkumpul sama keluarganya... kalau mau biar keluarganya aja yang berdoa, semoga dokter itu tidak perlu mengalami hal yang sama... amien... *eh gak boleh yah doa gitu...

numpang baca setelah bertubi2 dapat linknya...
Comment deleted at the request of the author.
hippies80 wrote on Dec 11, '07
Mba, Wulan so lucky to have u as a fren .... Gillllllla, that so called doctor - or the meanest creature ever - ga seharus nya jadi dokter. Mungkin lebih tepat jadi koruptor !!!!
Cepet sembuh buat Mba Wulan. Mudah2an akan ada banyak mba sari lain nya di luar sana....
de51 wrote on Dec 11, '07
turut prihatin mba..
moga Wulan cepat sembuh
dan semoga kebaikan mba Ari dibalas dengan balasan yang terbaik oleh Allah SWT
mmamir38 wrote on Dec 11, '07
Tampaknya kini kolega-kolega saya kerjanya ibarat kuli kontrakan rumah sakit ya? Atau supaya cepat kaya? Jaman saya masih aktif, yang ku lakukan upaya life-saving dulu! Soal pembayaran sih urusan belakang. Kalau perlu nanti tinggal bawain surat keterangan miskin saja. Karena pendirian saya demikian, mungkin secara harta saya saya tergolong miskin, tapi dari segi batin, saya merasa diri saya sangat kaya. Tapi apa dokter-dokter jaman sekarang dapat dipersalahkan? Untuk jadi dokter, puluhan juta bahkan ratusan juta Rp harus mereka keluarkan, sedang saya sesen pun tak usah bayar.
Jadi mungkin kesalahan sistem secara menyeluruh! tak taulah aku.
fiefamily wrote on Dec 11, '07
Sabar ya mbak ... mudah2an dapat hikmah dari semua yang mbak lalui malam itu .... Amiien ...
i3ndri3 wrote on Dec 11, '07
haloo mba .. salam kenal...

Smoga keadaan Wulan bisa segera membaik dan sembuh. Dan smoga mba yg sudah menolongnya memperoleh imbalan dari Allah SWT.

Begitupun dengan para staff di RS yg udah berbuat semena2 mndapat ganjaran yg setimpal. Kalau aku udah sakit hati sama seseorang, aku cuma berdoa smoga orang itu mengalami apa yg aku alami ..
atun87 wrote on Dec 11, '07
salam kenal mbak Sri....smoga amal nya mbak mendapat balasan dari Allah S W T...amin
semoga dokter tsb yg sudah mengatakan "itu bukan urusan saya" mendapat ampunan dari Allah dan mendapat suatu pelajaran yang berharga shg bisa berkaca dari kejadian tsb.
dan u wulan....smoga cepat sembuh dan tidak terjadi apapun setelahnya dan sehat selalu
ariamangunkusumo wrote on Dec 11, '07, edited on Dec 11, '07
fmoeloek@idola.net.id <--- ketua konsil (dapet dari google)
evanda2 wrote on Dec 11, '07
Sedih....
Salut buat mba ari...
cabekriting wrote on Dec 11, '07
*sigh* mbak ari hebat, gue udah jiper duluan dibentak dokter itu.
semoga wulan cepat sembuh.
naicrew wrote on Dec 11, '07
Semoga dokternya sdar dan mendapatkan hikmah dari kejadian itu.... ^__^
evanda2 wrote on Dec 11, '07
Sedih....
Salut buat mba ari...
lembayungjingga wrote on Dec 11, '07
Mbak, semoga si dokter itu nyeseeeel banget sama apa yang dia lakukan dan ucapkan. Mudah2an dari kejadian ini, dokter dan rumah sakit itu bisa "nyadar" dan berubah. Kalo lapor ke menkes, bisa langsung didatengin itu rumah sakit. Empat jempol unt Mbak yang berhati mulis. Mudah2an Wulan cepet sembuh dan pulih seperti sediakala tanpa kurang apa pun. Aku link ya Mbak..Makasih..
bennyasmara wrote on Dec 12, '07
Satu lagi cerita buruk di antara jutaan cerira buruk tentang public service di Indonesia. Semoga ada kekuasaan yang lebih tinggi dari sekedar suara masyarakat seperti kita yang bisa merubah system kita ini. Atau perlu ada perubahan ekstreem seperti revolusi.

Sakit yang dirasakan oleh Mbak Wulan dan Mbak SriSariningDiyah, juga dirasakan oleh orang banyak dan juga saya. Saya doakan yang terbaik untuk Mbak Wulan.

Kita semua berharap bahwa sistem pelayanan rumah sakit dapat berkembang menjadi lebih baik, dan juga tingkat kelulusan seorang dokter harus juga termasuk kelulusan dari segi moral sebagai manusia.

Buat para dokter, tidak kami pungkiri bahwa anda semua bekerja untuk menghasilkan uang dengan kemampuan yang anda miliki, akan tetapi segi kemanusiaan anda lebih kami harapkan.

Comment ini adalah bentuk simpati saya kepada Mbak Wulan dan Mbak SriSariningDiyah dan juga pasien-pasien dan keluarga-keluarga pasien yang lainnya yang pernah disepelekan dan dilecehkan oleh profesi dokter dan juga sistem rumah sakit di Indonesia.
subhanallahu wrote on Dec 12, '07
Maap, baru komen mba.... sedih mendengar tambahan kasus pelecehan profesi dokter lagi ini. Aku mendukung teman2 di sini untuk mengadukan kasus ini ke lembaga yag berwenang,mohon maap bila belum bisa membantu. Aku ga mau menutup mata atas perilaku rekan2 sejawat dokter yang demikian, bahkan aku sendiri pernah juga mengalaminya. Benar kata TS Ian, klo semua ini berawal dari sistem kesehatan kita yang amburadul plus pola pendidikan kedokteran yang sudah menjadi rahasia umum: amat mengecewakan.
viliaciputra wrote on Dec 12, '07
Walah Rii...baru ol langsung ngeliatnya artikel begini. Bikin gemes aja.
Pengalaman kayak gitu rasanya hampir dialamin sama semua orang yg pernah berurusan sama RS deh. Dan gak berubah2 sama sekali dari tahun ke tahun. Padahal kalau di RS luar, yg pertama dilakukan justru penanganan dan penjelasan kepada para pasien dan keluarga pasien. Step by step semua clear dijelasin. Makanya enggak heran kan kalau lama2 orang2 lebih memilih RS Internasional atau ke luar daripada di RS sini.

Memang enggak semua seperti itu, ada juga RS yang menangani dengan profesional dan dokter2 yg berdedikasi, tapi enggak dipungkiri juga kalau duit berperan SANGAT besar untuk urusan pelayanan kesehatan.

Anw, gue link ya Rie.
faridrifai wrote on Dec 12, '07
semoga ini yang terakhir mbak..
srisariningdiyah wrote on Dec 12, '07
Rekans semua,
terima kasih untuk perhatian kepada Wulan, semua salam & doa akan disampaikan langsung, insya Allah gue pengen jenguk hari ini, malam kali...

Sekali lagi gue juga hendak memberitahukan, berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh banyak rekan, dan banyak kemungkinan terjadi, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau srisariningdiyah@yahoo.com, tanpa melibatkan pihak lain terutama pasien. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya ada pada gue pribadi.

Dan untuk yang berkepentingan, paling tidak,...
gue sudah meminta maaf kepada para rekan berprofesi dokter dan berulang kali memikirkan sebelum mempablis jurnal ini untuk everyone, segala efek negatif & positif yang mudah2an bisa menjadi masukan pengalaman & persiapan rekan2 bila menghadapi situasi serupa, daripada menjadi ladang kecaman terhadap profesi dokter ini...

Sekali lagi, ditegaskan...
penulisan pengalaman dalam blog ini bukan bertujuan untuk menjadi ladang cacimaki terhadap profesi dokter, namun gue juga gak bisa membatasi pemikiran apapun dari pembaca akibat tulisan ini. Hanya bila ada yang mulai dengan reply di luar batas, gue mohon jangan dilakukan dalam blog ini...

Semoga dimaklumi :)
cadesu wrote on Dec 12, '07
Mbak Sri,
rumah sakit punya moto "ada uang dilayani dengan baik, ngak ada uang cari yang lain".
saya membaca blog anda sebenarnya tidak aneh, itu sudah rahasia umum, di kita dokter tidak diajari "ham" (Harusnya Anda Menjadi sembuh) tapi dokter di doktrin "ham" (Harusnya Anda Membayar duluan).
Semoga mbak Wulan lekas sembuh.
maswiwied wrote on Dec 12, '07
Mudah2an aja si Dokter di terima disisiNYA.....

ochayank wrote on Dec 12, '07
Wah, udah masuk ke milis Hanya Wanita..
Ckckck.. Hebat jg ya d'power of internet
piscesar wrote on Dec 12, '07
dengerin deh lagu nya iwan fals yang judulnya "ambulance zig zag"
tjahbagus wrote on Dec 12, '07
inih dokter yaa?
agneswollny wrote on Dec 12, '07
speechless.
*hugh Ari
snydez wrote on Dec 12, '07
foto dokter nya dunk mb Ari.. di publish
khan bisa jadi muncul ke permukaan (kaya' polisi bali itu)
alittlethingmeanalot wrote on Dec 12, '07
Berdasarkan catatan ini dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan medis setelah kira-kira 30 menit dibiarkan. Tidak lama memang, tapi siapa yang bisa memperkirakan dampak-nya?
setau saya 30 menit itu sudah sangat lama mbak..katanya setiap detik saja sangat berharga (wejangan pas ikut pelatihan Pertolongan Pertama Pada Musibah :) )..makanya harus cepat dilakukan tindakan tapi tetap tenang jangan tergesa..gesa...:)
wallahu'alam bi showab..saya juga gak terlalu ahli..:)
alhamdulillah sewaktu suami saya kena musibah kecelakaan, RS-nya dekat dan langsung ditangani tanpa nunggu saya urus administrasi..hingga suami saya bisa cepat tertolong...:) namanya RSAI Bandung...boleh iklan kan?...;) hehehe.....
tapi, memang masih banyak RS yang tidak sebijaksana itu..hiks..jadi sedih...
masa orang sakit harus lebih disakiti dengan masalah biaya...pingin nangis rasanya..hiks.hiks...
oia kenalkan..nama saya rela...makasi postingannya...jadi makin "aware" akan keadaan perRSan Indonesia..hiks
chocochic wrote on Dec 12, '07
Mbak Ari... link-nya di-publish ke milis FK Unpad ya? (Milis almamater saya).
Paling nggak pengen mengingatkan rekan2 sejawat mudah2an ga ada yang sampe melakukan hal sejenis...
Kalo mau coba 'berdamai' dengan perasaan tentang si dokter itu, coba pikirin Benefit of the Doubt mbak...
Ga coba ngebelain dia sih... cuma mencoba memberikan sudut pandang yang lain... for whatever it's worth
srisariningdiyah wrote on Dec 12, '07
Kalo mau coba 'berdamai' dengan perasaan tentang si dokter itu, coba pikirin Benefit of the Doubt mbak...
as i said before frequently in replies...
buat saya pribadi, atas kejadian bentak2 terhadap saya sih insya Allah sudah dimaafkan, try to understand why he did that, but not forgotten...

tapi untuk perlakuan kepada pasien yang tidak mengambil tindakan langsung, alih2 justru menunggu sampai terjadi episode yang kacau balau ini, hal tersebut yang dipertanyakan dari kemaren, jeng... dan btw, isi dari bentakan kepada saya itu jelas2 menunjukkan perlakuan dokter terhadap pasien yang menunjukkan dan menegaskan sekali hal yang mengagumkan, yaitu... "bukan urusan dokter"... that's the point, jeng... fokusnya disitu... karena itu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan pekerjaan yang sedang beliau coba kerjakan saat itu...

Dan btw lagi nih... saya kurang mengerti juga maksud "Benefit of Doubt" menurut jeng... dilihat dari sisi siapa? dokter atau pasien?
Bila dari sisi pasien (berhubung pasien tentu pasrah, yang mikir keluarga / pengantar toh?)... ya jelas sebagai pihak lemah dan awam, benefit of doubt of the doctor itu kemungkinannya ada 2:
- ticket to heaven (alias ke kuburan), atau...
- sesuatu bertambah buruk terjadi terhadap salah satu atau beberapa organ tubuh, yang notabene penopang hidup selama kontrak di dunia... ya kalau sepele akibatnya (which is... mana ada kasus sepele menyangkut hidup?) lha kalau fatal akibatnya?

Sedangkan kalau dari sisi dokter, wah... saya kurang mengerti kiranya itu jeng... :)
uchie07 wrote on Dec 12, '07
wah mba, ini nih orang yang bukan orang, itu dokter ga pernah punya orang tua kali ya? ga punya sodara kali ya? ato dia ga pernah mikir, kalo dia sendiri digituin enak pa ga? sori dori mori nih bukannya nyumpahin tapi mudah2n aja kalo dia mati nanti masih ada orang yang mau ngurusin jenazahnya. BTW, heran deh dokter kuliah tinggi2, mahal2 cuma bisa bilang bukan urusan saya, trus lo ngapain aja waktu kuliah? matiiii aja looooo (sori beneran sebel!!!!)
srisariningdiyah wrote on Dec 12, '07
Rekans,
gue tadi sore 'dah jenguk Wulan, di tempat yang mohon maaf tidak dapat gue sebutkan dimana, yang jelas bukan di tempat dimana pertama kali Wulan diharapkan mendapat tindakan & perawatan awal... walaupun belum dapat turun dari ranjang, kondisinya berangsur membaik, alhamdulillah dengan pesat, tentunya berkat doa rekan-rekan semua, terima kasih!!!

Wulan dan keluarga menitipkan salam hormat mereka kepada rekan2 semuanya, dan bila ada yang masih penasaran dengan nama dokter tersebut, mohon maaf sekali... ini juga bukan dengan alasan dendam, hanya untuk harapan keadaan yang lebih baik... maka dengan kerendahan hati gue pablis foto2 ini... mohon maaf sekali, bila ada yang tidak berkenan, silahkan hubungi gue secara pribadi...



dan sudah saya jurnalkan tersendiri di sini:
Wulan kembali ceria, and his name is...
estherlita wrote on Dec 12, '07
Ari, teman saya se SMP dokter dirumah sakit ini....
ntar saya linkkan ketempat dia ya....
biar dibaca deh...
kebetulan temanku spesialis tulang...

beneran dokter gak punya nurani deh....
mudah2an tuh dokter tidurnya nyenyak abis mendzolimi kayak gitu...
srisariningdiyah wrote on Dec 12, '07
ups... ya bole deh mba esther...
monggo aja, yang pasti mudah2an hal ini membuat kondisi di RS tsb tambah lebih baik lagi :)
denger2 sih dari penuturan orang tua Wulan, setelah gue kabur begitu keluarganya dateng, dokter tsb menginterogasi orang tua Wulan, "siapa tu cewek?"
.
.
.
.
ups...
ternyata gue diinget ama dia huhuhuhu...
ojifaroz wrote on Dec 12, '07
hati2 buk,ntar foto lu dipajang di ruang satpam nya " most wanted " hehehehe... kidding !!
srisariningdiyah wrote on Dec 12, '07
jangan2 iya neh... gue harus bikin surat wasiat dulu kali yah cepet2... gimana ji menurut lo?
triaseka wrote on Dec 12, '07
berani dan bertanggung jawab... salut...
makasih tante sudah post beginian.. dan sudah nyebar kemana-mana... biar semua melek dan berhati-hati dalam bertindak....
saya sih belum pernah di ping pong.. semoga tidak ada sejak tulisan ini di publish... mudah2an everything going better lah...
nunique wrote on Dec 12, '07
dduuuhh... ngeri banget liat luka yg baru dijahit itu....
semoga wulan cepet sembuh ya Ri....

Aku jg sempet ngalamin hal ini waktu mau ngelahirin yg ke-2..
Waktu itu air ketubanku udah pecah dan aku cuma suruh berdiri di pojokan UGD .... hiks...
Sementara suamiku hrs harus ngurus administrasi dulu.
Duuhh.... sebel banget gak ada dr or perawat yg peduli waktu itu...
wah bukannya kalo ketuban pecah harus kudu wajib berbaring, bahkan duduk aja udah nggak boleh? puji Tuhan waktu aku melahirkan anak pertama di RS Haji penanganannya oke tuh... dateng2 harus pake kursi roda terus disuruh baring sampe melahirkan... mungkin karena banyak keluarga juga kaliya hehehe...
bundaicha wrote on Dec 13, '07
baru kali ini saya baca postingan jeng arie yang panjang dan detail..makasih banyak sharenya yaaa..jeng arie berhati mulia!!
chrisdianty wrote on Dec 13, '07
baru baca te'... ckckckckkkk... prihatin! semoga Wulan cepet sembuh dan bisa berbagi jg sama kita di empi yaa...

y jelas, kita salut sama te' Ari... Subhanallah!... tidak berlebihan koq te'... kl saya jadi te' Ari mungkin dah ikut pingsan... ;P

sebagai ibu seringkali saya punya cita2 kl sudah besar nanti salah satu dari kembar bisa jadi dokter, dengan harapan tugas mulianya nanti bisa jadi ladang amal untuk mereka sendiri... wajar kan?? dokter gitu, pasti (bc:seharusnya) cerdas!, dan ingat kalau mereka punya tanggung jawab moral dan sosial dengan sesamanya (saya ingat seminggu yll ngobrol dengan ibu dokter Dewi Inong Irana, dan beliau berujar demikian... ini contoh dokter y menurut saya baik dan bertanggung jawab sama profesinya... terima kasih bu dokter...)

tapi setelah melihat bnyk masukan lewat thread ini, saya sadar ternyata y penting bukan jadi dokternya (walaupun itu tetap profesi y sangat baik...), tapi bagaimana kita sebagai manusia peduli sesamanya, gimana kita bisa tanggap dengan bertindak cepat u yang membutuhkan, seperti ate' Ari... mudah2an kembar bisa jadi orang2 seperti te' Ari ini nantinya... Amiinnn
chrisdianty wrote on Dec 13, '07
baru baca te'... ckckckckkkk... prihatin! semoga Wulan cepet sembuh dan bisa berbagi jg sama kita di empi yaa...

y jelas, kita salut sama te' Ari... Subhanallah!... tidak berlebihan koq te'... kl saya jadi te' Ari mungkin dah ikut pingsan... ;P

sebagai ibu seringkali saya punya cita2 kl sudah besar nanti salah satu dari kembar bisa jadi dokter, dengan harapan tugas mulianya nanti bisa jadi ladang amal untuk mereka sendiri... wajar kan?? dokter gitu, pasti (bc:seharusnya) cerdas!, dan ingat kalau mereka punya tanggung jawab moral dan sosial dengan sesamanya (saya ingat seminggu yll ngobrol dengan ibu dokter Dewi Inong Irana, dan beliau berujar demikian... ini contoh dokter y menurut saya baik dan bertanggung jawab sama profesinya... terima kasih bu dokter...)

tapi setelah melihat bnyk masukan lewat thread ini, saya sadar ternyata y penting bukan jadi dokternya (walaupun itu tetap profesi y sangat baik...), tapi bagaimana kita sebagai manusia peduli sesamanya, gimana kita bisa tanggap dengan bertindak cepat u yang membutuhkan, seperti ate' Ari... mudah2an kembar bisa jadi orang2 seperti te' Ari ini nantinya... Amiinnn
aqse wrote on Dec 13, '07
jadi inget lagu-nye Iwan Fals.... "suster cantik ngotot...lalu melotot......"
ya gitu dech...... Duit....! just all..!...
estherlita wrote on Dec 13, '07
sayang sekali Ari ternyata temanku kerjanya di Rs PasarRebo tetangganya... bukan di RS ini....
jadi ya dia gak bisa komen....
srisariningdiyah wrote on Dec 13, '07
oooo.... ya sudah gapapa kog mba esther, hehehe...
srisariningdiyah wrote on Dec 13, '07
makasih banyak juga mba esther....
mwachhhh
bunda2f wrote on Dec 13, '07
speechless...gak bisa ngomong apa2..
saya dulu pernah keracunan obat dan harus rawat inap gara2 berobat di sebuah klinik deket rumah
sampai sekarang saya jadi gak berani sembarangan minum obat..mo ke Dr pun selalu pikir panjang
darrellmom wrote on Dec 13, '07
ach ceritamu ri..bikin trenyuh..,semoga dokter2 yg arogan itu sadar diri.., untuk melakukan pengabdian kpd sesama manusia sesuai dgn janji dokternya...., jangan hanya berpikir uang semata...
salam buat wulan semoga cepat sembuh...., buat ari yg sabar ya jeng.....*hugs*
mimiallen wrote on Dec 13, '07
Salam kenal yah.....itu bukan urusan saya,...Enak benar ngomong semau udelnya, kalau memang bukan urusannya kenapa jadi dokter n bukan jadi pengusaha kalau mau cepat kaya....
Malpraktek juga terjadi dg mama saya, hanya keluarga bilang gak usah dipermasalahkan lagi, konyol kejadiannya, gara-gara terjatuh n luka di tangan kanan, n lsg dibawa ke UGD di rs. medika griya/namanya berubah jadi nama barat gak tahu apa namanya skrg di sunter, itu dokter jaga asli GOBLOK N DIPERTANYAKAN KELULUSANNYA, mama dibersihkan lukanya n kita (sepupu yg mengantar berhbung saya tinggal di amrik n kakak saya di beijing) utk disuntik anti tetanus, n ternyata minta CT SCAN tulangnya segala, n memang tulangnya remuk krn sudah tua 79 th, tapi yg menyebabkan mama meninggal setelah kita pindah ke rs yg lain bukan krn tulangnya (pas dokter mau operasi tulangnya ketahuan kalau lukanya infeksi n mama meninggal terkena TETANUS), krn penanganan dokter UGD yg MALPRAKTEK, sungguh GOBLOK utk bersihin luka aja tinggal becus n main lsg dijahit, kita sbg org awam tentu percaya kalau itu udah ditangani dokter...
Sampai sekrg masih gak percaya mama meninggal gara2 hal sepele, krn salah masuk rumah sakit, krn pilih yg dekat, kalau saya ada di jkt saat itu mungkin mama masih hidup gak bakalan saya masuk rs. itu krn terkenal reputasinya yg buruk kebanyakan pasien yg kesana salah penanangan/kalau enggak MATI...
Suami saya yg org bule, sampai bilang pas kita tinggal di Tembagapura, Papua, kalau utk halyg serius gak bakalan gw kasih elu msk rs di indo, kudu terbang ke Singapore, krn biarpun di Papua ada rs internasional, kualitas dokternya juga banyak dipertanyakan???? suami punya pengalaman buruk dg salah satu dentist di rs internasional di jkt...
Sampai di amrik sini juga kepercayaan saya sama yg profesi dokter itu belum pulih, masih gak percaya 100%, terlebih setelah kasus mama, pengen banget deh nyamperin itu dokter n minta pertanggungjawabannya, secara manusia gw marah banget, hal yg sepele itu menyebabkan mama meninggal
ochayank wrote on Dec 13, '07
Well.. 2 komen utk jurnal ini..
1. Sebagai seorang Dr. memang sangat mengecewakan dan mengesalkan. Selain berusaha menyembuhkan pasien, Dr. seharusnya bs menenangkan keluarga pasien. Utk itu, dibutuhkan empati yg sayangnya ga ada dr Dr. tsb. Kata2 yg diucapkan sgt tidak pantas utk diucapkan seorang Dr.
2. Untuk masalah penanganan pasien, aku rasa kita ga bs menyalahkan Dr-nya. Kenapa? Karena Dr. tsb pasti mengikuti peraturan RS tempat dia bekerja. Lantas Manajemen RS salah? Ya nggak bs kita salahin jg.. Karena mereka butuh biaya, dan biaya RS tuh ga dikit. Dr mslh gedung, alat, SDM, obat, dll. Jadi wajar aja kalo RS minta pembayaran dimuka.. Apalagi sbg RS swasta, mereka kan ga modal sendiri.. Lantas siapa dong yg salah? Well, aku prefer menyalahkan pemerintah.. Logikanya, semua biaya perawatan pasien UGD ditanggung pemerintah. Jadi semua pasien UGD bs lgs ditangani tanpa perlu mengurus administrasi terlebih dahulu. Setelah keluarga datang, yg mampu tetap harus membayar *jd pemerintah cuma nalangin doang*, yg masy. miskin dibebaskan biayanya. Dan seharusnya hal ini tidak hanya berlaku di RS negeri tapi di semua RS/Klinik/Puskesmas.. Nah.. Karena sayangnya pemerintah kita kayaknya masih kurang care utk masalah ini, aku cm bs berharap ada kepedulian dr pihak managemen RSnya.. Contohnya untuk kasus ini, apa salahnya sih kl di RS kasih pelayanan P3K gratis/ga gratis tp ga perlu urus administrasi dl. Jadi kl ada pasien UGD dgn kasus pendarahan, ya pasien lgs ditangani utk dihentikan pendarahannya, bknnya didiamkan sampai akhirnya semua jd benar2 terlambat cm gara2 mslh administrasi. Aku rasa penanganan P3K tidak memakan terlalu bnyk biaya.. Kalau perlu diatur subsidi silangnya biar P3K jalan, keuangan RS lancar.

Yah, ini pandanganku sbg orang awam..
Komen ke-2 bkn utk membela Dr-nya loh Ri, tp itu mmg kondisi saat ini :(
ppramono wrote on Dec 13, '07
Sayang, hukum di Indonesia juga tidak berjalan dengan baik. Sebaiknya nama dokter dan rumah sakitnya diumumkan saja, bila hukum tidak berjalan, setidaknya social punishment bisa dijalankan. Orang spt itu tidak layak menyandang predikat dokter!
srisariningdiyah wrote on Dec 13, '07
bunda2f: turut prihatin ya mba... atas kejadian masa lalu itu... semoga dampaknya sudah ga ada secara fisik skrg... *peluk2*

mba emma: makaci dah baca curhatan ini, nanti aku samapaikan salamnya ya mbaaa :)

mimiallen: i'm so so sorrrrrrry to hear about your mom ya mba... sedih sekali baca kisahnya... dan INFEKSI memang satu2nya hal yang aku takutkan sejak pertama kalau ada kejadian seperti ini, karena gak perlu sekolah jadi dokter-pun juga kita tahu resiko-nya bisa menyebabkan kematian... dan penanganan yang terlambat dapat menyebabkan hal tersebut (cmiiw)... semoga luka hati mba mimi sedikit banyak berkurang dengan membaca kisah serupa, dan mengetahui kita tidak sendiri... *peluk2 mba mimi*

sansan: yah... memang point of interest gue dalam kasus ini adalah sikap dokter itu + why he couldn't do first medical treatment aja kog jeng... kalo untuk masalah prosedur rumah sakit dll, dari dialog2 gue sama mereka sudah bisa terlihat bahwa gue juga mengerti hal itu, tapi tetap buat gue hal2 seperti itu bisa diusahakan dinegosiasikan, dan NEGOSIASI itulah yang gue sedang lakukan, ketika gue mengalami hal tidak mengenakkan tsb...
srisariningdiyah wrote on Dec 13, '07
mas pramono: nama rumah sakit ada pada jurnal ini, dan nama dokter ada pada jurnal berikutnya: http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/424
kusumaningtyaspuji wrote on Dec 13, '07
merinding bacanya mbak. saya juga punya pengalaman tidak mengenakkan dengan dokter, well...semoga ini jadi pelajaran buat dokter yang baca jurnal ini, amien.
rinilagosse wrote on Dec 13, '07
permisi...
bisa dicrossposting dimilis gak Ri?
ailtje wrote on Dec 14, '07
Sedih banget bacanya. Teringat sahabat dekat saya di SMA yang jarinya harus dipotong karena dokternya mau yang praktis aja. Yang ada tulang-tulangnya terus tumbuh tanpa daging dan kuku.

Semoga Wulan cepat sembuh dan Tuhan memberi balasan selayaknya kepada mereka yang bersalah.
tembakan wrote on Dec 14, '07
TERENYUH hati saya pas membacanya mba.
tapi dilihat dari kacamata "prevent" andaikata korban kecelakaanya menggunakan helm???
ada baiknya di mulai dari kita untuk aware dengan keselamatan diri kita.
thx and salam kenal
nun07 wrote on Dec 14, '07
aduh..mba' saya merinding baca nya...dokter jaman sekarang tu emang ga bisa diandelin...pusing gw...
rismayana wrote on Dec 14, '07
tentang dokter.. hmmm....

aq pernah dgr, masuk FK di salah satu PTN, ada biaya sumbangan yang besarnya diserahkan ke pendaftar, nah loo.. berarti calon2 dokter hanya utk org2 berduit, entah dia qualify ato ngga, pokonya dia bisa bayar sumbangannya, (yg aq pernah dgr sampe seharga kijang innova)!!!
jadi bisa dimaklumi kalo ada dkter yg spt itu..
coz dia jadi dktr bkn karena hati nuraninya, tapi karena tuntutan yang laen...

beda banget kualitasnya dengan dktr2 jaman dulu, yg bener2 qualify segalanya, dari mulai otaknya (secara jadi dktr tuh emang harus pinter), sikapnya, etika2nya, dllnya...
chicichoco wrote on Dec 14, '07
rumah sakit apa tadi? ga bakalan deh ke rumkit itu, saya pasti akan kasih tau ke semua teman & kerabat yang saya kenal mengenai ini.
sinting banget tuh dokter!! baca aja bikin emosi!!
bmargasinaga wrote on Dec 14, '07
Ini sih di copy paste aja... sebarin ke milis...
gini nih dokter yang cuman mentingin PROFESINYA tapii gk punya hati..
dia cuman jalanin tugas aja tp gk pake hati, dah gitu mending jalaninnya juga dengan baek..

yg jelas inget aja U GET WHAT U GIVE nnti juga tuh dokter dapet balesannya dari Tuhan percaya degh..

utk mba wulan sabar yaa
yannieds78 wrote on Dec 14, '07, edited on Dec 14, '07
Hmm.... sebenernya ini masalah yang sering kali terjadi. Dimana pelayanan kesehatan diberikan secara tidak sesuai oleh para tenaga medis dengan alasan administratif yang ujung-ujungnya duit dulu. dokter umumnya lebih banyak mendukung prosedural rumah sakit karena TERNYATA tidak seluruhnya lulusan kedokteran dapat bekerja langsung di Rs. Selain itu karena biaya sekolah mereka yang mahal dan lama, cenderung hal ini menjadi faktor bagi mereka untuk tetap mensupport kebijakan RS. Pemerintah juga tidak menjalankan hukum yang baik dimana bila seoranng dokter melakukan kesalahan banyak sekali pasal perlindungan yang dapat digunakan untuk menghindar. Selain itu bila seorang dokter terkena masalah seperti ini, ikatan dokter indonesia pun tidak melakukan apa-apa. Hal ini dikarenakan ikatan senioritas, almamater, profesi atau bahkan lainnya, yang akan menutupi kesalahan dari rekan mereka. namun saya sangat menyayangkan mengapa kejadian sedramatis ini dan ditunjang dengan saksi serta dokumentasi tidak mbak sending satu ke media massa. tentu hal ini akan menjadi shock therapy bagi para dokter dan RS serta pembelajaran penting juga bagi mereka dan masyarakat tentang fasilitas pelayanan di Indonesia. sehingga membangunkan tingkat humanity dari para pelayan kesehatan. Dan membangunkan pemerintah dari tidur panjangnya untuk terus memberikan dan memperhatikan fasilitas bagi rakyatnya.

Untuk Mbak Wulan, semoga lekas sembuh. Senang sekali memiliki teman yang saling menjaga satu sama lain :)
drjack wrote on Dec 14, '07
Humanity is everyone responsibility that why the word comes from "Human" which is we are.
Miris dan sedih setelah baca dari tulisan dan semua replynya.
Mari kita berusaha memperbaikinya tanpa cacian, sudah terlalu banyak kemarahan di antara sesama manusia. mudah2an kemarahan-kemarahan tersebut bisa menghasilkan sebuah hal yang konstruktif.
Amin
salamuns wrote on Dec 14, '07
Masya Allah...

Buat mbak wulan sabar ya... semoga Allah SWT memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya atas kesabaran anda.

Buat mbak sri.. hmm.... apa ya...???

Yang jelas saya adalah salah seorang yang sangat-sangat-sangat........PRIHATIN melihat keadaan dunia medis di indonesia. Hal tersebut juga berdasarkan pengalaman pribadi... yang saya gak sanggup untuk menceritakannya.

Saya hanya berharap ada banyak mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang baca kisah ini dan menjadi tergugah untuk merubah keadaan dunia medis indonesia yang selalu melihat untung rugi dalam melayani orang yang membutuhkan pertolongan. ***mimpi kali yee***

Sedih banget... kalo profesi dokter cuma dijadikan untuk mencari duit banyak/kekayaan..

Salam Kenal.
kuechubby wrote on Dec 14, '07
duh mba, kalo aku dah aku bentak balik..
aku juga pernah ngalamin hal yang sama di UGD salah satu RS Swasta di Blok M, Ibuku sudah 1/2 sadar ngomongnya dah ngawur, masuk UGD bukannya langsung ditangani tapi dianggurin sampe akhirnya ga sadar kembali ke2 kalinya..suster n dokter disitu langsung aku bentak bentak, bokap juga bentak , adek juga, salah satu susternya ada yang bales melotot sambil ngedumel, aku bales melotot sambil aku teriakin "mau duit berapa???mampu tauuu!!kalo perlu gw lempar ke muka lo sekarang!!!"
syukur alhamdulillah nyokap selamat dan sehat wal afiat sampe hari ini...
dewo2002 wrote on Dec 14, '07
ide yg bagus banget nget brur....
cuman mo ngomentarin dikit, dr igd di rs swasta biasanya bukan dokter tetap apalagi tengah malam gitu. Setau gue nih biasanya mereka cuman dokter luar yg nyambi cari tambahan jadi dokter jaga. Misal nih kalo liat sosoknya sih kayak dokter ptt di puskesmas , yg kalo malam en sore jadi dokter jaga, mungkin dia ga cuma di rs itu aja, bisa pindah2 kayak kutu loncat. dokter staf di rs (dokter tetap) apalagi di rs swasta ga mungkin lah asbun kayak gitu, tapi ga tau juga tuh dokter rada error kali.
paling banter ntar cuman dikluarin ama direkturnya.., ya... di rs lain kelakuan dan asbunnya ga bakal ilang. kalo liat foto2nya kok tuh pasiendikerubutin para "dokter" ampe 4 orang gitu ya...., jangan2 cuma para co ass yang lagi belajar huheuheu..., suer... tapi masa iya sih rs swasta nampung co ass....

comment tambahan......., ya sabarlah.., banyk banget kasus kayak gitu....cuman ga ke ekpos aja, au ah gelap.....
nulisaja wrote on Dec 14, '07
prihatin T_T
semoga nggak terulang lagi
iatrosnomos wrote on Dec 14, '07
Saya mencoba memberi komentar. Komentar yang berimbang sehingga masyarakat juga bisa menilai sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

Kalau mengenai respon dokternya yang berkata BUKAN URUSAN SAYA sambil membentak, ini memang tidak bisa dibenarkan. Bentakkan nya itu yang tidak bisa dibenarkan, tetapi bila pasien dan keluarga sudah diberi penjelasan mengenai segala aspek penyakit dan penanganan termasuk untung-ruginya, informed consent tetapi tidak bisa memberi keputusan, maka jawaban "bukan urusan saya" memang jawaban yang benar. Tetapi tidak dengan bentakan.

Terlepas dari cerita diatas.....
Memang saat anggota keluarga sedang sakit, sudah capek mencari rumah sakit kemana2, biasanya yang ada pikiran kalut, dan berujung pada kalimat KAMI INGIN YANG TERBAIK yang ditujukan kepada dokternya.
Ini sebenarnya merupakan suatu kehormatan yang diberikan oleh pasien dan keluarganya kepada dokter tersebut. Suatu kepercayaan bahwa dokternya akan melakukan YANG TERBAIK.
Tetapi harus diingat, dalam penanganan pasien, tanggung jawab tidak berada pada satu pihak dokter saja.
Tetapi 2 pihak (the consumer and the provider). The provider dalam hal ini dokter, yang bertugas di RS, tidak bertindak sebagai seorang pribadi tetapi bertindak dalam segala sangkut-pautnya dengan RS, Hukum yang berlaku, kaidah norma. Dan untuk memberi penanganan yang TERBAIK untuk pasien, kedua pihak ini harus memberi KONTRIBUSI yang sama... SAMA2 BAIK.
Hubungan consumer-provider ini berlaku dalam SEGALA JENIS pekerjaan. (Sebagai contoh, kalau mau beli mobil mewah dengan after sales service yang baik, tentu pilih merk yang ber-reputasi dan tentu biayanya lebih besar dibandingkan dengan beli dari penadah mobil curian).

Tetapi memang untuk pekerjaan doker, tuntutannya lebih besar daripada pekerjaan dealer mobil. Karena ada norma, moral; dan yang lebih SULIT adalah EXPEKTASI masyarakat (terutama di Indonesia) yang sangat besar akan profesi ini yang sayangnya TIDAK DIDUKUNG kontribusi yang sama besar dari masyarakat (kontribusi berupa uang, aturan hukum yang jelas - bahkan di luar negri, karena angka kecelakaan motor memang tinggi, ada "pajak" khusus, termasuk aturan pemakaian kendaraan bermotor yang SANGAT LONGGAR di negara ini.)

Sebagai gambaran.. mungkin para MPers ada yang tahu mengenai program ASKESKIN.
Ketahuilah...bahwa Indonesia yang katanya negara berkembang dengan pendapatan perkapita yang cuman 1500USD (CMIIW) sudah sangat BERMURAH HATI dalam memberi pelayanan kesehatan ASKESKIN ini. Negara Jepang yang GNP nya sangat besar saja saat ini kelimpungan dalam urusan asuransi kesehatan masyarakatnya (karena penduduk disana relatif panjang umur sedangkan usia tidak produktif lagi, sehingga kontribusi pendapatannya kecil - tetapi harus terus dicover asuransi).
Untuk menjadi pengetahuan bersama... para pemakai ASKES original di Indonesia (para PNS, guru, suster - yang jasanya tak ternilai itu...yang tiap bulan gajinya dipotong untuk iuran ASKES) mendapat pelayanan yang JAUH LEBIH MINIM dibanding ASKESKIN (yang seharusnya untuk orang miskin tapi pada kenyataannya sangat mudah untuk didapatkan, kerabat pak RT, RW, Lurah - bisa dapat dengan mudah. Sehingga bisa dilihat pemakai ASKESKIN memiliki handphone lebih bagus dari perawat RS. Bahkan para ASKESKIN-ers ini TIDAK membayar apa2 untuk perawatannya). Ini jadi contoh betapa TIDAK SEIMBANGNYA pelayanan kesehatan di Indonesia. Tetapi RS pemerintah bisa terus hidup karena dibiayai oleh pemerintah (tetapi anda bisa baca sendiri dikoran, banyak tunggakan pemerintah terhadap RS yang masih menggunung).

Tidak mungkin urusan kesehatan seluruh 200sekian juta penduduk Indonesia menjadi tanggung jawab RS Pemerintah. Sehingga timbullah RS-RS swasta yang tentunya membutuhkan modal dasar untuk pendirian dan perlu ada pemasukkan untuk bisa BERJALAN, menggaji perawat, membeli alat, dll. Dan itu semua merupakan investasi yang ada hitung2an bisnisnya. Jadi tidak bisa disalahkan kalau mereka bisa memasang tarif tertentu.
Kemampuan RS-RS swasta ini tidak seragam, pendapatannya juga tidak seragam, sehingga wajar saja ada RS yang tidak punya alat canggih tertentu. Sehingga urusan cek-in ke RS ini analog dengan beli mobil mewah di dealer atau beli mobil di penadah.

Mengerikan??? Tidak!!! Ini berlaku di negara manapun.
Saudara saya yang tinggal di USA, hanya kepleset di lantai kamar mandi dan memar lututnya. Dia harus menunggu lama di UGD dan setelah pemeriksaan Rontgen, konsultasi 5menit dengan dokter, kena charge 1000 USD (ada 3 nol nya!!!) - hanya diberi obat minum karena tulangnya tidak patah. Sedangkan di Indonesia, dengan pelayanan yang sama mungkin hanya kena 1 juta rupiah (di RS swasta menengah) di RS pemerintah bahkan kurang dari 200ribu (angkanya bisa kecil karena subsidi yang besar - subsidi film rontgen, gaji perawat yang murah, gaji dokter yang murah, dll)
Jadi di Indonesia itu masih SATU PIHAK yang berkontribusi besar. Pihak pasiennya masih enggan. (seperti iklan minyak angin... buat anak kok milih2 - milih yang murah pula...)
Bertahun2 tidak ada kemajuan dalam hal ini. Masyarakat tidak dididik bahwa THERE IS NO FREE LUNCH!

Segitu dulu... jadi panjang banget. Pdhal belum menyinggung masalah gaji dokter RS yang kecil (bila dilihat antara lama masa studi, tanggung jawab yang diemban, expektasi yang besar dari keluarga, pasien, direktur RS - dibandingkan dengan profesi lain yang masa studi lebih singkat, tanggung jawab minimal).
Mengenai sistem pelayanan trauma di Indonesia - ini lebih membuat FRUSTRASI lagi. Akan sangat panjang kalau saya menjabarkan disini.

Salam...
sureukis wrote on Dec 14, '07
bener kata roelworks gak kayak E.R.
sedih sekali pendiri palang merah (jean hendry dunant) kalu apa yang didirikannya dulu bukan berdasarkan kemanusiaan lagi, melainkan telah beralih menjadi beradasrkan birokrasi dan komersil... SmileyCentral.com

kalau saya mbak, niscaya mukanya daerah pelipis sudah biru karena tinju saya... SmileyCentral.com
Comment deleted at the request of the author.
sonofamaria wrote on Dec 14, '07
Saya mencoba memberi komentar. Komentar yang berimbang sehingga masyarakat juga bisa menilai sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

Kalau mengenai respon dokternya yang berkata BUKAN URUSAN SAYA sambil membentak, ini memang tidak bisa dibenarkan. Bentakkan nya itu yang tidak bisa dibenarkan, tetapi bila pasien dan keluarga sudah diberi penjelasan mengenai segala aspek penyakit dan penanganan termasuk untung-ruginya, informed consent tetapi tidak bisa memberi keputusan, maka jawaban "bukan urusan saya" memang jawaban yang benar. Tetapi tidak dengan bentakan.

Terlepas dari cerita diatas.....
Memang saat anggota keluarga sedang sakit, sudah capek mencari rumah sakit kemana2, biasanya yang ada pikiran kalut, dan berujung pada kalimat KAMI INGIN YANG TERBAIK yang ditujukan kepada dokternya.
Ini sebenarnya merupakan suatu kehormatan yang diberikan oleh pasien dan keluarganya kepada dokter tersebut. Suatu kepercayaan bahwa dokternya akan melakukan YANG TERBAIK.
Tetapi harus diingat, dalam penanganan pasien, tanggung jawab tidak berada pada satu pihak dokter saja.
Tetapi 2 pihak (the consumer and the provider). The provider dalam hal ini dokter, yang bertugas di RS, tidak bertindak sebagai seorang pribadi tetapi bertindak dalam segala sangkut-pautnya dengan RS, Hukum yang berlaku, kaidah norma. Dan untuk memberi penanganan yang TERBAIK untuk pasien, kedua pihak ini harus memberi KONTRIBUSI yang sama... SAMA2 BAIK.
Hubungan consumer-provider ini berlaku dalam SEGALA JENIS pekerjaan. (Sebagai contoh, kalau mau beli mobil mewah dengan after sales service yang baik, tentu pilih merk yang ber-reputasi dan tentu biayanya lebih besar dibandingkan dengan beli dari penadah mobil curian).

Tetapi memang untuk pekerjaan doker, tuntutannya lebih besar daripada pekerjaan dealer mobil. Karena ada norma, moral; dan yang lebih SULIT adalah EXPEKTASI masyarakat (terutama di Indonesia) yang sangat besar akan profesi ini yang sayangnya TIDAK DIDUKUNG kontribusi yang sama besar dari masyarakat (kontribusi berupa uang, aturan hukum yang jelas - bahkan di luar negri, karena angka kecelakaan motor memang tinggi, ada "pajak" khusus, termasuk aturan pemakaian kendaraan bermotor yang SANGAT LONGGAR di negara ini.)

Sebagai gambaran.. mungkin para MPers ada yang tahu mengenai program ASKESKIN.
Ketahuilah...bahwa Indonesia yang katanya negara berkembang dengan pendapatan perkapita yang cuman 1500USD (CMIIW) sudah sangat BERMURAH HATI dalam memberi pelayanan kesehatan ASKESKIN ini. Negara Jepang yang GNP nya sangat besar saja saat ini kelimpungan dalam urusan asuransi kesehatan masyarakatnya (karena penduduk disana relatif panjang umur sedangkan usia tidak produktif lagi, sehingga kontribusi pendapatannya kecil - tetapi harus terus dicover asuransi).
Untuk menjadi pengetahuan bersama... para pemakai ASKES original di Indonesia (para PNS, guru, suster - yang jasanya tak ternilai itu...yang tiap bulan gajinya dipotong untuk iuran ASKES) mendapat pelayanan yang JAUH LEBIH MINIM dibanding ASKESKIN (yang seharusnya untuk orang miskin tapi pada kenyataannya sangat mudah untuk didapatkan, kerabat pak RT, RW, Lurah - bisa dapat dengan mudah. Sehingga bisa dilihat pemakai ASKESKIN memiliki handphone lebih bagus dari perawat RS. Bahkan para ASKESKIN-ers ini TIDAK membayar apa2 untuk perawatannya). Ini jadi contoh betapa TIDAK SEIMBANGNYA pelayanan kesehatan di Indonesia. Tetapi RS pemerintah bisa terus hidup karena dibiayai oleh pemerintah (tetapi anda bisa baca sendiri dikoran, banyak tunggakan pemerintah terhadap RS yang masih menggunung).

Tidak mungkin urusan kesehatan seluruh 200sekian juta penduduk Indonesia menjadi tanggung jawab RS Pemerintah. Sehingga timbullah RS-RS swasta yang tentunya membutuhkan modal dasar untuk pendirian dan perlu ada pemasukkan untuk bisa BERJALAN, menggaji perawat, membeli alat, dll. Dan itu semua merupakan investasi yang ada hitung2an bisnisnya. Jadi tidak bisa disalahkan kalau mereka bisa memasang tarif tertentu.
Kemampuan RS-RS swasta ini tidak seragam, pendapatannya juga tidak seragam, sehingga wajar saja ada RS yang tidak punya alat canggih tertentu. Sehingga urusan cek-in ke RS ini analog dengan beli mobil mewah di dealer atau beli mobil di penadah.

Mengerikan??? Tidak!!! Ini berlaku di negara manapun.
Saudara saya yang tinggal di USA, hanya kepleset di lantai kamar mandi dan memar lututnya. Dia harus menunggu lama di UGD dan setelah pemeriksaan Rontgen, konsultasi 5menit dengan dokter, kena charge 1000 USD (ada 3 nol nya!!!) - hanya diberi obat minum karena tulangnya tidak patah. Sedangkan di Indonesia, dengan pelayanan yang sama mungkin hanya kena 1 juta rupiah (di RS swasta menengah) di RS pemerintah bahkan kurang dari 200ribu (angkanya bisa kecil karena subsidi yang besar - subsidi film rontgen, gaji perawat yang murah, gaji dokter yang murah, dll)
Jadi di Indonesia itu masih SATU PIHAK yang berkontribusi besar. Pihak pasiennya masih enggan. (seperti iklan minyak angin... buat anak kok milih2 - milih yang murah pula...)
Bertahun2 tidak ada kemajuan dalam hal ini. Masyarakat tidak dididik bahwa THERE IS NO FREE LUNCH!

Segitu dulu... jadi panjang banget. Pdhal belum menyinggung masalah gaji dokter RS yang kecil (bila dilihat antara lama masa studi, tanggung jawab yang diemban, expektasi yang besar dari keluarga, pasien, direktur RS - dibandingkan dengan profesi lain yang masa studi lebih singkat, tanggung jawab minimal).
Mengenai sistem pelayanan trauma di Indonesia - ini lebih membuat FRUSTRASI lagi. Akan sangat panjang kalau saya menjabarkan disini.

Salam...
maaf bung iatrosnomos..
iya kalo lukanya cuman kepeleset..apa tadi,bentar,di kamar mandi dan memar lututnya saya ke dukun beranak juga bakal sembuh klo benjol gitu doank lah( no offense)
beda kalo pasien yg masuk UGD,kaya waktu nganterin Ibu saya melahirkan ke RS Cipto dulu,apa nunggu biaya lunas atau apa? tidak kan?apa Ibu saya disuruh ngeden di ruang tunggu pembesuk?tida kan?yang penting pendaftaran dulu dan ada jaminan ada yg bertanggung jawab disertai kartu identitas(mo di LN atau disini juga sama saja),tapi yang terjadi dengan mbak Sri sebagai yg bersedia menjadi penanggung jawab tersebut...
'dia dijadikan bola pingpong kan?' cerminan betapa amburadulnya sistem RS tersebut?
kalo bisa iya iya klo ga' ya sutra,ngomong dari tadi...
kalo soal biaya,di Denmark or etc rumah sakit gratis mbok ya pada mampu bayar pajak yg sekian anu nya walau rada ngantri,lha anda lihat sendiri rakyat kita seperti apa,permerintah nya seperti apa...
kalau mau membandingkan ampe sariawan gw botak juga ga' akan ada habis²nya..
$1000 tuh angka yg wajar lah klo disana.. secara living costnya anjrit kaya apaan tau..
back to,when you live in Rome,do as Romes do we lah
beuki lieur..
srisariningdiyah wrote on Dec 14, '07
sebenarnya saya sangat berharap ada yang berkomentar, langsung dari beberapa orang yang fotonya saya pajang diatas... untuk bisa dilihat masalahnya dari berbagai sisi...
jadi anda semua disini tidak melihat dari sisi saya pribadi saja sebagai yang bercerita...

pemberitaan berimbang, mungkin begitu kiranya yang saya harapkan...

salam,
fendysiamala wrote on Dec 14, '07
Waduh.. panjang amat comment nya, nggak bisa Saya baca satu persatu.

Tapi intinya, fuck U untuk yang mengatakan "bukan urusan saya" bisa dianggap sebagai jawaban yang benar (biar pakai bentak atau tidak).

Heyyy.. masalahnya dokter itu urusannya sama manusia, bukan robot. Ada perasaan yang ikut bermain di sini.

Sebelum mengatakan "bukan urusan saya" itu wajar apa nggak, coba simulasikan keadaan dari cerita atas ke diri sendiri dulu.

Loe panik datang ke rumah sakit karena rekan loe dalam keadaan gawat. Loe nggak tahu apapun soal tetek bengek prosedur rumah sakit dll. Dan loe lupa bawa biayanya. Karena sedikit bingung sehingga kamu harus sedikit mendesak dokternya, dengan lemah lembut dan senyuman di wajah dokternya trus bilang ke kamu, "ini bukan urusan saya.". So.., jadi menurut loe begini sudah bener??

Ya ampun... gua nggak tahu kamu dokter atau bukan ya. Kalaupun iya, berarti emang standar service/ pelayanan kamu sangat rendah. Mungkin untuk urusan teknis kamu ahli, urusan interaksi sosial, kamu sangat mentah.

Apa memang di pendidikan kedokteran nggak ada mata kuliah yang ngajari komunikasi yang baik dan benar??

Gua sangat percaya, ada jawaban2 diplomatis yang jauh lebih layak diberikan untuk kasus seperti ini daripada jawaban "bukan urusan saya".

Kalau loe tetap melihat tidak ada yang salah dengan "bukan urusan saya", kata2 "fuck U" di atas masih dibenarkan kok untuk keadaan gua yang emosi seperti ini. Dan tentu Saya mengatakannya dengan tidak membentak. :)
antiono wrote on Dec 14, '07
Waduh serem ya, semoga jangan sampe ada kita yang mengalami ya...

O iya saya seorang dokter, yang praktek pribadi, gak kerja dRS, tapi punya temen yang kerja di RS (ribet ya) ingin meluruskan sebagian komentar temen2 yang menyudutkan dokter mata duitan, terutama yang bekerja di rumah sakit..

Gak semua dokter yang mata duitan, kalo perbandingan 1000:1 terlalu berlebihan, banyak temen saya yang masih baik kok, bukan membela tapi kenyataannya gitu.

Untuk temen2 ketahui prosedur pemeriksaan di RS oleh dokter jaga kurang lebih begini :
1. Pasien datang, dokter jaga menilai keadaan, belum dilakukan tindakan karena,
2. Lapor ke konsulen (dokter spesialis) jaga yang sesuai dengan keadaan pasien,
3. Urusan lapor, cepet atw lambat kadang tergantung banyak faktor, gak usah disebutin,
4. Konsulen memberi petunjuk apa yang harus dilakukan, misalnya CT Scan.
5. Setelah ada CT Scan hasilnya dilaporkan lagi, trus baru tindakan...

Apabila memang pertama datang dinilai baik, belum perlu dilakukan tindakan secepatnya, untuk cedera kepala ada golden period kurang lebih 4 jam dari awal kecelakaan, jadi selama belum 4 jam insya alloh masih dapat tertolong.

O iya ada lagi yang saya luruskan, untuk gaji dokter di RS, jangan dikira wahh...hehe...terus terang saya yang praktek pribadi lebih gede dari yang kerja di RS, tapi mungkin status di mata masyarakat lebih Ok yang kerja di RS..Hehe..Dan bila di bilang mata duitan setiap dokter jaga tidak berhak menentukan tarif, itu semata2 kebijakan RS yang bersangkutan, kalo di bilang mata duitan ya RSnya, bukan dokternya.

Memang saya menyayangkan sikap dokter yang membentak mbak, tapi saya yakin cuma 1 diantara 4 dokter yang ada yang gitu kan, itu personal dokter bersangkutan.

Yah gitu aja dulu deh semoga kita bisa menilai lebih objektif, tidak men judge sesuatu dengan emosi, Amin...

Tq :)
Antiono
seren12345 wrote on Dec 14, '07
Gak bisa ngomong apa-apa selain.. Itu dokter "luar biasa" tega. Tidak ada satu pun alasan untuk membenarkannya mengeluarkan kata-kata "Itu bukan urusan saya".
Dr. Abraham, Anda mungkin sedang sangat lelah sekali,dan kebetulan menghadapi pengantar pasien yang sikapnya tak sesuai harapan Anda, tapi tetap anda tidak layak mengeluarkan kata-kata itu, walaupun sehalus apapun, apalagi dengan bentakan.
Prosedur adalah urusan RS, dokter dan perawat, dan pasien/pengantar akan terkena dampaknya. Namun ada banyak cara yang "baik" untuk menjelaskan kepada pasien atau pengantarnya..
Pasien memang mungkin harus menunggu untuk ditangani, banyak cara untuk memberitahu pengantarnya bahwa memang pasien harus menunggu..
Dr. Antiono, golden period 4 jam utk cedera kepala? Sangat debatable, dan itu rasanya tak bisa pukul rata, bagaimana bila perdarahan intracranialnya hebat? Dokter bisa menduga tingkat cedera kepalanya, tapi pengantar pasien tidak bisa tahu keadaan, bila tak diberitahu!
Kita tidak sedang membicaraan semua dokter dan RS, tapi membicarakan dokter yang ada di UGD itu. Banyak dokter yg tidak seperti itu, banyak RS yg tidak seperti itu, juga banyak dokter seperti itu dan banyak RS seperti itu.. Keadaan yang kita semua harus terima sambil memulai dari diri sendiri, sesuai peran masing-masing utk berusaha memperbaikinya. Dan saya kira, tulisan ini sedikit-banyak merupakan salah satu peran untuk memperbaiki keadaan..
Terus terang, saya juga mengharapkan perawat/ (mungkin) ko-as/ dokter yang tergambar di foto itu memberikan tanggapannya.
srisariningdiyah wrote on Dec 15, '07
maaf-maaf...
awal kejadian saya belum tahu nama dokter siapa, jadi bukan dokter Abraham yang mengeluarkan kata-kata tsb... dr. Abraham hanya salah satu dokter yang ada di foto saja...

mohon dikoreksi reply sebelum saya ini, agar tidak menjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari...
dan untuk diketahui, nama dokter yang sebenarnya baru saya ketahui belakangan, ada di jurnal setelah jurnal ini...
trima kasih, salam :)
iatrosnomos wrote on Dec 15, '07
Yah... saya sih hanya memberi pendapat.
Karena memang begitu sistem kesehatan di Indonesia.
Jadi mas son of maria - pertanyaannya SAMPAI KAPAN SISTEM KESEHATAN DI INDONESIA AKAN KAYA BEGITU?
Yes.. I live in Indonesia but I want to see someday Indonesia (the government of Indonesia for precisely) can make A BETTER system.
Mau sampai kapan seperti itu?

Aspek ini bukan saja di bidang kesehatan (seperti saya bilang, urusan consumer dan provider dalam bidang kesehatan jadi mudah disorot karena hal EKSPEKTASI tadi.) tapi bisa dilihat juga dalam hal BBM (yang kaya dan mobilnya ber CC besar - tetap maunya bayar premium sama dengan tukang ojek), masalah sekolah (yang kaya maunya masuk sekolah favorit juga - baik SMA maupun PTN, tanpa memberi biaya lebih...)

Jadi mas son of maria - mungkin mas puas dengan negara mas. Ingin terus hidup di sistem seperti itu.
Saya TIDAK. Saya berkaca ke luar negri karena Indonesia memang HARUS punya keinginan maju dan memiliki SISTEM ASURANSI yang baik.
Saya bermimpi suatu hari rakyat Indonesia tersadar dan kita bisa buat sistem yang lebih baik sehingga wulan-wulan lain yang terkapar di jalan atau ibu mas yang menunggu di RSCM bisa tertangani dengan baik.
seren12345 wrote on Dec 15, '07
mbak sri, saya balik lihat lagi ke sini karena memang pengen lihat comment2. Itulah kenapa saya ingin dokter/ko-as/perawat yang ada di foto itu memberikan comment-nya. Anda dalam keadaan tertekan dan mungkin panik, dan cerita yang anda sampaikan bisa saja salah dalam detil-nya.. Dan saya juga tidak setuju dengan orang yang kasih komentar luar biasa pedas, sampai ada yang bilang wajar anda mengatakan f**k, padahal dia belum dengar versi cerita dari pihak lain..
Maaf dr. Abraham..
srisariningdiyah wrote on Dec 15, '07
ya ya... terima kasih sekali saya ucapkan kepada rekan-rekan semua tanpa terkecuali,
yang telah memberikan pendapatnya di salah satu tulisan dalam blog pribadi saya ini. Apapun yang menjadi akibat tulisan ini, negatif terutama, adalah murni tanggung jawab saya pribadi, maka saya mohon maaf bila sampai ada reply menjurus cacian (walaupun sudah saya peringatkan sebelumnya untuk tidak dilontarkan disini)...

sekali lagi, tulisan ini hanya uneg-uneg yang tidak bertujuan untuk menjatuhkan atau mencemarkan nama baik apapun dan siapapun, jadi mohon juga jangan menganggap saya bertujuan buruk dalam menulis ini... hanya harapan untuk lebih baik di segala aspek (kesiapan mental pembaca yang mungkin someday akan mengalami kejadian serupa saya, atau rekan dokter yang mungkin bisa mengingat untuk tidak melakukan hal menyakitkan ini kepada pasien, dll), alasan tulisan ini dibuat...

sekali lagi, diatas ini semua, saya pribadi sangat berharap untuk rekan-rekan dokter / ko-as / perawat yang ada di dalam foto, dapat mengemukakan pendapatnya di sini, agar berimbang...

salam damai semuanya... :)
pudz426 wrote on Dec 15, '07
sedikit komentar,

sistem pendidikan perlu dibenahi, sistem kesehatan perlu dibenahi, sistem transportasi perlu dibenahi..


masih banyak pekerjaan rumah buat bangsa ini.
chihara wrote on Dec 16, '07
mbak sri... saya link yah...
biar tmen2 saya sesama mahasiswa fk ga jadi 'money oriented', trmasuk jg saya... hehehe
btw... jd dokter emang bukan sesuatu yg mudah... saya yang masih mahasiswa aja uda ngerasa berat banged... hehehehe....
fendysiamala wrote on Dec 16, '07
mbak sri, saya balik lihat lagi ke sini karena memang pengen lihat comment2. Itulah kenapa saya ingin dokter/ko-as/perawat yang ada di foto itu memberikan comment-nya. Anda dalam keadaan tertekan dan mungkin panik, dan cerita yang anda sampaikan bisa saja salah dalam detil-nya.. Dan saya juga tidak setuju dengan orang yang kasih komentar luar biasa pedas, sampai ada yang bilang wajar anda mengatakan f**k, padahal dia belum dengar versi cerita dari pihak lain..
Maaf dr. Abraham..
Untuk mbak seren12345, apa reply ini ditujukan kepada Saya?

Saya ingin menjelaskan bahwa reply Saya sebelumnya adalah untuk mengomentari tulisan dari @iatrosnomos. Dan Saya tidak pernah merasa tulisan kasar Saya adalah wajar sampai orang lain merasa "bukan urusan Saya" dalam kasus ini adalah wajar.

Coba cerna tulisan Saya sebelumnya di baris akhir.

tQ,
vocinna wrote on Dec 16, '07


ada beberapa komen dari Id yang ga ada hedsot dan isinya yah??
iatrosnomos wrote on Dec 16, '07
OO... jadi mas/mba fendysiamala menujukkan F**K YOU nya terhadap komentar saya?

HAHAHAHAHA...
Menyedihkan sekali rasanya kalau sebagian besar orang di Jakarta/Indonesia begitu menjumpai keadaan yang namanya "ASYMETRI OF INFORMATION" langsung berrespon seperti ini.
Ini artinya pendidikan budi pekerti memang harus untuk semua warga negara Indonesia.

Ketahuilah.. respon "BUKAN URUSAN SAYA" akan anda temui di segala lapangan pekerjaan yang memiliki peluang terjadinya ASYMETRI OF INFORMATION.
Silahkan coba mengurus paspor ke imigrasi, mengurus kredit rumah di bank sampai urusan mengurus tilang dll. Pasti ketemu dengan respon seperti itu tetapi diucapkan dengan kalimat atau kata2 yang berbeda.

Jadi respon balik dengan F**K YOU itu memang "SOUNDS COOL" tapi rakyat dari asalnya bahasa itu menganggapnya it's very impolite, harsh words that an educated, self-controlled person won't say that considering the "asymetri of information" situation could happen daily.

Mengenai mba penulis blog yang mengharapkan komentar atau respon dari obyek penyerta atau pelaku dari peristiwa diatas, sepertinya KECIL sekali terjadi mengingat - respon yang diberikan oleh most of the reader saja sudah judging, eventhough they are not in the spot and only God knows what happened after you left the hospital scene.
sagalainfo wrote on Dec 16, '07
vocinna said


ada beberapa komen dari Id yang ga ada hedsot dan isinya yah??
Itu artinya blognya baru di bikin....apa ya....(silahkan mengartikan dan mengapresiasi masing masing....entar kalo ngomong lagi tidak asymetry of information lagi)...
srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07
Mengenai mba penulis blog yang mengharapkan komentar atau respon dari obyek penyerta atau pelaku dari peristiwa diatas, sepertinya KECIL sekali terjadi mengingat - respon yang diberikan oleh most of the reader saja sudah judging, eventhough they are not in the spot and only God knows what happened after you left the hospital scene.
mau reply di sini, atau membuat jurnal tandingan karena TAKUT membaca respon disini, tidak masalah...
pembaca yang akan menilai, dan saya tidak membatasi pembaca bila respon yang diberikan negatif atau positif... hanya saran saya bila ada respon menjurus cacian, mohon untuk tidak dilakukan di sini, karena ini ruang pribadi yang saya berikan kesempatan kepada anda semua untuk merespon...

At least, saya hanya berusaha memberi kesempatan saja... lain tidak...
Kesempatan untuk menyangkal bahwa semua yang saya tuliskan diatas tidak benar sama sekali...
Bila yang diberi kesempatan tidak mempergunakan, itu adalah hak beliau2... yang penting saya berusaha terbuka, tidak mengada-ada, dan saksi ada... bila hal ini akan menyeret saya ke persoalan lebih lanjut.

Inti dari tulisan ini hanya CURHAT agar siapapun yang membaca (termasuk anda) tidak terulang mengalami hal sama dengan saya atau melakukan hal menyakitkan seperti pak dokter diatas, TANPA ada tendensi apapun. Namun bila ada respon yang menuduh saya macam-macam... saya sudah siap.

Demikian kiranya... :)
srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07
only God knows what happened after you left the hospital scene.
remember, mas/mba iastrosnomos...
saya hanya menyesalkan peristiwa SAAT terjadi, bukan SETELAH terjadi...
saya yakin, hal2 terbaik-lah yang mereka lakukan dilaksanakan... SETELAH episode mengagumkan terjadi...
dan untuk hal2 terbaik tsb, saya sudah mengucapkan terima kasih sebesar2nya, WALAU terlambat...

mohon dipikirkan hal tersebut... :)
etika wrote on Dec 16, '07
lama2 komennya tambah panjang2 ya ri ....
etika wrote on Dec 16, '07
ari, tadi siang aura ngajakin ke depok...mau ketemu presiden katanya... :D
srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07
its ok mba eti... silakan aja bebas bersuara,
asal tahu masalah sebenernya bagaimana dan gak asal ngomong aja... :)
mariezk wrote on Dec 16, '07
aku mau cerita soal dokter2 deh, mbak.....
honestly... di keluarga aku banyak yang dengan "gaya"-nya begitu lulus sma daftar ke Fakultas Kedokteran, padahal aku tau banget kemampuan otak mereka masing2... ada yang memang pintar dan layak masuk FK (diterima di FK negeri) ada juga yg gengsi orang tuanya bisa nyekolahin anaknya ke FK...
dan dari mereka itu hanya beberapa yang memang tulus dan lulus menjadi dokter, bahkan ada yg sampai melayani dipuskesmas daerah ende dan juga maumere....
yang lainnya (baca: yg ngotot masuk FK karena ortunya tajir... blee....) 8 tahun sekolah, ada yg ujian anatomi saja atau apalah itu namanya gak lulus2 juga....
Sarjana Kedokterannya aja gak bs dia selesaikan, apalagi ambil sumpah....
kok ngomongnya gitu sih mba? bukannya mau ngebelain sih.. tapi kita kan juga ga tau perjuangannya blajar di FK. mungkin kalo mba sendiri yang disuruh blajar juga belum tentu bisa langsung lulus. ujian nya kan mungkin berat, bukan cuma 'ujian anatomi aja'.. makanya bisa sampe 8 tahun. mungkin kalo masuk jurusan lain juga 4 tahun uda selesai. kalo ga pernah ngejalanin kan ga akan tau beratnya..
srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07
di Depok mana ada presiden mba eti... yanga da di Cikeas... hehehe...
tapi ga papa juga kalo mau ke Depok, ditunggu yah...
etika wrote on Dec 16, '07
cuma satu presiden yg pernah ngajak aura ke dufan ...:D
ok deh nanti kami meluncur kesana, enaknya ketemuan dimana, besok siang/sore ada waktu luang gak ?
srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07, edited on Dec 16, '07
besok siang jam 2 aku dah free...
jam 4 janjian sama Chika (putrihakim) sama Fajar (f4j4r) makan sate kambing di Margonda... iiiiiyukkk...
Chika pengen leha2 habis ujian katanya mba... hihihi...
jam 4 kita ketemu aja di Margonda mba....
etika wrote on Dec 16, '07
ok deeh !
loneknight wrote on Dec 16, '07, edited on Dec 16, '07
Dear mbak Sri. ada beberapa analisa kemungkinan tentang kejadian tersebut;
Pertama.
Ada sesuatu yang salah dengan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Suatu kenyataan bahwa banyak rumah sakit di Indonesia yang hidupnya tergantung kepada pembayaran dari pasien, jadi untuk mengoperasikan alat, untuk suatu penanganan medis tertentu ada sejumlah biaya yang harus dibayarkan oleh pasien atau ada jaminan tertentu itu akan terbayar baru dilaksanakan.
Karena mungkin saja ada aturan di rumah sakit itu bahwa kalau ada pasien yang perlu penanganan khusus dan tidak jelas siapa yang bayar maka pada akhirnya dokter tersebut yang harus membayarnya, sedangkan kita tahu sendiri honor dokter jaga itu paling hanya 1/6 dari biaya 600ribu tersebut, belum ditambah biaya obat, biaya jahit, anestesi ringan, pemakaian UGD, administrasi dsb. Kalau dokter perlu jiwa sosial tentu saja ada. Tapi siapkan dokter itu untuk jadi bangkrut dan harus tombok karena pada rumah sakit seperti itu dalam sehari bisa puluhan atau seratus kasus semacam ini. Banyak pasien yang bilang uangnya sedang dibawa atau sedang di ambil namun kenyataannya banyak pasien yang memang tidak mampu akhirnya berkata berkata bahwa ternyata belum dapat pinjaman dari keluarga atau ternyata ATM nya tidak ada dana waktu mau diambil dsb.
Dokter jaga tersebut (mestinya dokter muda) perlu konsentrasi mengobati pasien jadi dia akan repot kalau harus memikirkan bahwa kemungkinan pasien yang ditangani adalah tanggungannya dan dia yang nanti harus membayar). Mungkin kalau saat itu mbak Sri tunjukkan Credit Card dan katakan saya yang jamin sementara keluarga dalam perjalanan membawa uangnya mungkin jalan ceritanya akan berbeda ya. Kalau petugas Radiologi dan kasir bersikap demikian karena mereka juga hanya pegawai dan kalau dikabulkan ternyata benar tidak terbayar mereka pulalah yang harus menanggungnya. Ini fakta yang memang terjadi di berbagai rumah sakit di Indonesia. Pernah saya dengar pada rumah sakit besar seperti Carolus atau Boremeus memang langsung menolong dan menangani pasien tanpa menunggu pasien bawa uang karena mereka punya budget khusus utk kasus kasus tersebut yang hasil subsidi silang dari pasien yang mampu. Jadi kalau di RS seperti itu kita menginap di kamar yang bagus atau dikelas yang tinggi maka artinya sebagian dana yang kita bayarkan adalah untuk membantu mereka yang tidak mampu.
Tapi rasanya tidak mungkin semua RS bisa memperlakukan pasienya seperti itu.

Kedua.
Sistem Asuransi, pada negara maju semua anggota masyarakat mempunyai social security number, dimana disana sudah termasuk jaminan asuransi kesehatan. Jadi siapapun yang mengalami kecelakaan atau keadaan emergency langsung ditolong tanpa ditanya siapa yang akan menanggung biayanya karena semua akan ditanggung asuransi berapapun besarnya biaya perawatan darurat tersebut.
Indonesia juga coba menerapkan sistem kartu Askin atau Askes, dengan kartu itu pasien tidak perlu bayar apa apa paling hanya administrasi saja atau pendaftaran. Kenyataannya bagaimana???
RS seperti Tarakan yang sudah menolong banyak pasien dengan sistem seperti itu malah harus nombok dan kekurangan dana (minus antara 3 hingga 6 milyar rupiah) karena uang yang seharusnya diterima ternyata belum atau baru terbayar sebagian oleh pihak Asuransi (Perusahaan Asuransi milik Pemerintah). Lantas kalau sekarang mereka juga harus menolong dengan gratis terus lama kelamaan RS tersebut akan tutup karena tidak ada biaya.

Jadi di satu sisi saya juga kecewa dengan sikap dokter, pelayanan bagian radiologi dan juga kasirnya. Tapi disisi lain mereka juga sulit memutuskan kalau kita coba berdiri diatas sepatu mereka. Jadi saya coba buang jauh jauh kecurigaan karena dokternya mata duitan atau hanya mau mengobati pasien yang berduit saja. Kalau dokter itu membentak mungkin saja dia juga sudah capek bekerja dan mendapat desakan sementara dia juga tidak dapat berbuat apa apa. Karena biasanya dokter jaga itu hanyalah dokter umum sedangkan kasus tersebut memerlukan penanganan beberapa dokter termasuk dokter ahli.



srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07
Mungkin kalau saat itu mbak Sri tunjukkan Credit Card dan katakan saya yang jamin sementara keluarga dalam perjalanan membawa uangnya mungkin jalan ceritanya akan berbeda ya.
Kalau baik-baik membaca dengan teliti...
Sebenarnya inilah yang saya lakukan saat itu, saya sudah bersedia menjamin walaupun sebagian dahulu, namun cerita yang terjadi ya seperti itulah, hheehehe...

Dalam tulisan, saya tidak meng-judge mereka mata duitan kog, mas ...
satu2nya hal yang saya sayangkan: 30 minutes before first medical treatment...
itu aja kog... lain-nya cuma dampak aja...
masa bersihkan luka juga nunggu duit? keterlaluan kan?
srisariningdiyah wrote on Dec 16, '07
Kalau dokter itu membentak mungkin saja dia juga sudah capek bekerja dan mendapat desakan sementara dia juga tidak dapat berbuat apa apa. Karena biasanya dokter jaga itu hanyalah dokter umum sedangkan kasus tersebut memerlukan penanganan beberapa dokter termasuk dokter ahli.
alasan apapun dokter itu membentak saya, itu sudah salah...

saya bisa aja kan membentak balik, bahwa itu memang sudah pekerjaan dokter untuk mengurusi pasien...
tapi kenyataannya saya tidak melakukan itu... jadi siapa yang disini paling disakiti?
Oh, saya tidak sedang konsentrasi masalah itu kog mas... masalah bentakan sudah saya maafkan, walaupun not forgotten... satu hal yang saya persoalkan disini hanya pernyataan saya sebelum reply ini...
Why he didn't do anything... 30 minutes... bukan tidak mungkin berpengaru pada hidup gadis itu...
loneknight wrote on Dec 16, '07
satu2nya hal yang saya sayangkan: 30 minutes before first medical treatment...
itu aja kog... lain-nya cuma dampak aja...
masa bersihkan luka juga nunggu duit? keterlaluan kan?
Kalau untuk hal ini memang saya juga tidak setuju dengan perbuatan dokter itu dan kita sependapat meski dia bukan ahlinya setidaknya membersihkan luka atau melakukan pre treatment seharusnya gak perlu tunggu dokter ahli. Karena detik demi detik itu akan mempengaruhi hidup manusia.
Kita tidak tahu apa yang ada dipikiran dokter itu, kalau untuk membersihkan luka saja perlu tunggu duitnya

kisahyangbiru wrote on Dec 17, '07
...ternyata cerita-cerita kepahlawanan yg ada dalam buku yg pernah saya baca waktu kecil dulu, sekarang udah ga ada lagi dalam kehidupan nyata....jadi hilang kepercayaan nih :-p
uniquegirl96 wrote on Dec 17, '07
sedihnya membaca tulisan diatas....tapi gw ada pengalaman kayak gitu sey ma dokter jaga di UGD waktu adek gw kecelakaan... n dokternya baru bertindak setelah gw bentak, karena adek gw ga diapa2in dan hanya di suruh menunggu.... habis itu dengan kaki pincang ga dikasih kursi roda lagi.. dan ternyata setelah melihat hasil kerja dokternya... ternyata kaki adek gw tidak dijahit dengan rapih yang akhirnya harus pergi ke rumah sakit laen yang lebih proper...

mudah2an dunia perumah sakitan sadar akan hal ini, kalo rumah sakit bukan untuk commercial, tapi untuk sosial...

pancasiwi wrote on Dec 17, '07
ikutan marrrraaaahhh nih...
Comment deleted at the request of the author.
unsensored wrote on Dec 17, '07
Dalam Bahasa inggrisnya Isn't My Business. Jadi urusan siapa//// bukan kah tuhan telah menganugerahkanya Ilmu pengetahuan kecerdasan dan akal untuk tujuan menolong orang lain dan mencari nafkah plus membedakan yang baik dan yang buruk, meskipun tidak kita pungkiri dia juga butuh makan. Lalu mana profesionalisnya..!!

Hal seperti ini juga rasanya di tahun 1981 di ceritakan bang Iwan fals yang tertuang dalam lagunya seperti dibawah ini. Meskipun kasusnya berbeda :D

Ambulance Zig Zag
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)

Deru ambulance
Memasuki pelataran rumah sakit
Yang putih berkilau

Di dalam ambulance tersebut
Tergolek sosok tubuh gemuk
Bergelimang perhiasan

Nyonya kaya pingsan
Mendengar kabar
Putranya kecelakaan

Dan para medis
Berdatangan kerja cepat
Lalu langsung membawa korban menuju ruang periksa

Tanpa basa basi
Ini mungkin sudah terbiasa

Tak lama berselang
Supir helicak datang
Masuk membawa korban yang berkain sarung

Seluruh badannya melepuh
Akibat pangkalan bensin ecerannya
Meledak

Suster cantik datang
Mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban

Di jawab dengan
Jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos pengobatan

Ai sungguh sayang korban tak bawa uang

Suster cantik ngotot
Lalu melotot
Dan berkata “Silahkan bapak tunggu di muka!”

Hai modar aku
Hai modar aku
Jerit si pasien merasa kesakitan

Hai modar aku
Hai modar aku
Jerit si pasien merasa diremehkan

http://mentari.web.id
fatimahcahaya wrote on Dec 17, '07
saya dokter dan sedih sekali mendengar hal ini, termasuk juga komentar-komentarnya, kebetulan juga saya dosen di salah satu Fak Kedokteran Swasta di Jakarta, minta izin unutk ngelink dan cetak untuk bahan diskusi dengan mahasswa-mahasiswa saya disini.

mba Anggiechan sudah cukup tuntas memberi komentar dari sisi para dokter, saya setuju dengan beliau, juga berharap adik Wulan bisa sembuh tidak kurang suatu apapun, juga Dokter Ardi dan RS senta medika bisa membaca postingan mba buat bahan evaluasi. tulisan mba udah sampai ke milis angkatan saya di fkui, sudah sampai ke milis sehat dan akan saya post juga di milis dokter keluarga, saya rasa hampir semua guru-guru saya, termasuk yang di IDI dan MKEK, akan segera tahu

terakhir jadi dokter memang harus sabar, jadi pasien memang harus cerewet, sistem fee for services memang tidak enak, sebaiknya kita membayar untuk masa sehat kita dan mendapat gratis waktu kita sakit ( baca asuransi )
farranasir wrote on Dec 17, '07
jadi pelajaran buat saya yang baru jadi calon dokter....
btw, kadang dokter nggak bisa dipersalahkan mutlak karena bergantung pada birokrasi RS terkait juga

tapi, bukan berarti jadi lebih suka ke dukun kan? hehe,,,
srisariningdiyah wrote on Dec 17, '07
btw, kadang dokter nggak bisa dipersalahkan mutlak karena bergantung pada birokrasi RS terkait juga
iya, tentu saya juga mempertimbangkan pemikiran dokter tsb yang harus patuh dengan birokrasi manajemen RS... hal tsb bisa terlihat dari dialog2 saya dengan dokter & paramedis terkait...
tapi dalam hal ini yang dipersoalkan adalah sikap dokter tsb dalam berkomunikasi dengan "keluarga pasien" dan respon-nya terhadap pasien yang sama sekali tidak ada tindakan sejak pasien 'teronggok' di bed UGD (pegang-pegang, ngasi formulir, nyuruh saya ke radiologi, nyuruh saya mondar-mandir, bentak-bentak) tapi pasien sama sekali tidak dibersihkan, dicukur rambut, luka di jahit, dll... sedangkan saya dan rekan2 waktu di rumah aja udah kuatirnya setengah mati ini wulan bakal mati apa engga, sejak diketahui ternyata lukanya ada di kepala, ditambah lagi dengan muntah2 hebat.

sebagai orang awam, tentu kekhawatiran semacam ini wajar, dan ketika berusaha mencoba sabar melihat pasien tidak ditindak walaupun keluarga sudah berusaha mondar-mandir ngurus, tentu ini menjadi semacam tragedi yang miris di mata kami... apalagi kami sudah berusaha meyakinkan menjadi penjamin, bahkan bersedia membayar sebagian... namun respon yang ada? apakah layak sebagai seorang pribadi dokter?

begitu kiranya...
bluehg wrote on Dec 17, '07
calon mertua saya juga tuh, kecelakaan motor, dan langsung CT Scan menemukan fakta bahwa otaknya mengalami benturan yang bengkak, akibatnya harus segera dioperasi. Waktu itu kami di RS Pantai Indah Kapuk, ditangani oleh Dokter Ruslan yang baik, dia mendiskon ongkos kerja nya dia sampai 50% berhubung kami berasal dari keluarga kurang mampu... beliau adalah tim dari Prof. Satyanegara yang saat itu sedang cuti (dokter nya mantan presiden Soeharto), orang-orang taunya Prof. Satyanegara, tapi menurut kami Dokter Ruslan pun pintar, ramah, serta baik...

bukannya bermaksud nakutin, tapi tidak lama setelah calon mertua saya dioperasi ada orang juga yang masuk transfer dari RS lain karena jatuh dari tangga, otaknya pun mengalami pembengkakan... namun karena penanganan RS sebelumnya yang terlambat, beberapa hari setelah di ICU beliau meninggal...

intinya sih mau bilang, cari RS lain aja, hehehe... kalo dokternya sendiri gak care bisa2 kita diperas... kami kemarin di RS PIK dokternya, Dokter Danche, bisa ngomelin suster nya kalo pake obat tulisnya yang bener... ^__^ yang gak kepake buruan di retur ^__^ Dokter Danche pun orangnya baik... hehehe... cari aja RS baru, biasanya RS baru lebih care dan baik penanganannya...
hendoko wrote on Dec 17, '07
Memang sedih ya melihat hal kek gitu, padahal kita semua menaruh suatu penghormatan yang besar pada sosok dokter. Tetapi memang di Indonesia udah terlalu berkembang hal-hal komersil dan hedonisme, sehingga seringkali hal hal sosial dikalahkan oleh kebutuhan komersil.. Memang ada baiknya masing-masing dari kita memiliki sebuah polis asuransi jiwa, dan selalu membawa kemana mana kartu keanggotaan asuransi kita, sehingga apabila kita masuk ke RS partner dari asuransi tersebut kita bisa langsung mendapat pelayanan tanpa harus mengurus pembayaran terlebih dahulu.Regards
greenstory wrote on Dec 18, '07
Astagfirullah. prihatin bgt mbak, Baru baca nih. sedih bacanya.
rawins wrote on Dec 18, '07
Manusia memang begitu ya....
mbaknuri wrote on Dec 18, '07
setau aku yang super awam ttg dunia medis, kalo muntah2 gitu bisa jadi udah gegar otak. dan seharusnya kalo dokter2 itu tau si wulan udah muntah2, kebayang dong kan kalo gegar otak serius banget... emang ga jelas apa isi pikiran tu dokter.. harusnya sih dokter2 itu ga cuma dikasih pelajaran2 formal, tapi juga pelajaran2 kyk pembinaan mental dan ruhani, biar punya rasa tanggung jawab dikit... punya nurani...
diahramli wrote on Dec 18, '07
teh jadi inget.. dulu mamanya temenku juga kecelakaan, terus dibiarin gitu aja. ampe pendarahan. terus akhirnya meninggal.. sedih banget. masih ada teh (atau tambah banyak sekarang?) orang yang gitu. ga sadar kalo dia sendiri di posisi gitu gimana?
dan sebenernya bukan profesi dokter aja sih.. sekarang sensitifitas manusia udah bergeser jauh. sekarang orang kadang2 sensitif sama dirinya sendiri, ga sama orang lain. ya.. namanya juga udah mo kiamat teh..sabar aja.. yang penting teteh ga kemakan omongan orang-orang kaya gitu.

semoga wulan cepet sembuh..
mamatiti wrote on Dec 18, '07
Sari, kalau soal dokter preman seperti itu aku sering tahu(tahu bukan dengar). Contohnya suami anak tanteku juga dokter di daerah Sulawesi. Suatu saat saya dan dia pernah cerita2 tentang ibu hamil bermasalah yang terlambat dibawa kerumah sakit(mungkin karena minimnya pengetahuan dan dana). Saat ingat dia cuma bilang dengan 'poker face'(wajah dingin): 'Ya gak bisa saya apa2in lagi, salahnya sendiri datang sudah terlambat. Ampuni dia ya Allah!!!! Saya bayangkan dia menunggui pasien yang sekarat/kehilangan bayinya(saya gak tahu akhir ceritanya karena saya sudah muak lihat wajah suami kakak saya itu. Sampai sekarangpun saya berusaha gak ketemu dia lagi)dengan tenangnya seperti Dr. Kevorkian. Barangkali kalau cerita dokter2 bandit di Indonesia di-bundel bisa jadi best seller kali ya?
mamatiti wrote on Dec 18, '07
Sari, kalau soal dokter preman seperti itu aku sering tahu(tahu bukan dengar). Contohnya suami anak tanteku juga dokter di daerah Sulawesi. Suatu saat saya dan dia pernah cerita2 tentang ibu hamil bermasalah yang terlambat dibawa kerumah sakit(mungkin karena minimnya pengetahuan dan dana). Saat ingat dia cuma bilang dengan 'poker face'(wajah dingin): 'Ya gak bisa saya apa2in lagi, salahnya sendiri datang sudah terlambat. Ampuni dia ya Allah!!!! Saya bayangkan dia menunggui pasien yang sekarat/kehilangan bayinya(saya gak tahu akhir ceritanya karena saya sudah muak lihat wajah suami kakak saya itu. Sampai sekarangpun saya berusaha gak ketemu dia lagi)dengan tenangnya seperti Dr. Kevorkian. Barangkali kalau cerita dokter2 bandit di Indonesia di-bundel bisa jadi best seller kali ya?
astridchocolate wrote on Dec 18, '07
Saya sangat sedih sekali ada rekan sejawat atau calon rekan sejawat yang bertindak seperti itu. Saya malu sekali terhadap tindakan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap profesinya. Ini jelas harus dibenahi setidaknya jangan sampai terulang lagi.
Beberapa FK sudah coba memasukkan modul empati dan soft skill yang diharapkan dapat mendidik calon dokter agar mengasah jiwa (soul) dokter bukan hanya titelnya saja. Tapi saya rasa tidak hanya berhenti pada bangku kelas saja. Ini harus benar2 ditanamkan pada jiwa si dokter.
Hal ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua, tidak hanya dokter saya rasa, ini pelajaran bagi setiap yang mengaku dirinya manusia.
Jika tidak keberatan saya berniat memberikan kopi postingan mbak ke bagian pendidikan di almamater saya agar menjadi bahan diskusi dan pembelajaran bagi calon2 dokter disana.
Saya turut prihatin ya mbak. Semoga Wulan kembali sehat.
f4742ay wrote on Dec 18, '07
Saya baca blog ini dari milis sejawat dokter. Saya dokter dan dosen di FK universitas yang ada di bandung.Turut prihatin kena semprot dr yg lagi jaga itu ya.Kalo udah pernah ngerasain jaga malem pasti kerasa tuh alter ego kita yang bicara,bukan diri kita.Profesi yang butuh stamina & kesabaran yang lebih cuma dr.Satpam juga jaga malam,tp ga butuh tingkat kesabaran tinggi.2 tahun yang lalu saya dinas di Puskesmas daerah ciamis, pusat rujukan di kecamatan itu.Kasus yang saya tangani kebanyakan masalah kebidanan dan anak. Ada pasien yang kehamilannya berisiko di skrining untuk mendapat persalinan di tempat rujukan yang lebih tinggi.Tp karena keinginan pasien melahirkan di puskesmas, kami tidak bisa menyalahkan si ibu karena bukaan sudah lengkap. Ibu tersebut hamil kemmbar dengan posisi anak sungsang dan lintang (kehamilan risiko tinggi). Waktu itu jam 10 malam, saya di telpon dan segera berangkat kepuskesmas.Alhamdulillah bayi-bayi dan ibu tersebut lahir dengan selamat walau lewat waktu dan manuver persalinan yang rumit. Satu dari banyak kasus tersulit yang pernah saya tangani...sayangnya saya tidak pernah membaca blog yang dia buat (di sana warnet 30 ribu per jam) untuk berterima kasih (walau senyumnya sudah mengatakan terima kasih:-)),karena belum tentu dia kenal namanya internet. FYI, dokter tidak mendapat bayaran langsung dari pasiennya di RS ato Puskesmas, jadi tidak ada alasan menunggu tindakan pasien karena pasien belum membayar dokternya.Yang ada pasien belum membayar RUMAH SAKIT nya. Kebijakan RS selalu menekan staf medis dan paramedis untuk menurunkan standar pelayanan tertinggi. Saya pernah dinas di RS sekitar 6 bulan yang lalu, saya tahu bagaimana rumitnya urusan duit untuk pelayanan jasa kesehatan. Mau tau kenapa di RS luar negeri pelayanan diutamakan baru urusan bayar belakangan? karena yang dari Indon berobat ke LN pasti punya duit jadi gausah khawatir RUMAH SAKIT bakalan rugi ditinggal kabur pasien tanpa bayar. Sekarang liat bangsa kita...RS negeri aja dilepas pemerintah karena pemerintah gamau bayar subsidi. Nah bangsa kita emang pada kaya seperti kalian yang kenal internet dan bisa baca blog? Dokter bandit,bajingan, kunyuk, dll emang ada, sama aja kaya teknokrat,tukang HP,ekonom,sekretaris, bule ada yang punya status gitu juga. Jangan pernah berharap banyak dari manusia, cuma Allah yang layak kita harapkan.
droppingzone wrote on Dec 19, '07
Hmmm, deru materialisme menelurkan individualisme yang mengikis kepedulian terhadap sesama. Mulai dari yang kecil misalnya membuang sampah sembarangan yang mampu menghasilkan banjir, sampai kepada penelantaran terhadap nyawa manusia. Mungkin yang ini sedang khilaf terhadap sumpah dokter.
Sepertinya kita memang harus peduli, termasuk kesejahteraan semuanya, termasuk petugas kesehatan.
Yang optimis ya!
Mulai peduli deh semuanya.
Karena masalah bangsa ini sebenarnya cuma satu, yaitu kurang peduli, terhadap apa pun, bahkan dirinya sendiri.
Dan saya berharap banyak kepada manusia dengan segala potensinya, karena Tuhan saja berharap banyak terhadap manusia (masa' saya nggak sih?).
srisariningdiyah wrote on Dec 19, '07
f4742ay said
Nah bangsa kita emang pada kaya seperti kalian yang kenal internet dan bisa baca blog? Dokter bandit,bajingan, kunyuk, dll emang ada, sama aja kaya teknokrat,tukang HP,ekonom,sekretaris, bule ada yang punya status gitu juga. Jangan pernah berharap banyak dari manusia, cuma Allah yang layak kita harapkan.
Saya salut sekali dengan perjuangan anda di pelosok, dengan sepenuh hati...
maaf bila postingan saya ini menyinggung anda....
tapi bukan anda yang seharusnya tersinggung, bukan?
maaf bila saya salah membaca...

salam,
-ari-
srisariningdiyah wrote on Dec 19, '07
f4742ay said
Turut prihatin kena semprot dr yg lagi jaga itu ya.Kalo udah pernah ngerasain jaga malem pasti kerasa tuh alter ego kita yang bicara,bukan diri kita.Profesi yang butuh stamina & kesabaran yang lebih cuma dr.Satpam juga jaga malam,tp ga butuh tingkat kesabaran tinggi.
terima kasih sekali atas perhatian anda...
namun demikian, saya rasa tidak hanya dokter jaga malam yang berhak mengakui untuk merasa alter ego yang bicara... semua sama capek-nya dalam berdedikasi terhadap pekerjaan masing2 bukan?
Dan masing2 tentu tidak berhak untuk menerima ketidakadilan... seperti yang sedang dilakukan 'beliau'...

:)
sikrit wrote on Dec 20, '07, edited on Dec 20, '07
f4742ay says
"Mau tau kenapa di RS luar negeri pelayanan diutamakan baru urusan bayar belakangan? karena yang dari Indon berobat ke LN pasti punya duit jadi gausah khawatir RUMAH SAKIT bakalan rugi ditinggal kabur pasien tanpa bayar"

Maaf mas, memangnya di LN begitu?. kalau Rmh sakit di LN begitu, mungkin tidak di negara tempat saya tingga, peduli apa yg sekarat dari mana,?Mau orang asing yang sengaja dtg berobat dan dia berduit atau pembantu, tkw istilahnya kalau ada kata yg kasar 'budakpun' kalau mereka dtg ke UGD dan sekarat HARUS ditangani segera. Jadi, tidak ada kata lain seharus aksi/tindakan. Karena ni masalah 'nyawa'..!!.

Meskipun keadaan rumah sakit di tanah air masih carut marut, kan gk berarti hati kita mati dengan melihat org yang sedang sekarat...maaf kalau nggak berkenan ya, tapi saya saluttt amat salut sama dokter yang mengabdi di pedalaman dan bekerja dengan hati..Smg dokter dokter demikian diberikan rezeki dan mendapat pahala yg setimpal..

Utk Ari dan teman teman lain disini met idul adha ya, maaf lahir bathin..Ayoo kita perbaiki tanah air dimulai dari diri kita sendiri..Smg idul adha kali ini mempertebal jiwa sosial kita Amien
srisariningdiyah wrote on Dec 20, '07
f4742ay said
sayangnya saya tidak pernah membaca blog yang dia buat (di sana warnet 30 ribu per jam) untuk berterima kasih (walau senyumnya sudah mengatakan terima kasih:-)),karena belum tentu dia kenal namanya internet.
well..
saya rasa di luar sana banyak bertebaran blog yang mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada para dokter yang telah berjasa, dibanding isi satu blog ini yang terlihat di mata beberapa rekan "menyudutkan dokter", walupun tidak demikian maksudnya....

Saya tidak ingin berpanjang lebar lagi meyakinkan anda bahwa tiada maksud sedikitpun dalam hati saya untuk mendiskreditkan siapapun atau apapun di sini, insya Allah nanti kalau ada waktu saya akan buat blog ucapan terima kasih kepada salah satu dokter yang telah sangat berjasa kepada saya :) mudah2an anda juga sempat membaca kelak...

Maaf baru saya reply sekarang, karena baru saya menyadari arti lain dari reply anda ini...
salam,
-ari-
srisariningdiyah wrote on Dec 20, '07
f4742ay said
FYI, dokter tidak mendapat bayaran langsung dari pasiennya di RS ato Puskesmas, jadi tidak ada alasan menunggu tindakan pasien karena pasien belum membayar dokternya.Yang ada pasien belum membayar RUMAH SAKIT nya. Kebijakan RS selalu menekan staf medis dan paramedis untuk menurunkan standar pelayanan tertinggi. Saya pernah dinas di RS sekitar 6 bulan yang lalu, saya tahu bagaimana rumitnya urusan duit untuk pelayanan jasa kesehatan.
saya rasa saya sudah maklum dengan prosedur ini, mas Fajar...
bila anda sedikit lebih teliti membaca jurnal saya di atas...
hanya yang menjadi masalah adalah... semua hal yang mas tulis di atas adalah bukan alasan yang membenarkan dokter untuk mengucapkan BUKAN URUSAN SAYA, kepada pasien yang sudah 30 menit teronggok di depan dia dan rekan-rekan sejawat-nya, dalam ruangan UGD yang hanya berisi satu pasien di tempat tidur tsb...

mohon dimengerti & terima kasih... :)
srisariningdiyah wrote on Dec 20, '07
sikrit said
Ari dan teman teman lain disini met idul adha ya, maaf lahir bathin..Ayoo kita perbaiki tanah air dimulai dari diri kita sendiri..Smg idul adha kali ini mempertebal jiwa sosial kita Amien
amiiinnnnn ya rabbal alamin....

Met idul adha juga mba sikrit, semoga hepi liburan akhir tahun ini...
salam untuk jagoan ganteng yahhhhh...
mwah mwah mwahhhhh....
sherryfreddy wrote on Dec 20, '07
Serem emang, di RSCM juga kayaknya dulu mertuaku setengah dicuekin saat kecelakaan. Tapi pengalamanku, kalau ke ugd di RS Satya Negara Sunter atau Hermina Sunter kayaknya langsung ditangani dulu, baru kemudian disuruh bayar (aku pernah jahit luka kena kaca, dan suami jg pernah kesabet kabel something, di mesin mobil, yg juga harus dijahit, langsung ditangani di RS Satya Negara Sunter, bayar belakangan, dan juga sering ke igd RSIA Hermina Sunter kalau udah malam, untuk panas/sakit anakku atau jaman aku suka mulas tiba2 saat hamil dulu di jam2 gada dokter kandungan, lari ke ugd, dan bayar pasti belakangan). Tapi emang untuk rawat inap harus keluarin uang/card dulu baru bisa masuk kamar....Gatau kalau untuk ct scan atau rotgen, mungkin suruh bayar dulu juga kali..Jadi takut tinggal di Indonesia apalagi untuk yg ga punya uang. Dilarang sakit kayaknya...Eh, jadi inget, pas bgt nih, mba-ku lagi pulang kampung, ibunya sakit dan katanya kalau mau bisa mau dioperasi & gratis tuh kata cariknya, pake kartu miskin atau keterangan miskin gitu katanya, di Lumajang, berarti bisa dong ya harusnya tanpa biaya....?
sekarsekar wrote on Dec 20, '07
aku pernah denger2 cerita masalah dicuekin di RS. Mungkin memang visi dokter dan rumkit di Indonesia itu lain ya.... bukan ke arah sosial or kemanusiaan, melainkan semua sudah secara commercial... dan itung2an. Mungkin memang kita harus sebagai pengantar harus pasang muka serem alias galak dan musti super "bawel". Pas Sarah (2th) anakku panas tinggi ampe 40 derajat, aku ke UGD di Siloam, ya terus aja aku ikutin susternya dan aku tanyain dokternya, supaya anakku dapet penanganan, karena udah panas tinggi dan si kecil udah lemes bgt. Syukurlah jadi cepet ditangani. Secara aku itu "bawelin" suster dan dokter di situ juga.
koleksikikie wrote on Dec 20, '07
ngomong-ngomong gimana kabarnya wulan sekarang mbak?... =)
lakshminawasasi wrote on Dec 21, '07
Dear Sri, tertarik untuk memberikan komentar karena dibujuk oleh seorang teman yang mengirimkan SMS nya tadi pagi, dia bilang ada berita "seru" soal dokter :)
Setahu saya penanganan di RS memang selalu dikaitkan dengan administrasi. . Tapi ada aturan mainnya, jangan sampai mengenyampingkan kondisi kesehatan pasien. JIka pasien nya tidak dalam keadaan emergensi / transportable / tidak gawat maka jika kesiapan administrasinya minim, pasien disarankan untuk di rujuk ke RS pemerintah yang tentu saja dapat melayani pasien dengan fasilitas ASKESKIN / SKTM dan semacamnya.
Tapi jika pasien sifatnya emergensi / gawat / untransportable maka RS tsb wajib melayani dengan sebaik-baiknya ... tanpa memperdulikan soal ADMINISTRASI.
Biasanya RS yang baik, punya bagian pelayanan medik yang siaga dalam 24 jam untuk mengurus soal ini.
Saya tidak tahu persis soal sakitnya Wulan.
Berapa GCS / tingkat kesadarannya apakah memang termasuk CKS / cedera kepala sedang, CKB / cedera kepala berat ? atau CKR / cedera kepala ringan yang butuh observasi ?
Lepas dari apakah Wulan CKR, CKS atau CKB ; masalah administrasi seharusnya bukan menjadi penghambat dokter dalam melakukan tindakan.
Keluarga hanya dimintakan untuk menandatangani persetujuan tindakan saja, prosedur tetap dilakukan jika sifatnya CITO / emergensi tanpa menunggu kesiapan administrasi.
Seharusnya begitu dan memang banyak RS yang cukup baik melakukan prosedur spt itu.
Semoga cepat sembuh untuk Wulan ..
Saran saja tanyakan pada Dokter yang merawat diagnosa nya apa dan bagaimana kelanjutan perjalanan penyakitnya. Apakah dirawat oleh dokter spesialis bedah syaraf ? atau spesialis syaraf ?
Salam,
http://lakshminawasasi.blogspot.com




roelworks wrote on Dec 23, '07
Ternyata disini jadi rame sekali ya? Rekor kali Ya? Pa kabar mbaaak?
kucink wrote on Dec 23, '07
boleh percaya boleh tidak, skr saya kemana2 bawa rekorder... :D
yuliazmi wrote on Dec 24, '07
Semoga gak terulang lagi kejadian ini..., semoga Wulan juga cepat sembuh :)
hughary wrote on Dec 25, '07
Hadoh ketinggalan kereta niih....keep the faith..!!! cerita kaya gini memang udah bukan rahasia lagi kaya nya..hhmmm "DOKTER" juga kan manusia ..manusia punya banyak karakter tapi yah profesi DOKTER menurut gw yg PURE bener2 dokter kayanya memang udah susah kita temuin apa memang di indonesia aja ya..? hhmm sepertinya Kata2 DOKTER sekarang ya ngga jauh beda sama kita2 KARYAWAN yg yaahhh mencari nafkah buat makan kali...ga jauh beda sama angkot bus kota yg klo kita kecopetan ya resiko sendiri...harus gimana ya..hhmmm cuma mengelus dada aja deh...
sukmasinta wrote on Dec 25, '07
Dengan adanya kejadian itu, aku pengen tahu nih..... Jeng Sari kalau suatu saat nanti sakit, tetep mau berobat ke dokter apa ke mana?
srisariningdiyah wrote on Dec 25, '07
Dengan adanya kejadian itu, aku pengen tahu nih..... Jeng Sari kalau suatu saat nanti sakit, tetep mau berobat ke dokter apa ke mana?
saya rasa ndak ada hubungan-nya bersikap berobat ke dokter atau tidak nanti-nya, dengan tulisan ini...
tulisan ini hanya menyuarakan jeritan hati sesaat sewaktu diperlakukan tidak adil saja, dan tentu kalau orang berpikiran positif, bisa berpendapat bahwa tidak semua orang berlaku tidak adil kepada orang lain... demikian juga saya percaya, tidak semua dokter sama jelek prilaku-nya dengan dokter yang saya tulis diatas...

:)
sukmasinta wrote on Dec 26, '07
saya rasa ndak ada hubungan-nya bersikap berobat ke dokter atau tidak nanti-nya, dengan tulisan ini...
tulisan ini hanya menyuarakan jeritan hati sesaat sewaktu diperlakukan tidak adil saja, dan tentu kalau orang berpikiran positif, bisa berpendapat bahwa tidak semua orang berlaku tidak adil kepada orang lain... demikian juga saya percaya, tidak semua dokter sama jelek prilaku-nya dengan dokter yang saya tulis diatas...

:)
Betul Jeng. Gak semua begitu. Waktu baca tulisan Jeng, geregetan juga aku dengan dokter itu. Tulisan Jeng dibahas panjang lebar juga lho di MLDI. Semuanya menghujat sikap dokter itu.
Aku bersyukur deh Jeng Sari tidak menyamaratakan semua dokter begitu. Paling enggak, 7 thn kerja di UGD, syukur alhamdulillah aku belum pernah ngalamin (jangan sampai pernah) hal2 seperti yang Jeng Sari alami terjadi di depan mataku.
nitanoty wrote on Dec 27, '07
RS TKP (aku tau kaya gimana gambaran UGD nya disana) itu emang suka seenaknya, gak tertib semena-mena, waktu kakekku meninggal disana juga didiemin ajah pedahal cuma mau diperiksa beneran udah meninggal atau enggak. Tapi setelah itu gak ada tuh pihak dokter yang memberikan keterangan apa pun. Hmm nasib..nasin...tapi aku sudah iklash
vijamal wrote on Dec 28, '07
wah mba ... mba hebat masih bisa sabar begitu ... saya dari awal mungkin udah mencak-mencak!!
biadab juga dokter itu ...
gak pantes tuh jadi dokter....
rumah sakit disini emang kebanyakan seperti itu dan saya yakin, gak sedikit dokter yg seperti dia!!!!
saya juga pernah ko mengalami hal begitu (walau gak separah ini)... ckckck.. kok bisa ya orang gak punya hati nurani begitu jadi dokter...kasus begini mesti diketahui dan disadari oleh para medis dan calon2 medis yg masih sekolah! biar ketika mereka lulus dan berprofesi mereka bisa punya etika!! bukan cuma skill!!
vijamal wrote on Dec 28, '07
maaf, jadi ikut emosi mba....
srisariningdiyah wrote on Dec 28, '07
rekan-rekan semua, trims berat atas semua respon-nya...
positif & negatif respon dari rekan semua, sangat saya hargai...
untuk rekan-rekan yang hendak mengikuti perkembangan masalah ini sampai dimana,
beritanya ada di link yang tertutup untuk umum, dapat menghubungi saya melalui pm untuk lebih jauh...
semoga kita dan keluarga terhindar dari peristiwa2 tidak nyaman di rumah sakit...

salam hangat :)
aliyahya wrote on Dec 28, '07
terimakasih banyak mbak sri sharenya :) juga terimaksih krn msh menjaga nilai2 kemanusiaan dan kepedulian thd sesama. Salut buat mbak sri,... buat wulan semoga lekas sembuh :) buat dokter yg mbentak mbak,... ke laut aje deh!!! semoga dapet hidayah.
srisariningdiyah wrote on Dec 28, '07
sama-sama ....
mudah2an sharing ini berguna, dan it's trully, bukan bermaksud untuk menyudutkan siapapun kog...
terima kasih.... :)
bubushop wrote on Dec 28, '07
mba, aku pernah kecelakaan kayak wulan juga. ampe muntah2. cuma untung luka-luka di badan dan wajah ampe bonyok kayak abis dipukul maling. tapi kepalaku untung gpp. tapi karena ampe muntah2 di bawa ke UGD. dan untungnya dokter jaga waktu itu cepat nanganin. lukaku langsung diobatin dan langsung di CT Scan. 1 bulan aku harus bed rest, padahal saat kecelakaan aku cuma ada waktu 2 bulan untuk ngejar deadline skripsi. tapi peduli amat sama skripsi, yang penting sembuh. pas baca ini aku jadi flash back. aku tahu banget apa yang ada di pikirannya Wulan. Semoga dia baik-baik aja ya. tolong di update kondisinya wulan. karma pasti berbalas kok. bumi kan bulat, ucapan dan tindakan kita pasti berbalik ke kita juga. tapi mbak sri, hebat! bertahan terus di samping wulan. makasih mba
gwsukaoranye wrote on Dec 29, '07
jurnal lo juga masuk ke milis cosmo niy rie...
gak tau juga kalo dah ada di hari2 kemarin.. tapi gw baca today niy..
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Dec 29, '07
mba, aku pernah kecelakaan kayak wulan juga. ampe muntah2. cuma untung luka-luka di badan dan wajah ampe bonyok kayak abis dipukul maling. tapi kepalaku untung gpp. tapi karena ampe muntah2 di bawa ke UGD. dan untungnya dokter jaga waktu itu cepat nanganin. lukaku langsung diobatin dan langsung di CT Scan. 1 bulan aku harus bed rest, padahal saat kecelakaan aku cuma ada waktu 2 bulan untuk ngejar deadline skripsi. tapi peduli amat sama skripsi, yang penting sembuh. pas baca ini aku jadi flash back. aku tahu banget apa yang ada di pikirannya Wulan. Semoga dia baik-baik aja ya. tolong di update kondisinya wulan. karma pasti berbalas kok. bumi kan bulat, ucapan dan tindakan kita pasti berbalik ke kita juga. tapi mbak sri, hebat! bertahan terus di samping wulan. makasih mba
sama-sama, trims juga ya untuk reply yang mengharukan...
i'm so sorry to hear that, mudah2an skrg dah ga papa ya... :)
untuk update kabar wulan ada di jurnal setelah ini kog... jurnal nomor 424...
dan kebetulan beberapa jam lalu saya juga bicara lewat telepon dengan wulan,
she's getting better now :)
trims ya udah nanyain...
srisariningdiyah wrote on Dec 29, '07
jurnal lo juga masuk ke milis cosmo niy rie...
gak tau juga kalo dah ada di hari2 kemarin.. tapi gw baca today niy..
yah... mudah2an menjadi sesuatu yang berguna aja ya mba...
bukan-nya lantas menjadi sesuatu yang menjadi ladang caci maki...
kasian juga beliau...
Comment deleted at the request of the author.
gwsukaoranye wrote on Dec 29, '07
sesuatu yang berguna
amin
semoga ada manfaatnya..
setidaknya jurnal lo semakin banyak yang baca...
helmintes wrote on Dec 29, '07
assalamu'alaikum,wr wb
aku seorang perawat turut prihatin dan masalah seperti itu kerap terjadi,sebagai manusia biasa aku tetap berusaha apa yang terbaik yang bisa saya lakukan sebagai perawat,namun setelah saya bekerja di luar negeri masalah seperti itu jarang saya temukan di sana,kita harus bercermin pada diri kita sendiri sudahkah anda mempersiapkan negeri tercinta ini berubah jawabannya apa yang anda tlah lakukan buat bangsa.apakah anda pernah melakukan hal yang tidak menyenangkan buat orang lain.liat sisi kehidupan anda dan rubahlah orang terdekat anda,lakukan,,,,
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Dec 30, '07
assalamu'alaikum,wr wb
aku seorang perawat turut prihatin dan masalah seperti itu kerap terjadi,sebagai manusia biasa aku tetap berusaha apa yang terbaik yang bisa saya lakukan sebagai perawat,namun setelah saya bekerja di luar negeri masalah seperti itu jarang saya temukan di sana,kita harus bercermin pada diri kita sendiri sudahkah anda mempersiapkan negeri tercinta ini berubah jawabannya apa yang anda tlah lakukan buat bangsa.apakah anda pernah melakukan hal yang tidak menyenangkan buat orang lain.liat sisi kehidupan anda dan rubahlah orang terdekat anda,lakukan,,,,
waalaikumsalam wr wb....
anda benar, saya pasti bukan tanpa cacat...
namanya juga manusia ya....
jurnal inipun bukan saya buat untuk menyalahkan siapapun...
semata hanya sharing pengalaman saja, agar mudah2an tiada terulang kejadian serupa...
dan bagaimana bila ada rekan menghadapi masalah serupa di kemudian hari, supaya punya tindakan pencegahan...

.
.
.

trims atas masukan-nya :)
rainychan wrote on Dec 31, '07
dan sebenernya bukan profesi dokter aja sih.. sekarang sensitifitas manusia udah bergeser jauh. sekarang orang kadang2 sensitif sama dirinya sendiri, ga sama orang lain. ya.. namanya juga udah mo kiamat teh..sabar aja.. yang penting teteh ga kemakan omongan orang-orang kaya gitu.
ahhh....sedihnya kalo gitu...........
tapi memang harus diakui, yg diah bilang tuh bener

masalah dokter ini hanya salah satu "contoh" kasus,
sensitifitas manusia yg memang telah banyak bergesar...dalam segala aspek.....
tixtik wrote on Jan 1, '08
ngeri banged siy mbree ... ora nduwe perasaan ... :(
jadulforum wrote on Jan 2, '08
gak ngeri dituntut perusakan nama baik, mbak?

kalo uneg-uneg ini cuma sampe di sini sih gapapa, tapi akibat posting berikutnya (Wulan kembali ceria, and his name is...) malah bisa berbalik kepada mbak lho..

kalo sampe batas melaporkan kinerja dr. A itu sebagai uneg-uneg seperti posting ini (saja) mungkin masih bisa diterima oleh komisi disiplin rumah sakit, tapi kalo sampe bertujuan menyerang secara pribadi (ad hominem) ya..

semoga tidak ada pengaduan aja.

salam damai dan semoga tidak ada kejadian serupa.
-admin
http://www.jadul.org/forum/
srisariningdiyah wrote on Jan 2, '08
gak ngeri dituntut perusakan nama baik, mbak?

kalo uneg-uneg ini cuma sampe di sini sih gapapa, tapi akibat posting berikutnya (Wulan kembali ceria, and his name is...) malah bisa berbalik kepada mbak lho..

kalo sampe batas melaporkan kinerja dr. A itu sebagai uneg-uneg seperti posting ini (saja) mungkin masih bisa diterima oleh komisi disiplin rumah sakit, tapi kalo sampe bertujuan menyerang secara pribadi (ad hominem) ya..

semoga tidak ada pengaduan aja.

salam damai dan semoga tidak ada kejadian serupa.
-admin
http://www.jadul.org/forum/
sorry... sesuai tujuan penulisan semua curhat di blog saya...
tidak ada sama sekali tujuan menyerang secara pribadi...
kalau sekedar memberitahu nama, mana yang lebih buruk daripada membentak orang lain di depan umum?
dan apa sulitnya meminta maaf daripada meneror seperti yang sekarang sedang terjadi?
atau hanya untuk menunjukkan kesombongan saja?

salam,
sigisbm wrote on Jan 2, '08
Jangan terlalu merendah dengan mengatakan ini cuma uneg2 anda semata, ini adalah perasaan berjuta rakyat Indonesia yang tidak mampu dan akhirnya tidak mendapatkan pelayanan yang layak dari oknum-oknum dokter yang mengaku "manusia" padahal tidak lebih dari layaknya mesin hitung uang di kasir!

saya sendiri pernah 2 kali mengantar teman yang kritis, satu karena luka bakar tersiram minyak tanah dari kompor (sampai badannya menyala) satunya lagi karena mau bunuh diri minum baygon dan perlakuan yang saya terima sama, persyaratan administrasi lebih penting daripada nyawa pasien!
srisariningdiyah wrote on Jan 2, '08
sigisbm said
Jangan terlalu merendah dengan mengatakan ini cuma uneg2 anda semata, ini adalah perasaan berjuta rakyat Indonesia yang tidak mampu dan akhirnya tidak mendapatkan pelayanan yang layak dari oknum-oknum dokter yang mengaku "manusia" padahal tidak lebih dari layaknya mesin hitung uang di kasir!

saya sendiri pernah 2 kali mengantar teman yang kritis, satu karena luka bakar tersiram minyak tanah dari kompor (sampai badannya menyala) satunya lagi karena mau bunuh diri minum baygon dan perlakuan yang saya terima sama, persyaratan administrasi lebih penting daripada nyawa pasien!
i'm so sorry to hear that...
mudah2an rekan2 anda selalu dalam lindungan Tuhan & selamat setelah peristiwa...

sebagaimana tujuan menulis di sini, memang semata hanyalah curhat, uneg2 yang tiada mungkin saya sampaikan langsung kepada pihak rumah sakit tanpa saya harus berurusan dengan prosedur lagi... di sini saya bebas menulis walaupun saya tahu tanggung jawab yang menyertainya sungguh besar, misalnya saya dapat dituntut pencemaran nama baik, dan lain2... tapi mudah2an sesuai kenyataan yang ada, saya tidak melebih2kan cerita ini...

trims berat atas kunjungan mas sigisbm... :)
jadulforum wrote on Jan 3, '08
sorry... sesuai tujuan penulisan semua curhat di blog saya...
tidak ada sama sekali tujuan menyerang secara pribadi...
kalau sekedar memberitahu nama, mana yang lebih buruk daripada membentak orang lain di depan umum?
dan apa sulitnya meminta maaf daripada meneror seperti yang sekarang sedang terjadi?
atau hanya untuk menunjukkan kesombongan saja?

salam,
Memang sikap dr. A terhadap pasien dan kerabatnya serta keengganan beliau untuk meminta maaf (bila betul sesi ini ada) ini tidak dapat dibenarkan, tapi berlarut-larut terhadap publikasi nama dr. A apalagi tanpa ada tindak lanjut yang berarti (alias sekadar uneg-uneg) yang berkepanjangan, apakah itu dapat dibenarkan?

Hanya untuk menunjukkan kesombongan, kata Anda? Maksud Anda kesombongan dr. A atau profesi dokter?
Kalau maksud Anda kesombongan dr. A, berarti Anda menyerang beliau secara pribadi. Kontradiktif dengan argumen Anda.
Kalau maksud Anda kesombongan profesi dokter, apakah berarti Anda tidak mempercayai dokter (khususnya di Indonesia) dengan menggeneralisasi seperti demikian?

-admin
http://www.jadul.org/forum/
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
Memang sikap dr. A terhadap pasien dan kerabatnya serta keengganan beliau untuk meminta maaf (bila betul sesi ini ada) ini tidak dapat dibenarkan, tapi berlarut-larut terhadap publikasi nama dr. A apalagi tanpa ada tindak lanjut yang berarti (alias sekadar uneg-uneg) yang berkepanjangan, apakah itu dapat dibenarkan?

Hanya untuk menunjukkan kesombongan, kata Anda? Maksud Anda kesombongan dr. A atau profesi dokter?
Kalau maksud Anda kesombongan dr. A, berarti Anda menyerang beliau secara pribadi. Kontradiktif dengan argumen Anda.
Kalau maksud Anda kesombongan profesi dokter, apakah berarti Anda tidak mempercayai dokter (khususnya di Indonesia) dengan menggeneralisasi seperti demikian?

-admin
http://www.jadul.org/forum/
berlarut2 bagaimana maksud anda?
apakah saya memposting berkali2? saya cuma satu kali posting dan itu juga hanya memperlihatkan bukti gambar yang tertera nama beliau saja... untuk akibat dari hal tersebut, saya juga sudah menyatakan tanggung jawab saya...

Kesombongan yang saya maksud adalah kesombongan orang2 yang sudah berusaha mengintimidasi saya selama kasus ini berlanjut, memaksa-maksa saya untuk datang ke rumah sakit dengan tanpa agenda yang jelas, dan lain-lain.

Sorry, sepertinya anda tidak mengikuti perkembangan kasus, dan mohon untuk tidak menuduh yang bukan2 bila anda tidak membaca secara lengkap keseluruhan isi blog ini. Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak pernah menggeneralisir apapun, terutama masalah yang saya tuliskan di dalam blog ini. Apakah saya pernah menuliskan bahwa seluruh profesi yang saya sedang tulis di sini jelek? Mohon tidak mengada-ada bung...

salam,
adekbayi wrote on Jan 3, '08
kok cuman sharing pengalaman ajah bisa jadi seruwet ini yah akhiran nya ... hiks .. ikut prihatin mbak Sri ...
jadulforum wrote on Jan 3, '08
Posting berkali-kali, tentu jelas. Atau tepatnya lebih dari satu kali. Jurnal 424 adalah buktinya.

Mengenai kesombongan, saya hanya minta klarifikasi dari sepotong kata dengan banyak kemungkinan interpretasi tersebut. Apalagi topik di sini tidak hanya membicarakan pengalaman pribadi Anda, tetapi berhubungan dengan dr. A sebagai invidu, dr. A sebagai pelayan kesehatan, profesi kedokteran dan pelayanan kesehatan di Indonesia secara umum.

Ya, saya sudah mengerti tanggung jawab Anda, hanya ingin tahu seberapa mendalam tanggung jawab Anda terhadap uneg-uneg Anda ini dan seberapa siap Anda terhadap kemungkinan terburuk dari pemuatan uneg-uneg Anda ini. Bukan maksud saya menuduh. Kalau ada kata-kata saya yang membuat Anda tidak nyaman terhadap pemuatan uneg-uneg Anda ini ya mohon dimaafkan.

-admin
http://www.jadul.org/forum/
vaniahuebsch wrote on Jan 3, '08, edited on Jan 3, '08
ikut sedih dan gemes melihat "ketidak adilan" yg ada, mbak orang baik dan bertujuan menolong Wulan walau seadanya, tapi orang lain yg pny keahlian menolong orang lain malah terbentur birokrasi, administrasi dll. Mbak itu ikhlas nolong, itu pasti ada balasannya dari Allah swt krn DIA tidak tidur....

Ini semuanya jd pelajaran kita semua....Semoga Indonesia bisa lebih baik lagi....Amien....Saat ini aku cuma bisa berdoa, tapi aku harap suatu hari aku bisa bawa perubahan lebih baik bagi negeriku tercinta....

Semoga masalah mbak cepat selesai ya...mbak nggak sendiri...
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
Posting berkali-kali, tentu jelas. Atau tepatnya lebih dari satu kali. Jurnal 424 adalah buktinya.

Mengenai kesombongan, saya hanya minta klarifikasi dari sepotong kata dengan banyak kemungkinan interpretasi tersebut. Apalagi topik di sini tidak hanya membicarakan pengalaman pribadi Anda, tetapi berhubungan dengan dr. A sebagai invidu, dr. A sebagai pelayan kesehatan, profesi kedokteran dan pelayanan kesehatan di Indonesia secara umum.

Ya, saya sudah mengerti tanggung jawab Anda, hanya ingin tahu seberapa mendalam tanggung jawab Anda terhadap uneg-uneg Anda ini dan seberapa siap Anda terhadap kemungkinan terburuk dari pemuatan uneg-uneg Anda ini. Bukan maksud saya menuduh. Kalau ada kata-kata saya yang membuat Anda tidak nyaman terhadap pemuatan uneg-uneg Anda ini ya mohon dimaafkan.

-admin
http://www.jadul.org/forum/
maaf, saya hanya posting satu kali mengenai gambar yang tertera nama dokter, dan hanya di jurnal nomor 424 tersebut. Boleh periksa lebih teliti lagi, di dalam blog ini tidak ada nama tersebut. Anda yakin melihat dalam blog ini? Yang anda maksud posting berkali2 itu sebenarnya mengenai NAMA DOKTER atau MASALAH-NYA? Tentu wajar saya posting jurnal nomor 424 dengan tujuan memberitahukan perkembangan pasien, kepada orang2 yang telah mendoakan dia, kalau yang anda maksud MASALAH. Namun kalau anda maksud NAMA DOKTER, silahkan cek dalam blog ini sekali lagi, atau saya perlu memberikan kacamata baca kepada anda?

Mengenai kesombongan, saya sudah jawab dengan gamblang tentang hal tersebut dalam reply sebelum ini, bila anda masih kurang jelas, mari kita ketemuan aja besok jam 16.00 di kantor pusat IDI, saya bersedia menjelaskan langsung kepada anda. Nomor hp saya 0818 848499 bila anda berkenan menghubungi saya langsung, sehingga tidak makin berbalas reply hanya disini tanpa ujung, walaupun saya sudah berusaha menjelaskan...

Bila anda ingin tahu seberapa dalam tanggungjawab saya, saya tunggu kehadiran anda di Kantor Pusat IDI besok, Terima kasih sekali atas tanggapan anda dalam jurnal saya disini... :)

salam hormat.
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
Untuk mas/mbak jadulforum:
maaf untuk ketidaknyamanan anda, bila saya belum meng-approve invitation anda, karena saya mengutamakan approve dari orang2 yang jelas dan saya kenal atau dikenalkan sebelumnya oleh teman. Namun rupanya hal tersebut beralasan juga, dimana saya juga menjadi bertanya2 dengan apa maksud ada yang demikian kencang bersuara cenderung membela dokter yang sebenarnya tidak saya sebut namanya di jurnal ini. Apakah anda dokter yang sedang saya tulis dimana saya mempunyai pengalaman buruk dengan beliau? Atau anda rekan sejawat beliau? Atau anda siapa?

Ah, it's okay siapapun anda, bahkan bila anda adalah dokter yang saya maksud... tapi terusterang dalam hal menggeneralisir... anda sudah menuduh saya... terima kasih untuk tuduhan itu, dan mohon baca kembali baik2 jurnal ini.

Sekali lagi bila anda serius untuk mengetahui sejauh mana tanggung jawab saya terhadap masalah ini, saya tunggu besok kedatangan anda di IDI Pusat, Jl. Sam Ratulangi, jam 16.00.

Trims...
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
kok cuman sharing pengalaman ajah bisa jadi seruwet ini yah akhiran nya ... hiks .. ikut prihatin mbak Sri ...
it's ok mba... aku tulis, aku tanggungjawab...
apalagi banyak rekan2 yang sudah mem-forward juga tulisan ini, jadi makin besar pula tanggungjawabku...
thanks atas perhatian-nya mba... :)
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
ikut sedih dan gemes melihat "ketidak adilan" yg ada, mbak orang baik dan bertujuan menolong Wulan walau seadanya, tapi orang lain yg pny keahlian menolong orang lain malah terbentur birokrasi, administrasi dll. Mbak itu ikhlas nolong, itu pasti ada balasannya dari Allah swt krn DIA tidak tidur....

Ini semuanya jd pelajaran kita semua....Semoga Indonesia bisa lebih baik lagi....Amien....Saat ini aku cuma bisa berdoa, tapi aku harap suatu hari aku bisa bawa perubahan lebih baik bagi negeriku tercinta....

Semoga masalah mbak cepat selesai ya...mbak nggak sendiri...
trims mba vania, aku cuma berbuat apa yg biasa orang lain juga akan perbuat jika ada dalam posisiku, kalau bisa semaksimal berbuat, kenapa harus ragu? doa mba sungguh membuat terharu...
amin untuk itu semua... >:D<
jadulforum wrote on Jan 3, '08
Saya sudah minta maaf lho... tampaknya mahal atau perasaan saya saja?

Mengenai di-accept atau gak, terserah yang di-invite toh? Saya tidak memaksa untuk bersilaturahim.
Now can't we just stick to the topic?

Sam Ratulangi, 16.00, 0818 848499. check

-admin
http://www.jadul.org/forum/
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
dimaafkan, dipersilahkan untuk datang...
dan tidak salah toh, kalau saya jadi bertanya2 sehubungan demikian kencang anda bersuara membela beliau?

sampai ketemu nanti sore... :)
diandayulia wrote on Jan 3, '08
penasaran juga nih sama mas/mbak jadulforum ini,...
semoga tujuannya semua untuk penyelesaian masalah yang baik.
Kalo banyak yang mereply mengenai posting blog ini, namanya bukan "posting yang berlarut2" dong?
tapi perhatian dan kepedulian yang "bertambah"

srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
Saya tidak memaksa untuk bersilaturahim.
oya, btw terima kasih sekali atas niat silaturahim-nya...
saya tidak pernah menolak untuk bersilaturahmi kog... supaya anda tidak salah mengerti...
namun demikian saya rasa jalan untuk silaturahim tidak hanya menjadi kontak saja...
alangkah lebih baik bila kita mengenal terlebih dahulu langsung, oleh sebab itu sangat ditunggu kehadiran anda sore nanti jam 4 di sam ratulangi... :)

salam,
qhiqhio wrote on Jan 3, '08, edited on Jan 3, '08
baca sejumlah reply-an terakhir jadi mengingatkan pesan kakak saya dulu waktu saya masih duduk di bangku smp ketika saya berada di antara 2 apapun itu yg sedang bermasalah, dia bilang bersikaplah bijak, jangan memihak salah satu diantaranya, jadilah hakim, bukan jadi pengacara atau jaksa.

semoga bermanfaat.
srisariningdiyah wrote on Jan 3, '08
sip.... qq.... tengkyu ya...
dalam melihat masalah rekan2 aku juga berusaha selalu netral...
tapi dalam kasus ini, berhubung aku ada di pihak lemah, aku sudah wanti2 supaya reply mengarah pembelaan terhadap dokter mohon untuk tidak ada karena akan menambah sakit hati aja, tapi berhubung udah lama kejadiannya dan ngapain juga sakit hati melulu, dan sekarang udah berkembang adanya percobaan intimidasi2 dari pihak2 lain seperti penasehat IDI, dll... maka aku gak ingin sampai terseret dari masalah utama aja... jadi tolong dipertegas aja yang reply di sini, bahwa akuudah memberi kesempatan anda semua untuk reply mengemukakan pendapat disini, tapi mohon juga jangan sampai melenceng dari masalah utama... yaitu perlakuan dokter.
itu aja sih... semoga berkenan untuk para pembaca...
qhiqhio wrote on Jan 4, '08
Sipppp

pinkq wrote on Jan 4, '08
Dear Admin Jadulforum,

Menurut pendapat saya, Mbak Ari bukan pencemaran nama baik, tapi lebih kepada pemberian bukti kepada Pembaca yang terutama akhirnya me-link jurnal ini sampe kemana-mana, bahwa apa yang ditulis berdasarkan bukti bukan sekedar omongan saja, dan Mbak Ari sendiri pun sudah berkata bahwa apapun urusannya menjadi tanggung Jawab dia.

Tapi dalam masalah ini, rasanya bukan Mbak Ari ataupun Wulan saja yang pernah merasakan, pasti banyak yang mengalami hal yang sama (seperti banyak dapat dibaca di reply2 di jurnal ini), bedanya Mbak Ari bisa lebih bersuara daripada yang lain, jadi karena sekarang masalah ini sudah diketahui khalayak orang banyak, dan semua mempunyai opini masing-masing bagaimana cara menilai kasus ini.
seharusnya kasus ini bisa menjadi manfaat untuk profesi dokter, dan seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk dr.A.

Saya yakin semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan persaudaraan, gak ada noda ya gak belajar. semoga kita semua bisa menuai manfaat dari kasus ini, bahwa harga sebuah NYAWA sangatlah MAHAL, mahal disini bukan berarti secara materi, tapi lebih tanggung jawab pada akhir hidup nantinya, yaitu hanya Kepada TUHAN YME.

Terima kasih.

Wassalam,
elbintang wrote on Jan 4, '08
deuh...
jadulforum kayaknya mo ikutan dalam barisan ketemuan di samratulangi ya...
-------------------------
boljug tuw :-)
kesha wrote on Jan 4, '08
"BUKAN URUSAN SAYA"... well... indah sekali yah.... ck..ck.. seandainya ini adalah cerita fiksi...

Yang tabah mbak Ari... tulisan2 seperti ini memang perlu untuk kontrol sosial dalam masyarakat dan bukan pencemaran nama baik.

Terimakasih untuk sharing dan keberaniannya.
kesha wrote on Jan 4, '08
Aku lagi berpikir, dengan beredarnya tulisan mbak Ari ini ke seantero milis, dengan demikian kencangnya, ada berapa "Wulan-Wulan" lagi yang pada akhirnya mendapatkan pelayanan RS yang bukan pake jawaban "Bukan Urusan Saya"?

Saya rasa tulisan mbak Ari ini dalam 1 hampir 1 bulan ini, telah banyak menyelamatkan "Wulan-Wulan" lain itu..

Bravo mbak Ari... semoga urusannya cepat selesai.

Oh ya, mengenai penyebaran tulisan ini di blog pribadi mbak Ari, kan banyak yang juga menyebarkan kemana-mana, sampai ke forum2 dan milis2.
jadulforum wrote on Jan 4, '08
Kepada mbak pinkq, Anda sekalian punya opini, saya punya juga punya opini. Juga diharapkan bermanfaat bagi para penyelenggara pelayanan kesehatan, pasien, keluarga pasien dan innocent bystanders. Saya tidak menganggap ini semua salah, tapi apakah uneg-uneg ini bisa dibenarkan dan apakah kuat pembenarannya, demikian seperti perilaku dr. A tsb yang tidak sesuai standar pelayanan itu?

kepada mbak Ari, maaf sekali lagi maaf saya tidak dapat hadir di IDI sore ini maupun memberitahu Anda melalui ponsel. Tetapi kembali ke topik (dan soal add contact mungkin kalau mau diteruskan melalui PM saja.. tertib dong), jadi ini adalah perihal perlakuan dokter yang kebetulan dilakoni oleh dr. A, dalam format uneg-uneg yang tentunya tidak lebih sekadar opini. untuk kemudian disematkan ke dalam blog, tersebar ke berbagai forum dan milist, tetapi segala diskusi untuk membela dr. A (sebagai individu ataupun sebagai dokter pelayan kesehatan) sebisa mungkin tidak ada. betul demikian?

lantas bagaimana masalah ini bisa selesai apabila diskusi harus dibatasi? akankah terus menjadi uneg-uneg atau akan menjadi blunder terhadap praktek kedokteran untuk selamanya?

Anda sudah keburu paranoid menghadapi opini saya, coba tenangkan diri terlebih dahulu. Mengenai hubungan saya dengan dr. A, saya tidak memiliki hubungan darah maupun hubungan kerja dengan dr. A jadi tenang saja. Saya tidak memiliki beban untuk harus memihak dr. A yang telah berbuat sesuai prosedur dan administrasi tetapi sangat menginjak-injak aspek empati kepada pasien maupun pengantar pasien, ataupun memihak Anda sebagai kerabat pasien yang wajar untuk kurang mengerti seluk beluk pelayanan kesehatan dan berhak atas kejelasan dan kenyamanan dalam pelayanan kesehatan tetapi kami tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya hanya ingin uneg-uneg Anda ini tidak sia-sia, minimal dapat menjadi media pembelajaran untuk semuanya, bukan sekadar peringatan bagi para dokter yang kelakuannya mirip dengan dr. A saja.

-admin
http://www.jadul.org/forum/
kesha wrote on Jan 4, '08
Kalo menurut pandangan saya, apa yang di tulis mbak Ari sudah sangat benar, mbak Ari mengungkapkan kekecewaan dari pengalamannya, tidak kurang dan tidak lebih dari suara konsumen ketika mendapatkan produk tidak baik/cacat dan disini, kami sebagai teman, sahabat dan network mbak Ari yang sudah bertahun2 sangat percaya dengan keakurasian tulisan mbak Ari dan sosok karakter mbak Ari.

Lihat saja, teman2 Multiply yang me-link, mereka bukan orang sembarangan yang gampang menyebarkan/percaya isu jika sumber beritanya tidak kuat.

Di tulisan ini, suara mbak Ari jelas, dia kecewa dengan ucapan dr. Ardi, tetapi mbak Ari tidak menghujat korps dokter/dokter2 lainnya, dan bila disini atau di milis2 reply-annya berkembang menjadi ajang mendiskreditkan pihak dokter, silahkan para reply-ers di tanya satu persatu.

Seharusnya pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa di lecehkan, membuat rapat interen dgn meminta keterangan dari dr. Ardi, mengklarifikasi keterangan dari sumber berita cukup per-telpon saja, dan jika semuanya sudah jelas kesalahannya, silahkan ambil tindakan, meminta maaf kepada yg di rugikan, sanksi kepada yang buat kesalahan.

Sebenarnya apa sih bedanya tulisan mbak Ari di blog ini dengan surat keluhan konsumen yang biasanya sering di sediakan/disebar dimana2? Apakah keluhan konsumen bisa membuat seseorang sampai berurusan dengan hukum?

Saya perecaya tulisan mbak Ari ini tidak sia2 dan menjadi salah satu tonggak pelayanan Kesehatan di kemudian hari.

srisariningdiyah wrote on Jan 4, '08, edited on Jan 5, '08
mas/mba jadul forum,
sayang sekali anda tidak datang hari ini ke kantor pusat IDI, untuk mendapat kejelasan langsung sejauh mana tanggung jawab saya terhadap kasus ini, seperti yang anda pertanyakan...
mohon maaf, saya tidak ingin berpanjang lebar menjelaskan disini, persoalan yang sebenarnya anda dapat dengan mudah ambil kesimpulan... :)

tapi satu hal untuk mempertegas bahwa saya tidak setuju pernyataan anda berikut, bahwa: "dr. A yang telah berbuat sesuai prosedur dan administrasi tetapi sangat menginjak-injak aspek empati kepada pasien maupun pengantar pasien"...

menurut saya: secara administrasi mungkin beliau benar, namun secara prosedur? apakah 30 menit membiarkan pasien dengan sama sekali tidak ada tindakan (jangan hitung dahulu CT Scan) adalah prosedur standar? ada yang bisa menjelaskan dari rekan2 yg bertugas di rumah sakit-kah? apakah hal tersebut merupakan prosedur standar di luar administrasi?
ingat, tuntutan terhadap keluarga pasien hanya biaya administrasi untuk CT Scan.... bukan penanganan pertama, sesuai nama ruangan tersebut: UGD... Unit Gawat Darurat...


untuk diketahui juga, saya sama sekali tidak paranoid atau berusaha membatasi diskusi disini, tapi untuk menghemat energi, alangkah baik bila anda yang tidak mengikuti dari awal permasalahan disini, untuk langsung bertemu saya tadi di IDI Pusat. sayang sekali... apalagi identitas anda juga samar-samar, jadi menurut saya wajar kalau saya menganggap miring semua pendapat anda... :) sorry... kebebasan berpendapat disini, saya anggap sebagai pemilik blog, adalah kebebasan berpendapat dari individu yang jelas, yang tidak menutupi identitas sebenarnya untuk tujuan2 yang tidak jelas dalam melempar opini...

well... bila anda masih berminat mengetahui, insya Allah saya akan posting semua hasil pertemuan kami hari ini dalam waktu dekat, dimana saya dan teman2 sudah bertemu dengan semua pejabat berwenang yang mengundang kami...

trims....
srisariningdiyah wrote on Jan 4, '08
kesha said
Seharusnya pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa di lecehkan, membuat rapat interen dgn meminta keterangan dari dr. Ardi, mengklarifikasi keterangan dari sumber berita cukup per-telpon saja, dan jika semuanya sudah jelas kesalahannya, silahkan ambil tindakan, meminta maaf kepada yg di rugikan, sanksi kepada yang buat kesalahan.
yup mas rusma....
pertama sekali, hal tersebut yg saya harapkan...
paling tidak ada respon minta maaf dari pihak dokter atau rs kepada pasien...
tapi yg terjadi adalah percobaan intimidasi by phone..... dll....
jadi yah... itu semua aku pertanyakan dalam rapat sidang tadi....

mengenai mas/mba jadulforum....
aku dah maklum kog mas rusma... mungkin krn beliau tidak mengikuti perkembangan masalah ini dalam network message, shg dengan semangat mempertanyakan seberapa jauh tanggungjawab aku dalam persoalan ini... sutralah... :)

makasi mas rusma dan semua rekans...... :)
kesha wrote on Jan 4, '08
Mas/mbak jadulforum, sebaiknya jika ingin berdiskusi atau reply di blog orang/berbicara dengan blog owner, identitasnya harus jelas, yahh... seperti orang kenalan di darat aja, masak ulurin tangan, tapi mukanya ditutup koran? Kan ga sopan mas/mbak.

Kita disini ga lihat fisik orang kok, meskipun ga punya hidung dan mata, tetap aja kita akan kenalan dengan senang hati.

Identitas yang disembunyikan tapi ingin berkenalan, tentu akan membuat orang bertanya2, ada apa ya dengan "dia"...?

Harap di maklumi, kita di Multiply sudah memandang network ini sungguhan bukan di dunia maya lagi, pertemanan yang real, persaudaraan, individu yang eksis adalah yang utama.
mamatiti wrote on Jan 4, '08
Sari, sudahlah jangan bereaksi terhadap pihak seperti jadulforum. I think we all know what to believe. Sari hanya akan membuang energi(mengetik dan membuat konsep kalimat juga perlu energi) Just ignore him/her and move on.
srisariningdiyah wrote on Jan 4, '08
Buat rekan-rekan di luar network, diberitahukan bahwa tadi sore 4 Januari 2008 pukul 17.17 (walaupun undangan pukul 16.00 dan kami harus menunggu selama 1 jam tanpa ada perlakuan layak sebagai tamu undangan) telah diadakan rapat awal yang membahas kasus ini, di IDI Pusat, Jl. Sam Ratulangi, yang dihadiri oleh 5 orang rekan mpers selain saya, dengan id mp masing-masing: menhariq, pinkq, ruswinar, daniasunarto dan remangsenja. Kami datang dengan atas nama Komunitas Multiply Indonesia, yang walaupun sebenarnya saya berniat datang sendiri namun dengan baik hati ada 5 sukarelawan yang bersedia menemani. Untuk itu sangat diucapkan terima kasih... Dalam rapat, saya juga menyampaikan bahwa alasan ke-5 orang rekan tersebut menemani tidak lain adalah bentuk kepedulian terhadap masalah ini, juga sebagai konsumen kesehatan yang berhak ingin tahu perkembangan masalah ini, dan sebagian merupakan bentuk tanggung jawab mereka yang telah ikut menyebarkan (meng-forward) berita di dalam blog saya ini ke pihak-pihak lain, dengan kesadaran penuh dan tahu segala resiko-nya.

Rapat atau tepat-nya SIDANG ini dihadiri oleh beberapa pejabat IDI dan lain-lain *belum liat catatan lagi* yang berjumlah 9 orang, dan telah mengambil kesimpulan sementara yang hasilnya akan saya pablis nanti selengkapnya, paling tidak intinya kami dari kedua belah pihak sama-sama saling menjaga untuk tidak ada sama sekali tuntutan hukum dari kedua belah pihak, dan setelah cross check dari masing-masing pihak, bila betul kejadian ini terjadi dan dapat dibuktikan, maka akan diambil tindakan terhadap pihak yang telah merugikan...

Demikian kiranya, kepada rekan-rekan yang sementara ini belum dapat melihat perkembangan lanjutan kasus ini yang dibahas secara network saja, untuk diketahui bahwa kasus tidak berhenti hanya sampai di sini saja, melainkan dengan berusaha memenuhi tanggungjawab sebagai penulis kejadian nyata, saya tetap beritikad baik untuk meng-clear-kan masalah (kalau masalah memang ada pada saya, tapi nyatanya tidak), walaupun halangan2 seperti kejadian2 tidak mengenakkan sebenarnya telah terjadi dalam prakteknya....

Terima kasih sekali atas perhatian rekan semua, mudah2an semua yang saya sampaikan disini bermanfaat bagi kita semua untuk diambil pelajaran dan hikmah-nya... :)

salam,
qhiqhio wrote on Jan 4, '08

di tunggu ye........
mielnschatz wrote on Jan 4, '08
gimana riiiiiiiiiiiiiiiiii.... ditunggu ceritanya ri...
aishliz wrote on Jan 5, '08
Subhanallah... perjuangan mbak Ari smoga mendapatkan berkah dan kemudahan *salut*
srhida wrote on Jan 5, '08
*nyeruput kopi pahit*
ruswinar wrote on Jan 6, '08
quote of the day :
' silahkan anda ke psikiater supaya fress '
' jangan - jangan anda mantan pacarnya dokter A'

hahahaha.....lucu sekali.....asli, yang ini bener - bener menggelikan ampe ga bisa nahan ketawa di dalam ruangan itu....bhuahaha...
srisariningdiyah wrote on Jan 6, '08
hehehehe... dan dengan bangga pula yah, mengaku di depan sidang...
kalo nulis imel dalam keadaan marah ke gue.... huhuhuhu...
*masih terkagum2*
ruswinar wrote on Jan 6, '08
*masih terkagum2*
iyah...bener - bener fress ( double S loh )
emiliana wrote on Jan 6, '08
Saya semakin kagum dengan mba Ari....Semoga banyak orang bisa berani bersuara seperti mbak...*Bravo mba Ari* Memang Presidennya MP deh :)
semartogog wrote on Jan 6, '08
mBak...
Saya pernah mengalami seperti/mirip hal tsb diatas... cuman beda tempat, ceritanya sbb:
Istri tetangga depan rumah mengalami pendarahan/pecah ketuban sewaktu hamil 7 bulan. Karena suaminya lagi di luar kota, kami (saya+istri) membawanya dg mobil ke RS-terdekat. Tentu saja kami berangkat tanpa bekal apa-apa, begitu sampai disana masuk bagian UGD... dan dibiarkan lama menunggu Dokter yg belum datang. Begitu Dr-nya datang yg ditanya "Apa semua admin-nya udah beres?"
Kami lari lagi ke bagian admin... dan diminta bayaran +/- 900rb, karena nggak bawa duit... terpaksa gelang/ kalung istri ditinggal sebagai jaminan dan saya segera lari ATM.

Nah.. yg bikin sebel kami masih disuruh tunggu karena Dr+Perawatnya lagi istirahat makan. 2 Nyawa (Ibu+bayi) dalam kondisi kritis, masih saja mereka anggap enteng

rgds,
Anonim

dayseema wrote on Jan 6, '08
Gak sabar nunggu detail jalannya meeting di IDI...
:-)

Salut untuk mbak Ari yang mau bersusah-payah nolong orang, mau ngeluarin energi untuk menulis ini, trus juga meng-update kita semua tentang kelanjutannya, tegar menghadapi teror dari berbagai pihak (baik yang berani menyebutkan identitas dirinya maupun yang sembunyi dibalik nama nama nggak jelas), trus masih mau ngeluarin energi-waktu-biaya-dll dsb untuk meeting di IDI Pusat.
Salut banget! Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda.. Aamiin...

*bangga jadi temannya mba Ari*

ekakurnia wrote on Jan 7, '08
gara-gara tulisan ini, semuanya jadi heboh....
tapi salut, ternyata masih ada orang yang berani mengungkapkan kebenaran
irulfajri wrote on Jan 7, '08
miris memangmemaca cerita ini...

mungkin sebagian kawan2 ada yang menaruh simpati samapi harus mencaci maki baik si dr. A (menggunakan istilah mas jadulforum) atau juga mencaci maki prorfesi dokter indonesia...

ada juga yang dengan manis mencoba membela kinerja si Dokter A entah secara langsung atau karena berkaitan dengan pembelaan profesi...

sebenarnya kalo MENURUT SAYA (perlu diperhatikan karena ini pendapat pribadi) masalah ini harus kita jadikan sebagai suatu pembelajaran terlepas dari benar atau tidaknya ini terjadi (maaf ya mba sari bukannya menyangsikan tapi sekedar memahami sebagian opini yang menganggap ini rekayasa),

mau tidak mau harus kita akui sebagai kalangan medik masalah ini kerap terjadi, mungkin dengan alasan lagi ngantuk2nya tiba pasien datang ditambah dengan pengantar yang bawel (maaf lagi mba sari) atau dengan pengantar yang merasa lebih tau harus mengambil tindakan apa dari pada kita sebagai seorang tenaga medis yang kuliahnya saja ada yang sampai 7 tahunan, bahkan lebih....tapi mau tidak mau kita sebagi pelayan disini harus memberikan pelayanan yang memuaskan karena pasien dan keluarganya berhak untuk mendapatkannya, palagi dengan status kita sebagai penyedia jasa...

memang tidak bisa di pugkiri dengan adanya kebijaksanaan Rusmah Sakit tempat kita bernaung sering kali membuat kita harus mengingkari rasa kemanusiaan tetapi dengan menggunakan kata2 "BUKAN URUSAN SAYA" sepertinya bukan suatu kata2 yang bijak apalagi kita hadir disana sebagai tenaga yang ahli di bidangnya.
kalo pasien atau si pengantar itu tau dan ahli juga saya rasa dia tidak perlu repot2 membawa sipesakit kepada kita...dan karena dia merasa kita lebih tau dan kita ahli dalam bidang ini makanyalah dia membawa si pasien kepada kita dan oleh karena itu sekarang menjadi urusan kita....
masa iya cuma untuk membersihkan luka pasien kita menunggu kata ok dari bagian administrasi, kalo sampai luka itu infeksi siapa pula yang repot kan kita2 juga...he...he...

coment ini saya tujukan untuk kawan2 yang bergelut dibidang yang sama yaitu di bidang medis bukan untuk ikut menyudutkan dan bukan juga ikut memanas-manaskan tetapi akan lebih bijak kalau kasus ini dapat menjadi bahan pembelajaran untuk kita nantinya ....dan cobalah posisikan diri kita sebagai pasien bila kita sedang menghadapi pasien....

dan untuk kawan2 mp lainnya jangan menyamaratakan semua dokter sama dengan yang diceritakan oleh mba sari atau dengan kawan2 lainnya di blog ini, mungkin yang temen2 hadapi hanya sebagian dokter yang negatif saja, seperti yang diceritakan oleh dr. aggiechan bahwa masih banyak dokter2 lainnya yang berbudi pekerti dan itu mungkin tidak pernah di blow up...

terima kasih saya ucapkan buat mba sri mungkin dengan cerita ini makin membuka hati nurani saya dan mungkin rekan2 saya yang lainnya, mohon doanya semoga saya nantinya tidak menjadi dokter yang sama dengan yang diceritakan oleh mba sari...keep in touch ya
ekakurnia wrote on Jan 7, '08
huemm...saya baru liat ada dokter di multiply yang nanggapin, Alhamdulillah.....
semoga menjadi pelajaran buat dokter2 ataupun paramedis lainnya
dokterqyu wrote on Jan 8, '08, edited on Jan 8, '08
hmmm..kalo sy menempatkan diri jadi pasien/keluarga pasien atau orang awam pasti apa yang saya pikirkan juga gajauh beda dari komen2 diatas....
tapi setelah menjalani bbrpa tahun hidup di RS. banyak hal lain yang saya pikirkan.

dokter yang baik adalah yg mengutamakan pelayanan terbaik utntuk pasiennya. dalam kondisi normal
mungkin sebagian besar dokter berusaha untuk melakukannya sebaik mnugkin. namun ada bbrpa hal yg membuat hal itu tidak dilakukan. ada bbrpa alasan:

1. kondisi yang sempit. misalnya banyakpasien yang lebih gawat yg harus diutamakan. mau ga mau..sadar ga sadar..kadang pasien lain terabaikan. karena pada prinsipnya memang kita harus mendahulukan pasien gawat

2. lagi2 soal prosedur. dokter berada di bawah aturan2 RS yang terkadang emang bikin puyeng. seperti komentar seorang teman sejawat (eh calon sejawat sih) di postingan saya

:http://dokterqyu.multiply.com/journal/item/148/pasien_rewel_baiknya_diapain

selain aspek pelayanan medis, terkadang yang bikin pusing tu kalo kita kerja di RS yang provider atau kerjasama sama asuransi or perusahaan, segala 'kerewelan' itu ditambah dengan berbagai prosedur administrasi yang kadang tidak dimengerti dgn baik oleh pasiennya sendiri. yang punya aturan ya company dia, kita sbg provider ikut aturan tsb (karena takut tagihan dikembalikan) eeeh... pasiennya malah nuduh kitanya yang ga becus.....

3. human error. ini sih gw no comment aja...banyak manusia error diluar sana. dan dokter juga manusia yg bisa error. masalah seberat apa error nya.... yang melihat langsung yg bisa menilai. semoga ga tambah byk deh dokter error di dunia ini T_T

terkadang dokter dituntut untuk bisa perfect dalam melayani pasien. Sulit memang, tapi itu sesuatuyang akan "ditagih" di akhirat nanti.
seorang dokter (yg juga seorang ustadz) pernah bilang:

MENJADI DOKTER BAGAI BERADA DI DUA JALAN. JIKA MELANGKAH SEDIKIT KE KIRI AKAN MASUK NERAKA. MELANGKAH SEDIKIT KE KANAN AKAN MASUK SURGA....

dan saya menyadari dengan sepebuh hati : HAL ITU MEMANG BENAR!!!!!


dokterqyu wrote on Jan 8, '08, edited on Jan 8, '08
Tampaknya kini kolega-kolega saya kerjanya ibarat kuli kontrakan rumah sakit ya? Atau supaya cepat kaya? Jaman saya masih aktif, yang ku lakukan upaya life-saving dulu! Soal pembayaran sih urusan belakang. Kalau perlu nanti tinggal bawain surat keterangan miskin saja. Karena pendirian saya demikian, mungkin secara harta saya saya tergolong miskin, tapi dari segi batin, saya merasa diri saya sangat kaya. Tapi apa dokter-dokter jaman sekarang dapat dipersalahkan? Untuk jadi dokter, puluhan juta bahkan ratusan juta Rp harus mereka keluarkan, sedang saya sesen pun tak usah bayar.
Jadi mungkin kesalahan sistem secara menyeluruh! tak taulah aku.
setuju ama pakde dokter

sistem yang ERROR menghasilkan manusia2 ERROR

~i'm just some one who always learning how become a good muslim doctor~
http://dokterqyu.wordpress.com/
ekakurnia wrote on Jan 8, '08
saya juga pernah error klo lg BeTe....
srisariningdiyah wrote on Jan 8, '08
sutralah... komen apapun tidak merubah kenyataan yang ada...
yaitu pokok tulisan ini: perlakuan dokter kepada keluarga pasien & kenapa membiarkan pasien 30 menit lebih tanpa penanganan?
itu yang sedang disangkal oleh yang bersangkutan disini, saat ini...
Jadi doakan saja kasus ini selesai dengan ada masukan berguna bagi siapapun, termasuk saya...

^_^
smarttownwhore wrote on Jan 9, '08
Dear Sri...

Ck...ck...ck.....saya sangat salut dengan tulisan anda. Anda sangat memiliki bakat yang luar biasa dalam menulis, yang mungkin harusnya anda kembangkan dalam bentuk novel atau mungkin membuat naskah cerita sinetron.

Terlihat dari tulisan anda, anda menceritakan tindakan anda yang sangat heroik, dengan menolong orang yang anda tidak kenal dan mau mengambil tindakan ekstra demi kebaikan orang tersebut. Hebat! anda memiliki peluang besar untuk masuk Surga. Dan kalo boleh saya ulangi tulisan anda sendiri: "Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja". Sungguh lucu buat saya membaca perkataan anda ini yang terkesan "sincere" atau tulus. Namun semerta-merta anda memaparkan FOTO KORBAN DALAM KEADAAN TIDAK SADAR DI TEMPAT PUBLIK. Saya menjadi tergelitik untuk bertanya, APAKAN SUDAH ADA IZIN DARI WULAN SENDIRI, UNTUK MENGIZINKAN ANDA MEMASANG FOTONYA DISINI?????.

Sri, ada juga beberapa pertanyaan yang mengusik benak saya mengenai tindakan "niat baik demi keselamatan orang lain". Saya ingin tahu:

1. APAKAH ANDA PERNAH DI LATIH PELATIHAN MEDIS? Karena anda tulis sendiri, anda membawa Wulan ke rumah anda dan anda mengecek dia dengan mencubit tangannya dan Wulan tidak meresponse. Kalau anda pernah mendapatkan pelatihan medis, APAKAH ANDA TAHU BAHWA TANDA WULAN TIDAK MERESPON AKAN CUBITAN ANDA, BISA BERARTI WULAN TERSEBUT BISA DIASUMSIKAN MENGALAMI PATAH LEHER ATAU TULANG BELAKANG, YANG KALAU TIDAK BENAR PEMINDAHANNYA, BISA MENGAKIBATKAN LUMPUH PERMANEN???????

Dan juga, KENAPA ANDA MALAH MEMBAWANYA DULU KE RUMAH ANDA???? KENAPA TIDAK LANGSUNG MEMBAWA KE RUMAH SAKIT??? SUDAHKAH ANDA MENGHUBUNGI PARAMEDIS? SUDAHKAN ANDA MENGHUBUNGI POLISI????

Dan saya menemukan kejanggalan dari cerita kamu. Ini yang saya kutip dari tulisan kamu sendiri:

"Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... "

Sementara sebelum kamu tulis tulisan diatas, kamu menuliskan sebagai berikut:

"Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Dari tulisan kamu saja, jelas terlihat ada time line yang salah. Kamu menyatakan bahwa waktu menuju ke rumah sakit, kamu sudah menghubungi pihak keluarga dan bertanya apakah tindakan CT scan di perbolehkan? sementara waktu kamu sampai di rumah sakit, barulah dokter menyatakan bahwa pasien perlu dilakukan tindakan CT scan.

Apa ini artinya? menurut saya, artinya KAMULAH SEBENERNYA YANG SOK TAU MEMAKSAKAN UNTUK DIADAKAN TINDAKAN CT SCAN TERHADAP PASIEN, NAMUN KAMU MENCERITAKANNYA SEOLAH-OLAH DOKTER JAGA LAH YANG MENYARANKAN UNTUK SEGERA DILAKUKAN CT SCAN. Maka itu kembali lagi saya tanya kepada kamu Sri, APAKAH KAMU PERNAH MENDAPATKAN PELATIHAN MEDIS YANG BENAR, SEHINGGA KAMU MERASA BERHAK UNTUK MEMUTUSKAN TINDAKAN MEDIS TERHADAP SESEORANG?????

Untuk kamu ketahui Sri, TINDAKAN CT SCAN TIDAK AKAN EFFECTIVE APABILA PENDARAHAN DI OTAK BELUM DI HENTIKAN, DAN DARAH DI DALAM OTAK HARUS SERGERA DI KELUARKAN TERLEBIH DAHULU. PENGHENTIAN PENDARAHAN DI OTAK LEBIH PENTING DARI PADA TINDAKAN CT SCAN. CT SCAN DAN SEMUA BENTUK TES ADALAH MEDIA UNTUK MEMPERKUAT DIAGNOSA.

Sri, saya tahu kamu panik. Dan seperti yang terjadi pada umumnya, wanita yang panik memang tidak bisa berfikir secara logis. Saya melihat dari cerita kamu, kamu over reacted, dan kamu MIXED UP ANTARA TINDAKAN DOKTER DAN PEMBAYARAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT. Kamu tahu dari mana kalo mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien? kamu kan sibuk kesana-kemari mencari tahu tentang APAKAH CT SCAN BISA DILAKUKAN TAPI PEMBAYARAN BELAKANGAN, YANG JELAS-JELAS MENURUT DOKTER, CT SCAN BELUM PERLU DILAKUKAN. Ya jelas aja mereka menjawab ngak bisa! KARENA MEMANG TINDAKAN ITU BELUM DIPERLUKAN.

Kalau kamu memang pintar, seharusnya kamu tanya ke dokter seperti ini: DOK, TINDAKAN MEDIS APA YANG SEDANG DILAKUKAN TERHADAP PASIEN SEKARANG? Memang diatas kamu mengaku kamu bertanya apa yang perlu di lakukan terhadap pasien, tapi menurut saya kamu salah. Pasti yang kamu lakukan adalah MEMAKSAKAN TINDAKAN CT SCAN KARENA MENURUT KAMU ITU PERLU. Tapi tentunya apapun pertanyaan kamu, pihak rumah sakit berhak untuk tidak menjawab karena KAMU BUKAN DARI PIHAK KELUARGA!!! kamu malah meng klaim bahwa selama 30 menit mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien. Saya mau bertanya Sri, APAKAH PERNYATAAN KAMU INI ADA BUKTINYA??? APAKAH KAMU MELIHAT SENDIRI DARI LAPORAN MEDIS RUMAH SAKIT BAHWA SELAMA 30 MENIT TIDAK DILAKUKAN TINDAKAN?????

Sri, sekali lagi saya mengerti kamu mau menolong. Tapi sayang cara kamu kampungan dan tidak profesional. Kamu bilang, kamu tidak mau menjatuhkan nama orang lain, tapi jelas-jelas kamu mencantumkan nama orang dengan jelas, beserta kamu cantumkan foto tanpa seijin orang tersebut. Asal kamu tahu, menurut sumber yang saya dapat, pihak rumah sakit sudah mencoba untuk menjelaskan duduk permasalahannya kepada anda, yang sebenarnya tidak perlu MENGINGAT ANDA BUKANLAH KELUARGA DARI PASIEN. Tapi dengan sombongnya anda malah menyuruh direksi rumah sakit untuk menghampiri anda di rumah. Ck..ck..ck..sekali lagi...anda pintar membius orang-orang melihat anda adalah seorang HERO padahal anda hanyalah seorang gadis yang mentalnya agak sedikit terganggu karena trauma di masa lalu dengan dokter. Kamu berani memaparkan opini kamu yang penuh "prejudice" dan tanpa ada pembuktian atau cross check dengan pihak yang kamu tuduh. Sri, di pengadilan saja masih ada yang namanya azas "PRADUGA TAK BERSALAH". Tapi kamu dengan seenaknya langsung menjatuhkan tuduhan atas asumsi kamu sendiri. Dan saya bisa saja mencari tahu lebih dalam lagi tentang kejadian yang sebenarnya dan menjatuhkan kamu, tapi pendidikan saya jauh dari pada kamu, dan saya ngak mau jadi sama bodohnya kayak kamu. Kalau kamu pintar? kamu akan terima dengan lapang hati dan kamu selesaikan dengan pihak rumah sakit dengan sebagai mana mestinya. Kalau tidak? berarti kamu memang tidak pintar.
smarttownwhore wrote on Jan 9, '08
Untuk para pembaca, saran saya, jadilah orang yang kritis. Ada baiknya anda cek ke sumbernya terlebih dahulu untuk cerita di balik berita, seperti yang saya lakukan. Saya jamin, anda akan terkejut bila anda mengetahui informasi yang saya dapatkan tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan motivasi sebenarnya, dibalik tindakan "kepahlawanan" si penulis blog, yakni sdr. Sri.

Belakangan ini, banyak sekali kasus-kasus "pemerasan" dengan berkedok "demi peri kemanusiaan". dan saya himbau, kasus ini bisa anda "curigai" dan "waspadai" untuk lari kearah situ. Ingat, hal yang serupa bisa terjadi pada anda! Mari saya beri contoh!

Apakah anda pernah mendengar kasus motor yang terserempet mobil yang akhirnya si pengemudi mobil di tuntut macam-macam dan hampir-hampir seperti di peras?

Mari kita lihat benang merah di balik cerita sdr. Sri! Dia meributkan kasus ini ke sana dan kemari, dan menurut sumber yang terpercaya, pihak rumah sakit bersedia berunding dengan dia. Tapi apa yang terjadi? Apakah menurut anda sdr. Sri ini menyetujui untuk berunding secara baik-baik? dan mari kita lihat kenyataan! apa yang biasanya dilakukan instansi-instansi besar yang mempunyai reputasi, untuk menghilangkan atau menutup kasus ini secara cepat dan gampang sebelum tersiar kemana-mana! Saya yakin saudara semua tau apa maksud saya. Apa lagi kalau bukan penyelesaian secara UUD? Ujung-ujungnya Duu.......*censor!*

Maka itu, sekali lagi saya himbau...mari kita teliti dan mari kita menjadi orang yang tidak cepat mengambil praduga yang tidak beralasan seperti sdr. Sri ini!
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
Dear Sri...

Ck...ck...ck.....saya sangat salut dengan tulisan anda. Anda sangat memiliki bakat yang luar biasa dalam menulis, yang mungkin harusnya anda kembangkan dalam bentuk novel atau mungkin membuat naskah cerita sinetron.

Terlihat dari tulisan anda, anda menceritakan tindakan anda yang sangat heroik, dengan menolong orang yang anda tidak kenal dan mau mengambil tindakan ekstra demi kebaikan orang tersebut. Hebat! anda memiliki peluang besar untuk masuk Surga. Dan kalo boleh saya ulangi tulisan anda sendiri: "Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja". Sungguh lucu buat saya membaca perkataan anda ini yang terkesan "sincere" atau tulus. Namun semerta-merta anda memaparkan FOTO KORBAN DALAM KEADAAN TIDAK SADAR DI TEMPAT PUBLIK. Saya menjadi tergelitik untuk bertanya, APAKAN SUDAH ADA IZIN DARI WULAN SENDIRI, UNTUK MENGIZINKAN ANDA MEMASANG FOTONYA DISINI?????.

Sri, ada juga beberapa pertanyaan yang mengusik benak saya mengenai tindakan "niat baik demi keselamatan orang lain". Saya ingin tahu:

1. APAKAH ANDA PERNAH DI LATIH PELATIHAN MEDIS? Karena anda tulis sendiri, anda membawa Wulan ke rumah anda dan anda mengecek dia dengan mencubit tangannya dan Wulan tidak meresponse. Kalau anda pernah mendapatkan pelatihan medis, APAKAH ANDA TAHU BAHWA TANDA WULAN TIDAK MERESPON AKAN CUBITAN ANDA, BISA BERARTI WULAN TERSEBUT BISA DIASUMSIKAN MENGALAMI PATAH LEHER ATAU TULANG BELAKANG, YANG KALAU TIDAK BENAR PEMINDAHANNYA, BISA MENGAKIBATKAN LUMPUH PERMANEN???????

Dan juga, KENAPA ANDA MALAH MEMBAWANYA DULU KE RUMAH ANDA???? KENAPA TIDAK LANGSUNG MEMBAWA KE RUMAH SAKIT??? SUDAHKAH ANDA MENGHUBUNGI PARAMEDIS? SUDAHKAN ANDA MENGHUBUNGI POLISI????

Dan saya menemukan kejanggalan dari cerita kamu. Ini yang saya kutip dari tulisan kamu sendiri:

"Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... "

Sementara sebelum kamu tulis tulisan diatas, kamu menuliskan sebagai berikut:

"Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Dari tulisan kamu saja, jelas terlihat ada time line yang salah. Kamu menyatakan bahwa waktu menuju ke rumah sakit, kamu sudah menghubungi pihak keluarga dan bertanya apakah tindakan CT scan di perbolehkan? sementara waktu kamu sampai di rumah sakit, barulah dokter menyatakan bahwa pasien perlu dilakukan tindakan CT scan.

Apa ini artinya? menurut saya, artinya KAMULAH SEBENERNYA YANG SOK TAU MEMAKSAKAN UNTUK DIADAKAN TINDAKAN CT SCAN TERHADAP PASIEN, NAMUN KAMU MENCERITAKANNYA SEOLAH-OLAH DOKTER JAGA LAH YANG MENYARANKAN UNTUK SEGERA DILAKUKAN CT SCAN. Maka itu kembali lagi saya tanya kepada kamu Sri, APAKAH KAMU PERNAH MENDAPATKAN PELATIHAN MEDIS YANG BENAR, SEHINGGA KAMU MERASA BERHAK UNTUK MEMUTUSKAN TINDAKAN MEDIS TERHADAP SESEORANG?????

Untuk kamu ketahui Sri, TINDAKAN CT SCAN TIDAK AKAN EFFECTIVE APABILA PENDARAHAN DI OTAK BELUM DI HENTIKAN, DAN DARAH DI DALAM OTAK HARUS SERGERA DI KELUARKAN TERLEBIH DAHULU. PENGHENTIAN PENDARAHAN DI OTAK LEBIH PENTING DARI PADA TINDAKAN CT SCAN. CT SCAN DAN SEMUA BENTUK TES ADALAH MEDIA UNTUK MEMPERKUAT DIAGNOSA.

Sri, saya tahu kamu panik. Dan seperti yang terjadi pada umumnya, wanita yang panik memang tidak bisa berfikir secara logis. Saya melihat dari cerita kamu, kamu over reacted, dan kamu MIXED UP ANTARA TINDAKAN DOKTER DAN PEMBAYARAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT. Kamu tahu dari mana kalo mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien? kamu kan sibuk kesana-kemari mencari tahu tentang APAKAH CT SCAN BISA DILAKUKAN TAPI PEMBAYARAN BELAKANGAN, YANG JELAS-JELAS MENURUT DOKTER, CT SCAN BELUM PERLU DILAKUKAN. Ya jelas aja mereka menjawab ngak bisa! KARENA MEMANG TINDAKAN ITU BELUM DIPERLUKAN.

Kalau kamu memang pintar, seharusnya kamu tanya ke dokter seperti ini: DOK, TINDAKAN MEDIS APA YANG SEDANG DILAKUKAN TERHADAP PASIEN SEKARANG? Memang diatas kamu mengaku kamu bertanya apa yang perlu di lakukan terhadap pasien, tapi menurut saya kamu salah. Pasti yang kamu lakukan adalah MEMAKSAKAN TINDAKAN CT SCAN KARENA MENURUT KAMU ITU PERLU. Tapi tentunya apapun pertanyaan kamu, pihak rumah sakit berhak untuk tidak menjawab karena KAMU BUKAN DARI PIHAK KELUARGA!!! kamu malah meng klaim bahwa selama 30 menit mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien. Saya mau bertanya Sri, APAKAH PERNYATAAN KAMU INI ADA BUKTINYA??? APAKAH KAMU MELIHAT SENDIRI DARI LAPORAN MEDIS RUMAH SAKIT BAHWA SELAMA 30 MENIT TIDAK DILAKUKAN TINDAKAN?????

Sri, sekali lagi saya mengerti kamu mau menolong. Tapi sayang cara kamu kampungan dan tidak profesional. Kamu bilang, kamu tidak mau menjatuhkan nama orang lain, tapi jelas-jelas kamu mencantumkan nama orang dengan jelas, beserta kamu cantumkan foto tanpa seijin orang tersebut. Asal kamu tahu, menurut sumber yang saya dapat, pihak rumah sakit sudah mencoba untuk menjelaskan duduk permasalahannya kepada anda, yang sebenarnya tidak perlu MENGINGAT ANDA BUKANLAH KELUARGA DARI PASIEN. Tapi dengan sombongnya anda malah menyuruh direksi rumah sakit untuk menghampiri anda di rumah. Ck..ck..ck..sekali lagi...anda pintar membius orang-orang melihat anda adalah seorang HERO padahal anda hanyalah seorang gadis yang mentalnya agak sedikit terganggu karena trauma di masa lalu dengan dokter. Kamu berani memaparkan opini kamu yang penuh "prejudice" dan tanpa ada pembuktian atau cross check dengan pihak yang kamu tuduh. Sri, di pengadilan saja masih ada yang namanya azas "PRADUGA TAK BERSALAH". Tapi kamu dengan seenaknya langsung menjatuhkan tuduhan atas asumsi kamu sendiri. Dan saya bisa saja mencari tahu lebih dalam lagi tentang kejadian yang sebenarnya dan menjatuhkan kamu, tapi pendidikan saya jauh dari pada kamu, dan saya ngak mau jadi sama bodohnya kayak kamu. Kalau kamu pintar? kamu akan terima dengan lapang hati dan kamu selesaikan dengan pihak rumah sakit dengan sebagai mana mestinya. Kalau tidak? berarti kamu memang tidak pintar.
Terima kasih sudah menyebut saya kampungan & tidak profesional....
untuk diketahui, sebagai tim dalam suatu organisasi, saya sudah pernah dilatih penyelamatan pertama kepada korban kecelakaan, tapi itu memang kurang penting bagi saya yang bukan dokter bukan?


Sekali lagi terima kasih dokter Belinda, untuk semua komentar anda.... :)
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
Untuk para pembaca, saran saya, jadilah orang yang kritis. Ada baiknya anda cek ke sumbernya terlebih dahulu untuk cerita di balik berita, seperti yang saya lakukan. Saya jamin, anda akan terkejut bila anda mengetahui informasi yang saya dapatkan tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan motivasi sebenarnya, dibalik tindakan "kepahlawanan" si penulis blog, yakni sdr. Sri.

Belakangan ini, banyak sekali kasus-kasus "pemerasan" dengan berkedok "demi peri kemanusiaan". dan saya himbau, kasus ini bisa anda "curigai" dan "waspadai" untuk lari kearah situ. Ingat, hal yang serupa bisa terjadi pada anda! Mari saya beri contoh!

Apakah anda pernah mendengar kasus motor yang terserempet mobil yang akhirnya si pengemudi mobil di tuntut macam-macam dan hampir-hampir seperti di peras?

Mari kita lihat benang merah di balik cerita sdr. Sri! Dia meributkan kasus ini ke sana dan kemari, dan menurut sumber yang terpercaya, pihak rumah sakit bersedia berunding dengan dia. Tapi apa yang terjadi? Apakah menurut anda sdr. Sri ini menyetujui untuk berunding secara baik-baik? dan mari kita lihat kenyataan! apa yang biasanya dilakukan instansi-instansi besar yang mempunyai reputasi, untuk menghilangkan atau menutup kasus ini secara cepat dan gampang sebelum tersiar kemana-mana! Saya yakin saudara semua tau apa maksud saya. Apa lagi kalau bukan penyelesaian secara UUD? Ujung-ujungnya Duu.......*censor!*

Maka itu, sekali lagi saya himbau...mari kita teliti dan mari kita menjadi orang yang tidak cepat mengambil praduga yang tidak beralasan seperti sdr. Sri ini!
terima kasih juga telah menyebut saya hendak memeras.... dr. Belinda...
anda tahu? untuk ucapan anda seperti itu saja anda dapat dituntut... :)
trima kasih... mohon untuk tidak main-main dengan saya.
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
YANG KALAU TIDAK BENAR PEMINDAHANNYA, BISA MENGAKIBATKAN LUMPUH PERMANEN???????
saya tahu betul hal itu berkat pelatihan yag saya pernah terima....
terima kasih sudah memgingatkan...
semua ucapan anda disini hanya remins me terhadap orang yang menelepon saya mengaku PENASEHAT IDI, sangat persis sekali isinya.... dan memaksa2 saya untuk datang ke RS SM untuk 'menyelesaikan masalah'... atau justru menambah masalah baru?

Kalau anda mengenal dokter yang dimaksud dengan baik, tolong sampaikan, hanya maaf yang kami harapkan, lain tidak... kalau memang beliau tidak sombong dan arogan separti rekan2 beliau yag sudah meneror saya, termasuk anda ini ... :)
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
Sungguh lucu buat saya membaca perkataan anda ini yang terkesan "sincere" atau tulus. Namun semerta-merta anda memaparkan FOTO KORBAN DALAM KEADAAN TIDAK SADAR DI TEMPAT PUBLIK. Saya menjadi tergelitik untuk bertanya, APAKAN SUDAH ADA IZIN DARI WULAN SENDIRI, UNTUK MENGIZINKAN ANDA MEMASANG FOTONYA DISINI?????.
saya tidak merasa perlu menceritakan kepada anda secara pribadi, bahwa seluruh keluarga Wulan bahkan tahu semua tulisan ini sebelum saya pablis kepada anda semua.... trims... :)
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
Dari tulisan kamu saja, jelas terlihat ada time line yang salah. Kamu menyatakan bahwa waktu menuju ke rumah sakit, kamu sudah menghubungi pihak keluarga dan bertanya apakah tindakan CT scan di perbolehkan? sementara waktu kamu sampai di rumah sakit, barulah dokter menyatakan bahwa pasien perlu dilakukan tindakan CT scan.

Apa ini artinya? menurut saya, artinya KAMULAH SEBENERNYA YANG SOK TAU MEMAKSAKAN UNTUK DIADAKAN TINDAKAN CT SCAN TERHADAP PASIEN, NAMUN KAMU MENCERITAKANNYA SEOLAH-OLAH DOKTER JAGA LAH YANG MENYARANKAN UNTUK SEGERA DILAKUKAN CT SCAN. Maka itu kembali lagi saya tanya kepada kamu Sri, APAKAH KAMU PERNAH MENDAPATKAN PELATIHAN MEDIS YANG BENAR, SEHINGGA KAMU MERASA BERHAK UNTUK MEMUTUSKAN TINDAKAN MEDIS TERHADAP SESEORANG?????
dr. Belinda yang TERHORMAT,
mohon BACA TELITI sekali lagi tulisan saya....
yang mendeskripsikan bahwa kami sudah ditolah 2 kali dari rumah sakit terdahulu, yang menganjurkan CT Scan langsung. itu lah yang menyebabkan saya langsung menghubungi pihak keluarga untuk persetujuan.

Kalau saya menceritakan bahwa dorter di RS SM menanyakan dan saya juga mengulang pertanyaan kepada beliau, karena di 2 RS terdahulu kami sudah DISURUH UNTUK CT SCAN.
Anda perlu kacamata baca?
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
Untuk kamu ketahui Sri, TINDAKAN CT SCAN TIDAK AKAN EFFECTIVE APABILA PENDARAHAN DI OTAK BELUM DI HENTIKAN, DAN DARAH DI DALAM OTAK HARUS SERGERA DI KELUARKAN TERLEBIH DAHULU. PENGHENTIAN PENDARAHAN DI OTAK LEBIH PENTING DARI PADA TINDAKAN CT SCAN. CT SCAN DAN SEMUA BENTUK TES ADALAH MEDIA UNTUK MEMPERKUAT DIAGNOSA.
hello....
saya juga sudah menanyakan itu langsung kepada dokter bersangkutan.... apa pentingnya CT Scan?
Karena di 2 RS terdahulu sudah disuruh terus untuk CT Scan...
dan kalau beliau sampe menjawab dibersihkan dahulu lebih baik....
KENAPA SELAMA 30 MENIT TIDAK DILAKUKAN BELIAU?
Senjata makan tuan-kah?

Hanya itu yang saya pertanyakan....
adekbayi wrote on Jan 10, '08
prihatin banget deh mbak Sri .. kok dari niat yg tulus menolong orang yg kena musibah malahan jadi dituduh macam2 yah ... sedih banget hidup di Indonesia ini ... terlalu banyak orang yg punya prejudice aneh2 ... semoga pada mendapat hidayah deh hehe ...
omhanif wrote on Jan 10, '08
daripada pada saling berdebat yang melebar kemana mana.
alangkah baiknya, kalo pak dokter yang jadi objek tulisan ini menulis kejadian ini dari kacamata dia.
biarlah, yang membaca menilai sendiri.
ghaya wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
hmmm duh.. kayaknya dr Belinda itu minta di bacain..
blum bisa membaca dengan baik dan benar..

beliin kacamata? yakin di pake di mata Rie? :))

met tahun baru yah.. semoga lebih baik.. dan para dokter dibukakan matanya di beri hidayah biar ngga pada salah jalan..
dirimu diberi kekuatan untuk memberikan senter :))
iniaku wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
Untuk para pembaca, saran saya, jadilah orang yang kritis. Ada baiknya anda cek ke sumbernya terlebih dahulu untuk cerita di balik berita, seperti yang saya lakukan. Saya jamin, anda akan terkejut bila anda mengetahui informasi yang saya dapatkan tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan motivasi sebenarnya, dibalik tindakan "kepahlawanan" si penulis blog, yakni sdr. Sri.
coba dibeberkan INFORMASI yg sebenarnya.. jangan cuma nulis aja Mbak Smarttownwhore
Mbak percuma deh mempengaruhi saya atau pembaca lainnya untuk TIDAK MEMPERCAYAI TULISAN SDR. SRI, karena saya dan pembaca yg lain TAHU SIAPA SDR SRI itu, dan WE KNOW YOU NOTHING

seandainya Mbak Smarttownwhore mengisi profile dg jelas dan asli plus foto biar kami kenal, dan tentunya bukti bahwa Sdr Sri mengada-ada, baru deh kami akan mendukung Mbak Smarttownwhore 100%

DITUNGGU YA INFORMASI YG SEBENARNYA including JATI DIRI

salam kenal
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
wanita yang panik memang tidak bisa berfikir secara logis. Saya melihat dari cerita kamu, kamu over reacted, dan kamu MIXED UP ANTARA TINDAKAN DOKTER DAN PEMBAYARAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT. Kamu tahu dari mana kalo mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien? kamu kan sibuk kesana-kemari mencari tahu tentang APAKAH CT SCAN BISA DILAKUKAN
"wanita yang panik tidak semuanya TIDAK DAPAT BERPIKIR JERNIH..."

mungkin karena anda juga wanita dan merasa tahu karena anda juga seperti itu? jadi menggeneralisir semua wanita? merasa semua wanita seperti itu? sayang sekali, saya bukan salah satu wanita seperti anda... maaf...

saya tahu darimana kondisi pasien?
TENTU SAJA KARENA ADA 2 ORANG SAKSI DARI PIHAK KELUARGA & REKAN SAYA YANG MENUNGGUI PASIEN DI UGD SELAMA SAYA TINGGALKAN....

Apakah JELAS BAGI ANDA?
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
pihak rumah sakit sudah mencoba untuk menjelaskan duduk permasalahannya kepada anda, yang sebenarnya tidak perlu MENGINGAT ANDA BUKANLAH KELUARGA DARI PASIEN.
apakah anda perlu melihat surat bermaterai dari keluarga yang menyatakan saya adalah wakil pasien yang dapat dipercaya?

apakah pihak rumah sakit telah dengan baik2 meminta saya datang, tidak justru dengan cara2 menekan & memaksa? tolong tanyakan hal tersebut kepada RS yang dimaksud... :)
iniaku wrote on Jan 10, '08
Ri, KUMPULIN AJA SEMUA TULISAN DIA di REPLY
trus TUNTUT!!!
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
dan mari kita lihat kenyataan! apa yang biasanya dilakukan instansi-instansi besar yang mempunyai reputasi, untuk menghilangkan atau menutup kasus ini secara cepat dan gampang sebelum tersiar kemana-mana! Saya yakin saudara semua tau apa maksud saya. Apa lagi kalau bukan penyelesaian secara UUD? Ujung-ujungnya Duu.......*censor!*
itulah yang saya hindari.... saya menghindari untuk menerima sesuatu dari pihak RS untuk menutup cerita yang merupakan kenyataan ini.... itu sebabnya saya tidak berkenan datang apalagi dengan cara dipaksa datangnya....

anda sangat bertolakbelakang antara tulisan anda dengan tuduhan terhadap saya... :)
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
iniaku said
Ri, KUMPULIN AJA SEMUA TULISAN DIA di REPLY
trus TUNTUT!!!
that's why tadi gue reply dan quote semua tulisan dr. Belinda ini, supaya tidak ada usaha menghapus atau mengedit di kemudian hari.... gak sulit kog menuntut siapapun disini yang gue gak suka....
tapi apa gue melakukan itu?
kalo iya gue bermaksud itu, dari dulu udah gue lakukan...

toh nyatanya gue juga beritikad baik datang ke undangan rapat yang malah ternyata SIDANG dari mereka...
iniaku wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
tapi pendidikan saya jauh dari pada kamu, dan saya ngak mau jadi sama bodohnya kayak kamu.
aih aih... ada sih orang pinter ngaku, heheheheh
biasanya sih Mbak Whore (boleh dong manggil whore, secara idnya smarttownwhore gitu loh), tong kosong itu nyaring bunyinya

*ketawa guling-gulingan sampe kampus, mau kuliah ahhhhhhhhhhh biar pendidikan gue gak kalah jauh dari Mbak Whore*

makanya Ri, sekolah lagi di JERMAN, biar PENDIDIKANNYA GAK KALAH JAUH DARI MBAK WHORE
dan pastinya sih BIAR DEKET SAMA GUE, biar kita bisa sama-sama HIKING DI ALPEN :))

*sumpah, seneng gue bangun tidur dapat bahan ketawaan, hehehehehehe*
cindil wrote on Jan 10, '08
Turut prihatin.... kalo gak ada niat baik kenapa juga mau datang ke undangan bertemu yg ternyata adalah DISIDANG.
Mungkin Dr Whore belum tau kalo sudah ada pertemuan antara IDI dan arie?
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
ah katanya dr. Belinda / smarttownwhore kenal siapa aja yg terlibat kasus ini?
apa cuma kenal om Slamet aja?
gak heran kalau gitu hehehehe....
Comment deleted at the request of the author.
agusdidin wrote on Jan 10, '08
Teh Ari yakin orang yg nulis itu benar2 dokter..? wong hedsotnya ajah abu2 gitu koq. menyebutkan jatidirinya dengan jujur juga gak mau.
bukan apa2, kadang2 ada juga orang yg sakit jiwa yg sukanya memancing masalah.
ingat blog tentang Malaysia atau IPDN gak..?

saya koq curiga kalo orang yg menamakan diri dr. Belinda itu sama dengan kreator blog2 yang saya sebutkan diatas.
suaracahaya wrote on Jan 10, '08
mbak sri...
telat banget yah baru masuk postingan ini sekarang ;)))
tapi...jadi miris banget...
inget teman-temanku yang sedang belajar tuk jadi dokter...]
kuharap mereka nggak akan jadi dokter tanpa hati yang mengklaim bisa menyembuhkan (penyakit) hati orang lain!!!

thanks for your inspiring blog...
andreibung wrote on Jan 10, '08
Oalah... kok masih hidup yah orang yang kaya gini...

Dr Belinda yang terhormat....

berkacalah sebelum anda ditertawakan orang...
yang kampungan itu siapa... kasih komentar tapi ga berani menonjolkan diri,
sikap pengecut dan hanya berani main belakang...
apa bedanya anda dengan dokter yang menolong Wulan itu??
lebih baik anda diam dan introspeksi diri lah...

Kalo gak suka dengan komen saya...
silahkan datang dan hubungi saya....

Anda bisa liat detail di MP id saya...

*Sorry Mbak Ari... jadi ikut kesel nih*
dhunkdhe wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
wahh..kalau comment yang identitasnya aja gak jelas , MP nya aja kosong melompong jangan terlalu ditanggapi Mbak.Kalau baca dari comment2nya ,feeling saya dr. Belinda / smarttownwhore ini adalah Dr Ardi atau paling tidak orang yg kenal dan mempunyai hubungan yg dekat dengan Dr.Ardi...-:)
Dan yg pasti orang ini CHICKEN abess gak berani nunjukin identitasnya......

fraumaulana wrote on Jan 10, '08
dr belinda ini kebakaran jenggot kayaknya, rie... semakin menunjukkan kebobrokannya... maju terus rie!
mbakyucute wrote on Jan 10, '08
uhhh coba yang di bentak aku .... kagak takut gue mo badan dokter jaga itu segede gaban gue sikat langsung muka nya ... dia pikir se hebat apa dia .... klo cuma buat cabik2 muka aja sokkk atuh sini gue ladenin .... *sebel* banget gue ma yang sok banget kyk gitu belaguuuuuu ....
darrellmom wrote on Jan 10, '08
moga yg benar akan terungkap ya ri.., tetap kuat dan semangat....!!!!
mbot wrote on Jan 10, '08
ghaya said
kayaknya dr Belinda itu minta di bacain..
betul.

dibacain surat yassin.
dyru wrote on Jan 10, '08
kog jadi kayak gini ya. padahal namanya curhat kalo lagi mengalami kejadian yg tidak mengenakkan trus dijurnalin itu biasa banget. orang2 yg komentar negatif sepertinya tidak tau persis persaudaraan di mp. walopun aku ga ktemu tiap hari ama jeng ari, aku merasa cukup mengenal. bahwa yg dituduhkan itu sungguh mengada-ada dan keterlaluan.
kuntarini wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
Ari, ajak dia ketemu muka kalo berani.....

Gw yakin gak berani..... dan terbukti kan? :-P

Pendidikannya tinggi? Hahahaahahhaahahaha...............Gak tercermin sama sekali dari tulisannya......Gak ada sopan santunnya! Gue pikir malah gak pernah sekolah & gak pernah diajarin yg bener ama ortunya......*guling-guling ketawa*

"whore" mah gak usah ditanggapin lah........beda kelas lah ama Ari..... ;-)

elbintang wrote on Jan 10, '08
Hello orang "whore"
postingan lu bikin gw ketawa guling2an...tanya ken apa ?

kenalan dulu yg bener sama komunitas multiply deh baru ngomong...!!!
------------------------------------------------------------
eips ...lu pake id multiply sekedar untk posting di jrnal ini kan...?
bikin tmbah ketawa guling2 lagih .....
------------------------------------------------------------
mau gw bawakan cermin besar ?
dianlantinga wrote on Jan 10, '08
Dokter dulu2 lain dgn dokter sekarang.
Masih ingat ipar ku dokter (diwaktu s ya masih SD/SMP) rakyat yg nggak bisa membayar, ipar ku tdk meminta/menuntut yg penting menolong mereka.
Mereka merasa berutang, sampai2 mereka membayar dgn pisang atau buah2an lainnya karena merasa berhutang.
Dan kalau ada pesta kecil2an dirumah ipar ku (dokter) mereka tdk segan2 datang buat ikut membantu.

Prihatin dgn keadaan Wulan, moga2 sdh membaik.
emiliana wrote on Jan 10, '08
Tetap Kuat ya Mba Ari...*Peyuk mba Ari..Je pense et toi*
Gila yah dr. Belinda itu (yg saya curiga jg, jgn2 dia cuma mau manas2in)...niat baik dan tulus disangka heroiklah, sok pahlawanlah, cari keuntunganlah, sok pinterlah...kalau memang tahu kejadian versi dokternya yah ditulis dong...
menhariq wrote on Jan 10, '08
halah... dr belinda... mau mencoba memperkeruh suasana yang sebenarnya sudah mulai membaik..

ngapain percaya sama muka pentol korek api tanda tanya...?
tehtina wrote on Jan 10, '08
peluk m'Ari anget n erat bangetttttt !!!
teteppp semangat ya sayang !!!
etika wrote on Jan 10, '08
curiga dr.belinda ini pasti orang yang lagi kebakaran jenggot, kalo gak ngapain juga dia bela-belain bikin id baru cuma buat ngoceh disini. Dia pasti bukan perempuan krn dia salah satu ocehannya diatas dia jelas2 merendahkan wanita dgn kalimatnya "wanita yang panik memang tidak bisa berfikir secara logis".
kangbayu wrote on Jan 10, '08
Untuk para pembaca, saran saya, jadilah orang yang kritis. Ada baiknya anda cek ke sumbernya terlebih dahulu untuk cerita di balik berita, seperti yang saya lakukan. Saya jamin, anda akan terkejut bila anda mengetahui informasi yang saya dapatkan tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan motivasi sebenarnya, dibalik tindakan "kepahlawanan" si penulis blog, yakni sdr. Sri.
Bu dokter, supaya fair, silakan ditulis kronologis persitiwa versi anda dan hasil "cek ke sumbernya" seperti yang dimaksud. Toh sekarang anda sudah buka blog disini juga bukan?

Daripada nyangkut2 soal pendidikan tinggi tapi lupa nyertain bukti, argumentasi, atau sekedar jati diri yang jelas sekalipun.

Kebetulan beberapa dari kami sempet kuliah juga koq, siapa tau masih ada sedikit logika yang tersisa buat mencerna cerita dari versi anda dan rekan (pacar?).

Ditunggu
ghaya wrote on Jan 10, '08
mbot said
dibacain surat yassin.
jadi kapan kita ketemuan buat bacain surat yassin hihihihihi

**ngakak guling2**
wirdayanti wrote on Jan 10, '08
Semoga semuanya berakhir dengan baik..
rhedjozt wrote on Jan 10, '08
aduh, aku di Malang, nunut bacain Yasin boleh gak sih?
:D
t4mp4h wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
Saya yakin saudara semua tau apa maksud saya. Apa lagi kalau bukan penyelesaian secara UUD? Ujung-ujungnya Duu.......*censor!*

Maka itu, sekali lagi saya himbau...mari kita teliti dan mari kita menjadi orang yang tidak cepat mengambil praduga yang tidak beralasan seperti sdr. Sri ini!



Untuk para pembaca, saran saya, jadilah orang yang kritis. Ada baiknya anda cek ke sumbernya terlebih dahulu untuk cerita di balik berita, seperti yang saya lakukan. Saya jamin, anda akan terkejut bila anda mengetahui informasi yang saya dapatkan tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan motivasi sebenarnya, dibalik tindakan "kepahlawanan" si penulis blog, yakni sdr. Sri.




Dr. Bedinda
yang budiman, baik hati dan tidak sombong,...

Saya lebih mengenal Sdri Sri jauh lebih baik tinimbang sampeyan mengenalnya dari tulisan ini. Sebagai upahan gerombolan sakit hati tulisan Anda berkesan sangat intelek, tapi sebagai orang yang mengaku berprofesi sebagai dokter rasa-rasanya tulisan Anda seperti telek.

Kami mungkin tidak secerdas Anda sehingga bisa peroleh gelar dokter, tapi kami punya hati nurani, dan belas kasih, sehingga kami simpatik atas sesuatu yang menimpa Mbak Ari dan rekannya. Kami bukan semata dibutakan oleh uang meski kami kekurangan dan hidup terpencil sehingga kami tidak mampu menelaah tutur kata Mbak Ari.
Kami lebih hormat pada Mbak Ari yang berani menuturkan fakta tanpa anonimitas sebagai wujud tanggung jawabnya, dimana hal tersebut tidak kami temukan pada Anda yang bahkan tidak berani memasang foto wjah Anda yang cantik -secantik namanya- di headshot.
Maap kalau tulisan saya ini cuma membuat panas hati Anda, semoga kalau saya sakit tidak ketemu Anda dan itu artinya tantangan buat saya untuk hidup sehat dan berhati-hati agar tidak masuk U/IGD.

Tampah
orang katrok yang takut jarum suntik
mameta wrote on Jan 10, '08
Untuk para pembaca, saran saya, jadilah orang yang kritis. Ada baiknya anda cek ke sumbernya terlebih dahulu untuk cerita di balik berita, seperti yang saya lakukan. Saya jamin, anda akan terkejut bila anda mengetahui informasi yang saya dapatkan tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan motivasi sebenarnya, dibalik tindakan "kepahlawanan" si penulis blog, yakni sdr. Sri.

Belakangan ini, banyak sekali kasus-kasus "pemerasan" dengan berkedok "demi peri kemanusiaan". dan saya himbau, kasus ini bisa anda "curigai" dan "waspadai" untuk lari kearah situ. Ingat, hal yang serupa bisa terjadi pada anda! Mari saya beri contoh!

Apakah anda pernah mendengar kasus motor yang terserempet mobil yang akhirnya si pengemudi mobil di tuntut macam-macam dan hampir-hampir seperti di peras?

Mari kita lihat benang merah di balik cerita sdr. Sri! Dia meributkan kasus ini ke sana dan kemari, dan menurut sumber yang terpercaya, pihak rumah sakit bersedia berunding dengan dia. Tapi apa yang terjadi? Apakah menurut anda sdr. Sri ini menyetujui untuk berunding secara baik-baik? dan mari kita lihat kenyataan! apa yang biasanya dilakukan instansi-instansi besar yang mempunyai reputasi, untuk menghilangkan atau menutup kasus ini secara cepat dan gampang sebelum tersiar kemana-mana! Saya yakin saudara semua tau apa maksud saya. Apa lagi kalau bukan penyelesaian secara UUD? Ujung-ujungnya Duu.......*censor!*

Maka itu, sekali lagi saya himbau...mari kita teliti dan mari kita menjadi orang yang tidak cepat mengambil praduga yang tidak beralasan seperti sdr. Sri ini!
sedih bener bacanya mba ari dituduh mo meras..
gak perlu meras juga udah kaya koq, beken lagi.. hehehhe ^o^
halah.. halah..!!!
kalo mo jadi provokator, jelas salah tempat mba whore.. yang ada mba whore malah dihujat orang sekampung kaaaaaaannnn.. ^o^
t4mp4h wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
Le posting jam siji esuk rek waktunya maling beraksi ..
pudz426 wrote on Jan 10, '08
sadis mak tuduhannya,

semoga mbak sri tabah ya
ojifaroz wrote on Jan 10, '08
Dear Sri...

Ck...ck...ck.....saya sangat salut dengan tulisan anda. Anda sangat memiliki bakat yang luar biasa dalam menulis, yang mungkin harusnya anda kembangkan dalam bentuk novel atau mungkin membuat naskah cerita sinetron.

Terlihat dari tulisan anda, anda menceritakan tindakan anda yang sangat heroik, dengan menolong orang yang anda tidak kenal dan mau mengambil tindakan ekstra demi kebaikan orang tersebut. Hebat! anda memiliki peluang besar untuk masuk Surga. Dan kalo boleh saya ulangi tulisan anda sendiri: "Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja". Sungguh lucu buat saya membaca perkataan anda ini yang terkesan "sincere" atau tulus. Namun semerta-merta anda memaparkan FOTO KORBAN DALAM KEADAAN TIDAK SADAR DI TEMPAT PUBLIK. Saya menjadi tergelitik untuk bertanya, APAKAN SUDAH ADA IZIN DARI WULAN SENDIRI, UNTUK MENGIZINKAN ANDA MEMASANG FOTONYA DISINI?????.

Sri, ada juga beberapa pertanyaan yang mengusik benak saya mengenai tindakan "niat baik demi keselamatan orang lain". Saya ingin tahu:

1. APAKAH ANDA PERNAH DI LATIH PELATIHAN MEDIS? Karena anda tulis sendiri, anda membawa Wulan ke rumah anda dan anda mengecek dia dengan mencubit tangannya dan Wulan tidak meresponse. Kalau anda pernah mendapatkan pelatihan medis, APAKAH ANDA TAHU BAHWA TANDA WULAN TIDAK MERESPON AKAN CUBITAN ANDA, BISA BERARTI WULAN TERSEBUT BISA DIASUMSIKAN MENGALAMI PATAH LEHER ATAU TULANG BELAKANG, YANG KALAU TIDAK BENAR PEMINDAHANNYA, BISA MENGAKIBATKAN LUMPUH PERMANEN???????

Dan juga, KENAPA ANDA MALAH MEMBAWANYA DULU KE RUMAH ANDA???? KENAPA TIDAK LANGSUNG MEMBAWA KE RUMAH SAKIT??? SUDAHKAH ANDA MENGHUBUNGI PARAMEDIS? SUDAHKAN ANDA MENGHUBUNGI POLISI????

Dan saya menemukan kejanggalan dari cerita kamu. Ini yang saya kutip dari tulisan kamu sendiri:

"Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... "

Sementara sebelum kamu tulis tulisan diatas, kamu menuliskan sebagai berikut:

"Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Dari tulisan kamu saja, jelas terlihat ada time line yang salah. Kamu menyatakan bahwa waktu menuju ke rumah sakit, kamu sudah menghubungi pihak keluarga dan bertanya apakah tindakan CT scan di perbolehkan? sementara waktu kamu sampai di rumah sakit, barulah dokter menyatakan bahwa pasien perlu dilakukan tindakan CT scan.

Apa ini artinya? menurut saya, artinya KAMULAH SEBENERNYA YANG SOK TAU MEMAKSAKAN UNTUK DIADAKAN TINDAKAN CT SCAN TERHADAP PASIEN, NAMUN KAMU MENCERITAKANNYA SEOLAH-OLAH DOKTER JAGA LAH YANG MENYARANKAN UNTUK SEGERA DILAKUKAN CT SCAN. Maka itu kembali lagi saya tanya kepada kamu Sri, APAKAH KAMU PERNAH MENDAPATKAN PELATIHAN MEDIS YANG BENAR, SEHINGGA KAMU MERASA BERHAK UNTUK MEMUTUSKAN TINDAKAN MEDIS TERHADAP SESEORANG?????

Untuk kamu ketahui Sri, TINDAKAN CT SCAN TIDAK AKAN EFFECTIVE APABILA PENDARAHAN DI OTAK BELUM DI HENTIKAN, DAN DARAH DI DALAM OTAK HARUS SERGERA DI KELUARKAN TERLEBIH DAHULU. PENGHENTIAN PENDARAHAN DI OTAK LEBIH PENTING DARI PADA TINDAKAN CT SCAN. CT SCAN DAN SEMUA BENTUK TES ADALAH MEDIA UNTUK MEMPERKUAT DIAGNOSA.

Sri, saya tahu kamu panik. Dan seperti yang terjadi pada umumnya, wanita yang panik memang tidak bisa berfikir secara logis. Saya melihat dari cerita kamu, kamu over reacted, dan kamu MIXED UP ANTARA TINDAKAN DOKTER DAN PEMBAYARAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT. Kamu tahu dari mana kalo mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien? kamu kan sibuk kesana-kemari mencari tahu tentang APAKAH CT SCAN BISA DILAKUKAN TAPI PEMBAYARAN BELAKANGAN, YANG JELAS-JELAS MENURUT DOKTER, CT SCAN BELUM PERLU DILAKUKAN. Ya jelas aja mereka menjawab ngak bisa! KARENA MEMANG TINDAKAN ITU BELUM DIPERLUKAN.

Kalau kamu memang pintar, seharusnya kamu tanya ke dokter seperti ini: DOK, TINDAKAN MEDIS APA YANG SEDANG DILAKUKAN TERHADAP PASIEN SEKARANG? Memang diatas kamu mengaku kamu bertanya apa yang perlu di lakukan terhadap pasien, tapi menurut saya kamu salah. Pasti yang kamu lakukan adalah MEMAKSAKAN TINDAKAN CT SCAN KARENA MENURUT KAMU ITU PERLU. Tapi tentunya apapun pertanyaan kamu, pihak rumah sakit berhak untuk tidak menjawab karena KAMU BUKAN DARI PIHAK KELUARGA!!! kamu malah meng klaim bahwa selama 30 menit mereka tidak melakukan apa-apa terhadap pasien. Saya mau bertanya Sri, APAKAH PERNYATAAN KAMU INI ADA BUKTINYA??? APAKAH KAMU MELIHAT SENDIRI DARI LAPORAN MEDIS RUMAH SAKIT BAHWA SELAMA 30 MENIT TIDAK DILAKUKAN TINDAKAN?????

Sri, sekali lagi saya mengerti kamu mau menolong. Tapi sayang cara kamu kampungan dan tidak profesional. Kamu bilang, kamu tidak mau menjatuhkan nama orang lain, tapi jelas-jelas kamu mencantumkan nama orang dengan jelas, beserta kamu cantumkan foto tanpa seijin orang tersebut. Asal kamu tahu, menurut sumber yang saya dapat, pihak rumah sakit sudah mencoba untuk menjelaskan duduk permasalahannya kepada anda, yang sebenarnya tidak perlu MENGINGAT ANDA BUKANLAH KELUARGA DARI PASIEN. Tapi dengan sombongnya anda malah menyuruh direksi rumah sakit untuk menghampiri anda di rumah. Ck..ck..ck..sekali lagi...anda pintar membius orang-orang melihat anda adalah seorang HERO padahal anda hanyalah seorang gadis yang mentalnya agak sedikit terganggu karena trauma di masa lalu dengan dokter. Kamu berani memaparkan opini kamu yang penuh "prejudice" dan tanpa ada pembuktian atau cross check dengan pihak yang kamu tuduh. Sri, di pengadilan saja masih ada yang namanya azas "PRADUGA TAK BERSALAH". Tapi kamu dengan seenaknya langsung menjatuhkan tuduhan atas asumsi kamu sendiri. Dan saya bisa saja mencari tahu lebih dalam lagi tentang kejadian yang sebenarnya dan menjatuhkan kamu, tapi pendidikan saya jauh dari pada kamu, dan saya ngak mau jadi sama bodohnya kayak kamu. Kalau kamu pintar? kamu akan terima dengan lapang hati dan kamu selesaikan dengan pihak rumah sakit dengan sebagai mana mestinya. Kalau tidak? berarti kamu memang tidak pintar.
mau ketawa dulu : WAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKAKAKAKAKKAKAKAKAKKAKAKAKKAKAKAKKAKAKAKAKKAK
KAKAKKAKAKAKAKKAKAKAKAKKAKAKAKKAKAKKAKAKAKKAKAKKAKAKAKKAKAKKAKAKAKKAKAK
KAKAKAKKAKAKKAKAKAKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..........................................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

hahahhaa..... gw baru baca, ada orang menjadi pahlawan kesiangan ri, melakukan perlawanan setelah cerita mau usai. orang ga tau lagi datang nya dari mana, mungkin dia datang dari hutan kali ya. jangan ambilk pusing ri. DIA YG MUNGKIN LAGI SAKIT SARAF.
imazahra wrote on Jan 10, '08
Teteh sayang, yang tabah ya, we all before you *hugs and kisses*
zahirsbabe wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
cara kamu kampungan dan tidak profesional
Mbak Ari yang baik, yang PINTAR dan BERPERIKEMANUSIAAN,
saya menyupport Mbak dg sepenuh hati dan semoga pihak2 yang mendzolimi Mbak segera dibukakan mata hatinya dan otaknya.
Ternyata yaaa....pendidikan tinggi ngga menjamin orang jadi bisa terdidik dan mempunyai intelektual, ini juga kalo si Whore beneran dokter hehehehe...
zahirsbabe wrote on Jan 10, '08
n kalo ada org nuduh Mbak UUD-ujung2nya duit *ngga udah pake sensor, mau ngomong duit aja pake sensor*, biasanya orang bisa nuduh begitu karena emang dirinya sendiri kek gitu.
daffari wrote on Jan 10, '08
aiihhhhhhh, kok parah banget ya.... ga niat deh tu orang jadi dokter dan knapa bisa lulus jadi dokter ya tu makhluk??? *hmm....*

mudah²an si wulan-nya baik² ajah deh....
my2cubs wrote on Jan 10, '08
Alhamdulillah, masih ada orang seperti mbak ari yg punya nurani. semoga Allah senantiasa memberkati mbak ari.
rainychan wrote on Jan 10, '08
aduhhhh...yg komen panas gitu......
miss whore something
ga penting deh!!!!


masalahnya dah mo diselesaikan, buat apa diperpanjang?
trus.....
klo menurut Anda cerita-nya TIDAK SAMA dengan yg diceritakan teh Ari
ya gampang aja toh, ceritakan saja menurut versi anda
jangan malah nulis panjang2 utk menjelek2an orang

lebih baik nulis panjang2, yg lebih "penting"
the other side story dari kejadian ini, misalnya

kalo gak.....
ya GAK PENTING DEH
c4rlo wrote on Jan 10, '08
bingung gue...dr Belinda ini...butuh duit banget ya untuk bayar pendidikan yang tinggi? ampe mesti gitu jadi PELACUR...OMG...NISTA...NISTA...NISTA...!
c4rlo wrote on Jan 10, '08
btw...reply tu pelacur kota yang pintar itu...bisa dia delete sendiri kan ya?
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08, edited on Jan 10, '08
udah aku reply all quote supaya kalau di delete juga masih ada arsipnya kog....
thanks buat semua rekan yang udah membesarkan hati gue....
sorry guys, kalau jadi ajang caci maki lagi disini....
mohon maaf banget....

untuk dr. Belinda, saya harap anda sudi bertemu secara pribadi (silahkan hubungi saya di 0818 848499) dengan saya untuk menjelaskan apa maksud anda mengatakan saya kampungan (mungkin karena memang saya berasal dari kampung sih, tapi berarti anda mengenal saya?), tidak profesional (saya memang bukan dokter makanya tidak profesional seperti anda), TERUTAMA BERTUJUAN MEMERAS.

Tolong sampaikan kepada saya semua maksud anda. Trimssss.....
ojifaroz wrote on Jan 10, '08
c4rlo said
bingung gue...dr Belinda ini...butuh duit banget ya untuk bayar pendidikan yang tinggi? ampe mesti gitu jadi PELACUR...OMG...NISTA...NISTA...NISTA...!
walah....... jadi ada toh dokter yg jadi pelacur ????? berlagak sok mulia jadi dokter taunya dia pelacur. ayo.. jangan jadi pelacur yg penakut dong tante belinda,tunjukkan siapa anda,biar pejabat2 bisa tau anda dan orderan anda jadi banyak sebagai pelacur.
gried wrote on Jan 10, '08
Waakss.. jadi rameee...
Kok gak skalian Wulan (korban) bikin MP baru jg yaa? hehehe..
Amat disayangkan respon yg diberikan dr. Belinda seperti itu, publik pun semakin JELI menilai kualitas beliau sebagai dokter. Mgkn kalau Bu dokter menanggapi dengan bijak & lebih kalem orang akan memaklumi. Tapi kalo respon yg diberikan seperti itu?!! Weleehh... salah besar Bu dokter !

Hmmm..smua cerita ini sudah beredar di internet, mailing list, dll. Nama & gelar kedokteran pun dipertaruhkan, sayang sekali respon seperti itu justru bisa menghancurkan karir Bu Dokter!
Peace aahh...

Sabar ya Rie.. *peluk aah...*
cindil wrote on Jan 10, '08
ah katanya dr. Belinda / smarttownwhore kenal siapa aja yg terlibat kasus ini?
apa cuma kenal om Slamet aja?
gak heran kalau gitu hehehehe....
Pacar nya? Istrinya?
Hhhmmmm......

Eh.. Arie KAMPUNG-an ya?
*cekikikan*
kampung Depok atau kampung Jakarta? Emangnya Dr Whore KOTA-an ?
*makin cekikikan sambil cari buku yassin*
Sorry darling... lucu sih, gak tahan pengen cekikikan.
c4rlo wrote on Jan 10, '08
btw salut deh ma ari....masih mo ktm ma si dr.Belida itu...he3, kalo gue sih ya...bakal males deh ketemu ma oknum2 yang tiada jelas itu...abis2in energi aja...mending napak tilas nusantara sesi yg berikutnya lagi rie =) tapi memang sih...kalo gue liat dari kacamata 'perusahaan' apa yg elo lakukan ini memang bikin desperate, krn cuma murni 'uneg2'. sebagai 'perusahaan' juga bakal bingung banget apa yg mo dilakukan. Minta maaf? itu sama aja ngaku salah, tar 'image'nya ancur donk. Mo dikasih duit biar diem? elonya ga mau terima. Akhirnya, optionnya tinggal intimidasi deh...as desperate resolution.
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
gue emang sedang keliling nusantara kog, hehehe....
mungkin paling cepat baru tanggal 22 nyampe Jakarta lagi...
itu paling cepet, kalo paling lambat ya.... mungkin setahun lagi :p
thanks carlo... :)
c4rlo wrote on Jan 10, '08
bused!!!! dah jalan lagi?
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '08
dari tanggal 5 malam, habis rapat / sidang ama dokter2 kemaren... hehehe....
makanya aku bilang ke mereka waktu sidang yg tersedia cuma tgl 4 januari....
karna tgl 5 malam dah chau sampe akhir januari hehe....
setelah itu gatau juga deh kalo mereka masih mau ketemu ya tolong bikin janji duluw....
jadwal eke juga sudah padat merayap :p
dokterqyu wrote on Jan 11, '08
mbak sri jadi dikenal ama dokter2 seantero indonesia ^^,
pils visit: DOKTER ERROR
http://dokterqyu.multiply.com/journal/item/151
prajuritkecil wrote on Jan 11, '08
iniaku said
aih aih... ada sih orang pinter ngaku, heheheheh
biasanya sih Mbak Whore (boleh dong manggil whore, secara idnya smarttownwhore gitu loh), tong kosong itu nyaring bunyinya

*ketawa guling-gulingan sampe kampus, mau kuliah ahhhhhhhhhhh biar pendidikan gue gak kalah jauh dari Mbak Whore*

makanya Ri, sekolah lagi di JERMAN, biar PENDIDIKANNYA GAK KALAH JAUH DARI MBAK WHORE
dan pastinya sih BIAR DEKET SAMA GUE, biar kita bisa sama-sama HIKING DI ALPEN :))

*sumpah, seneng gue bangun tidur dapat bahan ketawaan, hehehehehehe*
maksudnya kalah jauh tuh ya gini...
teh ari kuliahnya di depok... dia kuliahnya di tempat yang lebih jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh dari depok...:P
dayseema wrote on Jan 11, '08
Duh... dokter tapi kok pilih nama id nya Smart Town Whore...
:-|
afnia wrote on Jan 11, '08
Nunggu kabar selanjutnya - pokoknya kudu tuntas biar ngga akan lagi ada kejadian2x seperti ini. Aku dukung terus teh Ari!!!
keluargahappynana wrote on Jan 11, '08
aah, gila nih dokter, rumah sakitnya juga! Tuntut aja ke pengadilan, atau tulis di koran.. kalo sampe ternyata tuh dokter dipecat atau dikeluarin dari IDI atau diberi sanksi profei or apalah, khan.. BUKAN URUSAN KITA!! Hahahahaaa :))
muhammadanshory wrote on Jan 12, '08, edited on Jan 12, '08
Eh.. Arie KAMPUNG-an ya?
*cekikikan*
kampung Depok atau kampung Jakarta? Emangnya Dr Whore KOTA-an ?
*makin cekikikan sambil cari buku yassin*
Sorry darling... lucu sih, gak tahan pengen cekikikan.
(maap,,,yoopo to caranya nge quote,,,aq nggaptek iki)
kyknya karena namanya smart town whore it means dy mrasa WHORE (gak enak gw terjemahinnya) KOTA yang PINTAR,,,bgitukah??kok kyknya dari tulisannya berkebalikan ya,,,


sabar ya mba,,,
aduhh,,,
kok ketokne wes mari malah ada orang g jelas kyak gini,,,
nikmati saja kliling nusantaranya mba,,,hehe,,,(pengen ikut,,,halah)
duniamaya wrote on Jan 12, '08, edited on Jan 12, '08
ooh, akirnya baca jg tulisan dr belinda
* sial, td sempet tertarik cek site-nya ternyata gada apa2.. huh, buang2 waktu *
aku jg nunggu kabar selanjutnya mba.. met jalan2, sekalian refreshing dr jari yg mungkin pegel ngetik reply-an hehehe..
cup mwa mwa buat mba ari ^_^
kucingaholic wrote on Jan 13, '08
Asw. duh, ikut sedih mba, dengan semua yang udah mba alami.. semoga masalahnya bisa diselesaikan dengan baik, wulannya juga bisa aktivitas dengan baik lagi, pemerintah bisa melakukan perbaikan, dan semoga tidak sampai merusak silaturahmi kita dengan para dokter.. Smoga dokter tersebut juga dibukakan pintu maaf selebar2nya oleh Tuhan YME.. wass.
Comment deleted at the request of the author.
irulfajri wrote on Jan 14, '08
PERANGKAP TIKUS


Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.
Sang tikus kaget bukan kepalang.
Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."
Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkat tikus"
Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati....tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata " Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa.. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.
Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam)
Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SUATU HARI….KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA...PIKIRKANLAH SEKALI LAGI
irulfajri wrote on Jan 14, '08
PERANGKAP TIKUS


Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.
Sang tikus kaget bukan kepalang.
Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."
Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkat tikus"
Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati....tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata " Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa.. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.
Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam)
Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SUATU HARI….KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA...PIKIRKANLAH SEKALI LAGI
irulfajri wrote on Jan 14, '08
PERANGKAP TIKUS


Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.
Sang tikus kaget bukan kepalang.
Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."
Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkat tikus"
Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati....tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata " Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa.. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.
Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam)
Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SUATU HARI….KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA...PIKIRKANLAH SEKALI LAGI
c4rlo wrote on Jan 14, '08
niat amat...postingnya ampe 3 kali..he3
evanda2 wrote on Jan 14, '08
barusan ngintip site nya dr yang katanya smart... kikikikikiiikkk...
Katanya smart, masa nulis lokasi nya, Jakarta, Jawa Barat .. Sejak Kapan Jakarta Pindah ke Jawa Barat ....
Cepe deeehhhh
viekyhartanto wrote on Jan 15, '08
dari beberapa pengalaman saya meng handle dokter2....memang sebagian besar dari mereka merasa berbeda dari orang kebanyakan...merasa dirinya bukan manusia biasa seperti yang lain...jadi dengan mudahnya menghina dan meremehkan orang lain yang bukan dokter...walaupun tidak menutup kemungkinan masih ada bbrp dokter yg berhati nurani dan rendah hati.....ingat'lah wahai para dokter atau apapun...derajat Manusia di sisi Allah adalah sama.....yang membedakan adalah dari ketaqwaannya. Hari pengadilan itu cepat atau lambat pasti akan datang...jadi segeralah bertobat bagi yg tak berhati nurani.....
jadulforum wrote on Jan 15, '08
Demi menyelamatkan topik yang semakin keluar jalur, baik dari pihak yang kontra maupun yang pro, coba kita pikirkan kembali,

Yang patut dikasihani di sini adalah komentar-komentar sampingan yang di luar topik soal pelayanan dokter, tetapi malah disalah artikan untuk meng-encourage mbak Sri. Sebaiknya mbak Sri mencari dukungan yang logis, bukan berdasarkan emosi dan kesempatan belaka, seperti mayoritas komentator di atas. Apalagi sudah terbuka itikad dari organisasi profesi terkait untuk menyelesaikan masalah ini (walaupun berangkat dari opini belaka... sungguh negeri yang emosional), mulailah berlaku legit.

Salam,
-admin
http://www.jadul.org/forum/
srisariningdiyah wrote on Jan 15, '08
Demi menyelamatkan topik yang semakin keluar jalur, baik dari pihak yang kontra maupun yang pro, coba kita pikirkan kembali,

Yang patut dikasihani di sini adalah komentar-komentar sampingan yang di luar topik soal pelayanan dokter, tetapi malah disalah artikan untuk meng-encourage mbak Sri. Sebaiknya mbak Sri mencari dukungan yang logis, bukan berdasarkan emosi dan kesempatan belaka, seperti mayoritas komentator di atas. Apalagi sudah terbuka itikad dari organisasi profesi terkait untuk menyelesaikan masalah ini (walaupun berangkat dari opini belaka... sungguh negeri yang emosional), mulailah berlaku legit.

Salam,
-admin
http://www.jadul.org/forum/
Saya tak perlu menulis di dalam jurnal saya untuk mencari dukungan, dan untuk apapun komentar berisi negatif dan positif di dalam jurnal saya ini, sudah dibuka pintu lebar2 kesempatan untuk itu dari saya pribadi, termasuk mempersilahkan kepada anda. Tolong dihargai hal tersebut... dan bukan anda yang berhak 'menyelamatkan' topik, berlagak seperti admin topik tertentu disini... untuk perkara mengkasihani siapapun, saya hargai itu sebagai bentuk perhatian anda... :)

Bila anda sudah selesai dengan semua urusan anda di sini, dipersilahkan dengan hormat untuk tidak muncul lagi di sini, karena saya sudah berusaha menjawab semua pertanyaan anda selama ini, terutama mengenai tanggung jawab saya terhadap kasus ini. Dan bila anda masih kurang puas, saya sebagai pembuka topik di blog saya sendiri, merasa sudah mempersilahkan anda untuk menghubungi saya pribadi langsung dengan mencatatkan nomor handphone saya untuk janji temu.

Trims sekali untuk semua komentar anda :)
srisariningdiyah wrote on Jan 15, '08, edited on Jan 16, '08
Apalagi sudah terbuka itikad dari organisasi profesi terkait untuk menyelesaikan masalah ini (walaupun berangkat dari opini belaka... sungguh negeri yang emosional)
itikad baik tentu dapat terlihat bila disertai dengan perlakuan yang baik pula...
dengan segala percobaan intimidasi dll, saya merasa itikad baik yang bisa dihargai hanya sebagian, walau tidak dipungkiri ADA. Dan penghargaan saya terhadap itikad baik tersebut juga sudah tidak tanggung2 apalagi dengan kedatangan saya pribadi yang 'dipanggil sidang'....

Harap tidak terlalu melebih2kan semua 'itikad baik' tersebut, apalagi anda sudah pasti bukan berada dalam posisi saya... :)

hahahha... yang emosional siapa ya?
yang menulis blog ini dan rekan2 yang menanggapi, atau YANG SUDAH MENGIRIM semua percobaan intimidasi & semua email kasar?

hehehhe.... coba anda tanyakan lagi kepada mereka semua yang sudah melakukan itu kepada saya, sebelum me-reply tulisan ini.

Terima kasih ya.... mas/mbak jadulforum...
Seperti harapan saya di reply sebelumnya, kalau urusan anda sudah selesai di sini, mohon menghemat energi :) tapi kalau tetap mau me-reply terus sih ya gak papa jugak... saya cuma menyarankan hemat energi aja, hehehe... saya sih seneng2 aja kog jurnal saya dikunjungi banyak orang, apalagi orang seperti anda yang menurut jurnal sebelah anda mengaku lebih bijak dalam melempar opini dibanding saya?

Saya juga menyarankan untuk tidak terlalu terlihat seperti mencari2 kesalahan orang, ketika kesalahan lain yang dituduhkan sebelumnya kurang/tidak terbukti... :)
menhariq wrote on Jan 15, '08
Sebaiknya mbak Sri mencari dukungan yang logis, bukan berdasarkan emosi dan kesempatan belaka, seperti mayoritas komentator di atas.
mana kehadiran admin jadul forum waktu diajak ikut ke IDI? sorry.. aku mendukung ari bukan karena emosi dan kesempatan seperti yang anda tuduhkan.. tapi karena ari itu adalah salah orang yang benar-benar ada secara nyata.. bisa dibuktikan kalau ketemuan.. apa jadulforum punya itikad baik untuk ketemuan, sebelum menuduh yang bukan-bukan?
viliaciputra wrote on Jan 15, '08
Apalagi sudah terbuka itikad dari organisasi profesi terkait untuk menyelesaikan masalah ini (walaupun berangkat dari opini belaka... sungguh negeri yang emosional), mulailah berlaku legit.
Jadi tertarik untuk sedikit bertanya.

Dari pernyataan anda, terkesan bahwa anda sebetulnya merasa pihak organisasi profesi terkait tidak perlu menyelesaikan masalah ini. Mengapa begitu? Lalu menurut anda, apa langkah yang harus mereka perbuat?

Dan dari pernyataan yg sama ("Opini belaka...sungguh negeri yang emosional"), tertangkap kesan bahwa opini adalah sesuatu yang tidak berguna. Jadi, menurut anda, mengapa opini anda masih harus dihargai dan dianggap berguna di sini?

Dan pertanyaan terakhirnya adalah, kalau opini adalah sesuatu yang "hanya" atau "belaka", untuk apa anda menjadi admin di sebuah forum? Anda tentu mengerti fungsi forum bukan?

Sedikit pertanyaan untuk memperjelas integritas anda dan forum yang anda bawa.
Terima kasih.
viliaciputra wrote on Jan 15, '08
@ Ari
Kita semua tau, dukungan datang saat ada pihak tertentu yang dirugikan atau diperlakukan tidak adil. Dukungan adalah bentuk dan ungkapan dari orang - orang yang memiliki suara atau pengalaman yang sama dengan apa yang didukung tersebut. Jadi, dukungan adalah tindakan yang paling logis yang akan dilakukan oleh manusia dalam menyuarakan pendapatnya. Jadi, memang tidak ada pendukung ataupun dukungan yg perlu dikasihani kok Ri. :) Semua mendukung karena memang kebutuhan dan suaranya sama.

Semangat ya, Ari. Semoga kasus ini bisa jadi tonggak perubahan ke arah yg lebih baik terutama dalam layanan kesehatan di Indonesia.
anteeqa wrote on Jan 15, '08
jadi panjang gini ya urusannya....

emang, masalahnya kadang di soal kemampuan kita menerima kritik dan membedakan [memisahkan] kritik itu dari diri kita. tapi, kayaknya emang di indonesia ini kebanyakan 'intelektual' susah misahin antara kritik dengan dirinya. dianggapnya kritik itu utk menyerang diri atau profesinya, padahal bukan begitu kan ya, temans... coba kalo pihak2 yg 'kontra' dalam perbincangan ini juga mencoba melihat dari kacamata orang dan bukan sibuk membela diri, yg sebenernya ga perlu dibela krn bukan dirinya yg diserang, tapi kenyataan [si wulan yg menerima pengabaian secara medis] yg dikritik--spy itu ga terulang lagi

*antik yg juga masih perlu terus banyak belajar utk menerima kritik* ;)

anyway, met pagi mbak'e... masih sering main ke kampus kah? aku dah jarang euy... kangen juga nongkrong2 lagi di dallas yg kian lama kian menyedihkan ;D
ekakurnia wrote on Jan 16, '08
sejak tulisan ini di buat oleh mba sri, saya udah punya firasat yang tidak enak...jangan2 tulisannya akan diperkarakan, ternyata benar. Tapi saya mengharapkan adanya rekonsiliasi antara yang bersangkutan dan pihak yang disengketakan. Kepada dokter2 ataupun calon dokter yng memiliki blog di multiply ini sebaiknya untuk menahan diri supaya tidak emosional dalam menanggapi tulisannya mbak sri. Jika memang kurang puas dengan debat kusir seperti ini (antara dokter vs mbak sri) sebaiknya diselesaikan dengan baik2 bukan dengan cara intimidasi, teror-meneror, dsb.

mvlia wrote on Jan 16, '08
**buatku kasus di atas adalah salah satu contoh saja, banyak bgt tuh kita bisa temui....bukan hanya kalangan profesi di atas, tapi jg profesi "pelayanan" lainnya, seriiiing bgt ..
pas kita nanya baik2, minta tolong baik2, entah kenapa responnya mengecewakan kita yg-kadang--jadi-bertanya-emang-kita-salah-apa-ya...
klo mau sarkastik, kita bisa nyaut balik "bukannya itu sudah tugas anda?".....arrghh

aku mau nanggepi posting ini dr sudut yg berbeda -----secara aku dh telat bgt ya mbak, hehe...maklum barusan dr mbolos ngempi ;p-----

generally,
mestinya sih postingan ini, bukannya menuai yg-bernada-negatip ..
tp jd pacuan kita kali ya (terutama nh yg bekerja di bagian "customer service", ...ex: jadi sekretaris jg "customer service" khan :D), bilamana..
merespon oranglain dengan menyenangkan-is something nice

*huehue, sotoy bgt ga nh akyu*
srisariningdiyah wrote on Jan 16, '08
mvlia said
**buatku kasus di atas adalah salah satu contoh saja, banyak bgt tuh kita bisa temui....bukan hanya kalangan profesi di atas, tapi jg profesi "pelayanan" lainnya, seriiiing bgt ..
pas kita nanya baik2, minta tolong baik2, entah kenapa responnya mengecewakan kita yg-kadang--jadi-bertanya-emang-kita-salah-apa-ya...
klo mau sarkastik, kita bisa nyaut balik "bukannya itu sudah tugas anda?".....arrghh

aku mau nanggepi posting ini dr sudut yg berbeda -----secara aku dh telat bgt ya mbak, hehe...maklum barusan dr mbolos ngempi ;p-----

generally,
mestinya sih postingan ini, bukannya menuai yg-bernada-negatip ..
tp jd pacuan kita kali ya (terutama nh yg bekerja di bagian "customer service", ...ex: jadi sekretaris jg "customer service" khan :D), bilamana..
merespon oranglain dengan menyenangkan-is something nice

*huehue, sotoy bgt ga nh akyu*
gak sotoy kog... sis...
aku juga punya tulisan lanjutan tentang jurnal ini:
http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/428/Bekerja_Melayani...
yang senada dengan komentar loe sis... :)
semua profesi selayaknya memperlakukan orang lain secara layak dalam bertugas...

tengkyu ya...
diahramli wrote on Jan 16, '08
yaaah teeh.. aku doain tetep waras ya teh.. eh.. emang teteh waras ya? =))

srisariningdiyah wrote on Jan 17, '08
yaaah teeh.. aku doain tetep waras ya teh.. eh.. emang teteh waras ya? =))

*jitak2 Diah*
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Feb 7, '08
berhubung saya sudah sempat baca reply yg sudah terlanjur dihapus sebelum reply saya ini, saya mencoba menjawab pertanyaan mas yurikazp:
Saya hanya berpikir dan mengira-ngira... andaikan, andaikan nih.. sejak awal mbak tiba di RS Graha Permata Ibu, dan tidak ada usulan untuk segera dilakukan pemeriksaan CT Scan, apa akan ada episode yang sama disana? Andaikan dari awal petugas EMG disana menangani pasien terlebih dulu sebelum mengusulkannya untuk CT Scan, mungkin tidak akan kejadian emosional antara mbak Sri dengan dr. A, kan? Andaikan kita yang awam ini cukup mengerti bahwa untuk men-CT Scan kepala harus menunggu perdarahannya berhenti, tentu kita akan meminta pada petugas di RS pertama untuk segera melakukan pertolongan pertama pada pasien, bukan? Sayangnya, ke-2 RS yang mbak Sri datangi itu petugas medisnya sama awamnya tentang masalah CT Scan, jadi mereka hanya bisa mengusulkan "segera" dan "segera" tanpa tahu bagaimana seharusnya persiapan untuk CT Scan itu sehingga terjadilah episode yang tak diharapkan.

Untuk diketahui semua, bahwa setiba di UGD RS Sentra Medika, kepala Wulan sebenarnya sudah berbalut penahan luka, yang dilakukan di UGD RS ke-2 yang didatangi yaitu RS Hermina Depok. Di RS Permata Bunda yang pertama memang tidak sempat, karena Wulan belum dikeluarkan dari mobil, sementara di RS Hermina sebenarnya saya sudah hendak meninggalkan Wulan dan kakaknya untuk ditangani RS (ternyata saya cukup tega bukan?). Namun karena pihak keluarga Wulan sangat memohon saya untuk dicarikan penanganan terbaik, untuk itulah saya menuju ke RS Sentra Medika, dan terjadilah episode tersebut.

Demikian jawaban dari saya :)
srisariningdiyah wrote on Feb 7, '08
yurikazp:
Kalau saja kita paham, kita nggak perlu untuk jadi dr. A yang mungkin saat itu berpikir "dari Depok kesini makan waktu 40 menit, pasien perdarahan, kenapa rumah sakit yang disana bukannya mengobati pasien dulu tetapi malah langsung disuruh CT Scan?"; dan tampaknya mbak Sri juga terpengaruh untuk segera membawa Wulan untuk di CT Scan sehingga tanpa sadar jadi mengabaikan luka yang dialaminya, kah?

menurut saya, dokter di UGD RS SM tersebut ga mungin berpiir seperti yang mas tulis, karena pasti jelas2 dia melihat ada perban pembalut luka di kepala Wulan, sebagai tanda bahwa sebenarnya Wulan sudah berusaha ditangani terlebih dahulu untuk menghentikan pendarahan...dan untuk CT Scan, sebenarnya saya tidak terlalu peduli, bahkan bila mas yurikazp baca ulang, saya sempat menanyakan ke dokter tsb, apa memang penting CT Scan dilakukan secepatnya, berhubung keluarga belum datang?

hmmm...
begitulah yang terjadi di lapangan sesungguhnya, mas yurikazp.
Bilapun tidak ada satupun yang mengerti bagaimana kondisi saat itu, hanya berdasarkan cerita yang saya tulis, saya sangat mengerti dan saya tidak memaksakan pembaca untuk mempercayai tulisan saya. Tindakan saya hanya berdasarkan spontan, rasio dan logika aja kog saat itu... ketika dibentakpun sebenarnyalah keinginan saya membalas bentakan dokter tsb, apalagi pada bentakan kedua, keinginan saya adalah menampar dokter tsb. Tapi toh itu semua tidak saya lakukan mengingat kondisi pasien yang akan makin buruk bila saya menuruti emosi saya. Saya hanya diam dan banyak saksi yang bisa ditanyai bila berkenan dipertemukan semuanya kalau meragukan cerita saya.

Tapi untuk apa? Toh saya pesimis, pihak RS juga pasti gak berani melakukan itu, mempertemukan kami semua. Buktinya sampai detik ini, sampai saya sempat di sidang 9 dokter di IDItgl 4 Januari 2008 yang lalu-pun, tidak ada itikad baik mereka membuktikan bahwa saya salah.

Saya memang cuma wong cilik di negara ini, tapi saya masih punya harga diri untuk tidak membalas perlakuan tidak manusiawi dari dokter tsb, dengan perlakuan yang sama. :)
riandgreat wrote on Feb 15, '08
np profesi dokter bisa tercoreng?

1. Saat ini untuk masuk ke fakultas kedokteran harus memiliki uang banyak...sedangkan apa orang yang memiliki uang banyak itu sangat sedikit dan biasanya mereka telah terbiasa untuk hidup senang, jadi rasa empati terkadang tidak di dpatkan dari sosok mereka.dibandingkan mereka yang memang terbiasa hidup sederhana.


2.Kejadian ini sebenarnya sudah terlihat sejak mereka berada di kampus, sungguh memprihantinkan adanya perbedaan kemampuan pergaulan sosial dari mereka yang lulus dengan proses murni (SPMB, UMPTN) dengan Mereka yang masuk melalui jalur khusus dengan biaya yang sangat mahal. Mereka yang lulus murni umumnya dari kalangan menengah bawah yang mengerti akan mulianya profesi dokter dan merasakan dari awal bagaimana sulitnya untuk membuktikan bahwa mereka layak menjadi dokter dengan biaya terbatas. Seperti apa bentuk rasa sosial mereka?umumnya dalam kegiatan2 sosial mereka akan lebih aktif dari rekan2nya yang lulus melalui jalur lain (walaupun tidak semuanya seperti itu). Sedangkan mereka yang lulus dengan jalur lain umumnya memang 'dipaksakan', dalam artian dalam hal otak mungkin mereka kalah (buktinya tidak lulus SMPB/UMPTN), tapi mereka melihat celah lain dari penyelenggaraan pendidikan yaitu UANG..

3. dari sini saya bisa menarik kesimpulan yang saya akui memang tidak relevan, tapi memang ternyata itulah fakta yang saya temui di kampus saya. Entah mengapa ada perbedaan dari mereka2 yang memang benar2 lulus atas kemampuan intelegensia dengen mereka yang melalui jalur lain.

Semoga kasus ini bisa saya jadikan pelajaran berarti, semoga saya dan rekan2 saya yang lain dapat memberikan dan menunjukan kepada masyarakat profesi dokter yang seharusnya.

Doakan saja.......
reyhimitsu wrote on Feb 15, '08
ikut deg2an...
ikut emosi...
ikut miris...
hampir nangis...

tapi ga semua kayak gitu kok, personalnya aja...
smoga aja sang dokter bisa menyadari kesalahannya...
dan tentu saja memperbaikinya...
ga da orang yang sempurna...

sebagai plajaran juga buwat kita...
jangan sampe kayak gitu...
izzry wrote on Feb 16, '08, edited on Feb 16, '08
jadi pengen berkhayal...
pada saat si Dokter bilang "ITU BUKAN URUSAN SAYA" maka, ditengah kebisuan yang terjadi, maka dengan kekuatan magic (ciee.. jadi harry potter neh) saya akan membalikkan keadaan, menjadi si Dokter jaga di posisi wulan, dan wulan di posisi Dokter Jaga. Dengan begitu mungkin si Dokter asli akan merasa.. bagaimana sih rasanya jika diperlakukan tdk manusiawi seperti itu .. hikss

martabaktelor2000 wrote on Feb 16, '08
keren abis
kenapa nga lu tusuk aja dokternya
???
biar dia rasain juga rasanya minta tolong....
coba kalo ketemu gua...
hmmm
abis tuh orang
aggiechan wrote on Feb 19, '08, edited on Feb 19, '08
halo mbak sri,..lama tak jumpa,..wah masalahnya jadi panjang gini yaa? saya sampe gak berani comment deh hehehe habis dah banyak di atas,..
si pasien bagaimana?
kemudian rapat IDI bagaimana mbak?

cuma prihatin aja,...kok malah jadi ajang caci maki ya?
padahal udah ada dr senior seperti mmamir yg nota bene dokter senior yg patut di jadikan contoh buat para rekan paramedis dan beberapa dokter dan paramedis lain yg merespon cukup baik dan netral
salut buat mbak yg selalu berusaha netral.....
dan saya minta restu dan doanya agar bisa selalu bekerja sesuai prosedur ...

btw kabar dari saya lebih buruk lagi,..rs saya menolak askeskin karena sudah setahun tidak dibayar ke rs....untung para dokter spesialis banyak yg kerjasama dengan john fawcett foundation dan yayasan senyum dan beberapa LSM lain yg membayarkan semua biaya perawatan dan operasi

walaupun ending dari IDI tidak seperti yg diharapkan, saya harap mbak sri gak anti sama dr indonesia yg lain khaan hehehe , saya jamin masih banyak dokter yang memegah teguh idealisme...
sekali lagi dokter juga manusia,..karena profesinya berhubungan dengan nyawa, sehingga stigma DEWA PENYEMBUH - melekat dihati semua orang di dunia,..
tapi satu hal lagi saya yakin seluruh dokter yang ada didunia , termasuk dokter yg ditemui mbak sri sekalipun tidak ingin ada nyawa pasien nya hilang saat berada dalam penanganan dirinya..
Pressure dokter jaga sangat tinggi...karena beban berat ada padanya apalagi kalo jaga sendiri trus banjir pasien gawat berbarengan....
yuhuuu...glekss ....harus memilih yg mana perlu diselamatkan...

seandainya anda bertemu dgn prof Dr.dr AA Raka Sudewi SpS,..anda akan mengerti,...dia idola saya,...saya sangat ingin seperti dia,...dia seorang dokter yang baik , sabar dan sangat halus dalam berbicara pada semua orang,......dan masih banyak senior spesialis yg begitu saya hormati,..karena mereka mau meringankan masalah finansial para pasiennya....selalu mengingatkan, "dik tolong informasikan dulu masalah biayanya ke keluarga pasien ya...."
okeee....selamat malam....semoga esok akan menjadi hari yang lebih baik

salam dari bali


dardiri wrote on Mar 5, '08
baru baca ini....
yah inilah hal yang sering terjadi di indonesia....
kalo ndak punya uang jangan sekolah...jangan pernah mencoba-coba untuk sakit..atau berharap mendapatkan keistimewaan....
sakit juga membayangkan bagaimana dokter itu bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu...
bukan urusan dia? apakah dia tidak tahu bahwa sumpah yang pernah dia ucapkan ketika "dilantik" menjadi seorang dokter? apakah dia tidak pernah berpikir bagaimana pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan nanti.
sebagai profesi yang menghasilkan banyak uang seharusnya mereka menjadi lebih simpati dengan orang lain...mereka diberi kemampuan untuk berusaha menyelamatkan orang lain..dan seharusnya mereka sadar dengan konsekuensinya.....
ruswinar wrote on Mar 8, '08
Dear Sri...

Ck...ck...ck.....saya sangat salut dengan tulisan anda. Anda sangat memiliki bakat yang luar biasa dalam menulis, yang mungkin harusnya anda kembangkan dalam bentuk novel atau mungkin membuat naskah cerita sinetron.
loh....loh...loh....ini siapa ya? ga punya identitas jelas tapi ikut nimbrung? udahlah diemin aja, kalo identitasnya aja ga jelas gini apa ya kita percaya begitu aja kalau beliau ini seorang dokter? terus nick yang dipake itu loh, plis deh 'smarttownwhore'....helloooooooo??? ada gitu orang 'pinter' yang ngaku - ngaku berpendidikan tinggi tapi pake nick kaya gitu?

UUD gimana? lah wong masalahnya sampe sekarang masih terkatung - katung ( maksudnya tidak ada tindak lanjut dari pihak IDI maupun Rumah Sakit yang bersangkutan ) iya toh? Tapi bole juga tuh idenya untuk 'ditulis dan dikembangkan dalam bentuk novel' buat Buku MP selanjutnya..............hahahahahahahaha.......................
mastonick wrote on Mar 17, '08
Assalamualaikum ...Sorry mbak...aku baru baca jurnal ini, Salam kenal dulu deh ..terkaget dan kesima dengan kelakuan dokter itu..kok ya ada ...terus baca lagi komen" ...lucu juga yang punya nama 'smarttownwhore'. selucu namanya hihihi
Wulan selamat, semakin baik-baik dan makin sehat...
Mbak Sri ..perjuangan kebenaran dan keterbukaan memang perlu ....AKU DUKUNG mbak..Maju terus ...
erwin12345 wrote on Mar 25, '08
brarti dokter tuh blun nunjukin jati dirinya sebagai seorang dokter,,,,
ngeri juga klu ada blg gt,,,,
salam
srisariningdiyah wrote on Mar 28, '08
rekans,
semua yang terjadi mudah2an menjadi pelajaran yang banyak hikmahnya untuk kita semua...
dan kelanjutan masalah ini sudah diperlihatkan dari sikap IDI yang tidak peduli dan begitulah gambaran dari lembaga yang seharusnya bisa menjadi lembaga kepercayaan masyarakat Indonesia...
semua laporan dari sidang di IDI atas kasus ini, ada di sini: IDI: Hasil Sidang & Terima kasih...

Semoga semua catatan ini berguna :)

salam,
hansu80 wrote on Apr 20, '08
Maaf, ikut nimbrung mbak. Pertama2 saya ingin komentar masalah si smarttownwhore, kalau emang dia seorang dokter, malu mas. Memang mungkin sesama satu profesi harus saling membela dan mendukung. Tapi setahu saya si dokter "bukan urusan saya" bukan lah satu profesi, yaitu dokter. Orang yang menjalankan sumpah kedokteran dan sumpah hipocrates baru lah saya anggap satu profesi. Lalu mengenai masalah laporan mbak sri ke IDI dan tidak mendapatkan hasil yang semestinya, harus diakui masalah yang bersinggungan dengan kode etik di indonesia sangat lah buanyak sekali. Prioritas dari mereka biasa yang berkenaan dengan malpraktik yang membahyakan ataupun membuat celaka dari pasien, jarang sekali masalah2 seperti ini dibahas sampai tuntas. Buat mbak sri dan wulan, maaf apabila kalian menerima perlakuan yang tidak pantas selama di rumah sakit itu. Semoga di kesempatan lain kami para dokter bisa menunjukkan bahwa kami masih punya hati nurani dan etika untuk berlaku sebagai seorang dokter.
afifshalahuddin wrote on Apr 28, '08
Dokter edan..!
suryos wrote on May 30, '08
astagfirullahaladzim...
Comment deleted at the request of the author.
li9htzan93 wrote on Jul 15, '08
duh mbak..bener..taro aja di koran biar bertobat semua tuh dokter..
jadi gimana kabar wulan mbak..?
srisariningdiyah wrote on Jul 15, '08
she still has to attend doctor until now, thanks for asking :)
sukmasinta wrote on Jul 30, '08
ak komen gini aja ya Jeng. Biar ada diurutan atas lagi.
becksekost wrote on Aug 12, '08
Saya dokter dan ijinkan saya melihat situasi yang saudara alami dari perspektif seorang dokter jaga. Saya tidak akan membela siapa2, insya Allah...
Sebenarnya intinya cuma masalah komunikasi antara dokter dengan pasien ( keluarga pasien ). Dalam hal ini, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. karena dokterpun dalam menyampaikan informasi tentang kondisi pasien harus dengan persetujuan pasien ( meskipun itu keluarganya, kecuali pasien anak2, pasien penurunan kesadaran dll,).
Jadi dokter jaga waktu itupun akan SALAH di mata hukum apabila menjelasken sedetail2nya kondisi pasien pada orang yang bukan keluarga pasien.
Mengenai pemeriksaan CT Scan, perlu diketahiu itu adalah pemeriksaan penunjang, yang dalam penatalaksanaan penderita trauma termasuk dalam secondary survey. Sedangkan primary surveynye tentu jauuuh lebih penting ( Airway, Breathing, Circulation, ). nah primary survey itulah yang harus dilakukan dan terus dievaluasi samapi stabil untuk menginjak samapi ke secondary survey.
Karena kalo Primary surveynya aj masih ada masalah, tentu kita ( para dokter) tentu tidak akan menginjak pada secndr survey, karena itu sangat fatal. Pasien bisa tiba2 meninggal pada saat perjalanan dari IGD ke tempat Rotgen atau saat di lakukan CT Scan atau bahkan saat kembali ke IGD.
Semua Pemeriksaan itu ada indikasinya yang tentu disertai dengan kontra-indikasi yang jika dilanggar, tentu akan berakibat fatal ( bisa mengakibatkan kematian ), cuntohnya pasien cedera kepala dengan kecurigaan fraktur cervikal, atau bahkan trauma kepala disertai dengan trauma abdomen dengan syok hipovolemik dll.
Tentu kita akan atasi hal yang mengancam jiwa pasien terlebih dahulu daripada pemeriksaan penunjang. Hal2 medis seperti ini mungkin akan berbeda jika dilihat dari perspektif non medis. disitulah pentingnya komunikasi dokter-pasien, yang dalam kasus ini menjadi dilematis karena mbak sri juga bukan keluarga pasien ( dilematis artinya jika dokter menjelasken sedetail2nya kondisi pasien kepada anda dengan konsekuensi anda harus mengambil keputusan terhadap pasien, yang tentu saja anda tidak berhak untuk melakukan itu. Dokter dengan pertimbangan medisnya tentu yang lebuh berhak mengambil keputusan terhadap pasien dengan situasi spt ini.
jadi sebenarnya apa yang dipermasalahkan?
Dari segi prosedur penatalaksanaan(terapi), saya ( sebagai dokter) tidak melihat ada kesalahan atau kelalaian. Kalaupun dianggap ada, saya kira keluarga pasien bisa menuntut ke pengadilan ! dan itu hak mereka.
Dari segi komunikasi dokter-pasien, saya kira kita juga tidak bisa menyalahkan siapa2 karena keluarga pasien juga tidak ada di tempat, shg dokter bisa mengambil keputusan sementara semata2 berdasarkan pertimbangan medis.
Kalau boleh saya mengambil kesimpulan, ini sebenarnya masalah yang gak ada sangkut pautnya dengan kondisi pasien dan keluarganya. ini masalah pribadi antara 2 orang yang sbenarnya tidak perlu sampai seperti ini andaikan sama2 MENGETAHUI perannya.

maaf MP saya masih kosong kr sy di WP.
tx
DB

davidirawan wrote on Aug 13, '08
dear beck (mas?)

prosedur mungkin emank gak jadi masalah kalau dilihat dari perspektif sang ahli. tapi bukankah kita harus ingat, ketika kita berhadapan bukan dengan orang yang selevel dengan kita sebaiknya kita menyesuaikan dengan kondisi lawan kita?
dan lagi, ada satu hal yang beck (sekali lagi saya tidak tahu gender anda) lupa, yaitu soal attitude seorang profesional kalau emank yang dikatakan oleh ibu sri adalah benar adanya. bukankah ketika seorang profesional ketika bertemu seorang consumer harus benar2 menjaga gesture, nada bicaranya, senyum yang bukan d'buat2, dsb? walaupun pada saat itu kita sedang capek ato mungkin ada masalah. kalau kiranya gak mampu untuk melakukan itu, lebih baik mencari profesi laen yang gak mengharuskan kita untuk bermuka dua. saya katakan bermuka dua karena memang perlu untuk menunjukkan sikap yang friendly saat memberikan pelayanan tapi tetap dengan syarat harus tulus, at least terlihat tulus.

"Kalau boleh saya mengambil kesimpulan, ini sebenarnya masalah yang gak ada sangkut pautnya dengan kondisi pasien dan keluarganya. ini masalah pribadi antara 2 orang yang sbenarnya tidak perlu sampai seperti ini andaikan sama2 MENGETAHUI perannya."

masalah yang seharusnya bisa terpecahkan kalau yang lebih "tahu" bisa membawa diri. dalam hal ini adalah DOKTER .
regards,
david irawan
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Saya dokter dan ijinkan saya melihat situasi yang saudara alami dari perspektif seorang dokter jaga. Saya tidak akan membela siapa2, insya Allah...
Sebenarnya intinya cuma masalah komunikasi antara dokter dengan pasien ( keluarga pasien ). Dalam hal ini, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. karena dokterpun dalam menyampaikan informasi tentang kondisi pasien harus dengan persetujuan pasien ( meskipun itu keluarganya, kecuali pasien anak2, pasien penurunan kesadaran dll,).
Jadi dokter jaga waktu itupun akan SALAH di mata hukum apabila menjelasken sedetail2nya kondisi pasien pada orang yang bukan keluarga pasien.
Mengenai pemeriksaan CT Scan, perlu diketahiu itu adalah pemeriksaan penunjang, yang dalam penatalaksanaan penderita trauma termasuk dalam secondary survey. Sedangkan primary surveynye tentu jauuuh lebih penting ( Airway, Breathing, Circulation, ). nah primary survey itulah yang harus dilakukan dan terus dievaluasi samapi stabil untuk menginjak samapi ke secondary survey.
Karena kalo Primary surveynya aj masih ada masalah, tentu kita ( para dokter) tentu tidak akan menginjak pada secndr survey, karena itu sangat fatal. Pasien bisa tiba2 meninggal pada saat perjalanan dari IGD ke tempat Rotgen atau saat di lakukan CT Scan atau bahkan saat kembali ke IGD.
Semua Pemeriksaan itu ada indikasinya yang tentu disertai dengan kontra-indikasi yang jika dilanggar, tentu akan berakibat fatal ( bisa mengakibatkan kematian ), cuntohnya pasien cedera kepala dengan kecurigaan fraktur cervikal, atau bahkan trauma kepala disertai dengan trauma abdomen dengan syok hipovolemik dll.
Tentu kita akan atasi hal yang mengancam jiwa pasien terlebih dahulu daripada pemeriksaan penunjang. Hal2 medis seperti ini mungkin akan berbeda jika dilihat dari perspektif non medis. disitulah pentingnya komunikasi dokter-pasien, yang dalam kasus ini menjadi dilematis karena mbak sri juga bukan keluarga pasien ( dilematis artinya jika dokter menjelasken sedetail2nya kondisi pasien kepada anda dengan konsekuensi anda harus mengambil keputusan terhadap pasien, yang tentu saja anda tidak berhak untuk melakukan itu. Dokter dengan pertimbangan medisnya tentu yang lebuh berhak mengambil keputusan terhadap pasien dengan situasi spt ini.
jadi sebenarnya apa yang dipermasalahkan?
Dari segi prosedur penatalaksanaan(terapi), saya ( sebagai dokter) tidak melihat ada kesalahan atau kelalaian. Kalaupun dianggap ada, saya kira keluarga pasien bisa menuntut ke pengadilan ! dan itu hak mereka.
Dari segi komunikasi dokter-pasien, saya kira kita juga tidak bisa menyalahkan siapa2 karena keluarga pasien juga tidak ada di tempat, shg dokter bisa mengambil keputusan sementara semata2 berdasarkan pertimbangan medis.
Kalau boleh saya mengambil kesimpulan, ini sebenarnya masalah yang gak ada sangkut pautnya dengan kondisi pasien dan keluarganya. ini masalah pribadi antara 2 orang yang sbenarnya tidak perlu sampai seperti ini andaikan sama2 MENGETAHUI perannya.

maaf MP saya masih kosong kr sy di WP.
tx
DB

om...
kalau anda ada di lapangan dan tahu semuanya...
primary survey aja selama 30 menit pertama sama sekali gak dikerjakan sama dokter di UGD itu...
bagaimana bisa menginjak ke secondary survey?
sutralah, apapun pendapat anda... yang jelas anda sama sekali tidak melihat di lapangan...
jadi anda juga tidak bisa menilai dengan hanya berkata bahwa ini hanyalah masalah pribadi antara 2 orang yang sbenarnya tidak perlu sampai seperti ini andaikan sama2 MENGETAHUI perannya

oh... enteng sekali sepertinya anda berbicara seperti itu...
sementara saya yang sudah dengan patuh dipanggil IDI untuk disidang sudah diperlakukan seenaknya...
Terima kasih untuk perlakuan institusi bergengsi yang anda masuk di dalamnya...
becksekost wrote on Aug 13, '08
rekan2 semua... maaf kalau komen saya dirasa kurang berkenan, saya hanya mencoba melihat dari sudut pandang saya..ok.. sy ga bela2 siapa2...ok..
Dalam melakukan tindakan medis (primary survey), apakah dokter waktu itu harus melapor kpd anda yang memang bukan keluarga pasien ? ( makanya saya bilang ini situasi yang dilematis bagi anda, karena anda bukan keluarga pasien, sehingga semua tindakan dokter semata2 berdasarka pertimbangan medis)
saya kira sebagai seorang dokter ( apalgi di IGD), tentu dia sudah melakukan tindakan untuk menaangani kegawatan sesuai dengan fasilitas yang ada.
Masalah moral dan etika itu mutlaq harus ada dalam semua profesi bahkan sebagai manusia itu hal yang tidak bisa ditawar2 lagi. Tapi sebejat apakah dan sejahat apakah dokter waktu itu samapi semua dokter mendapat stigma spt itu ? Masih banyak dokter2 yang hanya berorientasi pada kemanusiaan yang mungkin belum anda kenal.

srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
rekan2 semua... maaf kalau komen saya dirasa kurang berkenan, saya hanya mencoba melihat dari sudut pandang saya..ok.. sy ga bela2 siapa2...ok..
Dalam melakukan tindakan medis (primary survey), apakah dokter waktu itu harus melapor kpd anda yang memang bukan keluarga pasien ? ( makanya saya bilang ini situasi yang dilematis bagi anda, karena anda bukan keluarga pasien, sehingga semua tindakan dokter semata2 berdasarka pertimbangan medis)
saya kira sebagai seorang dokter ( apalgi di IGD), tentu dia sudah melakukan tindakan untuk menaangani kegawatan sesuai dengan fasilitas yang ada.
Masalah moral dan etika itu mutlaq harus ada dalam semua profesi bahkan sebagai manusia itu hal yang tidak bisa ditawar2 lagi. Tapi sebejat apakah dan sejahat apakah dokter waktu itu samapi semua dokter mendapat stigma spt itu ? Masih banyak dokter2 yang hanya berorientasi pada kemanusiaan yang mungkin belum anda kenal.

nah, makanya...
saya bilang anda tidak ada di lapangan...
jadi tidak tahu semuanya kan, walaupun dengan jelas saya tulis diatas...
bahwa di samping saya berdiri kakak korban yang notabene keluarga korban...
bahwa sampai ketika berita ini menjadi masalah dan saya di sidang oleh IDi-pun...
saya membawa surat keterangan bermaterai dari keluarga untuk mewakili mereka dalam sidang, demi merahasiakan identitas korban untuk tidak menjadi KORBAN SELANJUTNYA IDI, karena dari semua hal REAL & SEBENARNYA-lah, awal terjadinya keributan dengan IDI.

Saya tidak pernah meragukan moral anda atau teman2 dokter yang saya kenal...
Tidak ada yang men-judge anda dan dokter2 lain selain dokter UGD Sentra Medika yang saya tulis di sini, jadi tidak perlu merasa di-judge atau disamaratakan moralnya dengan dokter tersebut. Kalau saya menyebut institusi yang anda juga masuk di dalamnya, bukan berarti saya menilai anda. Tapi kalau siapapun yang membaca menilai lain, itu di luar kekuasaan saya.

trims.
jamback wrote on Aug 13, '08
oknum dokter terlalu byk beredar yang merusak janji profesi mereka. Pasti ada yang baik, tapi sudah susah didapat:)
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
teman2 baik dari profesi dokter atau bukan, dimanapun berada...
semua yang membaca tulisan ini dan menyampaikan pendapat...
untuk itu saya ucapkan terima kasih banyak....

Untuk yang berniat menyampaikan pendapat baru, saya persilahkan demi menjaga FAIR dalam menulis kenyataan yang terjadi. Namun demikian, mohon juga untuk anda semua dengan FAIR membaca dengan baik kronologis peristiwa, juga kelanjutan peristiwa ini, dimana tidak ada tindaklanjut apapun BAHKAN MAAF SEBAGAI SATU2-NYA HAL YANG DIMINTA/DITUNTUT DARI DOKTER TSB, bahkan kami dari keluarga korban pun menerima perlakuan sidang IDI yang memojokkan.

Jadi, mohon untuk TIDAK MEMBUAT PERNYATAAN YANG DAPAT MEMBUAT SAKIT HATI BERKELANJUTAN, seperti misalnya pernyataan: ini hanyalah masalah pribadi antara 2 orang yang sbenarnya tidak perlu sampai seperti ini andaikan sama2 MENGETAHUI perannya.

Terima kasih.
jamback wrote on Aug 13, '08
teman2 baik dari profesi dokter atau bukan, dimanapun berada...
semua yang membaca tulisan ini dan menyampaikan pendapat...
untuk itu saya ucapkan terima kasih banyak....

Untuk yang berniat menyampaikan pendapat baru, saya persilahkan demi menjaga FAIR dalam menulis kenyataan yang terjadi. Namun demikian, mohon juga untuk anda semua dengan FAIR membaca dengan baik kronologis peristiwa, juga kelanjutan peristiwa ini, dimana tidak ada tindaklanjut apapun BAHKAN MAAF SEBAGAI SATU2-NYA HAL YANG DIMINTA/DITUNTUT DARI DOKTER TSB, bahkan kami dari keluarga korban pun menerima perlakuan sidang IDI yang memojokkan.

Jadi, mohon untuk TIDAK MEMBUAT PERNYATAAN YANG DAPAT MEMBUAT SAKIT HATI BERKELANJUTAN, seperti misalnya pernyataan: ini hanyalah masalah pribadi antara 2 orang yang sbenarnya tidak perlu sampai seperti ini andaikan sama2 MENGETAHUI perannya.

Terima kasih.
maksud aku mbak, dokter yg ngeselin itu oknum yg ngak tidak bertanggungjawab ke janji profesinya:),
aku bukan menambahkan sakit hatinya mbak sri lho, cuma mengomentarin sikap pak dokter itu. aku sendiri sudah mulai kehilangan kepercayaan sejak sebuah peristiwa:)
so, jangan salah paham maksud tulisanku yaa mbak sri:)
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08, edited on Aug 13, '08
jamback said
maksud aku mbak, dokter yg ngeselin itu oknum yg ngak tidak bertanggungjawab ke janji profesinya:),
aku bukan menambahkan sakit hatinya mbak sri lho, cuma mengomentarin sikap pak dokter itu. aku sendiri sudah mulai kehilangan kepercayaan sejak sebuah peristiwa:)
so, jangan salah paham maksud tulisanku yaa mbak sri:)
oh enggak kog mba...
tulisanku tadi bukan untuk mba tentunya...
yang bikin sakit hati itu pernyataan om/tante beck yang gak HATI2 BACA KRONOLOGIS peritiwa ini, malah kalau perlu baca tuh semua REPLY kalau mau mengomentari ini hanya sekedar masalah 2 orang atau bukan... kog se-enak-nya aja ngomong gak pake analisa sesuai sekolah yang ditempuh... sori kalo jadi 'ngomel2 gini... sakit hati-ku mungkin gak sepadan dengan sakit si Wulan mba, yang sampe hari ini pun masih harus kontrol ke dokter... mereka sama sekali gak menuntut kog biaya atau apapun dari dokter yang kampret itu... tapi mbok ya rekan dokter yang lain termasuk om/tante beck itu HATI-HATI KALAU BERBICARA, jangan malah menjerumuskan nama korps mereka sendiri yang sudah jelek di jurnal ini. Malah sempet2nya merasa disamaratakan nama baik-nya sama dokter Ardi yang aku tulis, halah... nggak usah sok sentimentil deh... 'gak ada yang men-judge dokter lain selain dokter yang aku tulis di sini.

Aku menghargai setiap profesi, aku hanya sangat tidak bersimpati dengan dokter Ardi yang aku tulis di blog ini, sebagai oknum yang sangat tidak menghargai pasien dan nyawa-nya, yang dia sebut sebagai BUKAN URUSAN DIA.

Salam hangat untuk mba ;)
becksekost wrote on Aug 13, '08
maaf, sy kira komen sy cukup sampai disini, karena saya yakin dengan penjelasan sepanjang apapun tidak akan menyelesiakan sakit hati yang sudah mengakar,
yang sebenarnya ketemu kan point masalahnya, "sakit hati"..
dan saya kira itu wajar dan anda berhak unt itu, kalau perlu anda bisa laporkan ke pengadilan dg delik perbuatan yang tidak menyenangkan, daripada anda bicra banyak disini.
salam kenal n peace ya..
hehe,.. jangan 'sakit hati dg pendapat saya ya mbak sri, toh semua orang boleh mengemukakan pendapat.
wassalam..

srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
maaf, sy kira komen sy cukup sampai disini, karena saya yakin dengan penjelasan sepanjang apapun tidak akan menyelesiakan sakit hati yang sudah mengakar,
yang sebenarnya ketemu kan point masalahnya, "sakit hati"..
dan saya kira itu wajar dan anda berhak unt itu, kalau perlu anda bisa laporkan ke pengadilan dg delik perbuatan yang tidak menyenangkan, daripada anda bicra banyak disini.
salam kenal n peace ya..
hehe,.. jangan 'sakit hati dg pendapat saya ya mbak sri, toh semua orang boleh mengemukakan pendapat.
wassalam..

seneng ya om/tante?
sudah menemukan akar masalah?
anda pikir sakit hati karena NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER itu enteng ya?
karena anda juga seperti itu kepada pasien anda?
pengadilan yang sama moralnya dengan institusi yang anda juga ada di dalamnya itu, percuma om/tante...

saya lebih percaya pengadilan Yang Di Atas...
dan saya akan lebih menghargai pendapat anda kalau disampaikan dengan MEMBACA DENGAN DETIL terlebih dahulu kronologis di atas, TIDAK ASAL NJEPLAK, apalagi katanya anda juga dokter?

trims.....
davidirawan wrote on Aug 13, '08
rekan2 semua... maaf kalau komen saya dirasa kurang berkenan, saya hanya mencoba melihat dari sudut pandang saya..ok.. sy ga bela2 siapa2...ok..
Dalam melakukan tindakan medis (primary survey), apakah dokter waktu itu harus melapor kpd anda yang memang bukan keluarga pasien ? ( makanya saya bilang ini situasi yang dilematis bagi anda, karena anda bukan keluarga pasien, sehingga semua tindakan dokter semata2 berdasarka pertimbangan medis)
saya kira sebagai seorang dokter ( apalgi di IGD), tentu dia sudah melakukan tindakan untuk menaangani kegawatan sesuai dengan fasilitas yang ada.
Masalah moral dan etika itu mutlaq harus ada dalam semua profesi bahkan sebagai manusia itu hal yang tidak bisa ditawar2 lagi. Tapi sebejat apakah dan sejahat apakah dokter waktu itu samapi semua dokter mendapat stigma spt itu ? Masih banyak dokter2 yang hanya berorientasi pada kemanusiaan yang mungkin belum anda kenal.

wew, dua kalimat terakhir anda TIDAK PANTAS untuk diucapkan saya rasa. sekedar anda tahu, saya punya satu penilaian tentang residivis yang ditahan d'penjara atau bahkan teroris yang ditahan d'guantanamo. untuk hal seperti itu saya berkeyakinan bahwa TIDAK SEMUA tahanan itu bersalah, seperti halnya bahwa TIDAK SEMUA dokter berkelakuan seperti dalam post ini. saya sendiri melihat d'acara kick andy BAHWA ada dokter (atau apalah, yg penting tenaga medis) yang bahkan untuk membantu penduduk d'suatu pulau dia malah terbawa arus d'laut arafuru selama beberapa hari. atau anda mau contoh yang langsung saya alami? yaitu dokter keluarga saya, dia rela datang jauh2 dari rumahnya untuk mengobati keluarga saya yang sakit walaupun itu malam2 sekalipun (ney dokter gak terlalu mahal tuh), bahkan ketika salah seorang tetangga dia yang kurang mampu berobat ke dia, dia malah membebaskan biaya periksa dan obat yang dia berikan saat menjalani pemeriksaan itu e.g. obat suntik tapi untuk obat yang dituliskan dalam resep dia menyerahkan pada si pasien. jadi masih kurang banyak saya menyebutkan contoh dokter yang masih berorientasi pada kemanusiaan yang saya kenal?
dan untuk anda ketahui juga, mungkin anda pernah baca berita bahwa banyak pungli di organisasi pemerinahan kita? contoh lagi, saat kita bikin ktp ato surat lainnya deh di kelurahan, emank bener tuh banyak pungli tapi apa lantas saya serta merta menuduh bahwa setiap kelurahan seperti itu? atau mungkin anda malah yang menilai bahwa "ya, setiap kelurahan sama saja kek gitu, dasar emank negara kita", nah lo!! jadi mungkin masih banyak oknum pemerintahan yang bener2 "bersih" yang belum anda kenal kan?
contoh tadi hanya untuk memberikan pengandaian saja loh, biar lebih gamblang, bukan untuk mengalihkan topik pembicaraan sehingga yang laen ikutan kena
becksekost wrote on Aug 13, '08
Maaf, sy agak tergelitik juga dengan pernyataan anda,

anda pikir sakit hati karena NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER itu enteng ya?

saya pengen tahu, dari perspektif anda, tindakan mana dari dokter tersebut yang anda sebut dengan jargon:

NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER

mohon konfirmasinya dengan lapang dada ..
davidirawan wrote on Aug 13, '08
seneng ya om/tante?
sudah menemukan akar masalah?
anda pikir sakit hati karena NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER itu enteng ya?
karena anda juga seperti itu kepada pasien anda?
pengadilan yang sama moralnya dengan institusi yang anda juga ada di dalamnya itu, percuma om/tante...

saya lebih percaya pengadilan Yang Di Atas...
dan saya akan lebih menghargai pendapat anda kalau disampaikan dengan MEMBACA DENGAN DETIL terlebih dahulu kronologis di atas, TIDAK ASAL NJEPLAK, apalagi katanya anda juga dokter?

trims.....
buat mba' sri, sebaiknya anda juga bisa menahan diri loh untuk anda yang lebih tua dari saya. baik, kalau memang anda lebih percaya dengan pengadilan Yang Di Atas, kenapa anda masih harus ngedumel bahkan sampe taun sekarang neyh mba'? saya rasa itu bukan sikap seseorang yang bilang dia sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan-nya.
kalau untuk saya sendiri, kalau anda memang belum rela untuk memaafkan atau paling enggak melepaslah apa yang jadi beban pikiran. ini bukan sesuatu yang sehat kalau terus disimpan dan anda membiarkan "penyakit hati" anda berkembang. maaf kalau kurang berkenan, tapi lebih baik misalnya anda relakan saja dan biarkan diri anda menjadi sehat kembali serta jangan biarkan diri anda memberi stigma yang TIDAK BERIMBANG.

life isnt bad forever right??

^be wise, be joyful^
dave
davidirawan wrote on Aug 13, '08
dan dengan ini saya nobatkan postingan jeng sri sebagai

^THE MOST COMMENTATED POST^

cheers >_'
oyi77 wrote on Aug 13, '08
yaaaaa...semoga tu dokter, mendapat hidayah nya....
saya salut sama Mbak Ari, yang meskipun Wulan bukan siapa2 nya..tapi peduli banget
ngomong2...gimana kabar Wulan?
namakulayla wrote on Aug 13, '08
baru baca nih Mbak.
semoga gak ketemu dokter kayak gitu deh.... ffuiiihhh....
salam buat wulan yaaa
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
saya pengen tahu, dari perspektif anda, tindakan mana dari dokter tersebut yang anda sebut dengan jargon:

NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER
sudah baca baik2 kronologis peristiwa di atas?
dokter itu bilang apa membentak saya?
dengan tulisan yang saya BOLD dan dengan HURUF KAPITAL?
rupanya saya perlu kasih anda kacamata sekaligus kaca pembesar supaya baca lebih detail?

hubungi saya langsung untuk kacamata & kaca pembesar itu ya om/tante.
di jurnal di atas tertulis dengan jelas identitas berikut nomor hp saya.
di tunggu.
becksekost wrote on Aug 13, '08
ok. sabar bu sri... tenang2...hehehe...
saya ulangi lagi pertanyaan saya:
saya pengen tahu, dari perspektif anda, tindakan mana dari dokter tersebut yang anda sebut dengan jargon:

NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER

Apabila anda masih belum ngeh juga dg pertanyaan saya, ok.. saya uraikan satu-satu...

1. Apa pengertian nyawa menurut anda
2. Nah dengan definisi Nyawa "menurut Anda" tersebut, Bagian manakah dari tindakan dokter ( atau yang tidak dilakukan oleh dokter tsb) yang menurut anda MENYEPELEKAN NYAWA..

ga usah ngeles kearah kacamata. ok.
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
buat mba' sri, sebaiknya anda juga bisa menahan diri loh untuk anda yang lebih tua dari saya.
terima kasih untuk saran-nya.
saya rasa 'ngedumel untuk suatu hal yang penting dalam hidup dan merasa mendapat perlakuan tidak wajar yang berlebihan dari orang lain, itu manusiawi. Karena saya manusia, yang bukan diukur dari lebih tua atau lebih muda dari anda tentunya.

Ngedumel di dalam jurnal sendiri yang ditulis atas dasar berusaha fair menceritakan kenyataan dan dengan berusaha ikhlas menerima caci maki, saya rasa manusiawi juga. Kecuali saya ngedumel gak ada juntrungannya di jurnal milik orang lain, dan tanpa tedeng aling2 dan tanpa membaca dengan jelas tulisan lalu dengan seenaknya berkomentar asal njeplak.

Saya rasa ngedumel-nya saya masih dalam batas tidak melewati sara?
cmiiw.

Masalah penyakit hati, biarkan Yang Di Atas yang menghukum penyakit hati saya, mungkin?
Dan maafkan bila saya punya salah atas kata2 yang saya lontarkan kepada anda.
My life is fine, thank you...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
ok. sabar bu sri... tenang2...hehehe...
saya ulangi lagi pertanyaan saya:
saya pengen tahu, dari perspektif anda, tindakan mana dari dokter tersebut yang anda sebut dengan jargon:

NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER

Apabila anda masih belum ngeh juga dg pertanyaan saya, ok.. saya uraikan satu-satu...

1. Apa pengertian nyawa menurut anda
2. Nah dengan definisi Nyawa "menurut Anda" tersebut, Bagian manakah dari tindakan dokter ( atau yang tidak dilakukan oleh dokter tsb) yang menurut anda MENYEPELEKAN NYAWA..

ga usah ngeles kearah kacamata. ok.
baik, saya jelaskan sejelas2nya...
anda sendiri bilang ada primary survey yang jauh lebih penting untuk dilaksanakan.
what is it? Airway, Breathing, Circulation?
you name it.... dan anda rasa itu perlu dilakukan dan terus dievaluasi sampai stabil untuk menginjak sampai ke secondary survey?

om / tante...
saya sudah jelaskan dalam reply terdahulu, kalau belum jelas juga...
bahkan kenapa sampai saya harus beri anda kacamata, karena di dalam jurnal DI ATAS, sudah jelas tertulis, bahwa lebih dari 30 menit, dokter tersebut sama sekali tidak melakukan apapun bahkan primary survey!

dokter tersebut hanya ongkang2 kaki entah menulis apa di atas mejanya, sementara pasien dibiarkan saja di atas brankar? Sementara kami dan keluarga yang menyertai sudah sampai di ubun2 khawatirnya? dan ketika ditanyakan dengan sopan kepada dokter yang terhormat tersebut, apakah betul2 perlu CT Scan? malah bentak saya? katanya "Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu mengerti !!!??!!!"

Lalu saya tanya balik... kalau pendarahannya harus berhenti sebelum CT Scan, kog dokter ga ngapa2in dari tadi setengah jam lebih??? Disentuh-pun engga pasien-nya, kalo mati tanpa penanganan di sini gimana? Apa jawab dokter yang terhormat itu? Bukan Urusan Saya....

Nah?
masih meragukan sejawat anda menyepelekan urusan nyawa orang?
masih meragukan sejawat anda kurang berlaku baik dengan keluarga pasien?

Nyawa memang bukan urusan dokter, itu urusan Yang Di Atas...
tapi yang saya tanya adalah... kalau mati tanpa PENANGANAN di RS ini bagaimana, apa dokter tega?
dan itulah jawaban yang saya dapat...
terima kasih untuk sejawat anda itu...
becksekost wrote on Aug 13, '08
Nah....Rupanya anda yang tidak mencermati komentar2 saya sebelumnya, mungkin anda perlu mencermati dengan lebih teliti komen2 sy diatas.
Bagaimana anda tau dokter tidak melakukan primary survey, sedangkan anda tidak tau apakah primary surver itu sebenarnya.
Ok, saya kasih anda kesempatan, Menurut anda apa itu primary survey, kok bisa sampai memvonis di ugd tsb tidak dilakukan prmry srvey ?
Sekali lagi saya tekankah DOKTER DILARANG MEMBERITAHUKAN RAHASIA PASIEN KEPADA ORANG LAIN. OK? ANDA ITU SIAPANYA PASIEN ?
makanya dalam komen2 saya diatas, dokter akan melakukan keputusan medis pada pasien dengan pertimbangan medis TANPA HARUS MEMBERITAHUKAN KEPADA ANDA? karena apa? karena anda bukan keluarga pasien.
Ya.. pastilah anda tidak tau apa yang telah mereka kerjakan, karena itu sudah diluar wewewnang anda ( saya sebut peran dalm komen saya diatas)..
OK
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Nah....Rupanya anda yang tidak mencermati komentar2 saya sebelumnya, mungkin anda perlu mencermati dengan lebih teliti komen2 sy diatas.
Bagaimana anda tau dokter tidak melakukan primary survey, sedangkan anda tidak tau apakah primary surver itu sebenarnya.
Ok, saya kasih anda kesempatan, Menurut anda apa itu primary survey, kok bisa sampai memvonis di ugd tsb tidak dilakukan prmry srvey ?
Sekali lagi saya tekankah DOKTER DILARANG MEMBERITAHUKAN RAHASIA PASIEN KEPADA ORANG LAIN. OK? ANDA ITU SIAPANYA PASIEN ?
makanya dalam komen2 saya diatas, dokter akan melakukan keputusan medis pada pasien dengan pertimbangan medis TANPA HARUS MEMBERITAHUKAN KEPADA ANDA? karena apa? karena anda bukan keluarga pasien.
Ya.. pastilah anda tidak tau apa yang telah mereka kerjakan, karena itu sudah diluar wewewnang anda ( saya sebut peran dalm komen saya diatas)..
OK
menurut anda kenapa saya sampai tahu ugd tersebut sama sekali tidak melakukan apapun kepada pasien selama 30 menit lebih? sementara yang mengantar pasien lebih dari 2 orang dan semuanya ada di dalam ruangan ugd tersebut?

saya memang bukan siapa2-nya pasien, itu sudah jelas...
tapi di situ ada kakak korban yang notabene KAKAK korban, apa kakak korban pun tidak berhak tahu apapun tentang pasien dan tidak berhak tahu kenapa adik-nya engga di-apa2-in sama dokter sama sekali sejak di masukkan ke dalam ugd? dan apakah aneh pertanyaan saya jika itu mewakili kegundahan kakak korban?

oh well...
apa sebenarnya inti maksud anda dengan semua ini?
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
by the way om/tante beck...
kalau saya tidak mempunyai wewenang tahu apapun tentang korban..
untuk lebih jelasnya anda, om / tante beck, silakan cari dalam arsip RS mungkin, kalau penasaran...
bahwa nama saya tercatat sebagai penjamin penuh si korban, ini bukan untuk sombong2-an ya, namun apakah penjamin korban juga sama sekali gak berhak bertanya kepada dokter, untuk semua pertanyaan di atas? dan walaupun tidak berhak untuk bertanyapun, kalau terlanjur bertanya, saya rasa saya tidak berhak mendapat bentakan seperti yang dilontarkan sejawat anda tersebut...
becksekost wrote on Aug 13, '08
Apakah anda tau bahwa primary survey bukan cuma bisa sampai 30 menit BAHKAN bisa samapi 30 jam pada pasien2 yang belum stabil ?
Apakah anda mengetahui data2 klinis pasien selama 30 menit itu ?
Apakah anda tau bahwa selama 30 menit itu pasien sudah stabil dan transpotabel untk dilakukan CT Scan ?
Kalau anda punya data2 yang lengkap, anda boleh teriak2 mencaci maki semua orang yang anda mau...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Apakah anda tau bahwa primary survey bukan cuma bisa sampai 30 menit BAHKAN bisa samapi 30 jam pada pasien2 yang belum stabil ?
Apakah anda mengetahui data2 klinis pasien selama 30 menit itu ?
Apakah anda tau bahwa selama 30 menit itu pasien sudah stabil dan transpotabel untk dilakukan CT Scan ?
Kalau anda punya data2 yang lengkap, anda boleh teriak2 mencaci maki semua orang yang anda mau...
apakah saya teriak2 mencacimaki orang2 di rumah sakit itu?
bukannya justru saya yang bertanya dengan sopan malah dibentak sejawat anda?

intinya saja om/tante beck...
jangan mutar2 dengan hal2 klinis yang tentu saja saya bukan dokter dan tidak tahu, itu pasti...
wajarkah saya bertanya hal2 tersebut yang dijawab dengan bentakan dokter tersebut?
itu saja.

kalau wajar terima kasih dan pertanyaan anda saya kembalikan...
kalau menurut anda tidak wajar, well...
.
.
.

saya hanya bertanya untuk mengetahui hal2 yang anda tanyakan kepada saya terakhir ini...
tapi saya heran kog malah anda bertanya balik kepada saya, hehehehe...
aneh...
becksekost wrote on Aug 13, '08
Makanya saya bertanya kepada anda,
saya ulangi lagi pertanyaan saya:
saya pengen tahu, dari perspektif anda, tindakan mana dari dokter tersebut yang anda sebut dengan jargon:

NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER

karena terus ternag aj ya... pernyataan anda diatas itu terlalu emosionil bahkan cenderung mengarah pada fitnah OK...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Makanya saya bertanya kepada anda,
saya ulangi lagi pertanyaan saya:
saya pengen tahu, dari perspektif anda, tindakan mana dari dokter tersebut yang anda sebut dengan jargon:

NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER

karena terus ternag aj ya... pernyataan anda diatas itu terlalu emosionil bahkan cenderung mengarah pada fitnah OK...
oh astaga...
jadi anda belum mudheng juga ya dengan penjelasan saya yang penjang lebar itu?
dengan dialog2 dan jawaban2 dokter yang diulang2 itu?

anda bebal atau sengaja muter2 supaya masih ada kesempatan reply dan terlihat menang?
saya memfitnah?
ohohohoho...
terima kasih kawan...

andai anda dalam posisi saya sebagai bukan dokter...
yang dibentak malam itu...
terima kasih.

apakah anda puas?
becksekost wrote on Aug 13, '08
Gini lho bu/jeng sri...
Anda tidak bisa menuduh orang lain (seorang dokter) MENYEPELEKAN NYAWA PASIEN.
sedangkan anda sendiri tidak diberitahu tindakan yang telah mereka lakukan. Kenapa tidak diberitahu? karena anda bukan keluarga pasien. jelas.
Bahkan anda dengan entengnya menuduh MENYEPELEKAN NYAWA, tapi anda sendiri tidak tau bagian mana dari tindakan yang MENYEPELEKAN NYAWA itu ?
saya kira kita bisa berdiskusi tanpa ada umpatan. silakan rekan2 disini menilai secara fair.
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Gini lho bu/jeng sri...
Anda tidak bisa menuduh orang lain (seorang dokter) MENYEPELEKAN NYAWA PASIEN.
sedangkan anda sendiri tidak diberitahu tindakan yang telah mereka lakukan. Kenapa tidak diberitahu? karena anda bukan keluarga pasien. jelas.
Bahkan anda dengan entengnya menuduh MENYEPELEKAN NYAWA, tapi anda sendiri tidak tau bagian mana dari tindakan yang MENYEPELEKAN NYAWA itu ?
saya kira kita bisa berdiskusi tanpa ada umpatan. silakan rekan2 disini menilai secara fair.
om/tante beck yang terhormat...
saya rasa anda berkeberatan dengan tulisan saya, yang anda anggap cenderung mem-fitnah sejawat anda, betul? atau anda masih mempertanyakan data klinis yang saya tahu sehingga saya boleh marah2 caci maki yang padahal justru saya yang dibentak sejawat anda?

mana poin yang sebenarnya anda pertanyakan?
saya sudah jawab dari perspektif mana saya anggap sejawat anda menyepelekan nyawa korban...
dan saya juga sudah jawab posisi saya terhadap korban, serta situasi di ugd yang bahwa saya tahu betul tidak ada tindakan apapun terhadap korban selama 30 menit lebih... anda masih kurang jelas?

saya paham kalau saya tidak berhak diberitahu apapun...
tapi apakah bila saya bertanya dengan berusaha sopan, saya berhak dibentak?

diskusi apa yang anda harapkan bila anda sendiri muter2 tak tentu arah diskusinya?
bahkan cenderung kurang mengerti atas jawaban2 dari pertanyaan anda sendiri?
wah wah...
becksekost wrote on Aug 13, '08
Lho yang muter2 siapa bu...
Coba saya bantu dengan definisi yang mudah saja...
Nyawa adalah bagian terpenting bagi kelangsungan hidup seseorang, NYAWA HILANG, maka sebutannya MENINGGAL.
OK ?
Cobe sebutkan bagian mana dari tindakan dokter tsb yang anda anggap MENYEPELEKAN NYAWA, sehingga bisa mengakibatkan MENONGGAL;
contoh jawaban :

1.

2.

3.

4.

gitchu lho bu...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Lho yang muter2 siapa bu...
Coba saya bantu dengan definisi yang mudah saja...
Nyawa adalah bagian terpenting bagi kelangsungan hidup seseorang, NYAWA HILANG, maka sebutannya MENINGGAL.
OK ?
Cobe sebutkan bagian mana dari tindakan dokter tsb yang anda anggap MENYEPELEKAN NYAWA, sehingga bisa mengakibatkan MENONGGAL;
contoh jawaban :

1.

2.

3.

4.

gitchu lho bu...
coba om/tante beck...
baik2 lagi baca, atau perlu saya bacakan lagi, jawaban dokter tersebut atas pertanyaan2 saya...
apalagi yang terakhir... yang dengan keras bilang bukan urusan saya...
juga atas 30 menit lebih engga ngapa2in itu...
lihatlah dari kacamata kami yang bukan dokter ini...
apakah tindakan dokter tersebut bukan menyepelekan pasien-nya?

dan ketika klimaks akhirnya setelah menggelegarkan kata2 tersebut semua tenaga medis yang ada di ruangan justru dengan sigap menangani korban, membersihkan luka dan lain-lain, pada akhirnya, sementara dokter itu malah diam saja? habis bentak saya malah diam saja? merasa bersalah? atau apa?

oh well...
kalau belum jelas juga jawaban2 saya, trims...
yang penting saya sudah semaksimal mungkin menjelaskan...
kalau kurang jelas, kita sambung esok hari ya, bisa telpon saya langsung aja kalau kurang puas...
data saya lengkap di atas jurnal tertulis kog...
ijinkan saya istirahat ya, besok pagi kan kerja...

salam,
becksekost wrote on Aug 13, '08
Lha ... itu dia.. anda (maaf) terlalu nemosional untuk menanggapi komentar2 saya diatas..
anda menyebutkan 30 menit tidak dilakukan apa2?
Lha gemana anda bisa tau, lha mereka TIDAK HARUS MEMBERITAHU KEPADA ANDA APA YANG TELAH MEREKA LAKUKAN KARENA ANDA BUKAN KELUARGA PASIEN......
coba baca komen2 saya diatas dengan hati yang lebih jernih.
Anda menyebutkan bahkan dalam 30 menitpun tidak dilakukan Primary survey.
Lalu saya bertanya : lha apa yang anda ketahui tentang primary survey, koq bisa memvonis tidak dilakukan hal tsb?
anda tidak menjawabnya. Mengapa sy bertanya demikian? karena mungkin saja primary survey yg and maksud berbeda dg yg sy maksud.
Kalua anda menjawab anda tidak tau apa itu prmry srvey....Mengapa anda bisa menuduh dalam 30 menit itu tdk dilkaukan PS, Makanya jgn menuduh hal2 yang masih remang2 (syubhat) bagi anda..
OK
becksekost wrote on Aug 13, '08, edited on Aug 13, '08
Ok nite.
saya juga harus bekerja esok hari.
moga anda dan saya selalu dilindungi Allah.amin...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Lha ... itu dia.. anda (maaf) terlalu nemosional untuk menanggapi komentar2 saya diatas..
anda menyebutkan 30 menit tidak dilakukan apa2?
Lha gemana anda bisa tau, lha mereka TIDAK HARUS MEMBERITAHU KEPADA ANDA APA YANG TELAH MEREKA LAKUKAN KARENA ANDA BUKAN KELUARGA PASIEN......
coba baca komen2 saya diatas dengan hati yang lebih jernih.
Anda menyebutkan bahkan dalam 30 menitpun tidak dilakukan Primary survey.
Lalu saya bertanya : lha apa yang anda ketahui tentang primary survey, koq bisa memvonis tidak dilakukan hal tsb?
anda tidak menjawabnya. Mengapa sy bertanya demikian? karena mungkin saja primary survey yg and maksud berbeda dg yg sy maksud.
Kalua anda menjawab anda tidak tau apa itu prmry srvey....Mengapa anda bisa menuduh dalam 30 menit itu tdk dilkaukan PS, Makanya jgn menuduh hal2 yang masih remang2 (syubhat) bagi anda..
OK
saya tidak remang2 menuduh apapun yang jelas2 saya ketahui, dan sudah jelas2 saya berusaha jelaskan kepada anda. Berapakali saya harus ulang bahwa di ruang UGD tersebut terdapat lebih dari 2 orang yang mengantar pasien? Sehingga dengan jelas apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh dokter terpampang jelas? Berapa kali saya harus jelaskan saya mengerti posisi saya yang bukan keluarga pasien namun sebagai penjamin pasien saya merasa berhak bertanya dengan sopan tapi bukan untuk mendapat jawaban kasar?

What ever apapun primary survey yang anda atau saya maksud itu berbeda, yang jelas ada di depan mata kami adalah he was doing nothing, dan kami berhak bertanya kenapa, untuk mendapat jawaban yang jelas, bukan dibentak.

Apapun itu perbedaan pendapat kita, semua yang terjadi di dalam ruang UGD tersebut yang berhak menjelaskan selain saya sendiri yang mengalami, adalah dokter ardi, bukan anda. Kecuali anda adalah dokter Ardi itu sendiri. Jadi selama saya rasa anda juga remang2 mengetahui apa yang saya ketahui, anda belum berhak menuduh saya telah menuduh orang lain yang notabene sejawat anda.

hehehe... anda terkesan memaksakan pendapat sekali dengan selalu berkata OK di akhir kalimat.
Tapi tidak apa2... itu hak anda...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
moga anda dan saya selalu dilindungi Allah.amin...
amiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
becksekost wrote on Aug 13, '08
Makanya mbak, dari postingan pertama saya kan kemarin udeh nulis.....

.......Tentu kita akan atasi hal yang mengancam jiwa pasien terlebih dahulu daripada pemeriksaan penunjang.

"""Hal2 medis seperti ini mungkin akan berbeda jika dilihat dari perspektif non medis""".

disitulah pentingnya komunikasi dokter-pasien, yang dalam kasus ini menjadi dilematis karena mbak sri juga bukan keluarga pasien ( dilematis artinya jika dokter menjelasken sedetail2nya kondisi pasien kepada anda dengan konsekuensi anda harus mengambil keputusan terhadap pasien, yang tentu saja anda tidak berhak untuk melakukan itu.

jadi, kenapa mbak ga tau apa yang mereka kerjakan... ya kerene mbak bukan keluarga pasien, shgga mereka emang ga ngasih tau rahsia medis pasien.

nite

srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Makanya mbak, dari postingan pertama saya kan kemarin udeh nulis.....

.......Tentu kita akan atasi hal yang mengancam jiwa pasien terlebih dahulu daripada pemeriksaan penunjang.

"""Hal2 medis seperti ini mungkin akan berbeda jika dilihat dari perspektif non medis""".

disitulah pentingnya komunikasi dokter-pasien, yang dalam kasus ini menjadi dilematis karena mbak sri juga bukan keluarga pasien ( dilematis artinya jika dokter menjelasken sedetail2nya kondisi pasien kepada anda dengan konsekuensi anda harus mengambil keputusan terhadap pasien, yang tentu saja anda tidak berhak untuk melakukan itu.

jadi, kenapa mbak ga tau apa yang mereka kerjakan... ya kerene mbak bukan keluarga pasien, shgga mereka emang ga ngasih tau rahsia medis pasien.

nite

astaga....

ck ck ck...
masih aja...

gak akan dilematis kalo dokter-nya gak diem aja om/tanteeeeeeee...
kenapa dokternya diem aja padahal keluarga juga ada (bukan saya lohhh), itu lah yang kita pertanyakan....

sutralah, saya tahu posisi saya...
tapi gak wajar, sama sekali gak wajar kalau dokter diam saja sementara keluarga pasien ada di sana...
dan itu yang kami pertanyakan.
itu saja, jelas?
becksekost wrote on Aug 13, '08
Nah yang berhak bertanya ya bukan anda...
kalau anda bertanya tentang keadaan pasien kapada dokternya, tentu dokternya akan bertanya balik: anda siapanya dari pasien ini?
mudheng ga ?
kalau anda jujur, maka anda akan menjawab : saya pengantar pasien dan bukan keluarganya.
ya dokternya ga bakal ngasih tau pada anda jeng,,
mudheng?


becksekost wrote on Aug 13, '08
Saya kebetulan sering menghadapi berbagai macam karakter pasien. dan yang aneh, pasien tidak merasa ada kesalahan, tapi tetangga pasien yang teriak2 ada inilah-itulah.
saya kira yang paling berhak megatasnamakan pasien yang anda sebut wulan itu ya wulan sendiri dan keluarganya, termasuk teriak2 di internet.
Lain masalah lho jeng kalo yang teriak2 kayak gini itu keluarganya wulan..
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Nah yang berhak bertanya ya bukan anda...
kalau anda bertanya tentang keadaan pasien kapada dokternya, tentu dokternya akan bertanya balik: anda siapanya dari pasien ini?
mudheng ga ?
kalau anda jujur, maka anda akan menjawab : saya pengantar pasien dan bukan keluarganya.
ya dokternya ga bakal ngasih tau pada anda jeng,,
mudheng?


saya mudheng sekali...
dan mudheng-kah anda bila saya jelaskan, bahwa kakak korban berkeluh kesah kepada saya?
dan saya hanya mencoba mencari tahu jawaban dari keluh kesah itu?

helo om / tante beck...
kapan saya bilang saya tidak jujur bilang bahwa saya keluarga?
saya dengan jujur dan jelas bilang kog kepada dokter dan paramedis di ugd tersebut...
anda sudah menuduh saya dengan jelas kali ini, that's why anda dengan seenaknya memberi pernyataan remang2 atas pengetahuan yang remang2 terhadap saya....
oh, ternyata dari tadi kesalahpahaman anda tentang saya memang karena tidak tahu sama sekali ya situasi-nya... hmmm...
becksekost wrote on Aug 13, '08
ok...
kalau boleh berandai2... andaikan anda adalah kakak kandung wulan, lalu teriak2 di internet... sy bilang itu hal yang wajar
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
Saya kebetulan sering menghadapi berbagai macam karakter pasien. dan yang aneh, pasien tidak merasa ada kesalahan, tapi tetangga pasien yang teriak2 ada inilah-itulah.
saya kira yang paling berhak megatasnamakan pasien yang anda sebut wulan itu ya wulan sendiri dan keluarganya, termasuk teriak2 di internet.
Lain masalah lho jeng kalo yang teriak2 kayak gini itu keluarganya wulan..
saya rasa wajar bila saya melihat ketidakadilan di depan mata saya sendiri, lalu saya tuliskan dengan mencoba fair seperti ini. apakah anda merasa saya melakukan ketidakadilan dengan memblock semua pendapat yang berkembang dari tulisan saya ini? bahkan saya menunggu bila dokter ardi mau mengklarifikasi atas perbuatannya kepada saya.

om/tante beck,
kenapa saya bilang saya mengatasnamakan keluarga pasien bahkan dengan surat bermaterai?
karena itu lah yang diminta IDI, jadi apa yang institusi tersebut minta, kami sebagai warganegara yang baiklah wajib memenuhinya, walaupun dikhianati pada akhirnya. jadi bukan kehendak saya sendiri bila pada akhirnya saya harus membuat surat bermaterai sebagai wakil keluarga pasien, lha wong IDI yang minta?

dan kenapa mereka memanggil saya, karena tulisan di dalam blog inilah awalnya.
kenapa saya tulis? karena saya melihat ketidakadilan dan saya pribadi di bentak langsung oleh dokter yang seharusnya tidak melakukan itu.
kenapa saya merahasiakan identitas korban pada akhirnya? karena semata semua akibat dari tulisan inilah tanggungjawab saya, bukan korban.

mengertikah kira-kira?
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
ok...
kalau boleh berandai2... andaikan anda adalah kakak kandung wulan, lalu teriak2 di internet... sy bilang itu hal yang wajar
hello.....
saya dibentak oleh dokter....
dan saya tidak terima diperlakukan seperti itu...
apakah bukan hak saya menulis apapun yang terjadi?
terlepas dari masalah korban ada di situ atau tidak?

oh well...
apa sebenarnya yang anda cari?
anda keberatan dengan tulisan saya di internet?
becksekost wrote on Aug 13, '08
jawabannya :
Nah yang berhak bertanya ya bukan anda...
kalau anda bertanya tentang keadaan pasien kapada dokternya, tentu dokternya akan bertanya balik: anda siapanya dari pasien ini?
mudheng ga ?
kalau anda jujur, maka anda akan menjawab : saya pengantar pasien dan bukan keluarganya.
ya dokternya ga bakal ngasih tau pada anda jeng,,
mudheng?
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
jawabannya :
Nah yang berhak bertanya ya bukan anda...
kalau anda bertanya tentang keadaan pasien kapada dokternya, tentu dokternya akan bertanya balik: anda siapanya dari pasien ini?
mudheng ga ?
kalau anda jujur, maka anda akan menjawab : saya pengantar pasien dan bukan keluarganya.
ya dokternya ga bakal ngasih tau pada anda jeng,,
mudheng?
saya mudheng sekali...
dan mudheng-kah anda bila saya jelaskan, bahwa kakak korban berkeluh kesah kepada saya?
dan saya hanya mencoba mencari tahu jawaban dari keluh kesah itu?

helo om / tante beck...
kapan saya bilang saya tidak jujur bilang bahwa saya keluarga?
saya dengan jujur dan jelas bilang kog kepada dokter dan paramedis di ugd tersebut...
anda sudah menuduh saya dengan jelas kali ini, that's why anda dengan seenaknya memberi pernyataan remang2 atas pengetahuan yang remang2 terhadap saya....
oh, ternyata dari tadi kesalahpahaman anda tentang saya memang karena tidak tahu sama sekali ya situasi-nya... hmmm...
becksekost wrote on Aug 13, '08, edited on Aug 13, '08
haha... debat kusir cah...
inti dari yang saya sampaikan adalah sebenarnya: hati2 kalu memvonis seseorang yang bakal berimbas pada orang banyak, yang ujung2nya bisa mengarah kerah fitnah.
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
haha... debat kusir cah...
inti dari yang saya sampaikan adalah sebenarnya: hati2 kalu memvonis seseorang yang bakal berimbas pada orang banyak.
yang mengulang jawaban dengan pertanyaan sehingga menjadi debat kusir, siapa?

intinya: saya cukup berhati2 dengan memposting sesuatu yang saya yakini kebenaran-nya dan saya bertanggungjawab penuh dengan hal tersebut, itulah kenapa identitas tidak saya samarkan. Bila ada keberatan silakan sampaikan langsung. Tapi alangkah bagus bila tidak ada salah paham apalagi untuk yang tidak mengerti duduk persoalannya dengan baik...
becksekost wrote on Aug 13, '08
oiya mbak, menurut mbak, apakah yang harus dilakukan sang dokter terhadap PASIEN itu.
Saya pengen tau kemauan mbak.
becksekost wrote on Aug 13, '08
tentunya yang tidak menyepelekan nyawa doonkkk....
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
oiya mbak, menurut mbak, apakah yang harus dilakukan sang dokter terhadap PASIEN itu.
Saya pengen tau kemauan mbak.
tentunya bukan seperti yang dilakukan & tidak dilakukan seperti yang tertulis di dalam jurnal di atas.

Terima kasih, selamat tidur.
Comment deleted at the request of the author.
becksekost wrote on Aug 13, '08, edited on Aug 13, '08
mbak sri bilang:


seneng ya om/tante?
sudah menemukan akar masalah?
anda pikir sakit hati karena NYAWA DISEPELEKAN OLEH DOKTER itu enteng ya?
karena anda juga seperti itu kepada pasien anda?
pengadilan yang sama moralnya dengan institusi yang anda juga ada di dalamnya itu, percuma om/tante...

saya lebih percaya pengadilan Yang Di Atas...
dan saya akan lebih menghargai pendapat anda kalau disampaikan dengan MEMBACA DENGAN DETIL terlebih dahulu kronologis di atas, TIDAK ASAL NJEPLAK, apalagi katanya anda juga dokter?

trims.....
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
:)
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
bukan main semangatnya...
silakan anda telepon saya langsung untuk penjelasan lebih lanjut, besok.

silakan kita tidur dahulu...
trims...
becksekost wrote on Aug 13, '08, edited on Aug 13, '08
saran saja : TUNTUT KE PENGADILAN DOKTER YANG MEMBENTAK ANDA !
entar terbukti di pengadilan apa yang sebenarnya terjadi, jadi bukan cuma klaim sepihak spt ini yang bisa mencoreng nama baik orang banyak.
OK, SEKALI LAGI TUNTUT KE PENGADILAN, kalau anda tidak mau dituduh hal yang tidak2.
tapi tenang aja mbak... saya tidak akan menunggu hal2 yang sudah jelas tidak mungkin terjadi.
OK.
nite.
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
saran saja : TUNTUT KE PENGADILAN DOKTER YANG MEMBENTAK ANDA !
entar terbukti di pengadilan apa yang sebenarnya terjadi, jadi bukan cuma klaim sepihak spt ini yang bisa mencoreng nama baik orang banyak.
OK, SEKALI LAGI TUNTUT KE PENGADILAN, kalau anda tidak mau dituduh hal yang tidak2.
saya sih pengen-nya begitu om/tante...
hanya dari IDI, institusi anda itu loh...
memohon untuk jangan ke pengadilan...
sampe mohon-mohon loh, walaupun pada akhirnya perjanjian kami mereka ingkari juga...

berhubung saya orang baik, yah... gimana ya?
hehe...

udeh om/tante gak ngantuk?
zzzzzzzZZZZZZZZzzzzzzzzzzzz
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
bukan cuma klaim sepihak spt ini yang bisa mencoreng nama baik orang banyak.
merasa di coreng ya?
:)
becksekost wrote on Aug 13, '08, edited on Aug 13, '08
untuk membuktikan ini bukan fitnah...yah kita tunggu beritanya kalo anda berani ke pengadilan.
saya, anda, Tuhan saya, dan semua orang disini melihat apakah anda akan berani ke pengadilan.
jangan cuma omong doank ... haha...mana...mana..mana...
cuman omdo sih, anak TK (maaf) juga bisa..
kita tunggu berita anda di pengadilan....
sekali lagi, jangan cari alasan.....
Ok.
cu di pengadilan(kalau ibu sri berani siih)..
haha.. paling cuma berani koar2 di internet doang...
huuuuuuuuu...
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
untuk membuktikan ini bukan fitnah...yah kita tunggu beritanya kalo anda berani ke pengadilan.
saya, anda, Tuhan saya, dan semua orang disini melihat apakah anda akan berani ke pengadilan.
jangan cuma omong doank ... haha...mana...mana..mana...
cuman omdo sih, anak TK (maaf) juga bisa..
kita tunggu berita anda di pengadilan....
sekali lagi, jangan cari alasan.....
Ok.
cu di pengadilan(kalau ibu sri berani siih)..
haha.. paling cuma berani koar2 di internet doang...
huuuuuuuuu...
oh, jadi ini alasan anda memberikan pendapat berapi2 di sini?
hanya untuk pada akhirnya menilai saya omdo?
hehehehe...
hmmm... saya masih menghargai perjanjian yang saya buat dengan institusi terhormat anda itu...
dan saya masih menghargai diri saya sendiri untuk tidak melecehkan diri sendiri dengan melayani tantangan anda, hehe... anda terlihat puas ya, dengan penilaian omdo itu....

hehehe...
terima kasih...
untuk selanjutnya, kalau anda juga tidak omdo di dunia maya saja, silakan telepon saya ya...
kita janjian ketemu mungkin, untuk penjelasan lebih lanjut?
kita lihat anda berani atau tidak.
becksekost wrote on Aug 13, '08
hahaha...
maaf.. ya sekali lagi maaf....ibu jeng sri ngeles lagi sodara2...
kurang jelaskah kata2 saya....
SAYA TUNGGU BERITA ANDA DI PENGADILAN ( itupun kalau anda berani, bukan cuma koar2 doang)
yah kalau cuman telpon c, maaf (anak TK ) juga bisa atuh..
BUKTIKAN ANDA BERANI, TUNTUT DOKTER YANG MENYAKITI ANDA, YANG MEMBENTAK ANDA...
hah... koar2 doang di internet doang..
becksekost wrote on Aug 13, '08
yah... kadang2 bahkan sering kita mendapatkan berita sampah (hoax) di internet.
jangan langsung percaya sodara2. cek dulu kebenarannya di dunia nyata..
PENGADILAN ADALAH DUNIA NYATA...
SAYA MASIH MENUNGGU BERITA DARI PENGADILAN BU SRI MENUNTUT DOKTER YANG KATANYA MEMBENTAKNYA DAN MEMBUATNYA SAKIT HATI.
ok.
saya tunggu beritanya..
wassalam..
srisariningdiyah wrote on Aug 13, '08
hehehehe...
kenapa harus takut, om/tante beck...
kalau saya takut, saya tentu tidak akan peduli akan panggilan sidang IDI, institusi anda yang terhormat itu, dan saya menghadirinya dengan banyak saksi.

Yang sangat saya ragukan anda sendiri sebenarnya berani apa tidak menelepon saya untuk keterangan lebih lanjut masalah ini. Telepon saja ndak berani, apalagi muncul di pengadilan nanti, hehehe...
srisariningdiyah wrote on Aug 14, '08
ngeles
:))
srisariningdiyah wrote on Aug 14, '08
yah... kadang2 bahkan sering kita mendapatkan berita sampah (hoax) di internet.
jangan langsung percaya sodara2. cek dulu kebenarannya di dunia nyata..
PENGADILAN ADALAH DUNIA NYATA...
SAYA MASIH MENUNGGU BERITA DARI PENGADILAN BU SRI MENUNTUT DOKTER YANG KATANYA MEMBENTAKNYA DAN MEMBUATNYA SAKIT HATI.
ok.
saya tunggu beritanya..
wassalam..
kalau ini hoax, kalau ini berita sampah...
saya tidak akan mempersilahkan anda menghubungi saya langsung dengan identitas yang jelas...
anda perlu tahu definisi hoax itu apa...
oh rupanya anda sendiri tidak mengerti yang anda ucapkan, pantas saja...
hehehe...

terima kasih atas hiburan hari ini om/tante beck... :)
becksekost wrote on Aug 14, '08
hehe... ngeles lagi ibu-ibu ini...
eja perhuruf yaa...
AYO KALO BERANI TUNTUT DOKTER YANG MEMBENTAK ANDA KE PENGADILAN..
haha...
srisariningdiyah wrote on Aug 14, '08
hehe... ngeles lagi ibu-ibu ini...
eja perhuruf yaa...
AYO KALO BERANI TUNTUT DOKTER YANG MEMBENTAK ANDA KE PENGADILAN..
haha...
saya berani kog, silakan tanya IDI...
mereka yang gak berani...
well?

anda belum puas ya dengan jawaban2 saya?
apa kira2 yang bis membuat anda puas, om/tante beck?

:)
becksekost wrote on Aug 14, '08
ya tuhan... belum paham2 juga ibu-ibu yg satu ini...
Kalo cuman SELF PROCLAIM sih semua orang bisa nek...
ACTION nya mana ??????????
TUNJUKIN KALO BERANI TUNTUT DOKTER YANG MEMBENTAK ANDA KE PENGADILAN..
BUKAN CUMAN KOAR2 DISINI, BERANI...BERANI... TAPI CUMAN PEMANIS BIBIR AJA...
srisariningdiyah wrote on Aug 14, '08
ya tuhan... belum paham2 juga ibu-ibu yg satu ini...
Kalo cuman SELF PROCLAIM sih semua orang bisa nek...
ACTION nya mana ??????????
TUNJUKIN KALO BERANI TUNTUT DOKTER YANG MEMBENTAK ANDA KE PENGADILAN..
BUKAN CUMAN KOAR2 DISINI, BERANI...BERANI... TAPI CUMAN PEMANIS BIBIR AJA...
mas/mba/om/tante beck yang terhormat...
tidak perlu panas...
kalau anda mau ke pengadilan untuk membuktikan saya berani atau tidak, tidak perlu membuat keributan di jurnal orang seperti ini, hehehe... anda ini hanya memberikan keyakinan saya bahwa anda bukan orang yang dapat dipercaya saja jadinya... hmmmm... sedangkan anda menelepon saya saja tidak punya keberanian...

action saya sudah banyak sekali atas kasus ini, bisa dilihat di dalam catatan di IDI mungkin? silakan...
jadi kalau anda menanyakan action, toh bukan hanya ke pengadilan saja yang membuktikan bahwa saya tidak hanya talk only...

andai anda hadir di dalam sidang di ruang IDI januari lalu, pasti anda bisa mengerti dan tidak memaksa saya dengan begini rupa sehingga membuat saya tertawa, ehehehe... begini saja, saya sarankan anda untuk minta keterangan pada petinggi2 anda di IDI, atas kasus ini...

atau sekalian saja mohon pertimbangan dari psikiater pribadi anda, supaya anda bisa lebih jernih berfikir?

salam :)
becksekost wrote on Aug 14, '08
sekali lagi ibu-ibu ini ngeles.
justru yang perlu ke psikiater itu ya ibu-ibu ini...
hmm...
saya kira ibu adlh orang yang menyedihkan dalam dunia nyata..
selalu protes, protes n protes..
mengeluh...mengeluh n mengeluh...
ya sudah lah... hanya anda sendiri dan teman2 dekat anda yaang mengetahui, bagaimana watak-karakter anda yang sebenarnya...
thetrueideas wrote on Aug 14, '08
pfyuh..berlanjut puanjang rek....

yang sabar mbak Ari, orang sabar disayang Allah, amiin
srisariningdiyah wrote on Aug 14, '08
sekali lagi ibu-ibu ini ngeles.
justru yang perlu ke psikiater itu ya ibu-ibu ini...
hmm...
saya kira ibu adlh orang yang menyedihkan dalam dunia nyata..
selalu protes, protes n protes..
mengeluh...mengeluh n mengeluh...
ya sudah lah... hanya anda sendiri dan teman2 dekat anda yaang mengetahui, bagaimana watak-karakter anda yang sebenarnya...
selain protes mengenai ketidakadilan di ruang UGD tersebut dan saya tulis disini...
apa kira2 yang anda tahu protes lain dari saya, om/tante beck?
saya orang menyedihkan, mungkin dari kacamata anda, tapi terima kasih sudah bersimpati, hehehe...
betul, yang tahu siapa saya sebenarnya hanya saya dan orang2 terdekat saya, yang tentunya bukan anda...

selamat bertemu psikiater anda :)
davidirawan wrote on Aug 14, '08
bener2 debat kusir...
asik neyh kayaknya kalo d'temuin langsung.
sapa tau ntar bisa bertengakr trus jambak2an gitu, mode kelai versi cewek: jambak2an rambut ^^
cayo dah
myshant wrote on Aug 14, '08
waduh Ri ...orang yg reply tanpa hetsot, tanpa identitas jelas gitu gak usah dilayani kali ya ...
biarin aja, nulisnya aja pake' capslock, gak sopan.
dia tuh yg beraninya nulis gak pake' identitas, MP-nya juga kosong
eh, dia domisili Jogja ya ? kira-kira praktek di JIH gak ya, pengen ketemu deh ...:-D
sayanaia wrote on Aug 14, '08
bener2 debat kusir...
asik neyh kayaknya kalo d'temuin langsung.
sapa tau ntar bisa bertengakr trus jambak2an gitu, mode kelai versi cewek: jambak2an rambut ^^
cayo dah
boss.. udahlah.. jangan ngompor2in.. id gak jelas.. muka juga gak jelas.. kalo gak tau apa2 gak usah sok ceramah.. apalagi ngompor2in gitu.. duduk aja di kursi!, jangan bawell!!
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Aug 14, '08
bener2 debat kusir...
asik neyh kayaknya kalo d'temuin langsung.
sapa tau ntar bisa bertengakr trus jambak2an gitu, mode kelai versi cewek: jambak2an rambut ^^
cayo dah
you think so?
debat kusir?
yang pasti saya hanya menjawab apa yang ditanyakan teman anda itu...

:)

fyi, never been in my life jambak2an sebagai perempuan...
maaf, gengsi saya terlalu besar untuk berkelahi model seperti itu...
atau anda berminat bertemu saya untuk saya perlihatkan bagaimana saya berkelahi?
just call me if you dare.
fitriayu wrote on Aug 15, '08
hoalaaaaaa cape' bener nanggepinnya nih mba ariee......!
udah tanpa identitas, ngomong muter2, nantang ga jelas... sakit jiwa kali ya..??
jangan hanya berani tampil anonim kalo mau beropini donk massss..

*ups maaf, ini ga termasuk ngomporin kan?
gemeeeeessss...!
davidirawan wrote on Aug 15, '08
buhsyet dah
waste of time banget,

atur nuhun deh,
si en dire au revoir
jadulforum wrote on Aug 15, '08
Tuhan Yesus, blom selesai juga?

yang gw bingung ampe sekarang, tujuan pemuatan ini semua apa sih...

"Tujuan yang utama adalah: menepis tuduhan-tuduhan keji bahwa penulis blog ini telah melakukan usaha-usaha memeras pihak RS Sentra Medika dan dr. Ardi, atas kejadian yang tercantum dalam blog ini: Episode UGD." menurut mbak.

lantas apa? uneg-uneg belaka? sungguh dewasa mentang-mentang punya massa MP Indonesia, yg palingan ikut-ikutan doang cari nama.

-admin
fitriayu wrote on Aug 16, '08
yang gw bingung ampe sekarang, tujuan pemuatan ini semua apa sih...
kalo bingung ya ga usah dibaca...
gtu aja koq repot..
riniepraditha wrote on Aug 16, '08
presiden ajah kalo salah di kritik..di demo..
masa mau nulis uneg2 aja DI BLOG PRIBADI lagi bukan blog orang.. kok di larang..
srisariningdiyah wrote on Aug 16, '08
buhsyet dah
waste of time banget,

atur nuhun deh,
si en dire au revoir
:)
sama-sama
srisariningdiyah wrote on Aug 16, '08
Tuhan Yesus, blom selesai juga?

yang gw bingung ampe sekarang, tujuan pemuatan ini semua apa sih...

"Tujuan yang utama adalah: menepis tuduhan-tuduhan keji bahwa penulis blog ini telah melakukan usaha-usaha memeras pihak RS Sentra Medika dan dr. Ardi, atas kejadian yang tercantum dalam blog ini: Episode UGD." menurut mbak.

lantas apa? uneg-uneg belaka? sungguh dewasa mentang-mentang punya massa MP Indonesia, yg palingan ikut-ikutan doang cari nama.

-admin
massa?
you think so?

hati2 kalau bicara, saudara...
ini blog pribadi saya, saya berhak menulis apa saja sepanjang tidak melewati batas2 yg menurut saya tidak boleh saya lewati. tidak ada hubungannya semua ini dengan rekan2 saya di luar masalah ini.

anda bicara soal dewasa?
hmmm...
menhariq wrote on Aug 18, '08
whew.. kaget juga liat ni jurnal naek terus..

yah aku sih mikirnya si becksekost itu cuma numpang ni jurnal buat jadi pelampiasan emosinya belaka.. sama aja kayak sub forum FIGHT CLUB di forum² internet.

gak ngerti jelas latar belakangnya, ikutan debat kusir dengan pertanyaan berulang kali soal siapanya si pasien dan bukan keluarganya, sementara dari awal sudah tertulis bahwa si ari ini juga dateng bersama kakak dari si korban. ampun deh.. tobat sama ni orang..

satu lagi buat jadulforum..
kebanyakan dari para blogger menulis entry di blog masing-masing terkait apa yang mereka alami, walaupun memang bisa dibilang blog itu media maya.. tapi dengan menuliskan identitas asli dengan nomor telepon yang bisa dihubungi sebenarnya cukup membuktikan bahwa apa yang dialami ari ini adalah kejadian nyata. aku sendiri sempet ikut sidang dengan para dokter IDI itu.

rasanya yang ari minta dari pemuatan jurnal ini hanyalah sepotong kalimat ucapan MAAF dari dokter tersebut. tapi sejak pertemuan itu tidak pernah ada follow up nya lagi..

soal penggalangan massa.. maaf.. dalam kasus ini tidak ada sama sekali niatan ari untuk meminta dukungan manapun.. ari hanya menuliskan salah satu bagian dari kehidupannya yang ternyata menarik untuk didiskusikan.

sekali lagi ini cuma pendapat aku..
koreksi kalau salah ya
sukmasinta wrote on Aug 18, '08
Reply ahhh..... biar naik lagi. hehehe ..........................
topanleysust wrote on Aug 18, '08
kok nama saya dipangil-panggil...
jadulforum wrote on Aug 19, '08
Hmm.. komen yang masuk 68% keluar-luar topik, malah tampak seperti menyulut emosi.
Apa itu tujuan penulisannya? Kalau cuma untuk uneg-uneg, bisakah mbah sari menutup comment yang masuk? Toh hanya untuk berbagi, untuk apalagi didiskusikan?

BTW waktu sidang IDI kemarin dulu, adakah jelas permintaan mbak sari untuk si dokter tsb meminta maaf? sorry, abisnya proses pemberitaan di blog ini kurang sistematis. emosionil. bingung nyari pelaporannya di mana. thx

*sembari menunggu bajing² loncat memberikan komentar emosional sampingan

-admin
srisariningdiyah wrote on Aug 19, '08
Hmm.. komen yang masuk 68% keluar-luar topik, malah tampak seperti menyulut emosi.
Apa itu tujuan penulisannya? Kalau cuma untuk uneg-uneg, bisakah mbah sari menutup comment yang masuk? Toh hanya untuk berbagi, untuk apalagi didiskusikan?

BTW waktu sidang IDI kemarin dulu, adakah jelas permintaan mbak sari untuk si dokter tsb meminta maaf? sorry, abisnya proses pemberitaan di blog ini kurang sistematis. emosionil. bingung nyari pelaporannya di mana. thx

*sembari menunggu bajing² loncat memberikan komentar emosional sampingan

-admin
menutup komen yang masuk = tidak fair untuk memberi kesempatan dokter bersangkutan membela diri...
saya rasa membuka komen masuk termasuk tanggung jawab saya menerima resiko apapun, jadi maaf untuk permintaan anda yang tidak dapat saya penuhi.

Diskusi masih jalan terus, itu terserah publik yang menilai dari berbagai sisi, apalagi memang disaksikan berbagai pihak dan saksi, sidang yang berlangsung memang tidak dapat menjadi penyelesaian masalah karena begitu banyak hal hasil kesepakatan sidang yang tidak dilaksanavan oleh IDI.

Anda dapat baca laporannya disini: http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/429
sistematis atau tidak, tentu itu urusan saya pribadi dalam cara menulis bukan?
kalau anda teliti, di reply dalam jurnal ini tentu tertulis link yang menuju ke laporan tersebut.

Trims :)
srisariningdiyah wrote on Aug 19, '08
BTW waktu sidang IDI kemarin dulu, adakah jelas permintaan mbak sari untuk si dokter tsb meminta maaf?
silakan membaca laporan sidang IDI, anda akan membaca dengan jelas permintaan yang jelas diucapkan berkali2, bahkan sampai dari pihak IDI perlu menegaskan apakah betul hanya itu yang diminta dari kami, yang sudah diteror sana-sini...

:)
metaimoet wrote on Aug 20, '08
gak pernah kawin ya bu..
ga pernah horny domk... kacian2... padahal enak lho... ntar keburu dimakan tanah lho..
cintaibu wrote on Aug 26, '08
mbak ari.....
gak usah di ledeni...
gak usah di ladeni... sabarrrrrrrrrr ajahhhh..
orang2 ITU walaupun berlainan headshot tapi aku yakin mereka ORANG YG SAMA..
dan hanya satu TUJUANNYA...
MEMBUAT MBAK ARI AGAR KESAL DAN MENUTUP JOURNAL INI..
SEHINGGA BOBROK MEREKA TIDAK AKAN TERSEBAR LUAS LAGI..

jangan di tutup mbak journal dan koment replynya agar seluruh bangsa indonesia tau apa yg DI LAKUKAN OLEH ORANG2 PINTAR YANG BERJUBAH PUTIH ITU..

DUKUNG MBAK ARI..
DUKUNG MBAK ARI..
ngengek wrote on Sep 6, '08
hmmmmmmm kisah yg benar2 membuat penilaiaan etis tentang kerja dunia medik yang membingungkan. sy salah seorg tenaga medis di daerah, dlu saat kul dan sampai saat ini di UGD di jalan kan sistem triage dalam pertulongan pertama atau tindakan medik.. nah dengan adanya sitem itu kita bisa melihat mana pasien yg harus segera di tolong mana pasien yg masih dapat di tinggal... dalam hal ini bukan di biarkan tp di observasi. mungkin banyak org menyalahkan dokter, tapi dalam hal ini kita tidak bekerja sendiri kita bekerja berdasarkan protap dari RS ( dan itu bukan kebijakan dokter ) memng secara etis suliot di tentukan yg mana yg salah mana yg benar. tp sy ingin berlaku bijak di sini sy juga tdk dalap menyalahkan keluarga paein sepenuhnya atau dokter sepenuhnya dalam hal ini. tp klo kita melihat dari sisi dokter kerja dokter memeng sangat padat dengan gaji yg yachhhh mengenaskan... meungkin beban moral kmi juga berat. kemudian jika say elihat dari sisi keluarga pasien yg di bentak oleh dokter ( itu sudah benar2 keterlaluan ) dan saya mewakili dokter yg ada di negara ini memohon maaf yg sebesar2nya jika ada dokter yg membentak dan kami sangat menyesal dengan kejadian itu semoga pera pembaca memeklumi. saran saya jika dokter atau tenaga medik lainya melakukan tindakan serupa mohon dengan sangat silahkan anda langsung laporkan dokter yg bersangkutan kepada komite medik RS tersebut. nah pada dasarnya pertolongan di UGD adalah bersifat bantuan hidup dasar ( BCLS ) dan prinsip pertolonganya adalah ABC ( airway, breathing , cirkulation ) dan D- I jika ABC terpenuhi, nah masalah CT Scan mungkin di tinjau ulang karena di UGD tidak satupun dokter baik itu spesialis atau jaga tidak di perkenankan melakukan diagnosa medik ataupun kerja ( mohon diperhatikan ) dan CT scan adalah pemeriksaan penunjang dan hal itu bisa di lakukan jika kesemua tindakan dasar telah selesai dan pasien bisa di lakukan perawatan lanjutan ( perawatan post emergency ) demikian, sekali lagi km mewakili dokter yg ada mohon maaf yg sebesar-besaranya, jika ada dokter yg menggunakan bhs yg kurg etis, dan kurang berkenan saya peribadi dan seluruh dokter dan tenaga kesehatan menyampikan permohonan maaf yg sebesar- besarnya. terimakasih satu lg marilaah kita jalin komunikasi yg baik dengan sesama dan jgn saling menyudutkan.
divi13 wrote on Nov 14, '08
pandangan skeptik kayak gini yang bikin para dokter yang berdedikasi pada ngumpet
srisariningdiyah wrote on Nov 14, '08
divi13 said
pandangan skeptik kayak gini yang bikin para dokter yang berdedikasi pada ngumpet
pandangan?
skeptis?
can u explain more?

rasanya ini hanya uneg2 atas ketidakadilan saja mba...
gak boleh ya mengutarakan uneg2?

fyi, banyak sekali dokter baik berdedikasi dari sabang sampai merauke menyambut baik tulisan ini... :)
relaxa871 wrote on Jan 5, '09
Setuju!! sangat disayangkan seorang dokter menyatakan nyawa pasien bukan urusannya disaat dia sedang berdinas..hahhaha
tetapi disisilain, begini lah masyarkat indonesia, maunya diSUBSIDI terus sama dokter, ..untuk seorang gaji dokter PNS dengan pasien rata2 60/hari, pemerintah hanya menghargai nyawa pasien Rp1300an..lebih murah dari ongkos parkir, bahkan pemilik restoran padang ga akan mau dibayar Rp1300 buat nasi bungkusnya..nasi putih aja udah Rp5000..tapi seorang dokter indonesia??? YAAAA BERSEDIA....

Dokter amerika aja ketika pemerintah mereka menawarkan sistem gaji yang mirip PNS di indonesia untuk mengatasi anggaran kesehatan yang demikian besarnya mengatakan : SISTEM INI SAMA DENGAN KOMUNIS, dan asal anda tahu jumlah pasien sehari berdasrakan penelitian yang optimal HANYA 20 pasien perhari, hanya jumlah ini yang optimal, lebih dari ini kualitas pelayanan akan sangat menurun..apakah dokter indonesia bisa mengeluh?? bahkan untuk rumah sakit pendidikan seorang dokter bisa melayani lebih dari 60 pasien perhari..apa dokter indonesia JAUH LEBIH PINTAR DAN SUPER dari luar negeri???

beli celana aja tidak ada Rp1300...masyarakat terlalu memaksa, makanya diluarnegeri berlaku asuransi kesehatan..itu tandanya masyarakat menghargai kesehatan mereka...uang CT SCAN itu tidak ada masuk kantong dokter..bahkan paling untuk menolong pasien UGD yang meregang nyawa dengan tingkat kesulitan yang luar biasa, dokter JAGA cuma dapat 15000, lebih mahal beli paket A MCdonald kan...???

alasan masyarakat cuma..ngapain kalian mau jadi dokter? tapi tidak ada yang mau menyelidiki betapa tidak adilnya kehidupan seorang dokter...bahkan jasa tukang cukur rambut aja Rp8000 perorang lebih mahal dari jasa dokter klinik 24 jam yang cuma dapat Rp2000 perorang..sebegitu hebatnya INDONESIA ini....

Di filipina hal ini bahkan lebih parah lagi, sampai banyak dokter filipina yang lari keluar negeri, walau cuma bekerja jadi perawat diluar negeri, tapi hidup mereka lebih terjamin...Indonesia pun akan menuju sperti ini, karena seorang dokter hanya dituntut memberi-memberi..mana ada profesi yang memberi bagi sang dokter dan keluarganya??

srisariningdiyah wrote on Jan 6, '09
Setuju!! sangat disayangkan seorang dokter menyatakan nyawa pasien bukan urusannya disaat dia sedang berdinas..hahhaha
tetapi disisilain, begini lah masyarkat indonesia, maunya diSUBSIDI terus sama dokter, ..untuk seorang gaji dokter PNS dengan pasien rata2 60/hari, pemerintah hanya menghargai nyawa pasien Rp1300an..lebih murah dari ongkos parkir, bahkan pemilik restoran padang ga akan mau dibayar Rp1300 buat nasi bungkusnya..nasi putih aja udah Rp5000..tapi seorang dokter indonesia??? YAAAA BERSEDIA....

Dokter amerika aja ketika pemerintah mereka menawarkan sistem gaji yang mirip PNS di indonesia untuk mengatasi anggaran kesehatan yang demikian besarnya mengatakan : SISTEM INI SAMA DENGAN KOMUNIS, dan asal anda tahu jumlah pasien sehari berdasrakan penelitian yang optimal HANYA 20 pasien perhari, hanya jumlah ini yang optimal, lebih dari ini kualitas pelayanan akan sangat menurun..apakah dokter indonesia bisa mengeluh?? bahkan untuk rumah sakit pendidikan seorang dokter bisa melayani lebih dari 60 pasien perhari..apa dokter indonesia JAUH LEBIH PINTAR DAN SUPER dari luar negeri???

beli celana aja tidak ada Rp1300...masyarakat terlalu memaksa, makanya diluarnegeri berlaku asuransi kesehatan..itu tandanya masyarakat menghargai kesehatan mereka...uang CT SCAN itu tidak ada masuk kantong dokter..bahkan paling untuk menolong pasien UGD yang meregang nyawa dengan tingkat kesulitan yang luar biasa, dokter JAGA cuma dapat 15000, lebih mahal beli paket A MCdonald kan...???

alasan masyarakat cuma..ngapain kalian mau jadi dokter? tapi tidak ada yang mau menyelidiki betapa tidak adilnya kehidupan seorang dokter...bahkan jasa tukang cukur rambut aja Rp8000 perorang lebih mahal dari jasa dokter klinik 24 jam yang cuma dapat Rp2000 perorang..sebegitu hebatnya INDONESIA ini....

Di filipina hal ini bahkan lebih parah lagi, sampai banyak dokter filipina yang lari keluar negeri, walau cuma bekerja jadi perawat diluar negeri, tapi hidup mereka lebih terjamin...Indonesia pun akan menuju sperti ini, karena seorang dokter hanya dituntut memberi-memberi..mana ada profesi yang memberi bagi sang dokter dan keluarganya??

semua itu bukan alasan untuk berkata "Bukan Urusan Saya" di depan pasien yang tidak berdaya bukan?

Apakah dokter yang mengeluh tentang sistem dan gaji di Indonesia juga memikirkan profesi lain?
Apakah hanya dokter yang diperlakukan tidak adil di sini?

bukankah semua profesi adalah untuk melayani?
tidak terkecuali...

:)
relaxa871 wrote on Jan 6, '09
ya saya setuju dengan kata kata anda...

itulah sebabnya saya menggalang para dokter yang lain, janganlah kalian mau diperbudak dengan stigma dokter adalah pekerja SOSIAL..tokh masyarakat juga tidak ada ampun bila anda salah sekali saja...semua semangat memaki anda..apakah ada yang berpikir betapa banyak orang yang telah ditolong oleh dokter yang bermasalah ini??? anda berani menjamin bahwa tidak ada tindakan sosial dia terhadap pasien yang lain?? tetapi sekali salah...makian dari penjuru indonesia berdatangan kepadanya...kita para dokter tahu, apa yang terjadi pada rekan kita ini akan PASTI TERJADI pada kita suatu saat nanti....bila hanya untuk upah 15000/pasien anda bersedia dimaki seluruh indonesia??

semua profesi memang melayani..tapi dengan imbalan yang sesuai...bila seluruh dunia maju menerapkan standar terhadap profesi dokter mereka, tetapi bangsa indonesia tidak mau apa ini adil..sedangkan dokter kita dituntut selalu uptodate standar internasional...setiap 5 tahun mereka akan dilihat apakah keikutsertaan mereka dalam mengupdate ilmu mereka sudah mencukupi standar..bila tidak maka mereka tidak akan bolen praktek...apa ada profesi yang seperti ini di indonesia selain dokter???? dan biaya update ilmu ini ditanggung pribadi sang dokter...dan berlaku setiap 5 tahun sekali terus menerus berulang...tapi hal hal pahit ini masyarakat awam memilih menutup mata...anda cuma bilang sama..kalau iya sama... wajar bila masyarkat maju pun menetapkan profesi dokter sama dengan profesi lain..nyatanya tidak kan??

yang wajar : bersama tanggung jawab besar..datang pula hak yang besar...

Indonesia? : bersama tanggung jawab besar..datang pula hak yang minim, kalau bisa..GRATIS...hahahaha

egois sekali masyartakat indonesia...profesi lain kalau sudah merasa taraf internasional, l
angsung pasang tarif internasional..dokter indonesia?? wah bisa penuh surat pembaca bilang dokter komersil...

semua orang tahu kalau harga Rp.2000..itulah yang anda dapat..jangan mimpi sama dengan kualitas 200.000, sekali konsul dengan dokter singapura itu tarifNYA 1.000.000..puas?? YA PASTI KALIAN PUAS
..wah saya kalau bisa 500.000 saja sekali konsul sudah saya layani dengan ssangat baik sekali... (klinik 24 jam Rp10.000 sudah dengan obat..betapa GILANYA dokter indonesia) tapi masyarakat indonesia sekali lagi..egois..maunya diSUBSIDI dokter terus..memangnya kalian semua mau MENSUBSIDI sang dokter dan keluarganya...

Buat rekan2 dokter sekalian, buka mata kalian..sesuai prinsip ATLS..seorang penolong harus memastikan dirinya aman terlebih dahula, baru boleh menolong...seharusnya kalian berkecukupan terlebih dahulu..setelah itu kita baru bisa bersikap sosial...tukang cukur rambut dapat uang jasa lebih dari kalian, kalian mau aja dituntut sosial..emangnya jadi dokter lebih gampang yaa dari tukang cukur rambut...

sekali lagiiii...SERVICE TERBAIK..itulah yang diinginkan masyarakat indonesia...soal biaya..seharusnya itu urusan keluarga pasien...bukan urusan kita (nyawa urusan tuhan, tapi niat harus selalu menolong) , biar kan mereka memilih yang sesuai dengan kemampuan mereka..yang penting kita harus memberikan saran terbaik sesuai standar internasional....bukan standar rumah sakit kita...

Buat masyarakat indonesia, bertanggung jawablah atas kesehatan anda dan keluarga, kalau merasa diri tidak mampu..ambil asuransi..kalau tidak mampu juga ambil askeskin..kalau tidak mampu juga..berdemolah kalian..itu gunanya pemerintah..uang rakyat bukan buat beli mobil pejabat ato laptop DPR..dokter sama saja dengan anda punya anak yang musti dikasih makan, orang juga tidak ada yang mau kasih harga murah cuma karena dokter...jadi janganlah anda bermimpi....

buat para dokter, selama ini kita selalu dididik untuk berpikir yang termurah bagi pasien, dan sayangnya sering kali ini bukan yang terbaik...seharusnya kita berpikir yang terbaik bagi pasien, masalah biaya biarlah keluarga pasien yang memikirkan..
srisariningdiyah wrote on Jan 6, '09
ya saya setuju dengan kata kata anda...

itulah sebabnya saya menggalang para dokter yang lain, janganlah kalian mau diperbudak dengan stigma dokter adalah pekerja SOSIAL..tokh masyarakat juga tidak ada ampun bila anda salah sekali saja...semua semangat memaki anda..apakah ada yang berpikir betapa banyak orang yang telah ditolong oleh dokter yang bermasalah ini??? anda berani menjamin bahwa tidak ada tindakan sosial dia terhadap pasien yang lain?? tetapi sekali salah...makian dari penjuru indonesia berdatangan kepadanya...kita para dokter tahu, apa yang terjadi pada rekan kita ini akan PASTI TERJADI pada kita suatu saat nanti....bila hanya untuk upah 15000/pasien anda bersedia dimaki seluruh indonesia??

semua profesi memang melayani..tapi dengan imbalan yang sesuai...bila seluruh dunia maju menerapkan standar terhadap profesi dokter mereka, tetapi bangsa indonesia tidak mau apa ini adil..sedangkan dokter kita dituntut selalu uptodate standar internasional...setiap 5 tahun mereka akan dilihat apakah keikutsertaan mereka dalam mengupdate ilmu mereka sudah mencukupi standar..bila tidak maka mereka tidak akan bolen praktek...apa ada profesi yang seperti ini di indonesia selain dokter???? dan biaya update ilmu ini ditanggung pribadi sang dokter...dan berlaku setiap 5 tahun sekali terus menerus berulang...tapi hal hal pahit ini masyarakat awam memilih menutup mata...anda cuma bilang sama..kalau iya sama... wajar bila masyarkat maju pun menetapkan profesi dokter sama dengan profesi lain..nyatanya tidak kan??

yang wajar : bersama tanggung jawab besar..datang pula hak yang besar...

Indonesia? : bersama tanggung jawab besar..datang pula hak yang minim, kalau bisa..GRATIS...hahahaha

egois sekali masyartakat indonesia...profesi lain kalau sudah merasa taraf internasional, l
angsung pasang tarif internasional..dokter indonesia?? wah bisa penuh surat pembaca bilang dokter komersil...

semua orang tahu kalau harga Rp.2000..itulah yang anda dapat..jangan mimpi sama dengan kualitas 200.000, sekali konsul dengan dokter singapura itu tarifNYA 1.000.000..puas?? YA PASTI KALIAN PUAS
..wah saya kalau bisa 500.000 saja sekali konsul sudah saya layani dengan ssangat baik sekali... (klinik 24 jam Rp10.000 sudah dengan obat..betapa GILANYA dokter indonesia) tapi masyarakat indonesia sekali lagi..egois..maunya diSUBSIDI dokter terus..memangnya kalian semua mau MENSUBSIDI sang dokter dan keluarganya...

Buat rekan2 dokter sekalian, buka mata kalian..sesuai prinsip ATLS..seorang penolong harus memastikan dirinya aman terlebih dahula, baru boleh menolong...seharusnya kalian berkecukupan terlebih dahulu..setelah itu kita baru bisa bersikap sosial...tukang cukur rambut dapat uang jasa lebih dari kalian, kalian mau aja dituntut sosial..emangnya jadi dokter lebih gampang yaa dari tukang cukur rambut...

sekali lagiiii...SERVICE TERBAIK..itulah yang diinginkan masyarakat indonesia...soal biaya..seharusnya itu urusan keluarga pasien...bukan urusan kita (nyawa urusan tuhan, tapi niat harus selalu menolong) , biar kan mereka memilih yang sesuai dengan kemampuan mereka..yang penting kita harus memberikan saran terbaik sesuai standar internasional....bukan standar rumah sakit kita...

Buat masyarakat indonesia, bertanggung jawablah atas kesehatan anda dan keluarga, kalau merasa diri tidak mampu..ambil asuransi..kalau tidak mampu juga ambil askeskin..kalau tidak mampu juga..berdemolah kalian..itu gunanya pemerintah..uang rakyat bukan buat beli mobil pejabat ato laptop DPR..dokter sama saja dengan anda punya anak yang musti dikasih makan, orang juga tidak ada yang mau kasih harga murah cuma karena dokter...jadi janganlah anda bermimpi....

buat para dokter, selama ini kita selalu dididik untuk berpikir yang termurah bagi pasien, dan sayangnya sering kali ini bukan yang terbaik...seharusnya kita berpikir yang terbaik bagi pasien, masalah biaya biarlah keluarga pasien yang memikirkan..
wow...
terima kasih sudah menulis respon di jurnal ini sebegitu panjang...
semoga banyak yang membaca dan memberi perhatian :)
relaxa871 wrote on Jan 6, '09
ya..saya memang berusaha merubah mentalitas dokter indonesia yang "nrimo" aja..dulu PTT yang tidak adil, mau aja "nrimo" untunglah sekarang sudah tidak wajib lagi...kalau dokter wajib PTT seharusnya semua profesi wajib PTT, masyarak terpencil juga butuh profesi lain selain dokter, jadi kenapa dokter saja yang wajib PTT...

begitu juga forum yang memaki dokter yang sedang sial ini...semoga membuka mata rekan dokter lainnya..ini juga akan terjadi bagi anda..demi Rp2000 saja..ayo mari kita sama sama meningkatkan kembali profesi dokter yang profesional dibidang JASA..BUKAN SOSIAL...
srisariningdiyah wrote on Jan 6, '09
seharusnya kita berpikir yang terbaik bagi pasien, masalah biaya biarlah keluarga pasien yang memikirkan..
betul... seharusnya dokter dalam cerita diatas meng-amin-i kata2 anda...
malah lebih baik kalau melaksanakan-nya...
daripada mengabaikan hak pasien yang bahkan sudah ada penjamin beserta keluarga...
bahkan 30 menit tidak melakukan tindakan apapun...
udah gak melakukan tindakan apapun, ditanya "apa dokter tega kalau pasien ini tanpa penanganan di sini nanti mati?"... malah menjawa BUKAN URUSAN SAYA
.
.


mati-nya siapapun memang urusan Tuhan...
tapi kalau seorang dokter tidak melakukan sedikitpun usaha kepada pasien...
yang datang bahkan sudah ada penjamin biaya...
well well...

se-matre apakah dokter tersebut???
apakah akan berlindung dari nama besar rumah sakit?
yang sudah dengan giat mencoba meneror keluarga pasien untuk datang kembali ke rumah sakit demi dalih menyelesaikan masalah?


*tepuk tangan untuk dokter dan rumah sakit tersebut*
srisariningdiyah wrote on Jan 6, '09
forum yang memaki dokter yang sedang sial ini...
well... memaki... sial...

siapa yang memaki, siapa yang sial?

let's say...
kalau tidak mau dimaki orang, jangan memaki orang terlebih dahulu, bukan?
saya rasa disini berlaku hukum sebab akibat...
kalau anda berlaku jujur, apapun jalan berliku yang ditempuh, kebaikan yang akan anda tuai...
kalau anda angkap ini forum caci maki, sebaiknya jangan memaki lebih dahulu...
disini saya hanya menulis apapun yang terjadi sebenar2-nya, dari kacamata para keluarga pasien, yang selama ini tak berdaya di tangan para dokter, tidak perlu anda memutarbalikkan fakta dan cerita yang hanya menimbulkan pandangan tambah melecehkan profesi yang sekarang ini dipuja masyarakat banyak...

sadarkah anda kenapa dokter perlu PTT?
karena begitu banyak rakyat Indonesia membutuhkan dokter...
karena begitu banyak rakyat Indonesia memuja profesi yang sangat penting ini, karena berkaitan dengan nyawa manusia...

kalau sebegitu mulia profesi anda dan teman2 anda?
mengapa harus tercemar dengan mengucap BUKAN URUSAN SAYA pada orang2 yang tidak berhak menerima kata2 tersebut?

salam,
relaxa871 wrote on Jan 9, '09
betul... seharusnya dokter dalam cerita diatas meng-amin-i kata2 anda...
malah lebih baik kalau melaksanakan-nya...
daripada mengabaikan hak pasien yang bahkan sudah ada penjamin beserta keluarga...
bahkan 30 menit tidak melakukan tindakan apapun...
udah gak melakukan tindakan apapun, ditanya "apa dokter tega kalau pasien ini tanpa penanganan di sini nanti mati?"... malah menjawa BUKAN URUSAN SAYA
.
.


mati-nya siapapun memang urusan Tuhan...
tapi kalau seorang dokter tidak melakukan sedikitpun usaha kepada pasien...
yang datang bahkan sudah ada penjamin biaya...
well well...

se-matre apakah dokter tersebut???
apakah akan berlindung dari nama besar rumah sakit?
yang sudah dengan giat mencoba meneror keluarga pasien untuk datang kembali ke rumah sakit demi dalih menyelesaikan masalah?


*tepuk tangan untuk dokter dan rumah sakit tersebut*
ya disinilah letak kesalahpahaman...uang CT scan itu, tidak ada sepeser pun masuk kantong dokter.(jadi dimana letak matrenya?).tapi kalo pasien kabur dan tidak bayar, walau dengan alasan kemanusiaan bagaimanapun, rumah sakit akan menuntut dokter membayar penuh CT scan tersebut (kemana para pejuang hak masyarakat ketika ini terjadi..? tolong lah nongkrong di rumah sakit, shg bisa berbagi bayar tagihan ini dengan para dokter..jangan kami saja yang selalu menanggungnya)

...soal prosedur administrasi bayar dulu baru dapat pelayanan itu berlaku dimana saja, bukan hanya indonesia tapi seluruh dunia...mau seegois apakah masyarakat indonesia? Untungnya banyak yang sudah mengerti hal ini...

pasien tidak bisa memenuhi prosedur administrasi yang ditetapkan rumah sakit (BUKAN OLEH DOKTER)..tetapi pasien tetap melimpahkan semua tanggung jawab karena ketidak mampuan dalam memnuhi prosedur administrasi kepada dokter..WALAUPUN : 1.Peraturan bukan dibuat oleh dokter, 2. Dokter tidak mendapat untung apapun dari proses administrasi itu...

pasien kabur ketika membayar itu adalah hal yang sangat lumrah diindonesia..dan dokter yang terpaksa membayar obat untuk pasien nya JUGA sangat banyak diindonesia..(apa anda tahu berapa banyak pasien yang telah dibayar obatnya atau ongkos pemeriksaannya oleh dokter ini??).kalau lama kelamaan sang dokter harus mengutamakan keselamatan dirinya terlebih dahulu..apakah itu salah?? TIDAK... MENURUT STANDAR INTERNASIONAL....dokter tidak diwajibkan menolong pasien bila akan membawa masalah/membahayakan bagi dokter...sangat sangat manusiawi..pasien mempertimbangkan dokter..dokter mempertimbangkan pasien..tidak ada pihak yang lebih berhak memaksa pihak yang lain...

Sedangkan dokter tidak melakukan apapun...apa anda tahu pasti?? (anda selalu disamping pasien??) bahkan dalam SOP kedokteran ada proses observasi (mengamati)..nah bagi orang awam kelihatannya tidak melakukan apapun..tetapi dalam beberapa kasus, proses obeservasi ini sangat penting sekali, bahkan ketika hanya melihat pasien pun, saya sudah mulai melakukan analisa terhadap pasien..apa anda bisa bilang tidak melakukan apapun?

seandainya anda kesingapura, dengan keadaan yang sama apa hasilnya akan beda?

Bedanya :
Seorang dokter indonesia dengan tarfi yang hanya 10% tarif dokter luar negeri, padahal sudah diundang sebagai pembicara pada konfrensi kedokteran luar negeri..dan sudah 20 tahun mengabdi..(sudah ribuan pasien yang ditolongnya) tetapi seandainya 1 kali saja dia melakukan kesalahan..lalu kena tuntutan malpraktek..bisa dipastikan dia akan bangkrut...adil kah itu?? dokter singapur dengan tarifnya setinggi langit ga perlu prkatek 20 tahun, cukup 6-8 tahun praktek, dituntut malpraktek 3 kali pun dia belum akan bangkrut...adilkah?

semoga proses pembelajaran ini akan mengubah korps kedokteran indonesia..sudah saatnya kita bercermin keluar negeri..tokh terapi kita selalu acuan keluar negeri, bahkan kita sekarang benchmark ke universitas luarnegeri..kenapa bayaran kita selalu acuan kedalam negeri?? kalo dituntut malpraktek..juga pengacara langsung pake acuan luar negeri minta dendanya..Rp15000 (uang jasa dokter)..banding 3 milyar (tuntutan malpraktek)...sewajarnya kayak luar negeri lah Rp.1 juta -1.5 juta (uang jasa dokter) banding 3 milyar (tuntutan malpraktek)...wajar...

saya senang forum ini..^_^
relaxa871 wrote on Jan 9, '09
ya saya juga bisa mengerti persaaan tidak enak anda..anda sudah capek2 menolong orang, malah dapat perlakuan yang tidak menyenangkan..
mari bergabung bersama kami, dan teman 2 saya lainnya, yang juga sudah capek2 menolong orang, sampai keluar uang dari kantong sendiri karena pasien tidak mampu ato kabur..kata terimakasih pun tidak sampai kepada kami..sebelum mereka menghilang atau kabur...

tapi tentunya situasi anda lebih berat..sehingga masih menunggu kata maaf..

saya dan teman2karena berulang kali mengalami ini, agak lebih bebal dalam mengharapkan kata terimakasih...sudah biasa saja rasanya...
relaxa871 wrote on Jan 9, '09
well... memaki... sial...

siapa yang memaki, siapa yang sial?

let's say...
kalau tidak mau dimaki orang, jangan memaki orang terlebih dahulu, bukan?
saya rasa disini berlaku hukum sebab akibat...
kalau anda berlaku jujur, apapun jalan berliku yang ditempuh, kebaikan yang akan anda tuai...
kalau anda angkap ini forum caci maki, sebaiknya jangan memaki lebih dahulu...
disini saya hanya menulis apapun yang terjadi sebenar2-nya, dari kacamata para keluarga pasien, yang selama ini tak berdaya di tangan para dokter, tidak perlu anda memutarbalikkan fakta dan cerita yang hanya menimbulkan pandangan tambah melecehkan profesi yang sekarang ini dipuja masyarakat banyak...

sadarkah anda kenapa dokter perlu PTT?
karena begitu banyak rakyat Indonesia membutuhkan dokter...
karena begitu banyak rakyat Indonesia memuja profesi yang sangat penting ini, karena berkaitan dengan nyawa manusia...

kalau sebegitu mulia profesi anda dan teman2 anda?
mengapa harus tercemar dengan mengucap BUKAN URUSAN SAYA pada orang2 yang tidak berhak menerima kata2 tersebut?

salam,
see..anda tidak bersedia kan melihat sisi penderitaan seorang dokter? yah wajarlah...banyak yang seperti ini...wajar..ingatlah selalu ada 2 sisi dalam cerita..sisi anda..ya anda katakan mewakili penderitaan pasien..ya maka saya sisi lainnya...penderitaan dokter..

saya..tidak pernah menganggap profesi dokter mulia, karena saya takut melecehkan terhadap profesi lain, karena berarti banyak profesi yang tidak mulia? isinyur, sarjana ekonomi, pelukis, penyanyi juga sama mulianya dengan dokter..kan profesi itu juga bisa untuk memperbaiki kualitas hidup orang banyak??? ga usah jauh2..dari segi pangkat PNS juga ga keliatan mulianya...dari sarjana yang lain...

mulia mungkin bagi orang2 yang ingin selaluy disubsidi oleh dokter,

dokter adalah orang biasa, sama seperti orang lainya, punya hari baik..punya hari jelek, kadang beruntung kadang sial..tidak ada bedanya ..pengkultusan secara sepihak ini..malah terkesan memaksa..kalo satu pihak tidak ingin dikultuskan..kenapa pihak yang lain memaksa??

Kalau lagi capek dan mungkin dalam kesusahan siapa sih yang tidak akan emosi?? pak kiai juga bisa emosi..manusiawi sekali..mempersoalkan ini berarti mengingkari,,kenyataan dokter manusia..bahwa ada profesi didunai ini yang bukan untuk manusia..^_^....wah...

mungkin anda juga dulu pernah (duluuu sekali loh ^_^) berbuat salah dan tidak sengaja menyakiti hati orang, anda tidak sadar telah berbuat salah, kalau pihak yang disakiti hatinya oleh anda bercerita kepada saya..pasti saya akan bilang, wajar manusia berbuat kesalahan..janganlah cepat menilai seseorang...tetapi saya tahu anda berbuat salah ini kemungkinannya keciiiiil sekaliiiii...(hanya berandai-andai saja...)

di indonesia timur sana, banyak orang yang butuh profesi lain selain dokter..berkunjunglah..anda akan lihat dokter hanya sebagian kecil dari tenaga profesional lain yang mereka butuhkan..jadi apa salahnya kalau semua profesi di PTT kan??? ayo kita semua ramai2 kesana...^_^
sedih rasanya kalau profesi yang lain karena "tidak mulia" maka tidak wajib membantu masyarakat disana...see? tidak masuk akal kan ada profesi mulia?..btw tentara dan polisi yang pegang senjata juga berkaitan dengan nyawa manusia...koki yang buat makanan juga (takut keracunan krn salah makan)..polisi lalulintas..pilot..wah banyak banget yang berurusan dengan nyawa manusia...saya menganggap mereka sama mulianya..intinya..asal halal..pasti profesi mulia lah...

saya memperlihatkan sisi lain kedokteran, agar masyarakat mengerti...yang anda minta pertolongan itu, juga manusia, bisa sedih senang susah dan sakit seperti anda...sangat tidak sempurna..oleh sebab itu jangan cepat menilai..kecuali anda dinilai dengan cara penilaian yang sama..disaat anda dalam ketidaksempurnaan...

^_^ saya suka forum ini
relaxa871 wrote on Jan 9, '09

22.28
Bulan sedang menuju tepat ke jantung malam...
sayup suara orang berbincang di jalan terdengar riang dalam gelut malam minggu
untuk beberapa puluh menit mata terfokus ke arah monitor setelah melirik jam
dan peluh mulai mengharuskan badan dibersihkan untuk memulai ritual istirahat
baru saja resluiting terperancah dan jaket di kebas untuk digantung
ketika diluar sana terdengar kegaduhan, sekitar 15 meter dari pusat syaraf
bunyi roda motor berdecit dengan rem, beradu dengan aspal...
seketika dalam sepersekian detik otak langsung mengirim sinyal ramalan
bahwa yang terjadi selanjutnya adalah seperti biasa, tumbukan besar...
entah antara motor dengan aspal, motor dengan tiang listrik, atau...
kemungkinan terburuk adalah daging dengan sesuatu...

dan ketika suara tumbukan terakhir dengan
efek suara dramatis,
berhasil menghentikan untuk sesaat seluruh jalan darah,
menyedot semua kesadaran reflek untuk bergerak,
akhirnya datang juga imajinasi itu...
gambaran terburuk di luar sana
...

Tolong jangan sampai sesuatu terburuk yang terjadi,
hanya itu pinta dalam batin, sambil bergegas kembali menyambar jaket,
dan kotak P3K.

=====================================

Tulisan ini ditulis sebelum tulisan ini, dan akhirnya gue posting untuk everyone, setelah menimbang-nimbang baik dan buruk resiko-nya. Mudah-mudahan resiko negatif lebih kecil daripada resiko positif-nya. Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan kita, terutama bagaimana menghadapi peristiwa serupa kelak.

Emang paling enak 'tuh 'numpahin uneg-uneg di blog, daripada media massa. Dan uneg-uneg ini 'udah terpendam ratusan tahun eh maksud gue... pokoknya 'udah terpendam sejak lama, jaman gue masih bocah cilik gitu 'lah. Yang gue maksud dengan uneg-uneg disini adalah kekesalan gue terhadap sikap dokter yang tindakan-nya tidak mencerminkan profesi yang dipilih mereka sendiri. Sorry... tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mendiskreditkan profesi tertentu, atau untuk tujuan mencemarkan nama baik, atau untuk tujuan cari popularitas *kalo dokter yang gue maksud baca blog gue ini yah*, atau untuk menebar kebencian terhadap profesi tertentu. Enggak.


Tulisan ini semata murni UNEG-UNEG.
Kalau ada yang sampai protes terhadap tulisan curhat gue ini, mohon disampaikan melalui jalur pribadi, dan mohon maaf juga nih, gue pasti baca tapi 'gak janji akan gue layani.

=====================================

Setelah dulu waktu kecil pernah mengalami tindakan dari dokter yang menyebabkan surutnya kepercayaan gue terhadap profesi satu ini, beberapa kali situasi yang sama terjadi dan terlewatkan begitu aja dalam hidup gue, termasuk kejadian yang menurut gue termasuk malpraktek yang dilakukan dokter RS ***tuuuttt**** terhadap rekan gue satu rumah yang mengalami luka bakar hebat sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi. Berhubung aja temen gue orang-nya pasrah-an dan mohon2 ke gue untuk 'gak cari gara-gara sama dokter-nya, maka gue 'gak tulis deh kisah-nya di sini.

Dan episode terakhir berhubungan dengan dokter yang bikin gue naik darah ini terjadi malam ini, Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan di depan rumah yang mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan sempat 'gak sadar beberapa saat setelah kejadian.

+/- 22.50
Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati pengendara-nya, atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat gue sedikit hapal dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara yang ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue 'gak yakin sendiri apakah kotak P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke jalanan depan rumah akan berguna.

Wulan masih tergeletak di tepi jalan ketika orang-orang mulai mengerumuni. Gue segera minta tolong ke orang-orang yang ada entah itu siapa, untuk segera 'mindahin Wulan ke dalam rumah, paling enggak membaringkan di sofa ruang tamu akan membuat dia sedikit lebih nyaman. Walaupun gue sendiri khawatir karena Wulan 'nggak merespon cubitan di tangan dan tepukan di pipi, akhirnya gue sedikit lega waktu akhirnya beberapa menit kemudian Wulan mulai membuka mata. Waktu ditanya bagaimana rasanya, Wulan diam aja 'gak ada reaksi, hanya bola mata yang berputar dan juga kepala terkulai.

Heran dengan cukup banyak noda darah di lengan baju, akhirnya gue dan rekan mulai memeriksa sekujur tubuh Wulan yang 'gak ada luka sama sekali kecuali lecet bekas kena aspal yang mengeluarkan darah di kaki. Segera gue semprot spray anti infeksi itu luka, dan cukup lega mendengar Wulan merintih "sakiiiiiittttt", waktu luka-nya disemprot. Tapi tetap aja kami heran dari mana noda-noda darah di lengan itu...

Setelah sibuk meneliti dan memastikan 'gak ada masalah dengan patah tulang, akhirnya kami memberanikan diri untuk membalikkan badan Wulan, dan dari situ baru kami menyadari... luka di kepala Wulan cukup besar. Dan genangan darah beku di rambut panjang-nya mendukung perkiraan kami. Gunting rambut dan handuk basah segera melakukan tugasnya, rambut panjang-nya sangat lebat. Namun kejadian selanjutnya sungguh membuat kami takut... Wulan mulai muntah-muntah dengan hebat-nya...

+/- 23.20
Berbekal seadanya tanpa persiapan memadai kami langsung menuju rumah sakit yang terletak sekitar 400 meter dari rumah. Dan Wulan masih muntah-muntah di dalam mobil. Sampai di UGD RS Graha Permata Ibu yang letaknya di perempatan jalan, perawat jaga yang ditemui menyatakan tidak sanggup menangani, membuat kami harus bergegas menuju RS berikutnya di daerah menuju Depok Timur. RS Hermina yang cukup besar sempat menerima Wulan di dalam UGD, dan dokter jaga di dalamnya menyarankan untuk segera dilakukan CT Scan, melihat luka yang besar di kepala dan tonjolan hitam di mata Wulan. Kami oke saja mengangguk menyetujui. Dan ternyata... di RS inipun alat CT Scan tidak ada... *sigh*... Terpaksa Wulan kami pindah lagi dari bed ke dalam mobil untuk mencari rumah sakit yang cukup besar dan mempunyai alat CT Scan.

+/- 00.00
RS Sentra Medika,Jl. Raya Bogor Km. 33, Cisalak, Depok.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Lho... menurut gue aneh pertanyaan-nya sih, tapi... ya sudahlah berhubung lagi panik dan khawatir keadaan Wulan, kami langsung menjawab ulang, "langsung CT Scan aja dok". Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... akhirnya menurut gue ya cukup wajar, ketika gue menyampaikan kehendak keluarga ke pihak rumah sakit. Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja.

Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD - Radiologi, mengisi formulir, dan 'agak mengganggu perawat di ruang Radiologi yang entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan biaya CT Scan... Rp. 600.000,-

Gue agak berperang dalam batin ketika menerima tagihan itu, antara menyesal 'nggak well prepared pergi ke rumah sakit *ya begimana lagi namanya juga buru-buru yah... masih bisa bawa mobil menuju rumah sakit dan sampai dengan selamat aja 'udah untung alhamdulillah*, dan membayangkan kalau 'nggak cepet dilakukan CT Scan 'emang seberapa parah sih, keadaan Wulan?

Akhirnya gue berinisiatip langsung tanya lagi ke dokter jaga di UGD:
"dokter, pasien apa harus segera di CT Scan sekarang atau 'nunggu keluarga dahulu?"
Dokter menjawab, "sebaik-nya segera" ...
Gue bilang lagi, "kalau gitu bisa 'ngga dokter, kalau pembayaran dilakukan sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, karena uang sedang dibawa keluarga dalam perjalanan?"...
"Wah itu terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya melaksanakan CT Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang menentukan ada di bagian radiologi langsung",
kata dokter itu lagi sambil 'nulis2 sesuatu di meja tanpa melihat ke gue.
"Oh, oke dokter, saya ke sana lagi", gue bilang sambil melirik ke Wulan yang 'teronggok' di bed dan agak bingung... *kog belum diapa-apain dokter yah*... sementara itu gue lihat ada beberapa dokter dan perawat yang sedang santai-santai sms dan 'ngobrol dalam ruang UGD ini, yang pasien-nya hanya Wulan seorang.

Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue 'nggak cepet ke bagian Radiologi lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah dan tanya suster di Radiologi:
"mbak, mmm... kalau pembayaran-nya nanti setelah keluarga dateng atau sebagian dulu bisa 'nggak? Jadi pasien di CT Scan dulu sekarang..."

"Wah kalau itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan aja disini...", kata suster bikin jantung gue mak nyossssss... dan langsung menyadari cepat... gila ada apa ini kog gue dilempar-lempar begini. Dengan wajah agak memelas dan mohon supaya suster mengerti akhirnya gue bilang:
"mbak, mmm tadi saya baru dari UGD dan dokter di sana minta supaya saya ke sini minta persetujuan mbak, apa mbak bisa konfirmasi telepon ke UGD aja daripada saya bolak-balik lagi?"
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon bagian UGD, dan kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang begitu, bahwa gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan.
"Walaupun saya bayar sebagian dahulu apa 'gak bisa juga mbak?"
, tanya gue lagi.
"Wah kalau itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir...", yang mana ketika gue ke sana juga dibilang gue harus minta persetujuan dokter jaga dahulu.

Weks...
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan... loh kog belum diapa-apain juga nih Wulan, masih teronggok aja di bed?*:
"Dokter, saya benar-benar bingung... sebaiknya Wulan harus cepat di CT Scan atau tidak, saya dan keluarga berharap cepat ada tindakan, tapi terus terang uang yang ada belum cukup. Saat ini keluarga sedang menuju kemari bawa uang. Bagaimana dokter?"
"Ya kami hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu...", kata dokter itu lagi.
"Saya mengerti dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak untuk Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau membayar sebagian dahulu, tapi tetap katanya harus persetujuan dokter. Saya sendiri khawatir tadi dia muntah-muntah begitu hebat", dengan nada agak mulai naik dikiiitttt... *gimana 'gak naik suara dikit, dilempar kesana kemari kayak pingpong gitu... tengah malem pulak*
Dan dokter itu mulai membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN SEJAWAT-nya:
"Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu mengerti !!!??!!!"


Kesadaran langsung terhempas.
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
"Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, tapi saya lihat terhadap pasien ini masih belum diambil tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?",
dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang hampir tumpah. Dan gue berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi:
"Maksud saya, apakah dokter tega, kalau misalnya
nanti pasien ini mati tanpa penanganan di sini?",
suara gue makin lirih...

"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"

Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas gue ke pojokan yang betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue sulit bernafas, mencoba mencerna dengan kerongkongan tercekat dan pandangan nanar ke arah dokter itu. Mencoba meraba untuk mengenali jenis spesies apa yang bersembunyi di balik jubah putih itu. Tumpahan emosi semua orang yang bercampur-aduk di ruangan itu sangat terasa aroma-nya dalam diam. Kenyataan memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu mencoba menerima kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun, untuk percaya bahwa profesi dokter, yang selama ini dipuja-puji, adalah penolong sesama MANUSIA, hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu masih ada kog, tapi lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk menghapus noda-noda yang melekat dalam kenangan itu.

+/- 00.40
Detik-detik selanjutnya adalah episode drama ketika:
"Bukan... urusan... dokter...", gue mengucap lirih terbata dalam perih yang tersendat pahit menguar, mengulang kata-kata dokter yang terdengar jumawa di telinga. Lalu, bagai tersengat lebah dokter-dokter lain dalam ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang teronggok bagai daging tanpa harga di bed UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai menyadari, ada sekuntum bunga elok di balik semak berduri, yang wajib dikerumuni. Bagai para penambang emas yang tiba-tiba menemukan sebongkah emas dalam tambang. Well, daging sapi yang masih berdarah-darah aja di supermarket masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA. Dan manusia bernama Wulan ini sama sekali tidak ada harga-nya di mata dokter yang 'udah membentak gue.


dr. Abraham, dr. Sanny, dr. Della & perawat Fauziah,
serta dokter yang membentak gue, membelakangi kamera.

Sementara gue masih tersendat di pojokan UGD, berusaha menghimpun kepercayaan yang terserak atas apa yang telah terjadi, mencoba mencari pondasi kekuatan lewat pandangan menghujam lantai. Entah... mungkin para dokter yang tadi asyik nongkrong tidak mempedulikan Wulan, mulai sadar bahwa mereka adalah dokter, yang harus menolong sesama, yang kesulitan dalam fisik yang terluka. Tapi gue 'udah 'nggak peduli kenyataan itu. Kenyataan-nya yang ada sekarang adalah... dokter jaga yang satu itu entah siapa namanya... yang seperti-nya berwenang disitu... dalam kata-kata yang diucapkan dengan jelas... 'nggak peduli sama nasib Wulan, sebagai sesama MANUSIA.

Dan episode selanjutnya, adalah ketika luka di kepala Wulan yang sudah mencapai tahap pembengkakan hampir sebesar bola tenis, akhirnya dijahit.


gambar ini gue ambil disela proses penjahitan yang belum selesai,
ketika ada dokter yang menyingkir sebentar dan akhirnya menyelesaikan jahitan.
Luka pertama ini cukup besar dibanding luka kedua di belakang telinga kanan.

Dan gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati... apakah harus melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD dilakukan? Apakah harus ada pembuktian jumawa seorang dokter di balik jubah putih-nya, dengan kata-kata yang dikeluarkan? Apa yang hendak dibuktikan dari semua ucapan dokter itu? Dan berapa banyak sudah pasien yang mungkin mati infeksi karena telat ditangani dokter yang belum mengumbar jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan kami?

Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi 'nggak perlu campur tangan kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan. Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.



Gue bukan hendak sok pahlawan atau sok tahu dengan semua teori kedokteran bahwa ini dan itu, yang jelas dalam pikiran gue sebagai MANUSIA, ketika ada seseorang terlihat terluka di depan elo, entah elo dokter atau bukan, entah manusia itu hampir mati atau hanya merintih, entah manusia itu musuh atau sahabat kita, harus segera diambil tindakan untuk mencegah supaya manusia itu tidak tambah menderita. Itu aja. Gak perlu teori harus CT Scan-lah, rontgen-lah, MRI-lah...

Sedangkan kucing aja disayang-sayang & ditangisi kalau luka dikit... manusia bernama Wulan ini, hanya teronggok di UGD sementara kepala bocor-nya mulai membengkak dan terus mengeluarkan darah dan cairan yang entah apa lagi...

Untuk sesaat memejam mata, gue berharap ini semua cuma mimpi. Perlahan gue keluar ruang UGD dan agak terduduk bersandar di pagar taman. Masih seperti mimpi, gue mulai tersadar ketika bed Wulan didorong
melewati gue, oleh suster dan satpam *mungkin untuk memastikan kita 'gak kabur kali... gapapa deh yang penting langsung ada tindakan*  dan menuju... Ruang Radiologi. Yes.... thanks God... batin gue sambil mengusap muka.




+/- 01.15
Begitu keluarga datang, gue langsung menuju tempat parkir dan segera pulang untuk melupakan episode mimpi ini. Menurut kerabat yang gue telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan sampai sekarang (02.00), kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik untuk Wulan...

==========






.... sekali lagi, tulisan ini murni curhat, uneg-uneg.
.... kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, namun demikian bila ada reply, mohon untuk tidak bernada membela dokter yang sudah membentak gue di depan Wulan. Karena itu sangat menyakitkan dan belum bisa gue lupakan, apapun alasan-nya,...
.... semata hanya agar tidak terulang kembali episode ini, maka gue tulis di sini.
.... semoga dari tulisan ini kita bisa memetik hikmah pentingnya kesehatan & keselamatan dalam perjalanan, dimanapun berada.
.... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi sebagai dokter dan membaca, tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
.... gue yakin, masih banyak rekan-rekan dokter di luar sana yang baik dan berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan. Paling tidak, untuk semua dokter dan tenaga paramedis lain yang telah gue sebut nama-nya dan gue pajang foto-nya di jurnal ini, gue mengucapkan terima kasih atas penanganan awal yang akhirnya diusahakan cepat kepada saudari Wulan, walaupun harus melalui episode yang kacau ini. Semoga amal ibadah anda semua dibalas berlipat ganda oleh Yang Maha Kuasa. Trims...

=======================
*Detil jam pada catatan ini disesuaikan dengan log pada hp ketika ada percakapan & pemotretan.
Berdasarkan catatan ini dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan medis setelah kira-kira 30 menit dibiarkan. Tidak lama memang, tapi siapa yang bisa memperkirakan dampak-nya?
Mohon maaf bila salah.

*Berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh banyak rekan, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau srisariningdiyah@yahoo.com, tanpa melibatkan pihak lain terutama pasien. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya ada pada gue pribadi.
Terima kasih.

*Lanjutan
kasus ini adalah undangan sidang dari IDI, 4 Januari 2008, yang hasil sidang-nya sama sekali tidak dapat ditepati oleh IDI sendiri, laporannya dapat dilihat disini:
http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/429

.
.
.
see..anda tidak bersedia kan melihat sisi penderitaan seorang dokter? yah wajarlah...banyak yang seperti ini...wajar..ingatlah selalu ada 2 sisi dalam cerita..sisi anda..ya anda katakan mewakili penderitaan pasien..ya maka saya sisi lainnya...penderitaan dokter..

saya..tidak pernah menganggap profesi dokter mulia, karena saya takut melecehkan terhadap profesi lain, karena berarti banyak profesi yang tidak mulia? isinyur, sarjana ekonomi, pelukis, penyanyi juga sama mulianya dengan dokter..kan profesi itu juga bisa untuk memperbaiki kualitas hidup orang banyak??? ga usah jauh2..dari segi pangkat PNS juga ga keliatan mulianya...dari sarjana yang lain...

mulia mungkin bagi orang2 yang ingin selaluy disubsidi oleh dokter,

dokter adalah orang biasa, sama seperti orang lainya, punya hari baik..punya hari jelek, kadang beruntung kadang sial..tidak ada bedanya ..pengkultusan secara sepihak ini..malah terkesan memaksa..kalo satu pihak tidak ingin dikultuskan..kenapa pihak yang lain memaksa??

Kalau lagi capek dan mungkin dalam kesusahan siapa sih yang tidak akan emosi?? pak kiai juga bisa emosi..manusiawi sekali..mempersoalkan ini berarti mengingkari,,kenyataan dokter manusia..bahwa ada profesi didunai ini yang bukan untuk manusia..^_^....wah...

mungkin anda juga dulu pernah (duluuu sekali loh ^_^) berbuat salah dan tidak sengaja menyakiti hati orang, anda tidak sadar telah berbuat salah, kalau pihak yang disakiti hatinya oleh anda bercerita kepada saya..pasti saya akan bilang, wajar manusia berbuat kesalahan..janganlah cepat menilai seseorang...tetapi saya tahu anda berbuat salah ini kemungkinannya keciiiiil sekaliiiii...(hanya berandai-andai saja...)

di indonesia timur sana, banyak orang yang butuh profesi lain selain dokter..berkunjunglah..anda akan lihat dokter hanya sebagian kecil dari tenaga profesional lain yang mereka butuhkan..jadi apa salahnya kalau semua profesi di PTT kan??? ayo kita semua ramai2 kesana...^_^
sedih rasanya kalau profesi yang lain karena "tidak mulia" maka tidak wajib membantu masyarakat disana...see? tidak masuk akal kan ada profesi mulia?..btw tentara dan polisi yang pegang senjata juga berkaitan dengan nyawa manusia...koki yang buat makanan juga (takut keracunan krn salah makan)..polisi lalulintas..pilot..wah banyak banget yang berurusan dengan nyawa manusia...saya menganggap mereka sama mulianya..intinya..asal halal..pasti profesi mulia lah...

saya memperlihatkan sisi lain kedokteran, agar masyarakat mengerti...yang anda minta pertolongan itu, juga manusia, bisa sedih senang susah dan sakit seperti anda...sangat tidak sempurna..oleh sebab itu jangan cepat menilai..kecuali anda dinilai dengan cara penilaian yang sama..disaat anda dalam ketidaksempurnaan...

^_^ saya suka forum ini
relaxa871 wrote on Jan 9, '09
well... memaki... sial...

siapa yang memaki, siapa yang sial?

let's say...
kalau tidak mau dimaki orang, jangan memaki orang terlebih dahulu, bukan?
saya rasa disini berlaku hukum sebab akibat...
kalau anda berlaku jujur, apapun jalan berliku yang ditempuh, kebaikan yang akan anda tuai...
kalau anda angkap ini forum caci maki, sebaiknya jangan memaki lebih dahulu...
disini saya hanya menulis apapun yang terjadi sebenar2-nya, dari kacamata para keluarga pasien, yang selama ini tak berdaya di tangan para dokter, tidak perlu anda memutarbalikkan fakta dan cerita yang hanya menimbulkan pandangan tambah melecehkan profesi yang sekarang ini dipuja masyarakat banyak...

sadarkah anda kenapa dokter perlu PTT?
karena begitu banyak rakyat Indonesia membutuhkan dokter...
karena begitu banyak rakyat Indonesia memuja profesi yang sangat penting ini, karena berkaitan dengan nyawa manusia...

kalau sebegitu mulia profesi anda dan teman2 anda?
mengapa harus tercemar dengan mengucap BUKAN URUSAN SAYA pada orang2 yang tidak berhak menerima kata2 tersebut?

salam,
see..anda tidak bersedia kan melihat sisi penderitaan seorang dokter? yah wajarlah...banyak yang seperti ini...wajar..ingatlah selalu ada 2 sisi dalam cerita..sisi anda..ya anda katakan mewakili penderitaan pasien..ya maka saya sisi lainnya...penderitaan dokter..

saya..tidak pernah menganggap profesi dokter mulia, karena saya takut melecehkan terhadap profesi lain, karena berarti banyak profesi yang tidak mulia? isinyur, sarjana ekonomi, pelukis, penyanyi juga sama mulianya dengan dokter..kan profesi itu juga bisa untuk memperbaiki kualitas hidup orang banyak??? ga usah jauh2..dari segi pangkat PNS juga ga keliatan mulianya...dari sarjana yang lain...

mulia mungkin bagi orang2 yang ingin selaluy disubsidi oleh dokter,

dokter adalah orang biasa, sama seperti orang lainya, punya hari baik..punya hari jelek, kadang beruntung kadang sial..tidak ada bedanya ..pengkultusan secara sepihak ini..malah terkesan memaksa..kalo satu pihak tidak ingin dikultuskan..kenapa pihak yang lain memaksa??

Kalau lagi capek dan mungkin dalam kesusahan siapa sih yang tidak akan emosi?? pak kiai juga bisa emosi..manusiawi sekali..mempersoalkan ini berarti mengingkari,,kenyataan dokter manusia..bahwa ada profesi didunai ini yang bukan untuk manusia..^_^....wah...

mungkin anda juga dulu pernah (duluuu sekali loh ^_^) berbuat salah dan tidak sengaja menyakiti hati orang, anda tidak sadar telah berbuat salah, kalau pihak yang disakiti hatinya oleh anda bercerita kepada saya..pasti saya akan bilang, wajar manusia berbuat kesalahan..janganlah cepat menilai seseorang...tetapi saya tahu anda berbuat salah ini kemungkinannya keciiiiil sekaliiiii...(hanya berandai-andai saja...)

di indonesia timur sana, banyak orang yang butuh profesi lain selain dokter..berkunjunglah..anda akan lihat dokter hanya sebagian kecil dari tenaga profesional lain yang mereka butuhkan..jadi apa salahnya kalau semua profesi di PTT kan??? ayo kita semua ramai2 kesana...^_^
sedih rasanya kalau profesi yang lain karena "tidak mulia" maka tidak wajib membantu masyarakat disana...see? tidak masuk akal kan ada profesi mulia?..btw tentara dan polisi yang pegang senjata juga berkaitan dengan nyawa manusia...koki yang buat makanan juga (takut keracunan krn salah makan)..polisi lalulintas..pilot..wah banyak banget yang berurusan dengan nyawa manusia...saya menganggap mereka sama mulianya..intinya..asal halal..pasti profesi mulia lah...

saya memperlihatkan sisi lain kedokteran, agar masyarakat mengerti...yang anda minta pertolongan itu, juga manusia, bisa sedih senang susah dan sakit seperti anda...sangat tidak sempurna..oleh sebab itu jangan cepat menilai..kecuali anda dinilai dengan cara penilaian yang sama..disaat anda dalam ketidaksempurnaan...

^_^ saya suka forum ini
relaxa871 wrote on Jan 9, '09

22.28
Bulan sedang menuju tepat ke jantung malam...
sayup suara orang berbincang di jalan terdengar riang dalam gelut malam minggu
untuk beberapa puluh menit mata terfokus ke arah monitor setelah melirik jam
dan peluh mulai mengharuskan badan dibersihkan untuk memulai ritual istirahat
baru saja resluiting terperancah dan jaket di kebas untuk digantung
ketika diluar sana terdengar kegaduhan, sekitar 15 meter dari pusat syaraf
bunyi roda motor berdecit dengan rem, beradu dengan aspal...
seketika dalam sepersekian detik otak langsung mengirim sinyal ramalan
bahwa yang terjadi selanjutnya adalah seperti biasa, tumbukan besar...
entah antara motor dengan aspal, motor dengan tiang listrik, atau...
kemungkinan terburuk adalah daging dengan sesuatu...

dan ketika suara tumbukan terakhir dengan
efek suara dramatis,
berhasil menghentikan untuk sesaat seluruh jalan darah,
menyedot semua kesadaran reflek untuk bergerak,
akhirnya datang juga imajinasi itu...
gambaran terburuk di luar sana
...

Tolong jangan sampai sesuatu terburuk yang terjadi,
hanya itu pinta dalam batin, sambil bergegas kembali menyambar jaket,
dan kotak P3K.

=====================================

Tulisan ini ditulis sebelum tulisan ini, dan akhirnya gue posting untuk everyone, setelah menimbang-nimbang baik dan buruk resiko-nya. Mudah-mudahan resiko negatif lebih kecil daripada resiko positif-nya. Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan kita, terutama bagaimana menghadapi peristiwa serupa kelak.

Emang paling enak 'tuh 'numpahin uneg-uneg di blog, daripada media massa. Dan uneg-uneg ini 'udah terpendam ratusan tahun eh maksud gue... pokoknya 'udah terpendam sejak lama, jaman gue masih bocah cilik gitu 'lah. Yang gue maksud dengan uneg-uneg disini adalah kekesalan gue terhadap sikap dokter yang tindakan-nya tidak mencerminkan profesi yang dipilih mereka sendiri. Sorry... tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mendiskreditkan profesi tertentu, atau untuk tujuan mencemarkan nama baik, atau untuk tujuan cari popularitas *kalo dokter yang gue maksud baca blog gue ini yah*, atau untuk menebar kebencian terhadap profesi tertentu. Enggak.


Tulisan ini semata murni UNEG-UNEG.
Kalau ada yang sampai protes terhadap tulisan curhat gue ini, mohon disampaikan melalui jalur pribadi, dan mohon maaf juga nih, gue pasti baca tapi 'gak janji akan gue layani.

=====================================

Setelah dulu waktu kecil pernah mengalami tindakan dari dokter yang menyebabkan surutnya kepercayaan gue terhadap profesi satu ini, beberapa kali situasi yang sama terjadi dan terlewatkan begitu aja dalam hidup gue, termasuk kejadian yang menurut gue termasuk malpraktek yang dilakukan dokter RS ***tuuuttt**** terhadap rekan gue satu rumah yang mengalami luka bakar hebat sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi. Berhubung aja temen gue orang-nya pasrah-an dan mohon2 ke gue untuk 'gak cari gara-gara sama dokter-nya, maka gue 'gak tulis deh kisah-nya di sini.

Dan episode terakhir berhubungan dengan dokter yang bikin gue naik darah ini terjadi malam ini, Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan di depan rumah yang mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan sempat 'gak sadar beberapa saat setelah kejadian.

+/- 22.50
Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati pengendara-nya, atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat gue sedikit hapal dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara yang ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue 'gak yakin sendiri apakah kotak P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke jalanan depan rumah akan berguna.

Wulan masih tergeletak di tepi jalan ketika orang-orang mulai mengerumuni. Gue segera minta tolong ke orang-orang yang ada entah itu siapa, untuk segera 'mindahin Wulan ke dalam rumah, paling enggak membaringkan di sofa ruang tamu akan membuat dia sedikit lebih nyaman. Walaupun gue sendiri khawatir karena Wulan 'nggak merespon cubitan di tangan dan tepukan di pipi, akhirnya gue sedikit lega waktu akhirnya beberapa menit kemudian Wulan mulai membuka mata. Waktu ditanya bagaimana rasanya, Wulan diam aja 'gak ada reaksi, hanya bola mata yang berputar dan juga kepala terkulai.

Heran dengan cukup banyak noda darah di lengan baju, akhirnya gue dan rekan mulai memeriksa sekujur tubuh Wulan yang 'gak ada luka sama sekali kecuali lecet bekas kena aspal yang mengeluarkan darah di kaki. Segera gue semprot spray anti infeksi itu luka, dan cukup lega mendengar Wulan merintih "sakiiiiiittttt", waktu luka-nya disemprot. Tapi tetap aja kami heran dari mana noda-noda darah di lengan itu...

Setelah sibuk meneliti dan memastikan 'gak ada masalah dengan patah tulang, akhirnya kami memberanikan diri untuk membalikkan badan Wulan, dan dari situ baru kami menyadari... luka di kepala Wulan cukup besar. Dan genangan darah beku di rambut panjang-nya mendukung perkiraan kami. Gunting rambut dan handuk basah segera melakukan tugasnya, rambut panjang-nya sangat lebat. Namun kejadian selanjutnya sungguh membuat kami takut... Wulan mulai muntah-muntah dengan hebat-nya...

+/- 23.20
Berbekal seadanya tanpa persiapan memadai kami langsung menuju rumah sakit yang terletak sekitar 400 meter dari rumah. Dan Wulan masih muntah-muntah di dalam mobil. Sampai di UGD RS Graha Permata Ibu yang letaknya di perempatan jalan, perawat jaga yang ditemui menyatakan tidak sanggup menangani, membuat kami harus bergegas menuju RS berikutnya di daerah menuju Depok Timur. RS Hermina yang cukup besar sempat menerima Wulan di dalam UGD, dan dokter jaga di dalamnya menyarankan untuk segera dilakukan CT Scan, melihat luka yang besar di kepala dan tonjolan hitam di mata Wulan. Kami oke saja mengangguk menyetujui. Dan ternyata... di RS inipun alat CT Scan tidak ada... *sigh*... Terpaksa Wulan kami pindah lagi dari bed ke dalam mobil untuk mencari rumah sakit yang cukup besar dan mempunyai alat CT Scan.

+/- 00.00
RS Sentra Medika,Jl. Raya Bogor Km. 33, Cisalak, Depok.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Lho... menurut gue aneh pertanyaan-nya sih, tapi... ya sudahlah berhubung lagi panik dan khawatir keadaan Wulan, kami langsung menjawab ulang, "langsung CT Scan aja dok". Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... akhirnya menurut gue ya cukup wajar, ketika gue menyampaikan kehendak keluarga ke pihak rumah sakit. Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja.

Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD - Radiologi, mengisi formulir, dan 'agak mengganggu perawat di ruang Radiologi yang entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan biaya CT Scan... Rp. 600.000,-

Gue agak berperang dalam batin ketika menerima tagihan itu, antara menyesal 'nggak well prepared pergi ke rumah sakit *ya begimana lagi namanya juga buru-buru yah... masih bisa bawa mobil menuju rumah sakit dan sampai dengan selamat aja 'udah untung alhamdulillah*, dan membayangkan kalau 'nggak cepet dilakukan CT Scan 'emang seberapa parah sih, keadaan Wulan?

Akhirnya gue berinisiatip langsung tanya lagi ke dokter jaga di UGD:
"dokter, pasien apa harus segera di CT Scan sekarang atau 'nunggu keluarga dahulu?"
Dokter menjawab, "sebaik-nya segera" ...
Gue bilang lagi, "kalau gitu bisa 'ngga dokter, kalau pembayaran dilakukan sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, karena uang sedang dibawa keluarga dalam perjalanan?"...
"Wah itu terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya melaksanakan CT Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang menentukan ada di bagian radiologi langsung",
kata dokter itu lagi sambil 'nulis2 sesuatu di meja tanpa melihat ke gue.
"Oh, oke dokter, saya ke sana lagi", gue bilang sambil melirik ke Wulan yang 'teronggok' di bed dan agak bingung... *kog belum diapa-apain dokter yah*... sementara itu gue lihat ada beberapa dokter dan perawat yang sedang santai-santai sms dan 'ngobrol dalam ruang UGD ini, yang pasien-nya hanya Wulan seorang.

Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue 'nggak cepet ke bagian Radiologi lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah dan tanya suster di Radiologi:
"mbak, mmm... kalau pembayaran-nya nanti setelah keluarga dateng atau sebagian dulu bisa 'nggak? Jadi pasien di CT Scan dulu sekarang..."

"Wah kalau itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan aja disini...", kata suster bikin jantung gue mak nyossssss... dan langsung menyadari cepat... gila ada apa ini kog gue dilempar-lempar begini. Dengan wajah agak memelas dan mohon supaya suster mengerti akhirnya gue bilang:
"mbak, mmm tadi saya baru dari UGD dan dokter di sana minta supaya saya ke sini minta persetujuan mbak, apa mbak bisa konfirmasi telepon ke UGD aja daripada saya bolak-balik lagi?"
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon bagian UGD, dan kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang begitu, bahwa gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan.
"Walaupun saya bayar sebagian dahulu apa 'gak bisa juga mbak?"
, tanya gue lagi.
"Wah kalau itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir...", yang mana ketika gue ke sana juga dibilang gue harus minta persetujuan dokter jaga dahulu.

Weks...
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan... loh kog belum diapa-apain juga nih Wulan, masih teronggok aja di bed?*:
"Dokter, saya benar-benar bingung... sebaiknya Wulan harus cepat di CT Scan atau tidak, saya dan keluarga berharap cepat ada tindakan, tapi terus terang uang yang ada belum cukup. Saat ini keluarga sedang menuju kemari bawa uang. Bagaimana dokter?"
"Ya kami hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu...", kata dokter itu lagi.
"Saya mengerti dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak untuk Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau membayar sebagian dahulu, tapi tetap katanya harus persetujuan dokter. Saya sendiri khawatir tadi dia muntah-muntah begitu hebat", dengan nada agak mulai naik dikiiitttt... *gimana 'gak naik suara dikit, dilempar kesana kemari kayak pingpong gitu... tengah malem pulak*
Dan dokter itu mulai membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN SEJAWAT-nya:
"Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu mengerti !!!??!!!"


Kesadaran langsung terhempas.
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
"Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, tapi saya lihat terhadap pasien ini masih belum diambil tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?",
dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang hampir tumpah. Dan gue berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi:
"Maksud saya, apakah dokter tega, kalau misalnya
nanti pasien ini mati tanpa penanganan di sini?",
suara gue makin lirih...

"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"

Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas gue ke pojokan yang betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue sulit bernafas, mencoba mencerna dengan kerongkongan tercekat dan pandangan nanar ke arah dokter itu. Mencoba meraba untuk mengenali jenis spesies apa yang bersembunyi di balik jubah putih itu. Tumpahan emosi semua orang yang bercampur-aduk di ruangan itu sangat terasa aroma-nya dalam diam. Kenyataan memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu mencoba menerima kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun, untuk percaya bahwa profesi dokter, yang selama ini dipuja-puji, adalah penolong sesama MANUSIA, hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu masih ada kog, tapi lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk menghapus noda-noda yang melekat dalam kenangan itu.

+/- 00.40
Detik-detik selanjutnya adalah episode drama ketika:
"Bukan... urusan... dokter...", gue mengucap lirih terbata dalam perih yang tersendat pahit menguar, mengulang kata-kata dokter yang terdengar jumawa di telinga. Lalu, bagai tersengat lebah dokter-dokter lain dalam ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang teronggok bagai daging tanpa harga di bed UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai menyadari, ada sekuntum bunga elok di balik semak berduri, yang wajib dikerumuni. Bagai para penambang emas yang tiba-tiba menemukan sebongkah emas dalam tambang. Well, daging sapi yang masih berdarah-darah aja di supermarket masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA. Dan manusia bernama Wulan ini sama sekali tidak ada harga-nya di mata dokter yang 'udah membentak gue.


dr. Abraham, dr. Sanny, dr. Della & perawat Fauziah,
serta dokter yang membentak gue, membelakangi kamera.

Sementara gue masih tersendat di pojokan UGD, berusaha menghimpun kepercayaan yang terserak atas apa yang telah terjadi, mencoba mencari pondasi kekuatan lewat pandangan menghujam lantai. Entah... mungkin para dokter yang tadi asyik nongkrong tidak mempedulikan Wulan, mulai sadar bahwa mereka adalah dokter, yang harus menolong sesama, yang kesulitan dalam fisik yang terluka. Tapi gue 'udah 'nggak peduli kenyataan itu. Kenyataan-nya yang ada sekarang adalah... dokter jaga yang satu itu entah siapa namanya... yang seperti-nya berwenang disitu... dalam kata-kata yang diucapkan dengan jelas... 'nggak peduli sama nasib Wulan, sebagai sesama MANUSIA.

Dan episode selanjutnya, adalah ketika luka di kepala Wulan yang sudah mencapai tahap pembengkakan hampir sebesar bola tenis, akhirnya dijahit.


gambar ini gue ambil disela proses penjahitan yang belum selesai,
ketika ada dokter yang menyingkir sebentar dan akhirnya menyelesaikan jahitan.
Luka pertama ini cukup besar dibanding luka kedua di belakang telinga kanan.

Dan gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati... apakah harus melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD dilakukan? Apakah harus ada pembuktian jumawa seorang dokter di balik jubah putih-nya, dengan kata-kata yang dikeluarkan? Apa yang hendak dibuktikan dari semua ucapan dokter itu? Dan berapa banyak sudah pasien yang mungkin mati infeksi karena telat ditangani dokter yang belum mengumbar jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan kami?

Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi 'nggak perlu campur tangan kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan. Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.



Gue bukan hendak sok pahlawan atau sok tahu dengan semua teori kedokteran bahwa ini dan itu, yang jelas dalam pikiran gue sebagai MANUSIA, ketika ada seseorang terlihat terluka di depan elo, entah elo dokter atau bukan, entah manusia itu hampir mati atau hanya merintih, entah manusia itu musuh atau sahabat kita, harus segera diambil tindakan untuk mencegah supaya manusia itu tidak tambah menderita. Itu aja. Gak perlu teori harus CT Scan-lah, rontgen-lah, MRI-lah...

Sedangkan kucing aja disayang-sayang & ditangisi kalau luka dikit... manusia bernama Wulan ini, hanya teronggok di UGD sementara kepala bocor-nya mulai membengkak dan terus mengeluarkan darah dan cairan yang entah apa lagi...

Untuk sesaat memejam mata, gue berharap ini semua cuma mimpi. Perlahan gue keluar ruang UGD dan agak terduduk bersandar di pagar taman. Masih seperti mimpi, gue mulai tersadar ketika bed Wulan didorong
melewati gue, oleh suster dan satpam *mungkin untuk memastikan kita 'gak kabur kali... gapapa deh yang penting langsung ada tindakan*  dan menuju... Ruang Radiologi. Yes.... thanks God... batin gue sambil mengusap muka.




+/- 01.15
Begitu keluarga datang, gue langsung menuju tempat parkir dan segera pulang untuk melupakan episode mimpi ini. Menurut kerabat yang gue telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan sampai sekarang (02.00), kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik untuk Wulan...

==========






.... sekali lagi, tulisan ini murni curhat, uneg-uneg.
.... kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, namun demikian bila ada reply, mohon untuk tidak bernada membela dokter yang sudah membentak gue di depan Wulan. Karena itu sangat menyakitkan dan belum bisa gue lupakan, apapun alasan-nya,...
.... semata hanya agar tidak terulang kembali episode ini, maka gue tulis di sini.
.... semoga dari tulisan ini kita bisa memetik hikmah pentingnya kesehatan & keselamatan dalam perjalanan, dimanapun berada.
.... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi sebagai dokter dan membaca, tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
.... gue yakin, masih banyak rekan-rekan dokter di luar sana yang baik dan berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan. Paling tidak, untuk semua dokter dan tenaga paramedis lain yang telah gue sebut nama-nya dan gue pajang foto-nya di jurnal ini, gue mengucapkan terima kasih atas penanganan awal yang akhirnya diusahakan cepat kepada saudari Wulan, walaupun harus melalui episode yang kacau ini. Semoga amal ibadah anda semua dibalas berlipat ganda oleh Yang Maha Kuasa. Trims...

=======================
*Detil jam pada catatan ini disesuaikan dengan log pada hp ketika ada percakapan & pemotretan.
Berdasarkan catatan ini dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan medis setelah kira-kira 30 menit dibiarkan. Tidak lama memang, tapi siapa yang bisa memperkirakan dampak-nya?
Mohon maaf bila salah.

*Berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh banyak rekan, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau srisariningdiyah@yahoo.com, tanpa melibatkan pihak lain terutama pasien. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya ada pada gue pribadi.
Terima kasih.

*Lanjutan
kasus ini adalah undangan sidang dari IDI, 4 Januari 2008, yang hasil sidang-nya sama sekali tidak dapat ditepati oleh IDI sendiri, laporannya dapat dilihat disini:
http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/429

.
.
.
see..anda tidak bersedia kan melihat sisi penderitaan seorang dokter? yah wajarlah...banyak yang seperti ini...wajar..ingatlah selalu ada 2 sisi dalam cerita..sisi anda..ya anda katakan mewakili penderitaan pasien..ya maka saya sisi lainnya...penderitaan dokter..

saya..tidak pernah menganggap profesi dokter mulia, karena saya takut melecehkan terhadap profesi lain, karena berarti banyak profesi yang tidak mulia? isinyur, sarjana ekonomi, pelukis, penyanyi juga sama mulianya dengan dokter..kan profesi itu juga bisa untuk memperbaiki kualitas hidup orang banyak??? ga usah jauh2..dari segi pangkat PNS juga ga keliatan mulianya...dari sarjana yang lain...

mulia mungkin bagi orang2 yang ingin selaluy disubsidi oleh dokter,

dokter adalah orang biasa, sama seperti orang lainya, punya hari baik..punya hari jelek, kadang beruntung kadang sial..tidak ada bedanya ..pengkultusan secara sepihak ini..malah terkesan memaksa..kalo satu pihak tidak ingin dikultuskan..kenapa pihak yang lain memaksa??

Kalau lagi capek dan mungkin dalam kesusahan siapa sih yang tidak akan emosi?? pak kiai juga bisa emosi..manusiawi sekali..mempersoalkan ini berarti mengingkari,,kenyataan dokter manusia..bahwa ada profesi didunai ini yang bukan untuk manusia..^_^....wah...

mungkin anda juga dulu pernah (duluuu sekali loh ^_^) berbuat salah dan tidak sengaja menyakiti hati orang, anda tidak sadar telah berbuat salah, kalau pihak yang disakiti hatinya oleh anda bercerita kepada saya..pasti saya akan bilang, wajar manusia berbuat kesalahan..janganlah cepat menilai seseorang...tetapi saya tahu anda berbuat salah ini kemungkinannya keciiiiil sekaliiiii...(hanya berandai-andai saja...)

di indonesia timur sana, banyak orang yang butuh profesi lain selain dokter..berkunjunglah..anda akan lihat dokter hanya sebagian kecil dari tenaga profesional lain yang mereka butuhkan..jadi apa salahnya kalau semua profesi di PTT kan??? ayo kita semua ramai2 kesana...^_^
sedih rasanya kalau profesi yang lain karena "tidak mulia" maka tidak wajib membantu masyarakat disana...see? tidak masuk akal kan ada profesi mulia?..btw tentara dan polisi yang pegang senjata juga berkaitan dengan nyawa manusia...koki yang buat makanan juga (takut keracunan krn salah makan)..polisi lalulintas..pilot..wah banyak banget yang berurusan dengan nyawa manusia...saya menganggap mereka sama mulianya..intinya..asal halal..pasti profesi mulia lah...

saya memperlihatkan sisi lain kedokteran, agar masyarakat mengerti...yang anda minta pertolongan itu, juga manusia, bisa sedih senang susah dan sakit seperti anda...sangat tidak sempurna..oleh sebab itu jangan cepat menilai..kecuali anda dinilai dengan cara penilaian yang sama..disaat anda dalam ketidaksempurnaan...

^_^ saya suka forum ini
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '09
see..anda tidak bersedia kan melihat sisi penderitaan seorang dokter?
bukan itu intinya cerita saya di jurnal website saya sendiri...
bila saya bercerita dari satu sisi, itu untuk membuka mata para dokter lain agar tidak melakukan hal atau kesalahan yang sama, begitu juga dengan para pasien / keluarga pasien, agar tidak melakukan kesalahan yang saya perbuat di kasus ini, yaitu tidak membawa uang cukup, hanya 300ribu yang diperlukan sejumlah 600ribu.

By the way, soal saya pernah melakukan kesalahan apapun itu, besar kecil, di masa lalu, sudah pasti saya sadari sebagai manusia biasa, dan itu saya rasa bukan alasan untuk dokter Ardi (rekan anda?) untuk melakukan hal2 yang tidak semestinya beliau lakukan di ruang UGD tersebut. Soal maaf yang saya tuntut, itu saya minta dari dokter tsb untuk disampaikan kepada pasien, bukan saya. Well, saya mengerti, anda tidak ada di ruang itu saat itu, jadi tentu saja tidak ada sesuatu yang bisa anda menerti.

Dan sepertinya memang wajar bila anda sebagai -dokter?- selalu menunjukkan betapa sengsaranya para dokter di luar sana, sementara saya menulis sesuatu yang 'menyudutkan' salah satu profesi di sini, well bagaimanapun disini saya hanya berbagi informasi pengalaman yang benar2 pernah terjadi, walaupun anda sebagai dokter mungkin tidak mengerti situasi teror yang pernah kami alami, bahkan pemanggilan sidang oleh IDI yang tidak seimbang.

Jika begitu, silakan terus merasa merana dengan profesi anda, mudah2an kami terus bisa tetap semangat menjalani hidup dengan positif. Mudah2an banyak pihak terkait yang membaca dan memberi perhatian kepada anda dan tulisan anda, serta memberi respon positif kepada kelangsungan hidup profesi anda. Saya mendukung penuh... :)


salam,
srisariningdiyah wrote on Jan 10, '09
^_^ saya suka forum ini
bila diucapkan satu kali, saya maklum...
dan saya merasa berguna sudah memberi kesenangan bagi orang lain, terima kasih...
bila berkali2 diucapkan, sepertinya anda menikmati...
menikmati kesenangan diatas penderitaan orang2 lain?
selain pasien, dokter yang ditulis di forum ini, rekan sejawat anda, tentunya juga menderita...
atau tidak?
.
.
relaxa871 wrote on Jan 10, '09
ahh..saya tahu dia pasti menderita, anda pikir orang IDI akan tersenyum kepadanya dan mengucapkan selamat?? dan saya tahu sedikit banyak hal ini akan mempenagruhi perjalan karirnya...

cuma anda yang begitu senang dengan "kepahlawannan anda"..^_^...tidak ada pengaruhnya bagi anda (kecuali dianggap pahlawan..^_^)..hebat yah..anda tenar jadi pahlawan cuman menolong satu orang, walah kalau semua koasss (ga usah dokterlah) menuliskan pengalaman mereka dan penderitaan dalam menolong pasien ..akan terasa lucunya bagi anda membaca cerita ini..., sedikit dibentak anda meradang..kami sudah biasa dapat seperti itu dari pasien..tapi kami kan bukan manusia yang punya perasaan..beda dengan anda sang malaikat... ini cuma kasus yang sederhana dengan cara penceritaan yang dramatis...kalau anda ingin menolongh mereka yang benar2 butuh..pergi keindonesia timur sana..banyak rekan2 anda para dokter wanita yang jauh lebih muda dari anda sudah melakukannya samapai masuk hutan papua..yang jelas pengorbanannya 100x lipat dari dongeng malaikat anda, ga ada tuh sampai segitu hebohnya di internet..oya mungkin karena dihutan papua tidak ada internet? LISTRIK? AIR BERSIH? apalagi jalan mulus..grow up miss...

seharusnya anda kemukakan secara pribadi kepada yang bersangkutan keberatan anda, ini cara yang sangat intelek dan dewasa..tentunya disaat yang tepat (saat dia tidak dinas)..maka anda akan menemukan pribadi yang lain dari dokter tadi..see? ga akan serepot ini jadinya...anda merasa disakiti..LALU ANDA BALAS menyakiti (kalau anda beralasan ingin menyampaikan fakta..lakukan secara objektif..anda sendiri menyadari memberi bumbu dalam cerita ini..sangat memancing emosi..sangat tidak adil..karena hanya dari 1 sisi)..very simple..very childish...

Pada kenyataanya..dokter tadi sudah menolong lebih banyak orang dari anda..tapi sayangnya dia tidak mau repot2 menyewa anak sastra buat menuliskan cerita "heroiknya" di internet..agar dipuja banyak orang...

yang lebih banyak menolong siapa..yang merasa mewakili kaum tertindas siapa..ga jelas..banyak yang "merasa" didunia ini..

^_^ saya suka forum ini
relaxa871 wrote on Jan 10, '09
Btw..sebenarnya kalo mau menuntut..baca lah SOP (yang anda bilang bla bla bla..) itu kuncinya, kalo anda yakin dokter tidak melakukan SOP..tuntutlah dia..kepengadilan..disana dibuktikan..IDI juga membela ga sembarangan..komite IDI pasti sudah melihat SOP dokter tadi..kalau tidak..tidak akan dibela..apakah pada pasien ini telah terjadi kesalahan SOP..masalahnya..anda mau membuktikan secara keilmuan bahwa benar telah terjadi pelanggaran SOP? ..very simple kan? kalau anda benar..ya selamat berarti malpraktek telah terjadi..kalau anda salah, ya tunggulah tuntutan balik dari dia...very simple juga kan?

cara yang intelek dan dewasa..ga perlu ngarang cerita drama sinetron ini...dan cara yang objektif..

^_^ saya suka forum ini
srisariningdiyah wrote on Jan 11, '09
Btw..sebenarnya kalo mau menuntut..baca lah SOP (yang anda bilang bla bla bla..) itu kuncinya, kalo anda yakin dokter tidak melakukan SOP..tuntutlah dia..kepengadilan..disana dibuktikan..IDI juga membela ga sembarangan..komite IDI pasti sudah melihat SOP dokter tadi..kalau tidak..tidak akan dibela..apakah pada pasien ini telah terjadi kesalahan SOP..masalahnya..anda mau membuktikan secara keilmuan bahwa benar telah terjadi pelanggaran SOP? ..very simple kan? kalau anda benar..ya selamat berarti malpraktek telah terjadi..kalau anda salah, ya tunggulah tuntutan balik dari dia...very simple juga kan?

cara yang intelek dan dewasa..ga perlu ngarang cerita drama sinetron ini...dan cara yang objektif..

^_^ saya suka forum ini
by the way saya tidak ada niat sedikitpun menuntut siapapun, hanya menulis apa adanya...
boleh anda tanya kepada para petinggi IDI yang menyidang saya, merekalah yang meminta saya untuk tidak meneruskan kasus ini ke pengadilan.

so, siapa yang takut dan khawatir ya?
hehehehhe...

dan maaf, tidak sedikitpun saya berlebihan dalam mengarang cerita yang anda anggap sinetron ini...
tentu orang2 yang ada di ruang UGD tersebut akan sepakat dengan saya, kecuali dokter teman anda tersebut, tentunya....

:)
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
srisariningdiyah wrote on Jan 11, '09
cara yang intelek dan dewasa..ga perlu ngarang cerita drama sinetron ini...dan cara yang objektif..
mungkin anda yang lebih intelek dan dewasa dari saya bisa mencontohkan...
cara yang lebih obyektif seperti apa?
dengan menulis di surat pembaca? oh itu sudah akan dilakukan kalau saja dokter2 IDI kebanggaan anda tidak memohon2 untuk tidak saya lakukan...
dengan menulis surat kepada rumah sakit bersangkutan dan meminta waktu membicarakannya? oh saya yakin anda sudah tahu cara2 teror mereka sudah dilakukan kepada saya... atau anda memang salah satu ahlinya?

:)
srisariningdiyah wrote on Jan 11, '09
seharusnya anda kemukakan secara pribadi kepada yang bersangkutan keberatan anda, ini cara yang sangat intelek dan dewasa..tentunya disaat yang tepat (saat dia tidak dinas)..maka anda akan menemukan pribadi yang lain dari dokter tadi..see?
beliau, dokter teman anda itu, bebas kapan saja membaca tulisan saya, yang ditujukan untuk berbagi pengalaman kepada teman2 saya. Anda tidak punya hak melarang saya menulis apa yang menjadi pikiran saya di dalam blog pribadi saya. Itu namanya pelanggaran kebebasan pribadi. Saya juga merasa berhak menulis pengalaman saya sendiri, saat hak saya pribadi dilanggar oleh dokter teman anda, dimana saya sudah melaksanakan kewajiban saya kepada dokter teman anda itu.

Well...
Saya tidak menyalahkan anda yang emosional membaca tulisan saya ini, hehe... maaf untuk itu.
srisariningdiyah wrote on Jan 11, '09
sedikit dibentak anda meradang..
well, sebenarnya tidak satu kali ini saya dibentak oleh dokter, yang seharusnya tidak punya hak membentak pasien atau keluarganya... hehehe... apa saya harus menjembrengkan pengalaman saya dibentak dokter\ sejak saya masih kecil?

wah... nanti anda tambah marah merasa rekan sejawat anda dicela habis2an, hehehhe maaf lho, niat saya bukan untuk mencela siapapun kalau akhirnya menulis ini semua...
srisariningdiyah wrote on Jan 11, '09
cuma anda yang begitu senang dengan "kepahlawannan anda"..^_^...tidak ada pengaruhnya bagi anda (kecuali dianggap pahlawan..^_^)..hebat yah..anda tenar jadi pahlawan cuman menolong satu orang, walah kalau semua koasss (ga usah dokterlah) menuliskan pengalaman mereka dan penderitaan dalam menolong pasien ..akan terasa lucunya bagi anda membaca cerita ini..., sedikit dibentak anda meradang..kami sudah biasa dapat seperti itu dari pasien..tapi kami kan bukan manusia yang punya perasaan..beda dengan anda sang malaikat... ini cuma kasus yang sederhana dengan cara penceritaan yang dramatis...kalau anda ingin menolongh mereka yang benar2 butuh..pergi keindonesia timur sana..banyak rekan2 anda para dokter wanita yang jauh lebih muda dari anda sudah melakukannya samapai masuk hutan papua..yang jelas pengorbanannya 100x lipat dari dongeng malaikat anda, ga ada tuh sampai segitu hebohnya di internet..oya mungkin karena dihutan papua tidak ada internet? LISTRIK? AIR BERSIH? apalagi jalan mulus..grow up miss...
ah...apa yang membuat anda yakin saya senang dengan semua ini?
sepertinya dari kemarin anda yang mengemukakan bahwa anda senang dengan ini semua?
atau saya salah baca?

by the way, saya tidak berharap tulisan saya dibaca orang dari sabang sampai merauke...
tapi kenyataan-nya, dari sabang sampai merauke saya mendapat email dari para dokter yang mengabdikan hidupnya demi profesi yang mereka pilih dipedalaman ...dan tentunya isi email mereka tidak bernada mengeluh seperti apa yang anda tuliskan sepanjang ini berhari2 di sini...

oh, i see... mungkin anda sendiri kurang puas dengan apa yang anda terima selama bertugas di pedalaman sana? well, sayang sekali, mungkin anda harus tuliskan di media massa yang lebih besar daripada sekedar menulis di forum yang kecil seperti ini... :)
semoga beruntung pak / om / tante / mba / dik...


:)
srisariningdiyah wrote on Jan 11, '09
^_^ saya suka forum ini
saya kasihan terhadap anda yang menyukai hal2 seperti ini...
it was over the past one year, dan anda masih berkutat dengan masalah ini?
kemana saja anda selama ini bu? pak? om? dik?

:)
menhariq wrote on Jan 12, '09
udahlah rii...

ga usah dianggepin user multiply dengan gambar pentol korek api bertanda tanya itu..
cuma berani ngomong tanpa identitas..

jangan2 dia juga makhluk virtual yang gak punya kehidupan di dunia nyata?
relaxa871 wrote on Jan 19, '09
loh kan saya sudah bilang, TEMUI LANGSUNG DOKTERNYA...katakan apa keberatan anda, apa yang kurang menyenangkan hati anda...? bukannya sudah ditulis diatas??...itu aja kok susah...^_^

BTW pengumuman...bulan januari ini kita dunia kedokteran sedang berkabung atas meninggalnya 3 orang rekan kita di timika papua, disaat sedang menjalankan tugas pelayanan masyarakat terpencil, seorang dokter spesialis dan 2 orang dokter umum, perahu yang ditumpanginya terbalik....sebelumnya ditempat saya menjalankan tugas juga telah meninggal seorang senior saya, seorang dokter wanita yang masih sangat muda..ambulannya terbalik dan masuk jurang setelah mengantarkan pasien, memang seharusnya bukan dia yang menyetir ambulan itu (secara ambulan di papua..amat sangat parah kondisinya..apalagi jalannya..) tetapi keterpaksaan demi nyawa pasien, pasien sudah diantar dengan selamat, dalam perjalanan kembali ketempat tugas musibah itu terjadi.....

semoga arwah para pahlawan kemanusiaan diatas..diterima disisiNYA...

^_^ saya suka forum ini
beda yah..pahlawan beneran dengan yang "merasa" apalagi "mengaku2" ga pake berita bombastis...kadang sudah mengantar nyawa juga tidak ada yang tahu....
srisariningdiyah wrote on Jan 19, '09
loh kan saya sudah bilang, TEMUI LANGSUNG DOKTERNYA...katakan apa keberatan anda, apa yang kurang menyenangkan hati anda...? bukannya sudah ditulis diatas??...itu aja kok susah...^_^

BTW pengumuman...bulan januari ini kita dunia kedokteran sedang berkabung atas meninggalnya 3 orang rekan kita di timika papua, disaat sedang menjalankan tugas pelayanan masyarakat terpencil, seorang dokter spesialis dan 2 orang dokter umum, perahu yang ditumpanginya terbalik....sebelumnya ditempat saya menjalankan tugas juga telah meninggal seorang senior saya, seorang dokter wanita yang masih sangat muda..ambulannya terbalik dan masuk jurang setelah mengantarkan pasien, memang seharusnya bukan dia yang menyetir ambulan itu (secara ambulan di papua..amat sangat parah kondisinya..apalagi jalannya..) tetapi keterpaksaan demi nyawa pasien, pasien sudah diantar dengan selamat, dalam perjalanan kembali ketempat tugas musibah itu terjadi.....

semoga arwah para pahlawan kemanusiaan diatas..diterima disisiNYA...

^_^ saya suka forum ini
beda yah..pahlawan beneran dengan yang "merasa" apalagi "mengaku2" ga pake berita bombastis...kadang sudah mengantar nyawa juga tidak ada yang tahu....
turut berduka cita untuk rekan2 anda...

fyi, saya sudah berusaha menemui dokter anda yang hebat itu, tapi rupanya saya memang tidak layak ditemui, sepertinya beliau yang keberatan (atau takut? saya nggak menggigit kog).
Atau anda mau mempertemukan kami?
kalau tidak berkeberatan?
siapa tahu kalau anda bujuk mau... :)
srisariningdiyah wrote on Jan 19, '09
beda yah..pahlawan beneran dengan yang "merasa" apalagi "mengaku2" ga pake berita bombastis...
:)

saya suka kata2 anda...
sepertinya menggambarkan anda sendiri...
menhariq wrote on Jan 19, '09
haiyah.. masih diterusin aja..

dirimu terlalu baik untuk nanggepin makhluk pentol korek api tanpa identitas jelas begini riii...
pake bilang kalau ini forum lah.. coba ya.. mungkin dia terlalu banyak minum antibiotik sampe gak bisa bedain forum, blog, portal, milis atau bahkan search engine..
srisariningdiyah wrote on Jan 19, '09
kalau itu bisa menyenangkan teman kita yang tak beridentitas itu, kenapa tidak eriq?
katanya menyenangkan orang lain itu ibadah juga toh?
gapapa, katanya beliau juga suka "forum" ini, jadi silakan aja menulis apa yang dia ingin riq...
mungkin beliau kurang diperhatikan di tempat dia berada sekarang ini...
ya kita perhatikan saja sesuai keinginan beliau, eriq...
mungkin beliau pikir gue emang pahlawan kesiangan...
jadi ya biarkan dia senang dengan pemikiran seperti itu, eriq...
katanya ... 'nyenengin orang bisa dapet pahala loh...

:)

semoga beliau memang benar2 senang 'lah, dengan "forum" ini...
srisariningdiyah wrote on Jan 19, '09
dan untuk siapapun anda, relaxa...
untuk apapun yang anda tanyakan sudah berusaha saya jawab sebisa saya...
mungkin kalau anda ingin lebih jelas lagi, bisa hubungi saya lebih pribadi...
semua nomor hp dan email saya ada tertulis jelas dalam jurnal di atas sana...
tidak ada yang saya tutupi dari semua kejadian yang pernah saya alami ini...
dan untuk segala resiko seperti yang sekarang sedang saya alami dengan anda, saya juga sudah siap...
jadi, bila anda masih belum puas, anda bisa bertemu dengan saya secara pribadi...
itu juga bila anda benar2 membutuhkan keterangan dari saya...
atau anda hanya berani berpendapat di depan umum tanpa identitas jelas?
oh ya, bila begitu saya juga meragukan itikad baik anda...
semoga saya tidak bertemu dengan anda dalam situasi profesional...
terima kasih atas waktu anda selama ini...

:)
syamfauzi wrote on Mar 10, '09
mungkin karna strezzzzzzzzzzz...kuliah kedokteran mahal jadi profit orientd...huh...
syamfauzi wrote on Mar 10, '09
zaman sekarang memang sulit mencari dokter yang berjiwa sosial, yang ada hanya bisnis.......bisnis............dan bisnis.........profit oriented.........mgkn buat beli tanah yang habis terjual buat kuliah kedokteran.......
rachmadan wrote on Apr 27, '09
Mudah-mudahan ada banyak orang seperti mba. Saya nemuin blog Mba setelah coba nyari-nyari cerita yang berhubungan dengan UGD yang saya rasakan bin alami sering seperti yang mba ceritakan. Orang masuk ke UGD kurang cepat mendapat perhatian. Dan masalah administrasi tampaknya memang adalah prioritas utama ketimbang nyawa seseorang. Seandainya Rumah sakit kita seperti yang bisa kita lihat di film ER atau Grey's Anatomy. Salam dari Bontang, Kalimantan Timur.
rachmadan wrote on Apr 27, '09
Semoga banyak orang seperti Mba. Saya nemuin Blog Mba setelah coba nyari-nyari cerita mengenai UGD. Yang saya rasa dan alami tantang UGD ya seperti yang Mba ceritakan, lambat penanganan. Administrasi tampaknya prioritas pertama baru nyawa orang. salam dari Bontang, Kalimantan Timur.
tehagnes wrote on Apr 30, '09
sabar mbak sabar
anandabutik wrote on May 28, '09
mbak, mangnya dibawa ke RS mana sich?.. aku jadi ngeri masalahnya sodara aku juga sering CT scan gitu, kayaknya tempatnya sama...
Please.. PM aku yach
siregarrosey wrote on Jun 3, '09
TFS. Gak banyak orang seperti mbak. GBU.
tiarrahman wrote on Jun 3, '09, edited on Jun 3, '09
salut Ri.
Memang ada beberapa orang yang bercita-cita jadi dokter karena kemudahan untuk mencari uang. Dan beberapa juga yang semula bercita-cita menolong sesama juga berubah arah seiring dengan berjalannya waktu. (Dan tentunya, TETAP ADA yang setia dengan NIAT AWAL YANG BAIK dan SUMPAH yang diambil dari mereka). Pun begitu hati nurani jangan jadi dikorbankan, karena semata-mata prosedur (yang dibuat-buat).

Salam sayang
(yang pernah nyesel jadi engineer, kenapa ga jadi dokter :P. tapi hatiku akan tetap selalu ada, bukan mesin).
nusinau wrote on Jun 5, '09
Jelas sudah sekarang .. ngga ada keraguan ... dokter emang gitu ... :(
rajaseo wrote on Jan 30, '10
Salam kenal sebelumnya, saya baru pertama ini ngeblog di multiply mohon tuntunannya. Salam
rirhikyu wrote on Sep 17, '10
oalahhh.. ini tohk asal muasal tulisan ini. gmn kabar wulan skrg?

aku pernah baca tulisan ini dr milis ke milis kayaknya.
*hugsss
akhirnya takdir mempertemukan gue ama yg nulis

bacanya asli mirisssss
srisariningdiyah wrote on Sep 17, '10
iyahhh takdir mempertemukan kita, mbak Feb :D
Comment deleted at the request of the thread owner.
subhanallahu wrote on Jan 14, '11
aku sundul lagi tulisan ini mba... :-)

hari ini aku diserbu pasien banyak banget di UGD, sampai bed penuh, ada yang minta cepat, monggo lihat sendiri ke dalam UGD, bed penuh, semua sibuk, dan dia maklum, untunglah...

ini aku tambahkan note di depan pintu UGD RS kami:

TANDA-TANDA PASIEN YANG DIDAHULUKAN DI UGD

1. SESAK NAPAS/HENTI NAPAS/SUMBATAN JALAN NAPAS
2. NYERI DADA/JANTUNG BERHENTI/SERANGAN JANTUNG
3. KEJANG/DEMAM TINGGI
4. KERACUNAN/GIGITAN BINATANG BERBISA
5. TIDAK BISA KENCING
6. MUNTAH TERUS-TERUSAN
7. PERDARAHAN AKTIF/PATAH TULANG TERBUKA
8. TIDAK SADAR/PENURUNAN KESADARAN/TENGGELAM
9. LUKA BAKAR LUAS
10. NYERI MENDADAK/NYERI AKUT LAINNYA
11. TEKANAN DARAH TINGGI SEKALI/KRISIS HIPERTENSI
12. HIPOTERMI/KEDINGINAN SEKALI

semoga bisa berguna bila ke UGD lagi...
tintin1868 wrote on Feb 15, '11
bacanya melebar ke kanan aja.. hebat mbakarie, runtut deh ceritanya.. dan sigap pula.. gemes sama dokter disana..
fightforfreedom wrote on Feb 15, '11
Sangat miris.. udah baca semua tulisan + komen2nya...

siapa tuh ID: relaxa871 ?
kok terkesan arogan sekali... udah gitu sembunyi di balik ID tanpa identitas yg jelas.
istanaratu wrote on Feb 15, '11
pfffiiuufft udh baca semuanya...miris byk ID ga jelas
dgreena wrote on Feb 15, '11
hufftt bacanya... komennya melebar kemana mana, sengaja muter muterin mbak ari..... ga kebayang gimana perasaan mbak ari saat itu, kaya prita kali ya???
itsmearni wrote on Feb 15, '11
*nyesek banget *

dulu pernah baca tulisan ini
ternyata disini to sumbernya
hehe..kemana aja aku ya :-D
fendikristin wrote on Apr 4, '11
Mbak Ari...aku bener2 super kagum sama Mbak Ari...berani "bersuara" dari yang menegur orang yang merokok sembarangan sampai ketidak adilan seperti ini! go go Mbak...tularkan aku sedikit yaaa ;)
Add a Comment